Tim Nasional U-19 Indonesia. Foto: pssi

Oleh: Amir Machmud NS

// terbanglah tinggi garudaku/ kepakkan sayap/ benamkan kekecewaan/ bukankah kalian telah melawan/ dan akan datang saat menunjukkan…//
(Sajak “Kalian Telah Melawan”, 2022)

KITA sudah melawan, nak…Nyo…sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya…”

Kalimat legendaris itu saya kutip dari ucapan Nyai Ontosoroh, yang dia sampaikan kepada “anak angkatnya”, “Sinyo” Minke. Pengadilan Hindia Belanda secara tidak adil memenangkan gugatan keluarga Robert Mellema atas semua milik Nyai Ontosoroh.

Ujung novel Bumi Manusia, karya masterpiece Pramudya Ananta Tur itu mirip alur nasib tim nasional U-19 Indonesia di Piala AFF 2022.

Garuda Nusantara gagal menembus semifinal karena terbentur aturan AFF. Sama-sama mengemas angka 11 dari lima laga, bahkan dengan selisih gol jauh lebih produktif, Mohammad Ferrari dkk akhirnya hanya menempati urutan ketiga di bawah Vietnam dan Thailand.

Dalam “klasemen kecil”, secara head to head Vietnam dan Thailand lebih unggul karena imbang 1-1 dalam laga terakhir. Artinya, mampu mencetak gol, sedangkan Indonesia bermain 0-0 dengan dua rival tersebut.

Kemenangan besar 5-1 dalam pertandingan terakhir melawan Myanmar pun tak mempengaruhi, padahal secara keseluruhan Indonesia mengakumulasi gol lebih baik sepanjang turnamen.

Tergambarkan betapa pedih anak-anak Garuda dan para suporter yang meriuhkan Stadion Patriot Chandrabhaga. Pelatih Shin Tae-yong mengungkapkan kekecewaan dengan menyebut regulasi AFF sudah usang.

Tersisih lewat aturan semacam itu, Marcellino Ferdinand cs boleh dibilang “juara tak bermahkota”. Vietnam dan Thailand diduga memilih bermain aman untuk “menghentikan” Indonesia sebelum semifinal. Mereka paham, performa anak-anak Garuda terus berkembang dari laga ke laga.

Menuju 2023
Coach STY mencoba mereduksi kekecewaan anak-anak asuhannya dengan menjanjikan, tim ini akan terus berkembang dan makin keren menuju 2023, khususnya ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.

Pelatih asal Korea Selatan itu memang terbukti mampu meningkatkan performa tim, terutama dalam kolektivitas bermain dan konfidensi.

Awalnya, kebergantungan kepada Mohammad Ferrari dan Marcellino Ferdinand sangat terasa. Ketika Marcel cedera dalam laga melawan Thailand, tanda tanya sempat menggantung: siapa yang mampu menggantikan peran “kejenderalan” wonderkid Persebaya itu?

Nyatanya, rotasi Shin Tae-yong menunjukkan fleksibilitas taktik yang brilian. Kecuali kiper yang betul-betul tak bergeser dari Cahya Supriyadi, lini belakang hingga depan luwes dalam rotasi.

Barisan penyerang malah melahirkan bomber maut Rabbani Tasnim untuk melengkapi duet utama Ronaldo Kwateh dan Hokky Caraka. Pun, masih ada Razzada Fachezi, anak ajaib Persija yang punya kemampuan menembus pertahanan lawan dengan dribel cepat. STY juga punya gelandang visioner asal Persis Solo, Zanadin Fariz.

Kini, fokus penanganan tim menuju Piala Dunia U-20 menjadi pekerjaan rumah utama coach Shin, di samping mempersiapkan tim senior ke putaran final Piala Asia 2023.

Pengalaman Pahit
Pengalaman perjuangan dengan bergantung pada hasil tim lain di Piala AFF U-19 ini memang pahit. Menang tiga kali dan seri dua kali, lalu tersisih lantaran head to head “klasemen kecil” adalah “vonis” mematikan, ketika performa puncak timnas belum tersaji di semifinal dan final.

“Oleh-oleh” menggembirakan dari turnamen ini adalah proyeksi keberkembangan permainan. Pemahaman taktik secara tim juga makin baik. Kini tinggal bagaimana memperkuat “telepati” antarpemain dalam adonan peningkatan kesatuan kerja sama.

Kelemahan yang sering tampak, yakni kehilangan fokus dalam bertahan, menjadi bagian “PR” STY dalam masa-masa menjelang Piala Dunia 2023.

Bisa dimengerti apabila anak-anak Garuda Nusantara tidak mudah melupakan kekecewaan akibat Vietnam dan Thailand memilih bermain “aman”. Akan tetapi, bukankah itu justru “vitamin pahit” yang kita harapkan memacu motivasi menuju medan yang lebih berat dan bergengsi?

”Kita Sudah Melawan, Nak…Nyo…Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya…”

Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah