blank
Para santri peserta pelatihan, melakukan foto bersama usai acara dengan narasumber. Foto: humaini

SEMARANG (SUARABARU.ID)- Banyaknya kasus penelantaran dan perkawinan anak, kematian ibu melahirkan dan balita, keluarga terpapar paham radikalisme dan terorisme, KDRT serta keluarga miskin, mendorong Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) menyelenggarakan Pelatihan Pra-nikah bagi Santri.

Demikian disampaikan Ketua BKOW Jawa Tengah, Hj Nawal Arafah Yasin, saat membuka kegiatan ini di Hotel Candi, Semarang, Jumat (18/2/2022). Dalam acara ini, hadir beberapa narasumber, di antaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng Dra Ema Rachmawati MHum, dr Epsilon Dewanto MM dan Nurul Hidayati SSi MSi CHt dari Nikah Institute

Menurut Hj Nawal, pada peserta pelatihan diajarkan tentang pengetahuan soal hak pasangan dan anggota keluarga atau anak, berkomunikasi dengan pasangan, berbagi peran dan tanggung jawab.

BACA JUGA: Menunggak Rp 8,2 Milyar, Asset Delapan Wajib Pajak Disita

”Banyak masalah dalam keluarga, seperti kasus KDRT, perceraian, kekerasan seksual di lingkungan keluarga dengan pelaku sang ayah atau saudaranya,” kata istri Wagub Jateng itu.

Selain itu ditambahkan juga, pengajaran tentang cara mengambil keputusan yang adil, membelanjakan pendapatan keluarga, mengatasi konflik dan tanggung jawab sosial, serta hukum yang terkait keluarga.

”Pada tahun 2020, Jateng peringkat pertama kasus perceraian di Indonesia, yakni sebanyak 65.755 kasus. Disusul Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Dari 100 pernikahan, menurut BP4 Jateng, terdapat 37 pasangan yang akhirnya bercerai,” ungkap Hj Arafah.

BACA JUGA: Sekolah Nasima Gelar Tasyakuran HUT ke-28 dan Harlah ke-99 NU

Sementara itu, Dra Ema Rachmawati menyebutkan, untuk mengatasi masalah ekonomi, para peserta pelatihan perlu dibekali dengan pengetahuan berwirausaha.

”Di tangan mereka, Indonesia menyerahkan estafet kepemimpinan. Para peserta perlu dibekali dengan karakter wirausaha, menumbuhkembangkan wirausaha baru kreatif dan inovatif, menemukan keunikan usaha, dan mencari celah pasar yang tepat. Antara lain industri kreatif, produksi atau budidaya,” terang Ema lagi.

Sedangkan Nurul Hidayati menyampaikan, pentingnya kesiapan mental dan fisik seseorang yang akan menikah. ”Seseorang harus cerdas secara spiritual dalam memaknai ibadah ritual di kehidupan pernikahan,” tukas Pembimbing Majelis Sholawat Nurussalam, Pasuruan, Jatim itu.

Humaini-Riyan