blank

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Pameran lukisan bersama Hatmojo dan Widoyo di Songo Art Galeri, Dusun Ganjuran I, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, yang dibuka 18 September akan berakhir 18 Oktober mendatang. Selanjutnya di galeri tersebut tetap akan dipajang lukisan.

Pelukis Hatmojo ketika ditemui hari ini (Sabtu 14 Oktober 23) mengatakan, Songo Art Galeri untuk membantu dunia pariwisata. Dia sebagai warga Tuksongo merasa perlu untuk berperan.

Pameran tersebut sejak 18 September sampai 18 Oktober. Dibuka setiap hari mulai pukul 09.00-21.00. “Tetapi praktiknya buka 24 jam,” katanya.

Dalam pameran tersebut hanya berdua. Ada pelukis lain sempat ditolak. Padahal hendak membiayai. Meski hanya berdua, dia tetap optimis. “Saya tidak pernah takut dan malu,” ujarnya.

Ajang pameran itu menggunakan angka berjumlah 9. Selain dibuka dan dikhiri tanggal 18, materi pamerannya sebanyak 18 lukisan. Lukisan Widoyo berjumlah 9 buah, lukisan dia juga 9. Jenis lukisannya berupa dekoratif dan abstrak figuratif.

Dari sejumlah lukisan yang dipamerkan, karya Widoyo yang berjudul Gemah Ripah Lohjinawi dipatok harga Rp 60 juta.
Menggambarkan kemakmuran bangsa.

Menurut Hatmojo, setiap hari ada pengunjung. Baik dari lembaga sekolah maupun hotel. “Di pameran ini tetap ada edukasi. Menjadi ruang untuk belajar bareng,” jelasnya.

Dalam pameran tersebut bersama Widoyo yang lahir di Magelang pada 10 Januari 1965. Pelukis Widoyo tercatat setidaknya telah pameran sebanyak 12 kali. Penghargaan yang pernah diraih, antara lain dari MURI berupa lukisan Candi Borobudur berukuran 1×1 cm. Juga pernah memperoleh penghargaan finalis UOB Jakarta, penghargaan finalis Jakarta Art World Jaap. Dia mulai pameran sejak 1993 sampai sekarang, aktif di Magelang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali.

Sedangkan Hatmojo dilahirkan di
Magelang pada 6 April 1968 dan kini tinggal di Ganjuran I Tuksongo, Borobudur. Pada tahun 2019 ikut pameran Sakti 3030 Magic Power Energy.  National Internasional Art Exhibition, Art Gallery Singapura.

Eko Priyono