(Gambar: ilustrasi)

Cerita pendek (cerpen) adalah salah satu karya sastra yang menyajikan kisah-kisah fiksi dan dikemas secara pendek, jelas dan ringkas, biasanya terdiri atas tidak lebih dari 10.000 kata. Fokus permasalahan yang disuguhkan hanya satu persoalan saja dengan melibatkan satu tokoh saja. Biasanya cerpen banyak kita jumpai di tabloid, media massa, dan buku.

Cerpen menjadi menarik sebab isinya merupakan tiruan kehidupan. Walaupun pengemasannya dalam wujud cerita fiksi, namun pembaca bisa menarik pengalaman untuk bisa diambil pembelajaran serta pengambilan keputusan sebagai solusi pemecahan masalah kehidupan. Proyeksi kehidupan ini menjelma menjadi tulisan dalam sebuah cerita.

Kita bisa ambil contoh cerpen Senja dan Cinta yang Berdarah karya Seno Gumira Ajidarma memberikan gambaran pengalaman bagi pembacanya tentang sudut pandang nyata tentang nilai-nilai sosial di dalam masyarakat serta lingkungannya. Seno mengutarakan sudut pandang persoalan tersebut ke dalam cerpennya termasuk soal jender dan seks yang identik dengan sosok perempuan dan relasinya dengan laki-laki. Kaum laki-laki masih mendominasi dalam sebuah sistem patriarki.

BACA JUGA Rendahnya Animo Pencinta Sastra Terhadap Kritik Sastra

Setidaknya ada dua alasan sebuah cerpen menarik untuk dibaca. Pertama, cerpen memiliki gaya bercerita yang memaksa pembaca untuk terus mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir seakan membawa pembaca untuk berkelana menembus peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh cerita. Dari situlah pembaca akan hanyut merasakan keindahan, kebencian, kesenangan, cinta, kemarahan, romantik yang menjadi tema sebuah cerita.

Kedua, cerpen memiliki makna tersirat yang sarat nilai-nilai sosial, budaya, agama, politik, maupun filsafat yang dituangkan secara simbolik oleh sang penulis kepada sebuah pencerahan bagi pembacanya yang berhasil menginterpretasinya.