blank
Siswa bersama guru kelas 4 SDN Banioro, Kecamatan Sadang, Kebumen, praktik mengolah limbah plastik menjadi barang sejenis BBM.(Foto:SB/PILAR)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Tiada hari tanpa plastik. Itulah fakta yang terjadi saat ini, dan akan terjadi pada hari-hari mendatang sekitar kita, termasuk di lingkungan sekolah.

Manusia akan terus menggunakan barang-barang berbahan plastik untuk menunjang aktivitas dan kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini disebabkan barang-barang berbahan plastik tersebut mudah didapat, murah, dan praktis digunakan untuk semua kebutuhan.

Sayangnya, selama ini bahan-bahan atau barang-barang berbahan plastik tersebut langsung bisa kita buang. Namun ada yang kurang kita sadari risikonya, yakni bagaimana efek dari pembuangan plastik tersebut terhadap kesehatan lingkungan.

Ketika dibuang di tempat pembuangan sampah, bahan plastik berinteraksi dengan air dan membentuk bahan kimia berbahaya. Jika senyawa ini meresap ke bawah menuju akuifer air dalam tanah, maka dapat menurunkan kualitas air dan menyebabkan air dalam tanah tercemar. Lalu bagaimana solusinya?

Solusi mudah untuk mengatasi pencemaran limbah plastik dengan cara membakarnya. Namun guru dan siswa kelas 4 SDN Banioro, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, kini mempunyai solusi yang lebih kreatif dan produktif.

Yakni lebih dari hanya sekadar membakarnya, melainkan dengan memanfaatkan limbah plastik tersebut menjadi sejenis bahan bakar minyak (BBM). Bagaimana caranya? Yakni dengan metode penyulingan (distilasi).

Karya guru dan siswa tersebut, merupakan salah satu dampak positif dari penerapan Kurikulum Merdeka di SDN Banioro, selaku pelaksana Program Sekolah Penggerak (PSP) Angakatan II di Kabupaten Kebumen.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam Kurikulum Merderka sekolah diberikan keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan sumber daya dan lingungan sekolah dan karakteristik serta potensi para siswanya. Bertolak dari bebarapa aspek tersebut, timbul kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran.

Memberi Keleluasaan kepada Guru

Kepala SDN Banioro, Widodo, SPd MPd memberikan keleluasaan dan fasilitasi kepada semua guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan agar dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa mampu menunjukkan potensinya secara maksimal.

Peluang ini disambut dengan antusias oleh para guru, termasuk Tijo, guru kelas 4. Ia mengajak siswa-siwanya mengamati lingkungan untuk menemukan sesatu yang bisa dipakai sebagai sumber balajar.

Mereka memukan antara lain limbah plastik yang bertebaran di sekitar sekolah. Selain mengganggu pemandangan, juga berpotensi untuk mencemari lingkungan. Akhirnya muncul ide untuk mengelola limbah plastik tersebut menjadi bahan bakar minyak.

Alat-alat yang digunakan untuk pengelohan limbah plastik tersebut antara lain kaleng bekas biskuit, selang, tiga buah botol, dan tungku pemanas. Bahan yang dibutuhkan adalah limbah plastik.

Alat-alat tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga terbentuk destilator (alat penyuling). Kompor gas berfungsi sebagai alat perebus, kaleng bekas biskuit berfungsi sebagai tempat merebus plastik, selang sebagai penyalur uap perebusan ke tiga buah botol. limbah plastik dimasukkan ke dalam kaleng bekas biskuit, dipanaskan selama 15 menit.

Uap hasil perebusan limbah plastik yang jatuh di botol pertama setara dengan minyak tanah, yang jatuh di botol kedua setara dengan minyak solar, dan yang jatuh di botol ketiga setara dengan bensin.

Sarwa Eka selaku Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan II Kabupaten Kebumen, yang jugta Direktur Eksekutif Peduli Indonesia Belajar (PILAR) menyaatakan, dari praktik pembelajaran di atas, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, sumber belajar tidak hanya berasal dari buku teks saja, tetapi juga bisa menggunakan lingkungan dan benda-benda di sekitar sekolah.

Bahkan benda-benda yang selama ini terlihat tidak berguna, dengan memanfaatkan berbagi referensi, bisa dimanfaatkan sehingga menjadi barang yang berharga.”Dengan demikian pembelajaran yang diikuti siswa menjadi pembelajaran yang bermakna,”ujar Sarwa Eka.

Menurut Sarwa Eka, pembalajaran bermakna tidak hanya menuntut siswa untuk menguasai pengetahuan keilmuan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu membentuk karakter siswa yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bergotongroyong, Berkebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif.

Komper Wardopo