Banyak siswa yang merasa bahwa nilai akademik adalah satu-satunya tolok ukur keberhasilan, padahal kesuksesan juga bisa datang dari pengembangan keterampilan lain seperti kepemimpinan, kreativitas, atau kemampuan sosial. Melalui berbagai layanan BK, guru BK bisa membantu siswa menetapkan tujuan yang realistis dan sesuai dengan kapasitas serta minat mereka.
Penting bagi guru BK untuk menciptakan ruang aman bagi siswa agar mereka merasa nyaman dalam mengungkapkan perasaan dan tekanan yang mereka hadapi. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, siswa tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi dilema ini.
Guru BK juga dapat bekerja sama dengan guru mata pelajaran untuk menciptakan sistem pembelajaran yang lebih suportif dan tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada kesejahteraan siswa.
Di era digital, pemanfaatan teknologi juga bisa menjadi solusi dalam membantu siswa menghadapi tekanan akademik. Guru BK dapat memanfaatkan platform digital seperti aplikasi konseling online, forum diskusi, atau media sosial sebagai sarana untuk memberikan dukungan dan motivasi bagi siswa.
Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan gaya komunikasi generasi muda, layanan BK dapat lebih efektif dalam menjangkau dan membantu siswa. Pada akhirnya, menemukan keseimbangan antara quiet quitting dan hustle culture adalah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap siswa.
Pada akhirnya, menemukan keseimbangan antara quiet quitting dan hustle culture adalah tantangan yang harus dihadapi. Sikap pasif terhadap pendidikan tidak akan membawa perkembangan, tetapi bekerja tanpa henti juga bisa merugikan kesehatan mental.
Dengan bimbingan yang tepat dari guru BK, siswa dapat belajar bagaimana menetapkan batasan yang sehat, mengelola waktu dengan bijak, serta memahami bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik semata, tetapi juga dari kesejahteraan mental dan kebahagiaan mereka dalam menjalani proses belajar.
Dengan demikian, mereka dapat menghadapi dunia pendidikan dan masa depan dengan lebih percaya diri dan mampu mengontrol diri sendiri dalam berbagai aspek kehidupan.
Lanny Ilyas Wijayanti, Anggota Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia













