
MASIH tentang kata “ora” yang kali ini dalam episode “sak ora-orane”. Ada perbedaan besar antara ungkapan ora-orane, yen …… dengan sak ora-orane.
Minggu lalu dimunculkan, ora-orane, yen… Menggambarkan ada optimisme kebablasen. Contoh kalimatnya sudah banyak dan jelas; ora-orane yen suk mlarat asalkan kamu rajin bekerja. Optimis pol bahwa siapa pun tidak akan hidup melarat asalkan rajin bekerja (apa pun).
Pertanyaannya memang, benarkah itu? Ada banyak bukti, orang sudah pontang-panting rajin bekerja, ehhhhhh pas-pasan terus, bahkan belum pernah merasakan nikmatnya sate Pak Pong. Sedang terkait ungkapan sak ora-orane, terkandunglah optimisme minimalis.
Optimis garis atas-bawah
Sikap optimis garis bawah, sebutlah minimalis, tidak salah bila disebutkan sebagai salah satu ciri Wong Jawa “garis ndesa,” spontan narima ing pandum, menerima apa adanya. Dan itu terungkap dengan sangat spontan, asli, tanpa beban, tanpa dibuat-buat, lewat tembung sak ora-orane.
Baca juga Ora-Orane Yen….
Di zaman sulit saat ini, seseorang diterima bekerja di suatu tempat, entah apa pun bentuk pekerjaannya dan entah berapa pun nanti upahnya; orang garis nrima ing pandum akan mengatakan: Sak ora-orane nyambut gawe sik, setidak-tidaknya dilakoni dulu untuk cari pengalaman, misalnya. Kondisi kerja seperti itu biasanya akan dihayati sebagai kesempatan belajar bekerja seraya membangun relasi, siapa tahu kelak melihat peluang lain yang lebih baik.
Sak ora-orane bermakna setidak-tidaknya secara minimalis dan sangat realistis. Apa pun wujudnya selalu dicoba untuk disyukuri. Jika dalam sebuah ajang pertandingan atau pun kompetisi seseorang ora oleh apa-apa, tidak mendapatkan hadiah atau prestasi apa pun, ungkapannya tipikal sekali: Sak ora-orane nate nyoba melu, setidak-tidaknya pernah terlibat. Nyaris tidak akan ada seorang pun merasa gagal lewat ungkapan sak ora-orane ini.
Tak ada kegagalan
Dalam kelembagaan atau instansi mana dan apa pun, ungkapan sak ora-orane ini sangat dihayati bahkan diyakini; dan oleh karena itu tidak ada pembangunan disebut gagal.
Semisal ada gedung magrong-magrong telah dibangun, namun lalu tidak berfungsi karena suatu sebab, instansi mana pun akan berkata:
Setidak-tidaknya, sak ora-orane tempat itu pernah diresmikan oleh Presiden. Teta pada rasa bangga betapa pembangunan gedung itu pernah mengukir sejarah diresmikan oleh bla…ba….bla….. Prasastinya ditanda tangani oleh bli…bli…bli…
Tak ada kegagalan dalam hidup berfalsafahkan sak ora-orane ini, sebab yang ada hanyalah tidak berfungsinya secara optimal lapangan terbang, waduk, gedung, bendungan, stadion, dan entah apa lagi.
Baca juga Ora Mitayani
Tidak ada kerugian apa pun bagi orang berfalsafah sak ora-orane. Sekali pun dulu beaya pembangunan tempat itu bermiliar-miliar, dan kini tidak berfungsi lagi, hohoho… tidak ada yang dirugikan atas itu semua. Semua sudah lewat, kan? Semua sudah dipertanggungjawabkan, kan? Sak ora-orane, di sini, di tempat ini, pernah ada blup…. blup….. blup; siapa tahu lima puluh tahun lagi puing-puingnya akan menjadi/dianggap peninggalan sejarah.
Di kantor Presiden Abraham Lincoln ada seorang muda, berbadan tegap, atletis, sigap dan cekatan, merasa pekerjaan sehari-harinya sebagai pekerjaan wanita. Ia setiap kali mengeluh bahkan menggerutu. Pernah ia memberanikan diri berkata kepada presiden: Kirim saya ke barak tantara, saya ingin memakai seragam loreng-loreng dan angkat senjata. Saya siap mati di medan perang untuk negara.
Tetapi ia kecewa, karena lama menunggu, namun keinginannya itu belum dikabulkan. Saat presiden melintas di depannya, pemuda itu menagih lagi: “Mr presiden, kapan permintaan saya akan Anda kabulkan? Setidak-tidaknya, saya ingin ikut di medan perang, saya siap mati untuk negara.”
Mendengar hardikan itu, presiden mendekati pemuda itu, menepuk-tepuk punggungnya, lalu Mr presiden berkata: “Aku tahu, kamu siap mati untuk negara; tetapi kamu ternyata tidak siap hidup dengan pekerjaan rutin di kantor ini.”
JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar pengembangan masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang













