<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jc tukiman tarunasayoga Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/jc-tukiman-tarunasayoga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jan 2024 16:12:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>jc tukiman tarunasayoga Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 16:12:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[kalamudheng]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Lurah]]></category>
		<category><![CDATA[tukiman taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=391374</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga SUDAH sejak bangun tidur pagi tadi, Pak Darma, Kepala Dusun (Kadus) Suka Hati merencanakan akan menghadap Pak Lurah Desa Suka Maju untuk mohon pencerahan atas masalah warganya.  “Ini masalah kebudayaan,” pikir Darma yang sepantasnya masih sangat layak dipanggil “Mas” berhubung ia lahir pada tahun 1988. Dan yang dipandangnya paling mumpuni dalam masalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang">Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-357641 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="293" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 293px) 100vw, 293px" />JC Tukiman Tarunasayoga</strong></p>
<p><strong>SUDAH </strong>sejak bangun tidur pagi tadi, Pak Darma, Kepala Dusun (Kadus) Suka Hati merencanakan akan menghadap Pak Lurah Desa Suka Maju untuk mohon pencerahan atas masalah warganya.  “Ini masalah kebudayaan,” pikir Darma yang sepantasnya masih sangat layak dipanggil “Mas” berhubung ia lahir pada tahun 1988.</p>
<p>Dan yang dipandangnya paling mumpuni dalam masalah kebudayaan di Desa ini, ya satu-satunya adalah Pak Lurah.  Tepatnya sih sebutan atau panggilannya Pak Kades; namun rata-rata orang lebih senang menggunakan panggilan Pak Lurah, termasuk yang bersangkutan lebih senang dipanggil Pak Lurah.</p>
<p><em>Pak Lurah: Tumben <strong>mruput</strong> sudah menghadap Mas Darma?<br />
Mas Kadus: Leres Pak Lurah. Ada masalah kebudayaan pelik bagi kami generasi kelahiran seputaran 1990, Pak.<br />
Pak Lurah: <strong>Hohohoho…….. apa sing angel? Ora ana barang angel</strong> di dunia ini. Tidak ada yang sulit di dunia ini.<br />
Mas Kadus:      Mohon pencerahan Pak Lurah, apa perbedaan antara <strong>rikuh, isin, dalah wirang (RIW)  punika, punapa Pak?</strong><br />
Pak Lurah: <strong>Hohoho…….. piye ta larah-larahe</strong>? Ada apa kok tiba-tiba bertanya apa bedanya RIW itu?<br />
Mas Kadus: Kemarin sore ada warga sepuh di Dusun Suka Hati memarahi remaja anaknya tetangga seraya berulang kali mengatakan: “<strong>Bocah enom ora ngerti rikuh, apa maneh isin. Suk mben yen kowe kena wirang, embuh lho ya</strong>”.</em></p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/12/25/nir-ing-sambekala">Nir Ing Sambekala</a></span></strong></p>
<p>Terdiam sejenak, Pak Lurah berkata: “Begini,  orang tua itu menegur, bukan memarahi agar sejak remaja pun seseorang itu selayaknya tahu apa yang disebut <em>rikuh, isin, dan wirang</em>. Jangan sampai nantinya <em>kewirangan</em>, dipermalukan. Bagus orang tua itu, Cuma caranya memberi tahu, sebaiknya lebih <em>sabar, alon, sareh</em>. Tapi bagus hohohoho………..”</p>
<p><strong><em>Rikuh lan Isin</em></strong></p>
<p>“Masalah kebudayaan” memang sedang berlangsung “serius” saat ini, sebutlah sedang terjadi degradasi, penurunan,  atau sekurang-kurangnya menipis dalam arti semakin kurang dipahami. Di antara masalah itu, banyaklah keluhan dari orang-orang tua terhadap orang-orang muda yang entah karena apa, kurang paham tentang RIW tadi.</p>
<p>Ungkapan umumnya mengatakan: <em>Ora duwe rikuh</em>, tidak memiliki rasa rikuh; semakin <em>ora duwe isin</em>, apa maneh dapat menghayati <em>wirang.</em></p>
<p><em>Rikuh</em> itu memiliki tiga makna: pertama <em>kidung, </em>perasaan atau sikap serba kurang pas, kikuk. Bayangkan, remaja yang sedang naksir dan tiba-tiba bertemu dengan orang tua dari cewek taksirannya. Salah tingkah, dan itulah kidung.</p>
<p>Arti kedua <em>rikuh</em> ialah <em>jiguh</em>, lebih “berat” dari kidung tadi, karena bisa-bisa tidak berani berkata apa-apa, mukanya merunduk. Mengapa begitu?  Arti ketiganya <em>rada isin</em>, agak malu-malu, apalagi ditanya: “Sekolahmu bagaimana? Nilai rapormu lebih bagus dari rapotnya Ika, atau lebih jelek?” Jangankan menjawab, menegakkan wajah saja tidak mampu.</p>
<p><em>Isin</em>, sering disebutkan secara lebih halus <em>lingsem, </em>dimaknai dengan ungkapan “<em>rasa rumangsa rikuh,” </em> maksudnya,  karena ada rikuh, maka automatis seseorang seharusnya <em>isin</em>, yaitu malu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/12/21/kentekan-abab">Kentekan Abab</a></strong></span></p>
