blank
Ilustrasi, petani yang sedang "ngluku" menggunakan kerbaunya. Foto: Reka: SB.ID

blank

PADA era masa kecil saya, tahun 60-an sampai tahun 70-an, saya sangat akrab dengan ritme hidup keluarga petani padi. Fase-fase paling sibuk petani padi ada pada saat panen: Memanen padi, diikuti menjemur padi-padi itu berhari-hari sampai betul-betul kering. Setelah itu memasukkan ikatan-ikatan padi ke dalam lumbung.

Di lahan sawahnya, begitu selesai padi di panen, batang -batang padi itu (namanya damen) harus dipotong dan dikeringkan di tempat. Setelah kering dibawa pulang untuk disimpan di bagian belakang kendang sebagai persiapan pakan kerbau di saat sulit rumput. Jika petani itu tidak memiliki hewan piaraan, damen kering itu banyak yang kemudian dibakar di sawah, untuk pupuk.

Secara simultan, pekerjaan di rumah dan di sawah berlangsung tumpeng-tindhih: Padi belum tentu segera kering karena itu butuh beberapa hari; namun damen juga segera harus segera diurus karena lahan perlu segera digarap agar siap ditanami bibit padi lagi. Penggarapan lahan sawah mulai dari awal (mengosongkan dari damen)  sampai siap ditanami, nah ………. Ini kesibukan lain yang melibatkan kerbau.

Jago kluruk

Ritme petani yutun bergelut dengan kerbau dan lahan garapan dimulai sejak jago kluruk sampai malam berikutnya. Jago kluruk dini hari membangunkan kami untuk segera memberi makan kerbau sepagi itu. Sekitar setengah jam kemudian,  sepasang kerbau disiagakan berangkat ke sawah.

Baca juga Wong-Wong Rongeh

Bapak memanggul luku (bajak), saya atau salah satu kakak mengarahkan kerbau ke sawah yang akan digarap. Setiba di sawah, sepasang kerbau segera dipasangi kuk, lalu dikaitkan dengan ujung luku. Artinya, pekerjaan membajak siap dimulai, dan saat itulah saya atau kakak boleh pulang ke rumah untuk bersiap-siap sekolah.

Mengapa membajak sawah harus dimulai sejak pagi-pagi benar? Kerbau tidak tahan panas.  Pekerjaan dimulai pagi-pagi benar agar petani oleh gawe, artinya pekerjaan efektif akan tercapai maksimal sampai sekitar pukul 09.00. Sinar matahari di atas pukul 09.00 sudah terasa panas bagi kerbau.  Kecuali kasihan jika kepanasan, kerbau pun juga ogah-ogahan.

Setelah pasangan atau kuk tadi dilepas, biasanya kerbau lalu berkubang di lumpur untuk beberapa saat, baru dibersihkan di  sungai terdekat. Baru dibawa pulang untuk  makan dan istirahat. Apabila sore hari kerbau itu dibutuhkan lagi tenaganya, biasanya pekerjaan baru dimulai setelah pukul dua siang.

Yutun

Ritme kehidupan  bertani seperti itulah gambaran yang dapat dijumpai di perdesaan mana pun saat itu. Maka, ungkapan yutun biasanya digandeng dengan kata tani: Tani yutun. Apa artinya?  Para petani harus dengan setia mengikuti ritme kehidupan tumpeng-tindhih pekerjaan seperti itu di saat-saat panen yang pasti berlanjut dengan saat menata semuanya lagi untuk menanam. Tanpa kesetiaan terhadap ritme, pada musim tanam nanti pasti akan tertinggal dari petani-petani lainnya. Tertinggal dari keserentakan.

Wong yutun disebut juga wong mungkul, artinya mereka itu temen anggone nyambut gawe, rajin bekerja. Seperti dikatakan di atas, rajin bekerja (serentak) merupakan keharusan alami bagi petani yutun, karena  jika menanamnya serentak, kelak panen juga serentak. Mengapa harus serentak, mengapa harus rajin seperti itu? Salah satu alasan utama, ialah untuk menghindari berkembang-biaknya hama tanaman. Logika berpikir tentang hal ini dapat dijelaskan pada kesempatan lain.

Yutun di zaman now

Bekerja rajin (atau rajin bekerja, tepatnya?) adalah tuntutan wajib bagi siapa pun yang sedang bekerja di era zaman kapan pun. Di zaman now pun, setiap pekerja harus rajin. Artinya, yutun dalam konteks saat ini, rasanya tidak berbeda dari tuntutan yutun di era dulu. Yang berbeda mungkin hanya ritme atau alokasi waktunya saja.

Baca juga Wong-wong Dahwen

Ada satu catatan penting berupa pertanyaan, yakni: Apakah yutun sudah dengan sendirinya menggambarkan etos kerja?  Maksudnya, apakah bekerja yutun itu sama dengan telah dipegangnya prinsip dan etos kerja pada diri orang yang melaksanakannya? Jawabannya “ya,” sejauh hal-hal berikut terpenuhi. Pertama, etos kerja telah tertanam atau terbentuk dalam diri seseorang manakala bekerja rajin, atau sikap rajin sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan hidup seseorang.  Jika seseorang bersikap rajin namun baru sebatas karena diawasi pimpinan, atau karena ingin mengejar hadiah, belumlah sikap seperti itu disebut etos.

Kedua, rajin bukan hanya menjadi sikap dan kebutuhan, melainkan justru di situlah sumber kepuasan dan kebahagiaan hidupnya.  Dalam ungkapan bahasa Jawa, ada kata-kata: Yen ora nyambut gawe, awake lara kabeh; jika tidak bekerja, justru seluruh tubuhnya terasa sakit. Ungkapan itu menegaskan betapa bahagianya orang manakala dapat bekerja sebaik dan serajin mungkin.

Ketiga, bekerja rajin sertamerta sangat bernilai etis dan menggambarkan tingginya etos kerja seseorang, karena/jika, di situlah  orang menemukan jati dirinya yang sebenar-benarnya.  Identitas seseorang ditentukan dari kualitas kerjanya, bukan dari pangkatnya.

Dalam upaya pembelaannya kepada sejumlah petani, seorang pengacara  yang katanya kondang sering berucap: Bapak-bapak, kalau berhadapan dengan siapa pun berdirilah tegap dan tegak. Pandanglah mata setiap orang yang bapak-bapak hadapi. Kita harus bersikap seperti itu agar jangan “kalah sebelum bertanding.”

Ucapan itu diulang setiap kali olehnya, sampai-sampai suatu saat seseorang memberanikan diri menjawab: “Bapak pengacara, kami ini petani sederhana yang setiap saat hanya mampu  menyapa tanaman padi sejak benihnya disemaikan sampai panen kelak. Ilmu padi mengajarkan kepada kami: Semakin berisi, justru semakin menunduk. Sebaliknya yang mendongak tegak, itu berarti tidak berisi.”

Pengacara itu terdiam  dan terdiam. “Wong yutun memang berbeda, ……….” gumamnya.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng