blank
Ahmad Jumari (kanan), memperhatikan simulasi tata cara penimbangan ikan secara digital, yang dipandu petugas. Hasil timbangan akan muncul otomatis dilayar monitor untuk menentukan harganya. Foto: riyan

AHMAD Jumari (45) terlihat tenang, saat menyodorkan kartu nelayan di loket Tempat Pelelangan Ikan (TPI), di Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Rabu siang (7/9/2022).

Setelah itu dia beringsut ke pojok tempat penimbangan, dan memperagakan cara menimbang ikan dengan timbangan digital.

Setelah tercatat berat ikannya, mulailah proses pelelangan yang diikuti para bakul. Di layar monitor, muncul angka bobot ikan, selanjutnya angka-angka penawaran harga dari deretan bakul yang memegang ponsel dengan aplikasi tertentu.

BACA JUGA: Bupati Hartopo Komitmen Beri Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bagi Perangkat Desa

Kejadian itu sesungguhnya simulasi lelang ikan hasil tangkapan nelayan secara elektronik atau E-TPI, yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Selain nelayan dan bakul, terlihat mendampingi nelayan melakukan simulasi mewakili DKP Jateng yaitu, Kepala Pelabuhan Tawang Ifdlol Syukri, Sub Koordinator Kepelabuhan dan Kenelayanan Bidang Perikanan Tangkap Rofik Muammar, serta tim CSR dari BRI sebagai mitra kerja.

”Ini era baru bagi kami para nelayan, yang selama ini terbiasa dengan transaksi konvensial. Sekarang kami diajak untuk menggunakan era digital. Kami optimistis bisa. Meskipun belum direalisasikan, sepertinya lebih efektif dan menguntungkan nelayan,” kata Jumari, warga Gempolsewu itu.

BACA JUGA: Ini Daftar Pengurus Saka Adhyasta Pemilu Kwarcab Jepara

Di bagian lain, salah satu bakul, Munawaroh (36) berharap, E-TPI juga memberikan kenyamanan bagi para bakul. Dia melihat, sisi positif dari lelang ini adalah, memberikan pembelajaran kepada nelayan untuk memasuki era digital.

”Saya memang tergolong baru sebagai bakul. Tapi yang jelas, banyak keunggulan dari TPI Tawang yang menyebabkan bakul lebih suka membeli hasil laut di sini. Selain banyak jenis ikan yang dijual, kualitas ikannya bagus dan harganya tinggi juga,” kata ibu dua anak ini.

Sementara itu, Kepala DKP Jateng, Fendiawan Tiskiantoro menyatakan, selain Pelabuhan Tawang, TPI satu lagi yang menjadi proyek percontohan E-TPI di Indonesia adalah TPI Pelabuhan Tanjungsari di Kabupaten Pemalang.

BACA JUGA: PGN dan PT Pindad Sepakat Bangun Kedaulatan Energi

”Keuntungan dari sistem E-TPI ini, lelalangan ikan nelayan yang laku, langsung dibayar, masuk ke kartu nelayan secara cashless,” jelasnya.

Menurut dia, adanya E-TPI ini merupakan inovasi Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dalam upayanya memberikan bantuan kepada nelayan, selain subsidi BBM dan Asuransi Nelayan, yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sedangkan Kepala DKP Kendal, Hudi Sambodo mengungkapkan, pihaknya akan terus menyempurnakan operasional penggunaan E-TPI. Mengingat kegiatan ini baru dan pertama kali di Indonesia, dan implementasi masih kalangan terbatas.

BACA JUGA: Dema FH USM Adakan Rapat Koordinasi III

blank
Grafik program DKP yang pernah dijalankan pada 2021. Foto: dkp jateng

Pihaknya menargetkan, tahun depan setiap nelayan yang memiliki kartu nelayan bisa menggunakan aplikasi PARI, sebagai alat transaksi E-TPI.

”Kami akan terus menyiapkan perangkat lunak dan kerasnya. Kami terus berkoordinasi dengan DKP Provinsi dan tim CSR BRI, untuk melakukan pendampingan kepada nelayan dan bakul,” tambahnya.