<p>Menjadi lebih isin lagi kalau seseorang melakukan sesuatu yang <em>ngisin-isini, </em>sangat memalukan. Misal, melanggar peraturan, apalagi dia itu anak pejabat. <em>Ngisin-isini</em> bukan saja dia yang bersangkutan yang seharusnya malu, melainkan juga pejabat yang sang ayah itu seharusnya yang  lebih  merasa malu.</p>
<p>Degradasinya ialah, semakin banyak anak, juga orang tuanya semakin <em>ora duwe isin, </em>semakin hilang urat malunya. “Aku kan berkuasa, masak tidak boleh main kuasa?” sebutlah misalnya ada pejabat yang berkata  begitu.</p>
<p><strong><em>Wirang</em></strong></p>
<p>Jika rikuh dapat menimbulkan isin, keduanya itu bila benar terjadi, apalagi bagi para pejabat, seharusnya hal itu menyebabkan <em>wirang</em> sejauh syaratnya terpenuhi. Satu-satunya syarat <em>rikuh dan isin</em>  dapat  menyebabkan <em>wirang </em> ialah manakala <em>kaweruhan ing akeh, </em>yaitu perbuatannya diketahui atau dilihat oleh khalayak ramai.</p>
<p>Contoh konkretnya, kalau tiba-tiba Pak Lurah Suka Maju tadi mengangkat anaknya menjadi kepala urusan (ka-ur) padahal tanpa ada <em>ba….bi…..bu</em> dengan siapa pun (kecuali dengan bu lurah); nah …….seharusnya kejadian itu sudah masuk kategori <em>gawe wirang, ngisin-isini amarga kaweruhan ing akeh. </em></p>
<p>Kok bisa tiba-tiba mengangkat anaknya sebagai ka-ur? Bisa saja  karena semua ternyata bisa  diatur, termasuk mengatur agar perangkat yang lain mendukung. Degradasinya seperti apa? Satu hal yang jelas ialah, seharusnya Pak Lurah menjadi contoh orang yang taat aturan, ehhhhhh lha kok justru dia yang melakukan tindakan tidak taat itu. Degradasinya lebih terasa lagi manakala Pak Lurah <em>ora rumangsa kliru, </em>seraya berucap: “<em>Mosok, mrenah-mrenahke anak ora oleh</em>?” Boleh kan orang tua mencarikan pekerjaan untuk anaknya?</p>
<p>Dalam degradasi semacam itu, dan Pak Lurah masih sebagai contohnya, berarti beliau menempuh “jalan budaya” <em>wani wirang. </em>Jalan budaya <em>wani wirang</em> ini memang bagaikan  keping mata uang: Jika bernasib baik, ya <em>moncer</em>, jaya, dan sorak-sorak bergembira menjadi lagu wajibnya; namun bila tidak beruntung,  ya <em>bakale kewirangan. </em></p>
<p>Kapan keping mata uang ini akan terundi lalu ketahuan hasilnya? Inilah pertanyaan sangat sulit, sesulit Mas Kadus Darma tadi melihat “masalah kebudayaan” berhubung ia termasuk generasi tahun 90-an.</p>
<p>Kesulitan mas Darma teratasi berhubung ia berani minta pencerahan Pak Lurah. Nah, sekarang, berhubung yang menempuh “jalan kebudayaan” itu justru Pak Lurah, ia akan mencari pencerahan kepada siapa? Tunggu, episode selanjutnya.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/01/balada-menipisnya-riw-rikuh-isin-lan-wirang">Balada Menipisnya RIW: Rikuh, Isin, lan Wirang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aja Wedi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/12/10/aja-wedi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Dec 2023 06:33:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[gibran]]></category>
		<category><![CDATA[jangan takut]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan takut Pak Prabwo]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=387495</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga BEGITU menulis judul aja wedi, jangan takut, ini saya langsung teringat celetukan dua cucu saya ketika kami membersamai anak-cucu-mantu berlibur ke LegoLand, Johor, Malaysia bulan Juli lalu. Dengan lantangnya dua cucuku komentar, “Jangan takut Kung-Uti, naik roler-coasater enakkkk, asyikkk.” Memang mereka saja yang naik dan menikmatinya, sementara saya dan istri merasa sangat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/10/aja-wedi">Aja Wedi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="alignright wp-image-357641 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg" alt="" width="232" height="316" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-293x400.jpeg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA-110x150.jpeg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/TUKIMAN-TARUNA.jpeg 492w" sizes="(max-width: 232px) 100vw, 232px" />JC Tukiman Tarunasayoga</strong></p>
<p><strong>BEGITU </strong>menulis judul <em>aja wedi</em>, jangan takut, ini saya langsung teringat celetukan dua cucu saya ketika kami membersamai anak-cucu-mantu berlibur ke LegoLand, Johor, Malaysia bulan Juli lalu. Dengan lantangnya dua cucuku komentar, “Jangan takut Kung-Uti, naik <em>roler-coasater</em> enakkkk, asyikkk.”</p>
<p>Memang mereka saja yang naik dan menikmatinya, sementara saya dan istri merasa sangat cukup mendengar jeritan dan teriakan mereka manakala <em>roller-coaster</em> naik turun meliuk sana meliuk sini dengan cepatnya.</p>
