blank
Robert Lewandowski, Raphinha, dan Lamine Yamal, merayakan kesuksesannya meraih Piala Super Spanyol usai mengalahkan Real Madrid, pada 13 Januari 2025 lalu. Foto: dok/x

blankOleh: Amir Machmud NS

// keterpaduan bisa menghadirkan aroma maut/ dari pasangan sehati/ disatukan oleh telepati/ sepak bola mengenalnya sebagai chemistry/ satu hati satu rasa/ menjadi bahasa dahsyat/ rekor demi rekor…//
(Sajak “Trisula Barca”, 2025)

WAKTU sudah berlalu, tetapi sejarah akan abadi. Dan, bukankah acapkali, sejarah berulang dengan aktor-aktor baru, dengan atmosfer baru? Juga terinspirasi oleh kejayaan masa lalu?

Anda mungkin menandai, mungkin pula menilai sebagai sekadar lintasan masa, ketika Barcelona memiliki trio penyerang yang membikin kiper dan pertahanan lawan bergidik dalam keterancaman. Lionel Messi – Luis Suarez – dan Neymar Junior (MSN) membentuk “trisula” yang seolah-olah melewati batas-batas teknis kemampuan manusia, kombinasi mematikan yang tak bisa dilakukan oleh pasangan penyerang mana pun. Selain unjuk produktivitas gol, ketiganya juga sering memamerkan trik-trik menghibur, kadang dengan nutmeg yang “tidak masuk akal”.

Pada musim 2015-2016, tiga sekawan ini membukukan 131 gol di semua ajang, dan menjadi penyerang paling tajam di abad ke-21.

Sebelumnya, pada musim 2014-2015, tridente ini mencetak 122 gol. Dalam catatan rekor, pada 2011-2012 kita mengenal trio Real Madrid: Cristiano Ronaldo – Karim Benzema – Gonzalo Higuain, yang mencetak 118 gol.

Dalam rentang waktu 2014-2017, dari 450 pertandingan, Messi menyumbang 153 gol, Suarez 121 gol, dan Neymar 90 gol. Mereka meraih tiga trofi La Liga, tiga juara Copa del Rey, satu Liga Champions, dan sekali juara Piala Dunia Antarklub.

Pelatih Barcelona, Luis Enrique membentuk Trisula MSN pada 2014. Trio itu bubar pada 2017 saat Neymar memilih pindah ke klub Ligue 1, Paris St Germain. Berikutnya Suarez hijrah ke Atletico Madrid pada 2020, lalu 2021 Messi menyusul Neymar ke PSG.

Jauh sebelum itu, pada era 1990-an, di Liga Seri A, Internazionale Milan juga memiliki Trio Jerman yang berwibawa: Juergen Klinsman – Andreas Brehme – dan Lothar Matthaeus. Sedangkan AC Milan membangun Tim Impian dengan tiga bintang Belanda: Ruud Gullit – Frank Rijkaard – Marco van Basten.

Sebelumnya, di era kejayaan Diego Maradona pada 1980-an di San Paolo, Napoli memiliki trio dahsyat Maradona – Bruno Giordano – Antonio Careca yang populer dengan sebutan Ma-Gi-Ca.

Trisula Baru
Kerinduan fans Barca kepada kehebatan Trio MSN seperti disegarkan oleh kemunculan tiga penyerang yang tak kalah tajam. Setelah 10 tahun berlalu, taktikus Hansi Flick memadukan Robert Lewandowski, Raphinha, dan Lamine Yamal menjadi “naga berkepala tiga” yang mengerikan.

Yang menarik, Trio LRY berjarak jauh dalam usia. Lewy 36, Raphinha 27, dan Yamal 17. Meskipun sudah 36 tahun, Lewandowski tetap memperlihatkan ketajaman. Pemain asal Polandia ini memiliki instink gol luar biasa, dan punya karakter sebagai pemimpin di lini serang.

Sedangkan Raphinha, sebagai penyerang sayap dikenal cepat dan berkemampuan dribling eksepsional. Dia unggul dalam manuver merobek pertahanan lawan untuk memberikan umpan matang kepada rekan yang “muncul dari belakang”. Pemain asal Brazil itu selalu menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.

Lamine Yamal Nasraoui Ebana, yang belum genap 17 tahun, memperlihatkan kematangan sebagai pengatur serangan. Gocekan bola pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa ini sangat memukau, dengan umpan-umpan terukur yang melayani para penyerang. Lewandowski sering dimanjakan oleh umpan dari aksi-aksi genius Yamal. Hingga pekan kemarin, Lewandowski menabung 40 gol, Raphinha 27 gol, dan Yamal 14 gol di semua ajang.

Dari pengamatan Avram Grant dari UEFA, walaupun ketiga bintang itu berbeda gaya, namun saling melengkapi. “Raphinha sering tajam menusuk dari belakang, Lewandowski striker klasik, dan Yamal punya ketenangan saat membawa bola,” kata Grant.

Dia memuji Hansi Flick yang sempurna meracik tridente ini. Lewy menjadi finisher utama, Raphinha eksplosif di sayap, dan Lamine Yamal selalu siap dengan umpannya dari tengah. “Barcelona menyampaikan pesan kuat, terutama tentang kualitas trisula mereka,” tulisnya dalam sebuah laporan UEFA.

Trisula Klub-klub
Saat ini, sejumlah klub sepak bola Eropa juga memiliki trisula andal, walaupun tidak semengkilap Trio LRY. Liverpool punya Mohamed Salah – Luis Diaz – Darwin Nunez; Chelsea dengan Cole Palmer – Nicolas Jackson – Noni Madueke; Bayern Muenchen mengandalkan Harry Kane – Jamal Musiala – Serge Gnabry; dan Borussia Dortmund meracik Jamie Gottens – Serhou Guirassy – Karim Adeyemi. Arsenal juga memiliki tiga penyerang andal Kai Haverts – Declan Rice/Gabriel Martinelli – Bukayo Saka.

Di Liga Spanyol, rivalitas Barcelona dengan Real Madrid ditandai antara lain dengan adu kombinasi bintang. Hansi Flick memercayakan ketajaman gol pada Trio Lewy – Raphinha – Yamal, sementara arsitek Los Blancos Carlo Ancelotti mengandalkan Kylian Mbappe, Jude Bellingham, dan Vinicius Junior. Pada 2009, di bawah pelatih Zinedine Zidane, Madrid pernah membentuk tridente hebat BBC: Karim Benzema – Gareth Bale – Cristiano Ronaldo.

Musim ini, Trisula Barca terbukti lebih moncer, dan memimpin tim menuju trofi juara. Barcelona berpeluang meraih treble: La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions,

Trio MSN memberi catatan khusus dengan sejarah yang kini berlanjut ke Trisula LRY. Kini waktu memberi ruang kepada trisula baru Barca untuk menorehkan sejarah baru, dengan ekor baru, dengan atmosfer baru.

Mampukah Hansi Flick menjaga performa trisulanya itu untuk mendulang status sebagai “raja”, dengan ketajaman gol-gol di level liga dan di panggung Eropa?

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Jengah