RSUD Kelet sejak Kamis siang telah normal melayani pasien Covid-19 dengan status sedang dan berat.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Banyaknya warga dengan status positif Covid-19 dan harus  isolasi mandiri di rumah serta sulitnya mencari rumah sakit rujukan menyusul ruang isolasi yang  penuh, diduga kuat membuat angka kematian Jepara terus merangkak naik.  Sementara protokol 5 M masih saja rendah.

Peningkatan kasus warga Jepara yang meninggal ini terus terjadi.  Pada bulan Januari tercatat 85 kali, Februari 53 kali, Maret 29 kali, April 33 kali,  Mei 31 kali dan Juni dari tanggal 1- 24 Juni telah dilakukan   315  kali pemakaman dengan standar Covid-19. Sementara pemakaman standari Covid-19 sejak April 2020 -24 Juni 2021 sebanyak 658 kali pemakaman.

Mbh Jnur, pensiunan ASN yang tinggal di Wedelan

Sebab tidak semua pasien dengan kondisi berat dan kritis dapat diterima di rumah sakit rujukan. Sebab instalasi gawat darurat dan ruang isolasi  telah penuh. Akibat lainnya adalah,  jumlah warga Jepara yang dirawat di di rumah sakit luar daerah terus bertambah.

Berdasarkan pengumuman yang disampaikan Satgas Covid-19 di portal resminya,  pada Kamis (24/6-2021) jumlah warga Jepara yang dirawat di rumah sakit luar daerah mencapai 50 % atau 179 orang dari  358 orang.

“Angka ini menunjukkan ketidak mampuan Jepara dalam mengantisipasi virus ini,” ujar  Mbah Janur yang mengaku sulit mendapatan ruang isolasi sejak beberapa hari lalu. Akibatnya banyak warga dengan kriteria positif hasil PCR dan swab antigen meninggal dirumah. Juga yang melakukan test antigen mandiri.

Menurut Mbah Janur, fihaknya meragukan bahwa angka yang 658 kasus kematian yang di umumkan Satgas Covid-19 di portal resminya Kamis (24/6-2021) adalah angka kematian senyatanya baik dengan kriteria probable, suspek maupun positif terkonfirmasi.

“Dugaan kami, data ini hanya warga yang meninggal dengan pemulasaraan protokol Covid-19. Sedangkan yang menolak pemakaman protokol Covid-19 tidak dimasukkan,” ujarnya Mbah Janur pensiunan ASN yang saat ini  tinggal di Wedelan.

Ia menyarankan kepada Satgas dan Pemerintah untuk  mencermati kasus kematian di desa-desa yang akhir-akhir banyak terjadi tanpa status atau kriteria yang jelas.

“Bisa saja yang meninggal  dirumah tersebut telah terpapar covid 19 tetapi tidak melaporkan atau tidak pernah dilakukan test baik antigen maupun PCR. Akibatnya penularan tidak lagi terlacak,” ujar Mbah Janur.

RSUD Kelet Telah Layani Covid-19

RSUD Kelet yang sejak Selasa hingga Kamis kemarin harus menghentikan pelayanan pasien dengan status Covid-19 karena menipisnya persediaan oksigen, sejak  Kamis siang telah kembali melayani pasien dalam status sedang dan berat. Keputussan tersebut diambil manajemen setelah pasokan oksigen kembali normal.

Hadepe

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here