<p>Mengapa kosakata <em>aja wedi</em>, jangan takut perlu dibahas? Ada dua alasan praktis, pertama, kosakata itu dapat menjadi jargon untuk “kampanye.” Bukankah saat-saat ini semua pihak sedang mencari amunisi dan bahan kampanye? Nah, aja wedi bahkan bisa juga menjadi yel-yel atau nyanyian, semisal: “<em>Aja wedi, ana aku…….aja wedi ana aku……..”</em>   Lalu yang di sebelah sana menjawab: <em>“Hiiiiiii………aku wedi, hiiiii aku wedi………” </em></p>
<p>Alasan praktis kedua, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan banyak aspek terkait kosakata <em>aja wedi</em>, dan penjelasan ini perlu mengingat sangat mungkin ada saja yang kurang tepat memakainya.</p>
<p>Bacalah kata <em>wedi</em> ini dengan perhatian khusus pada <em>di</em>, seperti Anda mengucapkan nama orang Suha<strong><em>di, </em></strong>Sumar<strong>di, </strong>A<em>di </em>Sucipto, dsb. Nama Suhadi harap tidak dipanggil menjadi Suha<em>dhi, </em>demikian pun Sumadi maupun Adi. Sebab, jika <em>wedi</em> Anda ucapkan  menjadi <em>wedhi; </em>berubahlah maknanya.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga  <a href="https://suarabaru.id/2023/12/04/dara-barakan">Dara Barakan</a>     </strong> </span></p>
<p><em>Wedi</em> itu bermakna (1) <em>ora wani</em>, artinya takut, dan (2) <em>duwe pangaji-aji</em>, memiliki rasa hormat; sedang kalau Anda ucapkan menjadi <em>wedhi,</em> itu artinya pasir, <em>lemah agal utawa krikil lembut</em>. Beda banget, bukan?</p>
<p><em>Wedi</em> ini searti dengan <em>ajrih, </em>maka sering ada ungkapan <em>wedi- asih</em> yang semakna dengan <em>ajrih-asih,  wong kang duwe pangaji-aji sarta tresna,  </em>yaitu orang yang memiliki rasa hormat dan cinta terhadap orang lain.</p>
<p>Bayangkan saja kalau celetukan cucu kami tadi (si sulung berumur 7 tahun dan adiknya 5 tahun) bukan ditujukan kepada kami tetapi kepada Anda. Berhubung celetukan anak kecil, yang tertangkap mesti lucu dan lugu lugasnya.</p>
<p>Namun, bila tiba-tiba seseorang dewasa mengatakan “<em>Aja wedi, ana aku,” </em> apa kira-kira maknanya? Adakah di ungkapan itu rasa hormat penuh cinta, ataukah justru sebaliknya  bernada “merendahkan” orang lain yang sedang diajak bicara, seraya juwawa  karena dirinya lebih?</p>
<p>Dari kata <em>wedi, </em>lalu terbentuk kata ikutannya, yaitu kata <em>medeni, diwedeni, lan memedi. Medeni </em>artinya <em>njalari wedi</em>, menyebabkan atau menjadikan takut; <em>diwedeni</em> berarti <em>diaji-aji</em>, yaitu dihormati atau dipuji-puji; sedangkan <em>memedi</em> artinya <em>apa-apa sing njalari wedi, </em>apa saja yang menjadikan orang lain menjadi takut<em>. </em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/11/27/pitung-puluh-lima-dina-dara-getakan">Pitung Puluh Lima Dina:  Dara Getakan</a></strong> </span></p>
<p>Maka, bayangkan, kalau seseorang tiba-tiba mengatakan kepada Anda “<em>Aja wedi………;” </em> sangatlah  mungkin kata-kata itu dapat ditangkap bukan sebagai penguatan atau jaminan keberanian, melainkan justru akan dirasakan sebagai hal yang <em>medeni </em>karena dipersepsikan ada <em>memedi </em>di depan sana.</p>
<p><strong><em>Masa muda dulu</em></strong></p>
<p>Teringat masa muda di dusun dulu, di zaman ketika listrik belum masuk desa; nonton pertunjukan di lapangan sana biasanya berangkat maupun pulangnya bergerombol ramai-ramai, laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Laki-laki banyak yang iseng, memanfaatkan kegelapan seraya mengatakan “<em>Ana memedi ……..” </em>dan apa yang terjadi, cewek-cewek itu biasanya lalu merapat bahkan bisa jadi memegang tangan siapa pun yang berada di dekatnya. Lumayan…….. batin si Polan ketika Endang memegang tangannya kuat-kuat.</p>
<p>Di antara trik lainnya juga menggunakan kata-kata “<em>Aja wedi, ana aku</em>” tadi,  sembari memepetkan tubuhnya ke cewek sebelahnya kalau-kalau ia dalam keadaaan ketakutan,  lalu memegang tangannya.</p>
<p>Apa simpulannya? Sederhana saja, yakni meluncurnya kata-kata <em>aja wedi</em>  harus kita lihat konteksnya apa dan di mana serta di saat seperti apa. Kalau saatnya seperti terjadi pada Polan dan Endang tadi, yah……………itu trik sangat umum di zaman itu (meski pun manjur lho…..).</p>
<p>Di zaman sekarang pun masih saja ada trik-trik sederhana seperti itu, seperti suami tiba-tiba mematikan listrik seolah-olah ada gangguan aliran listrik dari sentralnya. Apa maksudnya dengan tindakan seperti itu?</p>
