blank

Oleh : Sukiswati, S. Pd

Saat ini, semua bidang kehidupan menjadi digital. Contoh konkritnya adalah munculnya banyak perangkat yang dapat digunakan untuk mengakses informasi digital. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan perangkat modern sebenarnya telah mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia. Perkembangan teknologi memiliki beberapa dampak negatif.

Penggunaan teknologi secara positif membutuhkan aksesibilitas terhadap informasi. Kebutuhan manusia akan akses informasi tidak dapat disangkal. Di zaman modern ini, orang-orang yang ketinggalan informasi tersingkir dari hal-hal yang mempengaruhi kehidupan sosialnya.

blank
Membuat pojok literasi di setiap kelas yang menyediakan buku-buku bacaan dari perpustakaan, taman literasi berupa tempat membaca di sudut taman ( Foto: Dedy)

Sementara di bidang pendidikan, sejak pandemi covid 19 pembelajaran daring menimbulkan ketergantungan pada gawai pada anak-anak.

Bagi anak-anak  usia sekolah akan tertinggal informasi dibandingkan dengan temannya yang lain apabila tidak mencari bahan belajar maupun berita terkini dari sumber lain selain dari materi yang disampaikan di dalam kelas. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut diperlukan satu kegiatan yang sangat penting yaitu “literasi baca”.

Budaya literasi semakin menurun di era gadget.. Kebanyakan orang selalu menyalahkan teknologi atas fakta bahwa anak-anak mereka tidak mau membaca, apalagi menulis. Betulkah?

Gadget bukan satu-satunya penyebab rendahnya angka melek huruf di Indonesia. Beberapa penyebab lainnya antara lain belum terbiasa, belum termotivasi, keteladanan, dan sarana yang minim. Namun jika diimbangi dengan upaya membangun budaya literasi, seharusnya hal ini tidak menjadi masalah.

Efek negatif penggunaan gawai antara lain siswa saat bermain dan mengoperasikan gawai sampai melewati batas waktu tidur sehingga berdampak pada aktifitas belajar. Juga berkurangnya interaksi dengan orang tua dan lingkungan.

Oleh karena itu langkah terbaik untuk mengatasi hal tersebut adalah perlu peran orang tua dan guru agar membatasi penggunaan gawai.

Dalam hal ini upaya yang dilakukan di SDN 3 Ngasem melalui peran guru dengan menggalakkan literasi baca yang bertujuan menumbuhkan rasa ingin tahu, dan memperkenalkan buku-buku atau bacaan yang menyenangkan, bukan buku pelajaran. Bentuknya buku dongeng atau komik anak-anak

Membuat pojok literasi di setiap kelas yang menyediakan buku-buku bacaan dari perpustakaan yang didukung dengan  taman literasi  berupa tempat membaca di sudut taman menjadi cara yang efektif.

Sebagai media pembelajaran dapat memanfaatkan botol informasi yaitu meletakkan botol air mineral bekas yang didalamnya berisi kertas bertuliskan informasi mengenai tanaman ( ciri-ciri tanaman, cara berkembang biak,manfaat) pada setiap tanaman di taman dan kebun sekolah, dengan langkah ini dapat membantu siswa kembali pada buku bacaan. (editor :Dedy S)

Penulis adalah Kepala SDN 3 Ngasem, Jepara / Editor Dedy S