blank
Latihan di kebun singkong, di dekat rumah penulis tahun 1990. Fto: Dok: Masruri

blankYOSIS SISWOYO dari Silat Bandar Karima di Bandung, mengakui dari kalangan tenaga dalam, kurang mentradisikan melestarikan sejarah perguruan. Walau Yosis menyebut Nampon dan Andadinata yang  mengenalkan tenaga dalam, kemunculan Sin Lam Ba dan Al-Hikmah di Batavia pada waktu bersamaan, perlu dicatat bagi yang ingin melacak sejarah.

Tentang Sin Lam Ba, H Harun Ahmad murid Muhammad Toha,  guru besar  Sin Lam Ba – Jakarta, menjelaskan tahun 1896 Bang Toha yang Polisi zaman Belanda itu menemukan jurus tenaga dalam dari H Odo, kiai dari pesantren di Cikampek, Jawa Barat.

Al-Hikmah versi Abah Zaki Abdul Syukur, bersumber dari Bang Toha, pada awal beraktivitas perguruannya bergabung dengan  Sin Lam Ba. Ketika saya tanya H Harun Ahmad dari mana H Odo belajar ilmunya, tidak ada penjelasan, karena tenaga dalam yang berbeda-beda nama itu, dulunya “tanpa nama” yang dikembangkan dengan  mengadopsi dari berbagai aliran.

Melacak sejarah tenaga dalam dapat ditelusuri dari sejarah berdirinya tenaga dalam “tua” : Tahun 1896 pertemuan M. Toha dengan H. Odo di Cikampek dan berdirinya Sin Lam Ba di Jakarta. Tahun 1922 Andadinata mengenalkan jurus tenaga dalam di Bandung.

Dari Andadinata muncul aliran Margaluyu. Tahun 1932 Nampon mendirikan Tri Rasa di Bandung dan H. Abdul Rosyid mendirikan  Budi Suci di Bogor. Sejarah perkembangan tenaga dalam, dari Jawa Barat dan Batavia. Aliran Nampon menyebar ke Jawa Tengah melalui Ragajati, JSP (jurus seni penyadar).

Al-Hikmah masuk Jawa Tengah melalui pesantren di Temanggung. Budi Suci didirikan H. Abdul Rosyid di Bogor berkembang ke  pantai utara : Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek, Kuningan, Indramayu, Cirebon, Semarang dan tahun 1983 di Sirahan, Pati.

Pada tahun berikutnya, perkembangan tenaga dalam makin marak. Seseorang yang belajar tenaga dalam, mendirikan perguruan baru. Ini alamiah, karena yang sudah mampu mengajarkan ilmu, belum tentu sepaham dengan tradisi pada perguruan lamanya.

Pertimbangan merubah nama karena banyak hal, mulai ketidaksepahaman pola pikir guru zaman dulu yang mistis dan kalangan muda yang modernis, dan pertimbangan yang lain.

Karena misi mempelajari tenaga dalam yang semula untuk “kesaktian” berubah ke  olah raga, karena zaman menganggap, lawan berat yang sesungguhnya itu penyakit. Perguruan yang mengeksploitasi kesaktian diminati kelompok tradisional.

Dan ini bertentangan dengan sikap para tokoh seperti Bang Kari yang berpesan agar ditanamkan dulu karena kegagalan memanfaatkan tenaga dalam disebabkan mental yang belum siap, dan ingat jurus tenaga dalamnya, setelah duelnya selesai.

Berdasarkan pengamatan, tenaga dalam berfungsi baik justru disaat  “tidak sengaja” atau terpaksa harus bertahan dari serangan. Tenaga perannya lebih  bertahan. Biarkan orang marah, tetaplah bertahan dengan tenang, sabar, dan tidak perlu mengimbangi amarah.

Sebab jika tenaga dalam itu disertai amarah, rumusnya menjadi “plus ketemu plus” menyebabkan energi  tidak berfungsi. Kunci keberhasilannya membiarkan lawan “budi” (bergerak, amarah) dan tetap mempertahankan “suci” (sabar, tenang).

Memosisikan diri untuk bertahan (sabar) ditentukan kematangan mental. Pada masa Nampon dan H Abdul Rosyid, tenaga dalam sering berhasil karena dipegang  pendekar yang sudah terlatih bela diri fisik dan teknik, hingga saat menghadapi penyerang, mentalnya terjaga.

Sebagian yang belajar tenaga dalam, telanjur yakin serangan lawan tidak mampu menyentuh, sehingga tidak dipersiapkan menghindar atau menangkis. Karena tidak terlatih, disaat kontak fisik, yang muncul rasa takut atau terpancing mengimbangi amarah.

Tenaga Dalam Pantura

Perkembangan tenaga dalam di wilayah eks Karisedenan Pati tak lepas dari peran Perguruan Satya dibawah asuhan Soeharto – Semarang. Satya berkembang di wilayah Pati oleh Subiyanto asal Jepara. Setelah itu Subiyanto mendirikan perguruan Mustika. Perguruan itu  muncul sesaat dan tidak ada beritanya.

Akhir tahun 70-an Satya masuk wilayah Pati. Satya lebih mudah diterima semua kalangan  karena terbuka dan njawani, tidak bernaung dibawah partai, dan menerima anggota dari semua agama.

Kesamaan Satya dengan Budi Suci karena almarhum Soeharto mengenal jurus tenaga dalam dari Yusuf di Tanjung Pinang. Yusuf murid  Sidik. Sedangkan Sidik murid H Abdul Rosyid, pendiri Budi Suci.

Ketika pengurus Satya Sirahan bertemu Sidik di Cilincing, Jakarta Utara, lalu diboyong untuk meneruskan pembinaan pada anggota perguruan. Kehadiran Sidik ibarat meneruskan pelajaran lanjutan yang tidak terdapat pada kurikulum Satya.

Selain pembaharuan dalam jurus dasar, juga meneruskan materi Jodoh Jurus dan Kembang Jurus, rangkuman dari Abah Khoir yang pendiri Cimande, dan sebagiannya sudah digubah H Abdul Rosyid. Selesai