<p>Macam-macam, tetapi sering dipakai untuk  bersikap “sok jadi pahlawan” karena seisi rumah lalu berteriak karena gelap, dan tiba-tiba listrik nyala lagi. Apakah kata-kata <em>aja wedi</em>, mengarah ke: “Aku kok??”  Simpulkanlah sendiri.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarusayoga, Ketua Dewan Penyantun Catholic Soegijapranata University</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/10/aja-wedi">Aja Wedi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Urik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/06/11/urik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jun 2023 14:39:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[SCU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=343773</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga KETIKA di suatu Senin di bulan Januari lalu &#8211;serial tulisan saya ini diposting tiap hari Senin&#8211;  saya menulis tentang suthik. Seorang teman di Bekasi Jabar menanggapi: Bukankah suthik itu semacam alat atau barang kecil untuk mengorek-ngorek sesuatu? Pertanyaan itu belum sempat saya jawab, dan sekarang inilah jawabannya: “Bukan! Apa yang bapak katakan  [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/11/urik">Urik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">JC Tukiman Tarunasayoga<img loading="lazy" class="alignright wp-image-338950 " src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg" alt="" width="157" height="222" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-106x150.jpg 106w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA-282x400.jpg 282w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/TUKIMAN-TARUNA.jpg 398w" sizes="(max-width: 157px) 100vw, 157px" /></span></strong></p>
<p><strong>KETIKA </strong>di suatu Senin di bulan Januari lalu &#8211;serial tulisan saya ini diposting tiap hari Senin&#8211;  saya menulis tentang <em>suthik</em>.</p>
<p>Seorang teman di Bekasi Jabar menanggapi: Bukankah <em>suthik</em> itu semacam alat atau barang kecil untuk mengorek-ngorek sesuatu? Pertanyaan itu belum sempat saya jawab, dan sekarang inilah jawabannya: “Bukan! Apa yang bapak katakan  itu lebih tepatnya <em>urik,</em> bukannya <em>suthik</em>.”</p>
<p>Memang. Salah satu arti <em>urik </em>ialah <em>piranti kanggo ngureki, </em>alat sederhana untuk mengorek-korek sesuatu; dan kalau ada suatu barang sedang <em>diureki, </em>itu artinya barang itu mungkin akan dan sedang dilobangi atau d<em>ikrowok</em>. \</p>
<p>Untuk maksud apa barang itu <em>diureki,</em> dikasih lobang?  Entahlah, namun yang jelas seseorang sedang melakukan sesuatu dengan menggunakan alat yang namanya <em>urik.</em></p>
<p><strong>Diuriki</strong></p>
<p>Awas, bacalah baik-baik dan cermati bedanya antara <em>diureki lan diuriki. </em>Apa yang telah ditulis di atas ialah <em>diureki</em> <em>nganggo urik</em>, sedang yang akan dijelaskan berikut ialah <em>diuriki. </em>Apa itu <em>diuriki?</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/06/04/kapan-towang-euy">Kapan Towang, Euy?</a></strong></span></p>
<p>Sebutlah segala polah dan hiruk pikuk manusia di atas muka bumi ini sebagai sebuah permainan (kalau seorang penyanyi menyebutnya sebagai panggung sandiwara).</p>
<p>Termasuk tentu saja aktivitas manusia dalam pemilihan umum (pemilu), sebutlah itu sebagai bagian dari sebuah permainan (juga). Dan namanya permainan,  siapa pun pasti ada saja yang (akan) tergoda untuk main-main dan mempermainkan.</p>
<p>Caranya bagaimana? Ada seribu satu cara untuk main-main atau pun mempermainkan, namun intinya adalah <em>ngakali srana nyimpang saka pranatan. Nguriki,</em> itu berlaku <em>urik</em>; dan siapa yang berlaku <em>urik</em> ialah dia atau mereka yang tadi disebutkan <em>ngakali srana nyimpang saka pranatan</em>, berlaku tidak jujur dengan cara menyimpang dari aturan yang telah ada.</p>
<p>Itulah <em>urik, yakni ora bares</em>, tidak jujur, main curang; dan yang dipakai sebagai medianya tentu saja permainan itu sendiri berikut segala aturan permainannya.</p>
<p>Kalau <em>urik</em> diterapkan di laga sepak bola, ya berarti cara <em>nguriki-</em>nya tentu saja segala permainan dan aturan permainan di sepak bola.</p>
<p>Dalam sepakbola itu ada banyak peran dijalankan: ada pelatih, ada manajer, ada pemain, ada wasit, dan ada lainnya lagi. Siapa dapat <em>urik </em>di sana? Pemain bisa, wasit bisa, pelatih bisa. Caranya? Bermacam-macam cara, tetapi semua cara itu ditentukan oleh apa tujuan <em>urik</em>-nya.</p>
<p>Mau menang atau mau kalah.  Memang ada permainan dengan tujuan mau kalah?  Dunia ini, panggung sandiwara …………….</p>
<p><strong>Urik-urikan  </strong></p>
<p>Kalau <em>urik</em> bermakna tidak jujur lewat menyimpang dari aturan; maka tindakannya disebut <em>urik-urikan</em>, maksudnya akal-akalan. Siapa pun sangat berpeluang untuk akal-akalan seperti ini; lagi-lagi yang kepingin (ngebet??)  menang sangat mungkin menjalankan <em>urik-urikan</em>, pun yang (sengaja) mau kalah, -apalagi yang jelas akan kalah- , sangat mungkin juga bertindak/bermain akal-akalan. Komplitlah makna <em>urik lan urik-urikan </em> itu.</p>
