Oleh Komper Wardopo

KEBUMEN sejak dahulu sudah dikenal sebagai daerah subur. Bahkan sejak era kerajaan, kolonial hingga kemerdekaan, telah memetakan daerah Jateng selatan ini potensial sebagai daerah agraris. Tipologi masyarakatnya pun tergolong unik.

Karakteristiki masyarakatnya yang agamis (santri), agraris (petani) dan abangan (kejawen), meminjam istilah antropolog Clifford Geertz, sama-sama kuat. Masyarakat tiga aliran ini secara sosio kultural mampu hidup berdampingan dalam harmoni. Bahkan hingga era modern ini.

Menukil sejarah pendiri Kebumen, selalu ada kolaborasi atau pertautan antara tokoh lokal dengan tokoh dari pusat kerajaan. Entitas kala itu tentu pada pusat kekuasaan Mataram di Yogyakarta dan Surakarta. Menariknya, meski Kebumen masuk Mancanegari dan jauh dari Negarigung atau pusat kekuasaan, kehidupan seni dan sosial budaya di daerah ini sangat eksis.

Lihatlah misalnya seni pedalangan dan seni tradisi lokal yang hidup beriringan. Seni wayang kulit hampir ada di beberapa wilayah Kebumen dari timur, tengah hingga barat. Jejak yang sangat kuat yakni di Prembun, Ambal, Kutowinangun, Karanggayam, Gombong, Rowokele, Buayan dan Ayah.

Sementara seni tradisi lokal seperti cepetan, kuda kepang, panembrama, hingga seni bernuansa Islami seperti jamjaneng, rodad, hadrah hingga salawatan marak di hampir semua wilayah. Hal itu membuktikan bahwa masyarakat Kebumen pada dasarnya memilik seni budaya yang tinggi.

Bahkan seni ketoprak, menurut catatan teman saya Partin dalam tesis S2 di UNS, hingga tahun 1980an cukup marak di Kebumen selatan. Grup seni keroncong pun merebak di berbagai kecamatan, bahkan hingga saat ini. Pendeknya, hampir semua seni tradisi lengkap menunjukkan, sejatinya Kebumen daerah agraris yang memiliki kekayaaan khasanah seni budaya tinggi.

Beberapa tahun lalu kita pernah dikejutkan saat siswa SDN Kenteng Kecamatan Sempor, di utara Gombong mampu Juara se Jateng lomba Karawitan SD. Kemudian, pesinden dari Desa Kaibon Ambal, mampu menyabet Juara 2 Festival sinden Idol yang digelar Unnes beberapa tahun lalu. Bukti jagat kesenian Kebumen tak boleh diremehkan.

Sedangkan untuk tokoh dalang senior, siapa yang tak kenal sosok Ki Basuki Hendro Prayitno dari Ambalresmi. Memang dalang senior satu ini bukan sembarang dalang. Meski tak setenar dalang di kota besar, Ki Basuki pernah menjuarai Festival Dalang Remaja se Jateng.

Bahkan Ki Basuki mengalahkan alm Ki Manteb Soedarsono yang kemudian tenar sebagai dalang oye dengan sabetan dan kreativitas seni pengiringnya.

Sejak 2018, Pemkab Kebumen telah menetapkan Hari Jadi 21 Agustus 1629. Semula Hari Jadi yang ditetapkan DPRD Kebumen  1 Januari 1936. Versi  Hadi Jadi Jilid II ini tentu lebih membumi dan populis dengan mengangkat eksistensi tokoh lokal Ki Bodronolo.

Berjasa Menyiapkan Logistik Pangan Bagi Mataram

Bodronolo dalam sejarah lokal memiliki peran luar biasa karena oleh Sultan Agung pada 1600an diminta menyiapkan logistik pangan saat pasukan Mataram hendak menyerang VOC. Bodronolo sukses menghimpun pasokan beras sebagai logistik karena didukung realitas daerah Kebumen dari dulu sebagai daerah pertanian yang subur.

Atas jasa tersebut Ki Ageng Bodronolo diangkat sebagai penguasa atau Bupati Panjer, pada 21 Agustus 1629. Selanjutnya pada hari itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Kebumen karena pada  hari itulah Sultan Agung mengangkat Ki Bodronolo sebagai penguasa atau Bupati Panjer. Nama Kebumen tempo dulu.

Tokoh lain pendiri Kebumen adalah Pangeran Bumidirjo. Ini  bukan tokoh sembarangan pula, karena berjasa membuka desa Kebumen. Bumidirjo penasihat Sultan Agung dan paman Sunan Amangkurat I. Sejak kekuasaan Mataram berganti ke Sunan Amangkurat I yang dikenal kejam dan tidak adil, Bumidirjo batinnya berontak.