Beberapa keuntungan dari E-TPI ini adalah, penimbangan ikan dengan digital dan transparan, yang ditayangkan dalam layar monitor. Selain itu, adanya peningkatan kesejahteraan nelayan, yang jerih payahnya mendapatkan harga setimpal dari para bakul yang menawar.

BACA JUGA: Tingkatkan Kreasi Pengembangan UMKM, Dekranasda Demak Kunjungan ke kota Bandung

”E-TPI juga menghindarkan nelayan dan bakul dari utang piutang. Yang jelas, ikan tangkapan nelayan dihargai tinggi, harganya kompetitif, bukan karena sistem ‘ijon’, dimana nelayan sudah mendapatkan uang dulu dari bakul. Sistem ini juga memungkinkan adanya kontribusi ke kasda pemerintah daerah,” tambahnya.

Kepala Pelabuhan Tawang Ifdlol Sukri menambahkan, setiap hari TPI Tawang selalu ramai oleh nelayan dan bakul, yang melakukan jual beli. Bakul dibedakan menjadi dua, yaitu bakul lokal dan bakul luar dari daerah penyangga, seperti Temanggung dan Magelang.

Tawang disasar, imbuhnya, karena nelayan yang berada di sekitar Tawang, mayoritas menerapkan sistem “One Day Fisihing”, yaitu berangkat menangkap ikan pagi hari, sorenya pulang membawa tangkapan. Dengan model ini, ikan-ikannya seperti cumi, teri, atau rajungan dinilai lebih segar.

BACA JUGA: Bintaljarahdam IV/Diponegoro Gelar Pelatihan Perawatan Jenazah

blank
Sejumlah nelayan dan bakul berfoto bersama jajaran DKP dan petugas BRI, usai melakukan simulasi pelelangan ikan secara elektronik atau digital. Foto: riyan

”Makanya pada sore hari, TPI di sini sangat ramai oleh bakul-bakul yang menunggu kedatangan nelayan dari laut,” ujarnya.

Ifdlol menyebut, perputaran uang di Tawang termasuk dahsyat, karena bisa mencapai Rp 500 juta per bulan, dengan total produksi berat 35 ribu kg atau 3,5 ton hasil laut. Serta per tahunnya, dalam bulan Mei 2022 lalu saja, menembus angka Rp 5 miliar, dengan berat produksi 290 ribu kg.

Soal terpilihya Tawang sebagai pilot project E-TPI, Ifdlol menilai, ada beberapa kemungkinan. Di antaranya, alasan memberikan kemudahan sistem penjualan untuk efisiensi serta asesmen atau pengayaan, agar lokasi TPI Tawang benar-benar menjadi kampung nelayan, yang menjadi percontohan bagi kampung nelayan lainnya.

BACA JUGA: Mahasiswa Pengunjuk Rasa Desak Masuk ke Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah

”Saya berharap, budaya teknologi informasi dimiliki para pengguna jasa, seperti bakul dan nelayan. Demikian pula adanya E-TPI ini, diharapkan akan menguatkan peran stakeholder untuk mendampingi nelayan,” tandasnya.

Sistem E-TPI ini juga menambah daftar keberpihakan Pemprov Jateng terhadap kesejahteraan nelayan, setelah adanya Asuransi Kesehatan (Asnel) dan subsidi BBM. Tujuannya, agar mereka nyaman bekerja, terjamin keamanannya, dan adaptif dalam perkembangan zaman.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kendal mencatat, jumlah nelayan di wilayah ini mencapai sekitar 15 ribu orang. Program asurasi nelayan yang digencarkan Gubernur Ganjar Pranowo, memang mampu memberikan rasa aman.

Program Asnel yang digencarkan Ganjar itu, mampu memberikan rasa aman bagi nelayan. Tercatat, sejak pengguliran program Asnel Jateng dan Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2016- 2022, total ada 151.457 orang nelayan kecil ter-cover asuransi.

Tim SB