<p>Sedemikian suram seperti itukah makna sebuah permainan karena “niscaya” disertai <em>urik lan urik-urikan</em>? Tentu saja tidak. Mereka yang berlaku <em>urik atau urik-urikan, </em>dari segi jumlah pasti amatlah sedikit; dan jangan lupa mereka pasti akan “main cantik” agar tidak nampak sedang bertindak <em>urik utawa urik-urikan</em>.</p>
<p>Dalam macam-ragam tindakan <em>urik utawa urik-urikan</em> oleh segelintir orang itu, masyarakat diharapkan tidak sekedar berlaku sebagai penonton dan bersorak belaka. Masyarakat memang bukan wasit permainan, namun tetap dapat memberikan masukan, koreksi, bahkan protes manakala menengarai ada tindakan <em>urik utawa urik-urikan. </em> Inilah yang disebut kontrol sosial dan porsi masyarakat terutama ada di sini ini.</p>
<p>Dalam konteks pemilu, kontrol sosial masyarakat dapat diaktualisasi antara lain lewat mengritisi para “tokoh/pemain” agar mereka tidak menempuh cara-cara <em>urik lan urik-urikan. </em></p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University                                                                                                   </em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/11/urik">Urik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Sedikit-Sedikit Istana”, Ora Ilok dan Ora Elok</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/02/05/sedikit-sedikit-istana-ora-ilok-dan-ora-elok</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2023 13:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=313250</guid>

					<description><![CDATA[<p>JC Tukiman Tarunasayoga KARENA faktor usia, empat kali pergantian ketua RT 06/RW XII, -ada dua orang yang dua periode- , empat kali pula saya diangkat sebagai penasihat RT (mengganti kata sesepuh). Dan dari keempatnya, selorohnya mirip-mirip. Misalnya: “Mosok Pak, seorang warga terganggu kucing liar pacaran di depan rumahnya, Ketua RT yang ditelpon tengah malam. Lalu: [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/05/sedikit-sedikit-istana-ora-ilok-dan-ora-elok">“Sedikit-Sedikit Istana”, Ora Ilok dan Ora Elok</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">JC Tukiman Tarunasayoga</span><img loading="lazy" class="alignright wp-image-313251 size-medium" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/Screenshot-288-299x400.jpg" alt="" width="299" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/Screenshot-288-299x400.jpg 299w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/Screenshot-288-112x150.jpg 112w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/Screenshot-288.jpg 384w" sizes="(max-width: 299px) 100vw, 299px" /></strong></p>
<p><strong>KARENA </strong>faktor usia, empat kali pergantian ketua RT 06/RW XII, -ada dua orang yang dua periode- , empat kali pula saya diangkat sebagai penasihat RT (mengganti kata sesepuh).</p>
<p>Dan dari keempatnya, selorohnya mirip-mirip. Misalnya: “Mosok Pak, seorang warga terganggu kucing liar pacaran di depan rumahnya, Ketua RT yang ditelpon tengah malam.</p>
<p>Lalu: ”Ada tikus mati laporan pak RT, gorong-gorong depan rumahnya mampet, mengeluhnya ke pak RT, sementara ia buang sampah seenak sendiri. Bahkan sering, ranting pohon ace <em>manglung</em> ke jalan saja, maksudnya ranting itu menggelayut di atas jalan, minta Pak RT mengundang tukang potong. “Ehhhh giliran kebon di desanya panen durian, diemmmm saja orang itu, Pak.”</p>
<p>“Kelakuan warga” di tingkat RT (rukun tetangga) seperti itu,   aduhhhhhhh…… ternyata juga sampai di istana sana, para pembaca,  dan kosakata baru yang perlu kita viralkan ialah “sedikit-sedikit istana”.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/01/30/alah-ora-tinggalkan-dan-tanggalkan">Alah Ora, Tinggalkan dan Tanggalkan</a></strong></span></p>
<p>Ada kemacetan parah di ruas jalan tol, istana disebut-sebut, mana bikin jalan tol malah bikin macet; mana pula jalan tol membawa kesengsaraan rakyat. Ada bupati kena OTT, istana pula kena getahnya: “Pejabat semacam itu sebetulnya kan sudah dapat  di deteksi, masak dibiarkan saja. Mana pengawasan melekat dari pusat nih?” Giliran ditanyakan, ngomong-ngomong dia waktu pilkada di back up oleh parpol apa saja ya; nah …… gak muncul jawaban.</p>
<p><strong>Ora Ilok lan Ora Elok </strong></p>
<p>Memang, entah mengapa,  dalam sejumlah besar urusan hidup, perilaku sehari-hari masyarakat kita cenderung menumpukan tanggungjawab kepada seseorang, -dan seseorang itu biasanya pemimpin- , terutama tanggung jawab tentang hal-hal yang dianggapnya tidak menyenangkan. Sebaliknya, manakala ada hal-hal yang dirasakan enak atau cocok untuk dirinya (panen durian, hehehehe), orang diam-diam saja.</p>