Apalagi setelah mertuanya pun dihukum mati. Bumidirjo menanggalkan posisi sebagai bangsawan. Puncaknya saat sang mertua Pangeran Bumidirjo dieksekusi, ia memutuskan menyingkir ke daerah barat dan diterima oleh penguasa Panjer pada 1670an. Selanjutnya pangeran yang juga ulama ini menetap di dekat Sungai Luk Ulo dan sejak itu banyak memiliki pengikut.

Dari sisi tokoh Islam, Kebumen juga memiliki catatan emas karena pada sekitar 1470an telah berdiri Pondok Pesantren Somalangu. Salah satu pondok pesantren tertua di  Jawa. Pendirinya Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani, ulama dari Hadharamaut, Yaman. Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu resmi berdiri semenjak  25 Syaban 879 H atau Rabu, 4 Januari 1475 M.

Sedangkan dari Dinasti Kolopaking dan Aroengbinang yang silih berganti memerintah Kebumen tempo dulu, juga meningalkan kisah spirit pengabdian dan perjuangan pada penjajahan. Kolopaking dikenal sebagai penguasa yang anti kolonial dan awalnya diberi jabatan karena pernah menolong Sunan Amangkurat I yang sakit.

Ada sepenggal folklor atau cerita rakyat dari Kolopakinag III sewaktu muda gemar berperang membela Mataram melawan kolonial. Suatu saat prajurit Mataram yang didukung Kolopaking dan pasukan Kuning atau China melawan VOC. Dalam perjalanan ini Kolopaking muda atau Kertawangsa sering bertemu prajurit perempuan China yang lihai berperang dan menyamar sebagai laki-laki.

Kelak prajurit Cina itu tak lain bernama Tan Peng Nio dan akhirnya dipersunting oleh Kolopaking III. Tan Peng Nio ini tercatat dalam kisah-kisah sejarah maupun roman pernah bersama pasukan Kuning dalam Perang Garendi melawan VOC.

Sedangkan Aroeng Binang I tak kalah pamornya karena memiliki andil dalam pemindahan Keraton Kartosuro ke Desa Sala (Surakarta). Nama mudanya Joko Sangkrib, lalu mengabdi ke Keraton Kartosuro. Karena jasa dan pengabdiannya diberi gelar Honggowongso, lalu diangkat menjadi Tumenggung dan selanjutnya bergelar Aroeng Binang I.

Di Desa Clapar Karanggayam pun memiliki folklor (cerita rakyat) kehebatan tokoh bernama Eyang Kepadangan. Nama lain sosok pahlawan legendaris, Untung Surapati.

Tokoh yang terus diburu Belanda karena membunuh Kapten Tack dan pernah menjadi Bupati Pasuruan asal Bali ini rupanya di masa tua tetap jadi pelarian. Konon sempat bersembunyi di sebuah daerah terpencil di Karanggayam, Kebumen. Bahkan di hari tuanya tetap suka membantu dan menolong orang susah. Hingga masyarakat setempat menamai Eyang Kepadangan.

Di era sejarah kekinian, Kebumen pun tak bisa dipisahkan dari sosok Soeharo. Presiden RI  kedua ini rupanya pernah dua kali sekolah militer di Gombong. Bahkan di awal karier ketentaraannya. Tentu tidaklah heran jika kemudian Pak Harto seperti ingin membalas jasa kepada Kebumen, dengan melanjutkan pembangunan Waduk Sempor pada 197an-1980an. Bahkan memberi hadiah lagi denganmembangun Waduk Wadaslintang pada 1989.

Singkatnya, Kebumen yang saat ini berusia 392 tahun tepat pada 21 Agusus 202 memang memiliki pernik kekayaan sejarah dan budaya menarik. Spirit para pendahulu dan cikal bakal Kebumen pada nilai kejujuran, pengabdian, suka menolong, kehidupan religius dan harmoni (kerukunan) hingga spirit berkesenian (budaya), menjadi keteladan sampai kapan pun.

Bahkan bisa menjadi tuntunan (edukasi) dan inspirasi bagi masyarakat kini dan yang akan datang untuk memajukan Kebumen. Meskipun sampai sekarang masih bergelut dengan kemiskinan, Kebumen mempunyai modal sosial dan alam sebagai daerah agraris, agamis dengan akar budaya yang kuat.

Belum lagi potensi maritim (kelautan dan pesisir selatan), wisata yang lengkap, agrobisnis dan potensi lain yang menjanjikan. Tentu asal dikelola dengan baik, transparan, demokratis dan semua demi kesejahteraan rakyat.

Selamat Hari Jadi Kebumen.

Penulis jurnalis Suarbaru.id dan mengajar di IAINU Kebumen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here