Oleh Lanny Ilyas Wijayanti
SAAT ini muncul dua fenomena yang bertolak belakang di kalangan pelajar, yaitu quiet quitting dan hustle culture. Quiet quitting mengacu pada sikap siswa yang hanya melakukan apa yang diperlukan tanpa usaha ekstra, sedangkan hustle culture mendorong siswa untuk bekerja tanpa henti demi mencapai prestasi setinggi mungkin.
Kedua fenomena ini mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda terhadap pendidikan dan kehidupan mereka. Tantangannya adalah bagaimana siswa bisa menemukan keseimbangan agar tidak terjebak dalam ekstremitas yang merugikan, serta bagaimana guru BK dapat berperan dalam membantu mereka menghadapi fenomena ini.
Fenomena quiet quitting di kalangan pelajar dapat muncul sebagai bentuk protes terhadap tekanan akademik yang berlebihan. Banyak siswa merasa bahwa usaha ekstra mereka sering kali tidak dihargai atau justru menguras energi tanpa hasil yang sepadan.
Mereka akhirnya memilih untuk hanya memenuhi standar minimum tanpa keterlibatan lebih jauh dalam kegiatan sekolah. Sikap ini dapat berdampak negatif jika membuat siswa kehilangan motivasi belajar atau menutup diri dari kesempatan untuk berkembang.
Quiet quitting bisa menjadi bentuk perlindungan diri dari kelelahan mental akibat beban akademik yang terlalu berat, namun jika dibiarkan tanpa keseimbangan, siswa bisa kehilangan motivasi dan merasa tidak memiliki tujuan dalam belajar.
Di sisi lain hustle culture, yang merupakan sebuah tren yang mendorong siswa untuk terus bekerja keras tanpa mengenal batas. Pelajar yang terjebak dalam budaya ini cenderung merasa bahwa mereka harus selalu produktif dan mencapai lebih banyak agar dianggap sukses.
Mereka sering kali mengorbankan waktu istirahat, kehidupan sosial, bahkan kesehatan mental mereka demi mengejar prestasi akademik atau kegiatan ekstrakurikuler. Tekanan ini sering kali datang dari ekspektasi lingkungan, baik dari keluarga, guru, maupun media sosial yang menampilkan standar kesuksesan yang tinggi.
Mereka yang memilih quiet quitting mungkin merasa kurang dihargai atau mengalami ketertinggalan, sementara mereka yang mengikuti hustle culture bisa mengalami kelelahan mental yang berujung pada burn out. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang agar siswa tetap bisa berkembang tanpa harus mengorbankan kesehatan mental mereka.
Peran Guru BK
Di sinilah peran guru BK menjadi sangat penting. Guru BK harus mampu memahami bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kapasitas yang berbeda dalam menghadapi tekanan akademik dan sosial. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah memberikan bimbingan tentang manajemen waktu dan prioritas.
Dengan memahami cara mengelola waktu dengan baik, siswa dapat menemukan keseimbangan antara belajar, beristirahat, dan melakukan aktivitas lain yang mereka nikmati. Selain itu, guru BK juga dapat membantu siswa membangun pola pikir yang sehat terkait kesuksesan dan pencapaian.