<p>“Sedikit-sedikit istana” sangat menggejala terutama sebutlah beberapa tahun terakhir ini, bahkan kosakata itu lengkapnya menjadi “sedikit-sedikit yang salah istana.”  Dalam kondisi seperti ini, orang sama sekali lupa bahwa sekarang ini sistem pemerintahan kita sudah terdesentralisasi sedemikian rupa. Piye jal, hayooo?</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/05/sedikit-sedikit-istana-ora-ilok-dan-ora-elok">“Sedikit-Sedikit Istana”, Ora Ilok dan Ora Elok</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Orang Pintar Pasti: Ora Salah Gawe, Ora Salah Kedaden, lan Ora Salah Weweng</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/08/07/orang-pintar-pasti-ora-salah-gawe-ora-salah-kedaden-lan-ora-salah-weweng</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2022 12:28:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=269469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga Sekarang ini, semua orang semakin bertambah pintar. Siapa saja semakin pintar.  Seorang kepala dinas sangatlah mungkin justru kalah pintar dari stafnya; jenderal pun dalam hal tertentu dapat saja kalah pintar dibandingkan  dengan prajurit berpangkat paling rendah sekali pun. Anak-anak dalam usianya yang masih sangat muda pun, kepintarannya melebihi orang tuanya. Dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/07/orang-pintar-pasti-ora-salah-gawe-ora-salah-kedaden-lan-ora-salah-weweng">Orang Pintar Pasti: Ora Salah Gawe, Ora Salah Kedaden, lan Ora Salah Weweng</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_269471" aria-describedby="caption-attachment-269471" style="width: 382px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class=" wp-image-269471" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/19itaruna.jpg" alt="" width="382" height="268" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/19itaruna.jpg 268w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/19itaruna-150x105.jpg 150w" sizes="(max-width: 382px) 100vw, 382px" /><figcaption id="caption-attachment-269471" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Sekarang ini, semua orang semakin bertambah pintar. Siapa saja semakin pintar.  Seorang kepala dinas sangatlah mungkin justru kalah pintar dari stafnya; jenderal pun dalam hal tertentu dapat saja kalah pintar dibandingkan  dengan prajurit berpangkat paling rendah sekali pun.</p>
<p>Anak-anak dalam usianya yang masih sangat muda pun, kepintarannya melebihi orang tuanya. Dan jangan lupa, entah dia kepala dinas, jenderal, atau orang tua juga seharusnya semakin tambah pintar kalau tidak ingin “dikalahkan” oleh anak buah.</p>
<p>Semakin maju dan banyaknya orang pintar, sepantasnya kita juga perlu semakin canggih  merumuskan tolok ukur kinerjanya. Tegasnya, dewasa ini, mengukur kepintaran siapa pun, jangan dilihat dari pangkatnya atau pikiran serta kebijakan yang dia omongkan, melainkan dari kinerja-nyatanya. Dan mengukur kinerja-nyata seseorang, patokannya ada tiga, yakni orang itu:  Ora salah gawe, ora salah kedaden, lan ora salah weweng.</p>
<p><strong>Sala Dadi Salah</strong></p>
<p>Konon, menurut Baoesastra Djawa, tembung atau kata salah itu berasal dari sala (Kawi), seperti halnya sila(kan) berasal dari sila. Arti sala memang kliru utawa salah, dan dalam perkembangan pemakaiannya, misalnya ada kata kasala-mana (sekarang masih sering terdengar) yang artinya kliru tampa.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/08/01/moderat-itu-lamun-greget-aja-gregeten-lamun-kendel-aja-kumendel-lamun-wani-aja-kewanen">Moderat Itu, lamun Greget Aja Gregeten, lamun Kendel Aja Kumendel, lamun Wani Aja Kewanen</a></strong></h4>
<p>Bukankah semakin banyak orang pintar, namun justru semakin banyak orang yang kliru tampa, salah tangkap, salah persepsi, salah memaknai, dsb? Itulah kasala-mana; dan kalau suatu ketika mendengar kata salahasa, kata ini artinya mirip-mirip kasala-mana bahkan membawa rasa gela lan kuciwa, kecewa hati.</p>
<p>Dewasa ini orang pintar harus pandai atau piawai juga menghindarkan diri dari salah gawe, sebab mungkin saja orang pinter itu nindakake pakarti sing dudu mesthine, yaitu melakukan pekerjaan yang bukan semestinya.</p>
<p>Mestinya kalau kedudukannya kepala dinas, ya seharusnya pekerjaan yang harus diselesaikan ya semua hal yang berkaitan dengan kedinasannya. Tapi, ada lho, kepala dinas jebul kegiatannya dari menit ke jam, dari jam ke hari mung gawe konten medsos dengan berbagai foto. Kuwi salah gawe, padahal dia terpilih sebagai kepala dinas itu lewat lelang jabatan, dan pasti dianggap pintar. Eh…, jebul pintar gawe konten thok.</p>
<p>Ada juga sing salah kedaden (baca seperti sepamen) yakni karena dianggap (menganggap diri) pintar, seseorang lalu bertindak ora lumrah, ora kaya sing dikarepake, lan kliru patrape.</p>
