blank
WBP Lapas Permisan Nusakambangan tengah membatik dalam program kemandirian. Foto: Ning S

NUSAKAMBANGAN (SUARABARU.ID) – Kasi Kegiatan Kerja Lapas Permisan Nusakambangan, Reza Ibnu Wibowo menyebut, Lapas Permisan memiliki beberapa program kemandirian.

Saat ini, ada sekitar 407 warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang menghuni di Lapas Permisan. Mereka terdiri dari berbagai kasus pidana.

Menurut Reza, di Lapas Permisan, para WBP mendapatkan program kemandirian, diantaranya kerajinan membatik yang hingga saat ini sudah Go International.

Kerajinan membatik ini termasuk yang paling menonjol diantara kegiatan lainnya.

Hingga para WBP membuat slogan “Dengan membeli selembar batik ini, anda telah menghargai karya kami, manusia yang ingin kembali kepada masyarakat. Inilah karya kami dari balik jeruji”.

Selain batik, ada juga Bakery (Vermis Bakery) yang sudah berlangsung dua tahun dan hasilnya sudah layak jual keluar Lapas. Ada juga seni kaligrafi, lampu hias tidur, bengkel, sablon, hingga pembuatan sabun cuci pakaian maupun sabun cuci piring.

Di Lapas Permisan yang berstatus Medium Security ini, semua WBP wajib mengikuti program kemandirian. Namun mengingat tempat yang kurang mencukupi, mereka akan bergantian dan menjalani asesmen.

“Mereka awalnya diasesmen, punya keterampilan atau kemampuan apa. Jika keterampilannya sama yang ada di sini, mereka akan disalurkan sesuai kemampuannya. Namun jika tidak punya keterampilan, mereka akan mencoba sesuai kemampuan ataupun diarahkan,” ungkap Reza kepada awak media dalam kegiatan Media Tour, baru-baru ini.

Reza mengatakan, saat ini ada sekitar 150 warga binaan yang terdaftar mengikuti program kemandirian.

“Dari hasil kerjanya, para WBP ini akan mendapatkan premi sebesar 50 persen dari keuntungannya, yang setelah terkumpul bisa dikirim ke keluarganya melalui petugas Lapas,” jelas Reza.

Ning S