Perempuan yang akrab disapa Mbak Ita tersebut menekankan kuantitas dan kualitas produk yang dijual lewat online harus selalu dijaga supaya tidak mengecewakan pelanggan.

Hal tersebut juga diperlukan supaya UMKM dapat berjalan lama dan berkelanjutan. Di samping itu, pengambilan foto untuk katalog juga harus diperhatikan.

“Di market place kadang tampilan bisa terlihat bagus tapi setelah sampai ternyata ukurannya sangat kecil atau tidak sesuai. Meskipun dijual lewat aplikasi, produk-produk harus tetap memiliki kualitas yang bagus. Makanan tidak hanya asal masak rasanya enak, tapi packagingnya juga harus bagus (untuk meningkatkan nilai jual). Sehingga harapannya para pelaku UMKM ini melakukan hal-hal yang mengikuti perkembangan zaman,” terang Ita.

Ada juga saat pertama membeli cocok, tambah Ita, tapi kemudian saat ingin memesan jumlah banyak malah tidak bisa karena berbagai alasan. Ini artinya pelaku UMKM belum siap sepenuhnya. Kemarin ada pembinaan pada pengrajin batik lasem tapi pesertanya sudah pada sepuh-sepuh.

Karena itu, pihaknya berharap agar Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang tidak hanya melakukan sosialisasi tapi juga mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada pelaku UMKM supaya produk UMKM bisa berjalan lama dan berkelanjutan.

Ita juga mengimbau agar ke depannya aplikasi SI UMI dapat terintegrasi dengan program P3DN karena saat ini UMKM yang terdaftar pada program P3DN dan e-katalog masih jauh dari target.

Sementara itu, dalam laporannya, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang, Agus Wuryanto menjelaskan bahwa aplikasi SI UMI merupakan jembatan antara pelaku UMKM dengan market place. 

Diharapkan dengan menggunakan SI UMI akan ada peningkatan omzet bagi pelaku usaha.  “Nanti akan kita pantau apakah mereka akan jadi berdaya atau tidak. Aplikasi ini memang belum sempurna baru dua bulan dibangun. Masih kami kembangkan lagi, (layanan) perbankan juga akan bisa masuk ke depannya. Kemungkinan akan bisa digunakan pada bulan Desember 2022,” pungkas Agus.

Hery Priyono