<p>Orang ini lalu bertindak aneh-aneh, tidak sewajarnya, bahkan sangat mungkin bekerja hanya menurut seleranya saja. Lebih parah lagi kalau pinter, nanging banjur minteri; dia pintar namun terus menganggap orang lain bodoh dan lalu “orang-orang bodoh itu” dikadali.</p>
<p>Dari salah gawe dan salah kedaden, jika tidak terkontrol oleh lingkungannya, orang “pintar” tadi dapat menjadi salah weweng (bacalah weweng seperti Anda mengucapkan lereng gunung); yaitu nyambut gawene ora temen, ora sregep, bekerjanya tidak fokus lagi, cenderung malas, bisa-bisa salah arah.</p>
<p><strong>Fokus</strong></p>
<p>Di beberapa daerah weweng diucapkan menjadi wengweng, salah wengweng; dan dalam makna yang sama, agaknya dewasa ini salah weweng inilah titik terlemah orang-orang yang bekerja saat ini. Ada semakin banyak godaan untuk bekerja tidak fokus, semakin ora sregep nyambut gawe tetapi sregep ke yang lain-lain yang semestinya itu bukan urusan langsungnya.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/07/24/guru-berdaya-ubah-dalam-putaran-roller-coaster-merdeka-belajar">Guru Berdaya Ubah dalam Putaran Roller Coaster Merdeka Belajar</a></strong></h4>
<p>Simpulannya, pintar boleh dan harus; namun kinerja nyatanya justru harus menggambarkan kepinterannya itu; jangan dibalik: pinter jebul dinggo minteri, dan dampak langsungnya lalu bekerjanya salah gawe, salah kedaden, dalah salah weweng.</p>
<p>Bisa melanda siapakah salah gawe, salah kedaden, lan salah weweng ini? Dapat terjadi pada siapa saja, sing jenderal ya bisa, sing pangkate kopral ya bisa; juga mereka yang tanpa pangkat/jabatan apa pun. Mari fokus.</p>
<h4><em><strong>(JC Tukiman Taruna, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</strong></em></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/07/orang-pintar-pasti-ora-salah-gawe-ora-salah-kedaden-lan-ora-salah-weweng">Orang Pintar Pasti: Ora Salah Gawe, Ora Salah Kedaden, lan Ora Salah Weweng</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Moderat Itu, lamun Greget Aja Gregeten, lamun Kendel Aja Kumendel, lamun Wani Aja Kewanen</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/08/01/moderat-itu-lamun-greget-aja-gregeten-lamun-kendel-aja-kumendel-lamun-wani-aja-kewanen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2022 14:53:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[jc tukiman tarunasayoga]]></category>
		<category><![CDATA[moderat]]></category>
		<category><![CDATA[unika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=268412</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga Sungguh layak dan membahagiakan, pantas dan menyelamatkan apabila, –idealnya-, setiap orang itu berkehendak (baik) untuk bersikap moderat. Sebutlah misalnya, Anda tiba-tiba tersinggung oleh komentar atau perkataan atau kelakuan orang lain, anak buah sekali pun; boleh saja Anda tersinggung bahkan mungkin marah. Meskipun begitu, alangkah akan layak dan membahagiakan, pantas dan menyelamatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/01/moderat-itu-lamun-greget-aja-gregeten-lamun-kendel-aja-kumendel-lamun-wani-aja-kewanen">Moderat Itu, lamun Greget Aja Gregeten, lamun Kendel Aja Kumendel, lamun Wani Aja Kewanen</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga</strong></h4>
<figure id="attachment_268415" aria-describedby="caption-attachment-268415" style="width: 570px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-268415" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/7itukiman.jpg" alt="" width="570" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/7itukiman.jpg 570w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/7itukiman-400x281.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/7itukiman-150x105.jpg 150w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><figcaption id="caption-attachment-268415" class="wp-caption-text">JC Tukiman Tarunasayoga</figcaption></figure>
<p>Sungguh layak dan membahagiakan, pantas dan menyelamatkan apabila, –idealnya-, setiap orang itu berkehendak (baik) untuk bersikap moderat. Sebutlah misalnya, Anda tiba-tiba tersinggung oleh komentar atau perkataan atau kelakuan orang lain, anak buah sekali pun; boleh saja Anda tersinggung bahkan mungkin marah.</p>
<p>Meskipun begitu, alangkah akan layak dan membahagiakan, pantas dan menyelamatkan jika kemarahanmu itu tidak sampai merusak, membalas membabi-buta, apalagi sampai membunuhnya.</p>
<p>Mengapa merusak, membalas membabi-buta atau membunuhnya itu harus dan sangat layak dihindari? Karena, begitu Anda merusak, membalas secara nekat, apalagi sampai membunuhnya, buntut permasalahannya akan amat panjangg&#8230;, dan pasti Anda sendiri yang justru nantinya akan menanggung risikonya dua atau tiga kali lipat. Sungguh layak dan membahagiakan, pantas dan menyelamatkan jika kita bersikap moderat.</p>
