Oleh: Amir Machmud NS
HASIL akhir 4-3 dalam el clasico pamungkas musim 2024-2025, menjadi penegasan dominasi Barcelona atas Real Madrid. Musim ini, La Liga ditandai empat laga dua musuh bebuyutan itu, yang semuanya dimenangi oleh Barca.
Di La Liga (26/10/2024) Real Madrid kalah 0-4, lalu di Piala Super Spanyol (12/1/2025) Madrid tumbang 2-5. Dalam final Copa del Rey (26/4/2025) Barcelona unggul 3-2, dan terakhir di pertandingan liga (11/5/2025) Barca melengkapi kemenangan 4-3.
Barca tak sekadar unggul. Lebih dari itu, membuat catatan hebat dengan mencetak total 16 gol dan hanya kebobolan tujuh kali. Blaugrana mengukir rekor mencetak 16 gol ke gawang Los Blancos dalam satu musim, melewati 13 gol pada 2011-2012 dan catatan Espanyol pada 1929-1930.
Secara keseluruhan, dalam sejarah el clasico, Real Madrid masih unggul 106-104 dari 261 pertemuan. Duel kedua klub itu selalu penuh komplikasi, aneka ketegangan dan unjuk para bintang sebagai aktor-aktor dengan bermacam kisah laga yang mengikuti.
Tak hanya menyimak sepak bola, di laga itu kita merasakan ketegangan dalam mempertaruhkan kehormatan, harga diri, identitas, aneka drama manusia yang beraroma kebencian dan permusuhan. Taktik dan teknik sepak bola seakan-akan larut menjadi urusan nomor sekian.
Pertemuan dua klub ini memberi warna yang berbeda dibandingkan dengan laga-laga klasik lain di sejumlah liga di Eropa. El clasico — di Bundesliga Jerman diberi label Der Klassiker antara Bayern Muenchen vs Borussia Dortmund, atau duel AC Milan vs Internazionale Milan di Liga Seri A Italia yang menyajikan Derby Della Madonnina, duel klasik Liverpool vs Manchester Unted di Liga Primer, dan Le Classique antara Marseille vs Paris St Germain di Ligue 1 Prancis.
Musim ini, duel dua klub elite Spanyol itu dinuansai dengan aneka tudingan keterlibatan wasit. Madrid beberapa kali curhat, dan pada saat yang sama Barca juga menyampaikan keluhan. Terakhir, menjelang final Copa del Rey, kubu Madrid mengapungkan opini di media mereka, bahwa penunjukan wasit Ricardo de Burgos Bengoetxea beraroma setting La Liga yang merugikan mereka.
Opini tersebut membuat terganggu kehidupan keluarga sang wasit. Di sekolah, anaknya di-bully. Cara Madrid menuding wasit secara verbal mengundang antipati sejumlah pihak, yang menduga Los Merengues mencoba mengalihkan perhatian apabila kalah dari Barca.
Nuansa Politik
Rivalitas dua tim besar itu memiliki sejarah panjang, terkait dengan dinamika politik Spanyol, dimulai dari partai-partai politik negeri itu yang menggunakan sepak bola sebagai bagian dari upaya mendulang massa.
El clasico pertama kali digelar di Stadion Hipodromo Madrid pada 13 Mei 1902. Saat itu Barca menang 3-1.
Rivalitas Barcelona dan Madrid juga tak terlepas dari sejarah perang sipil, gesekan antara bangsa Spanyol dan orang-orang Catalunya. Real Madrid adalah representasi kaum Castille (kerajaan) Spanyol, sementara Barcelona mewakili Katalonia dari daerah otonomi yang pernah ditindas. Katalonia dicap sebagai pemberontak separatis.
Era kediktatoran Jenderal Franco (1939-1973) menjadikan Real Madrid sebagai representasi identitas. Dia membuat El Real superior, dengan mem-pressure klub-klub pesaing. Selain Barcelona yang mewakili Katalonia, Athletic Bilbao sebagai wajah Basque Country juga diposisikan menjadi musuh Madrid.
Pada 1941, Athletic dipaksa berganti nama menjadi Atletico, karena Sang Diktator melarang bahasa apa pun selain Castellano sebagai bahasa resmi Spanyol. Los Leones juga harus menghapus kebijakan yang hanya menggunakan pemain asal Basque.
Latar belakang sejarah itu memicu persaingan dan kebencian di dua kubu. Di era moderen, rivalitas makin terbumbui oleh tren mediatika dengan mencuatkan detail representasi identitas dalam berbagai sisi. Barcelona menjadi musuh bebuyutan Real Madrid!
Persaingan itu mewujud dalam laga yang selalu panas dan penuh komplikasi. Profesionalisme sepak bola, yang antara lain ditandai dengan kepindahan dari satu klub ke klub lain, mengetengahkan drama-drama menegangkan ketika pemain Madrid pindah ke Barca, atau sebaliknya.
Misalnya, kisah Luis Enrique yang hijrah dari Madrid ke Barca, lalu Luis Figo dari Barca ke Madrid, menjadi bumbu panas dalam setiap el clasico. Sebaliknya, Bernd Schuster, Michael Laudrup, lalu Ronaldo Luis Nazario adalah sebagian di antara pemain Barca yang memutuskan hengkang ke Madrid.
Dominasi Barca
Musim 2024-2025 ini, dengan empat kemenangan beruntun, Barcelona memperlihatkan dominasi dalam el clasico. Sejarah terbaru mengetengahkan para pesepak bola dengan kemampuan eksepsional seperti Lamine Yamal, Raphinha, Robert Lewandowski, Fermin Lopez, Ferran Torres, atau Pedri Gonzales beradu kepandaian dengan Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, Luka Modric, atau Rudrygo.
Hasil empat laga klasik terakhir itu menegaskan, Barca memiliki jalan keluar dan mentalitas untuk memenangi persaingan yang kini terus dipersubur oleh media dengan segala keunikan dan pernak-perniknya.
Betapa kompleks: saling curiga dan menuding keberpihakan wasit, bagaimana adu skema taktik antara kedua pelatih, dan formula untuk meracik potensi-potensi pembeda yang dimiliki. Ya, el clasico tak ada matinya…
// bukan sembarang pertandingan/ dua raksasa beradu kesaktian/ duel klasik memuat gengsi/ kehormatan yang melewati sepak bola/ dia telah menjadi kehidupan/ bahkan lebih dari itu…//
(Sajak “El Clasico”, 2025)
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













