JEPARA (SUARABARU.ID) – Forum Penulis Literasi Jepara bekerja sama dengan Yayasan Kartini Indonesia menggelar Pelatihan Jurnalistik bertema “Menyebarkan Kabar Baik untuk Kebaikan Bersama” di Gedung Shima, Jepara, Senin (1/6/2026). Kegiatan yang diikuti 75 peserta ini menghadirkan tiga orang jurnalis dan pegiat literasi sebagai pemateri.
Kegiatan dibuka oleh Bunda Literasi Jepara Ny Ela Witiarso Utomo yang diwakili Kabid Perpustakaan Diskarpus, Dwo Agus Andariyanti dan menghadirkan duta bahasa Jawa Tengah, Amaliyatul Hidayah Rofiq sebagai moderator. Mantan Presiden BEM Unisbank Semarang ini mampu memantik semangat dan perhatian peserta.

Pelatihan tersebut diikuti oleh guru, mahasiswa, pegiat literasi, staf OPD, staf perusahaan serta pengelola forum perpustakaan di Kabupaten Jepara. Kegiatan diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi masyarakat sekaligus mendorong lahirnya konten-konten positif di ruang digital untuk melawan kabar bohong yang semakin banyak bertebaran di berbagai platform media digital
Ketua penyelenggara sekaligus narasumber utama, Hadi Priyanto, mengatakan bahwa masyarakat saat ini setiap hari dihadapkan pada berbagai informasi yang kerap menimbulkan keresahan, ketakutan, hingga kekecewaan. Bahkan putus asa. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan lebih banyak kabar yang mampu membangun optimisme dengan mengabarkan kabar baik

“Melalui kegiatan semacam ini, harapan kita bisa bersama-sama memberikan kontribusi untuk mengabarkan kabar baik yang ada di lingkungan kita untuk kepentingan bersama,” ujar Hadi dalam sambutannya.
Ia menambahkan, berbagai hal kecil yang terjadi di lingkungan sekitar juga dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat apabila ditulis dan disebarluaskan dengan baik. Karena itu, media sosial sebagai platform digital diharapkan tidak hanya dipenuhi informasi yang memicu pesimisme, tetapi juga cerita-cerita yang memberikan harapan dan semangat warga.

Sementara itu, Sulismanto dalam pemaparannya menjelaskan bahwa berita yang baik harus bersifat faktual, memenuhi unsur 5W+1H, ditulis dengan bahasa jurnalistik yang ringkas dan akurat, serta mampu menyampaikan informasi yang relevan bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya mencari fakta dari narasumber yang tepat, menyusun lead yang kuat, menggunakan struktur piramida terbalik, menyertakan kutipan langsung, dan menghindari opini pribadi dalam penulisan berita.
“Fokuslah pada hal yang penting bagi pembaca, bukan yang penting bagi penulis,” tegasnya.
Sulismanto juga menyinggung istilah yang cukup populer di dunia jurnalistik, yakni “bad news is good news”. Menurutnya, meskipun berita negatif sering kali menarik perhatian publik, jurnalis tetap memiliki tanggung jawab dalam menghadirkan informasi yang bermanfaat dan memberikan nilai bagi masyarakat, diantaranya menanamkan optimisme masyarakat

Tingkat Jawa Provinsi Tenggah, Amaliya Hidayah Rofiq saat menjadi moderator di acara pelatihan jurnalistik. Foto: Safiq
Pada sesi akhir, ia membahas tantangan jurnalistik di era digital. Menurutnya, algoritma media sosial dan mesin pencari kini berperan besar dalam menentukan konten yang dikonsumsi oleh masyarakat. Penulis berita perlu memahami minat audiens, termasuk melalui platform seperti Google Discover yang menampilkan artikel sesuai kebutuhan pembaca.
Sulismanto menjelaskan bahwa artikel yang banyak dibaca umumnya mampu menjawab persoalan yang dialami banyak orang, menjawab pertanyaan secara spesifik, bersifat relevan dalam jangka panjang, dan ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Adakalanya, yang paling banyak dibaca bukan yang paling panjang atau paling berat, melainkan yang menjawab satu kebingungan kecil yang dialami banyak orang,” pungkasnya.
Sementara Septiana Wibowo yang dikenal sebagai jurnalis dan penulis buku Bukan Kartini mengungkapkan pentingnya penulisan feature di media digital. “Tulisan berita dengan materi human interes mudah menyentuh perasaan pembaca,” ujar Septiana yang dikenal juga sebagai pelatih bahasa Inggris pelajar.
Menurut Septi, prestasi pelajar, apapun tingkatannya dapat memberikan motivasi yang bernilai bagi anak untuk terus mengembangkan potensi dirinya. Juga bisa memberikan pendorong bagi teman-temannya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang informatif, bertanggung jawab, serta mampu menyebarkan kabar baik yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Hadepe – Safiq