<p><strong>Makna Moderat</strong></p>
<p>Moderat itu maknanya ialah jikalau kita bersikap, berfikir, bahkan bertindak sebaiknya wajar-wajar saja dan hindarkan yang berlebih-lebihan. Jangan ekstrem, begitulah tepatnya. Seraya bersikap, berpikir, dan/atau bertindak moderat, seseorang tidaklah akan dituduh “Ah lembek, dikau;” atau “Cemen bener, loe.”</p>
<p>Bersikap moderat tidak akan menjadikan diri kita lemah berpendirian, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh punya harga diri dan keteguhan hati. Bertindak, bersikap dan atau berpikir moderat juga tidak akan menjadikan seseorang itu mudah kompromistis, kurang sensitif, atau bahkan tidak besar kepeduliannya terhadap segala sesuatu nilai.</p>
<h4>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/07/24/guru-berdaya-ubah-dalam-putaran-roller-coaster-merdeka-belajar">Guru Berdaya Ubah dalam Putaran Roller Coaster Merdeka Belajar</a></h4>
<p>Hidup selalu ada permasalahannya, dan semua permasalahan itu akan menjadikan semuanya itu layak, membahagiakan, pantas, bahkan menyelamatkan diri kita sendiri manakala kita sikapi secara moderat, wajar-wajar saja, tidak perlu ekstrem, apalagi palu menggunakan kekerasan.</p>
<p>Segala macam penyelesaian masalah lewat kekerasan, pasti tidak akan menyelesaikan permalsahan itu, malahan bakal membawa serta permasalahan lain-lain. Itulah mengapa: “<strong><em>Lamun sira greget, apike aja gregeten; lamun sira kendel, aja kumendel; lan lamun sira wani, aja kewanen:”</em></strong></p>
<p>Taruhlah Anda sedang sangat greget, bersemangat, hati berkobar untuk bertindak sesuatu; namun moderatlah dan jangan sampai gregeten, yaitu mangkel banget, sangat dongkol. Melakukan apa saja dalam kondisi hati ini dongkol (banget lagi),  pasti orang akan tergoda untuk melampiaskan kedongkolannya.</p>
<p><em><strong>Kumendel</strong></em></p>
<p>Lamun sira kendel, yaitu ora jirih, berani, gagah perkasa, namun pada saat keberanian itu memuncak, gunakanlah rem-pakem dalam hati nurani ini (moderat) agar kita tidak jatuh menjadi bersikap kumendel, yaitu babat habis siapa saja karena saya pemberani dan tidak seorang pun akan bisa melawan saya.  Lalu menepuk dada seraya mengacung-acungkan kepalan tangan sapa sira, sapa ingsun; siapa loe, ayo maju kalau berani. Jangan pongah seperti itu.</p>
<p>Hal yang mirip ialah lamun sira wani, aja kewanen. Setiap orang memiliki tingkat keberanian berbeda, ora wedi yang berbeda-beda. Dan itu wajar. Karena tingkat keberanian yang berbeda itulah maka, orang juga bisa saja berbeda dalam mengungkapkan keberaniannya yang berlebih.</p>
<h4><strong>Baca Juga: <a href="https://suarabaru.id/2022/07/17/sekolah-futuristik-ala-jawa-tengah">Sekolah Futuristik ala Jawa Tengah</a></strong></h4>
<p>Pedoman untuk bersikap moderatnya ialah, lamun ora wedi ateges wani, namun jangan berlebihan sehingga dadi kewanen. Tidaklah bagus kewanen itu karena kontrol diri bisa hilang manakala emosi menguasai diri seseorang.</p>
<p>Ajakan (dan ajaran?) untuk bersikap moderat menjadi semakin bergaung akhir-akhir ini lewat rumusan moderasi beragama, dan berintikan pada ajakan kepada semua pihak untuk selalu merujuk pada sikap dan perilaku mengurangi kekerasan atau keektreman dalam praktek beragamanya. Wajar-wajar sajalah.</p>
<h4><em><strong>(JC Tukiman Taruna, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang)</strong></em></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/01/moderat-itu-lamun-greget-aja-gregeten-lamun-kendel-aja-kumendel-lamun-wani-aja-kewanen">Moderat Itu, lamun Greget Aja Gregeten, lamun Kendel Aja Kumendel, lamun Wani Aja Kewanen</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://3.33.146.175/id/">https://3.33.146.175/id/</a>
<a href="https://117.18.0.23/">https://117.18.0.23/</a>
<a href="https://117.18.0.16/">https://117.18.0.16/</a>
<a href="https://117.18.0.24/">https://117.18.0.24/</a>

<a href="https://chinesemedicinenews.com/">https://chinesemedicinenews.com/</a>
<a href="https://revistaenigmas.com/">https://revistaenigmas.com/</a>
<a href="https://topweddinglists.com/">https://topweddinglists.com/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://ayahqq.it.com">https://ayahqq.it.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>
<a href="https://klik66.it.com">https://klik66.it.com</a>
<a href="https://radiofarmacia.org">https://radiofarmacia.org</a>
<a href="https://atendamais.org">https://atendamais.org</a>

<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>

<a href="https://aenfis.com/cloud/pkvgames/">https://aenfis.com/cloud/pkvgames/</a>
<a href="https://aenfis.com/cloud/bandarqq/">https://aenfis.com/cloud/bandarqq/</a>
<a href="https://aenfis.com/cloud/dominoqq/">https://aenfis.com/cloud/dominoqq/</a>
</div>