JEPARA (SUARABARU.ID) – Satgas Covid-19 Jepara, Jumat (25/6-2021) mengumumkan kembali  238 warga Jepara yang positif berdasarkan pemeriksaan px PCR. Dengan jumlah tersebut total warga Jepara yang terpapar mencapai 12.949 orang.

Dari jumlah tersebut 10.474 orang dinyatakan sembuh, 658 orang meninggal dunia dan 1817 masih dalam kondisi positif. Mereka yang masih positf,  358 orang berada dirawat di rumah sakit, 179 orang di luar daerah dan 179 orang di 6 rumah sakit rujukan di dalam daerah.

Walaupun dalam pengumuman tidk dicantumkan jumlah sampel yang diperiksa hingga tidak daoat diketahui pasti positif rate Jepara, namun patutb diduga positif rate Jepara diatas 40 %. Prosentase  ini menunjukan penyebaran virus    sangat tinggi sekaligus mencerminkan kemampuan daerah yang rendah dalam penanganan kasus ini.

Sementara masuknya Jepara dalam zona resiko tinggi pada minggu ke 24 dengan skore  1,57, membuat warna Jepara semakin hitam. Sebab semakin jauh dari skore 1,80, skore terendah  zona merah.

Tigor Sitegar pegiat budaya Jepara Jepara yang intens cermati kasus Covid-19 di Jepara

Jangan Dikendalikan Angkanya

Terkait dengan kondisi Jepara yang semakin  nampak hitam, seorang pegiat budaya Jepara yang tinggal di Mayong, Tigor Sitegar minta agar pelacakan kontak erat ( trecing  ) dan dan juga testing tidak boleh dikendorkan apalagi dikendalikan untuk menutupi temuan kasus baru.

“Sebab hanya dengan dua cara itu  penyebaran virus dapat ditemukan dan kemudian dikendalikan,” ujar Tigor Sitegar yang mengaku telah mendapatkan kabar adanya pengendalian jumlah testing dan trecing di wilayah Mayong dan Nalumsari dan sejumlah puskesmas lainnya.

Tigor juga mengaku mendukung apa yang disampaikan Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi saat memberikan pengarahan di pendopo Kabupaten Jepara kemarin.

“Tracing  atau pelacakan kontak erat setidaknya 10 orang per temuan kasus baru dan testing 1 orang per 1000 penduduk per minggu atau 1.275 orang per minggu,” ungkap Tigor.

Sebab hanya dengan cara itu penyebaran virus dapat ditemukan dan kemudian diputus mata rantai penularannya. Semakin tinggi temuan kasus baru, harus semakin digenjot trecing dan testingnya. Jika pelacakan ini dimainkan maka angka kematian tanpa sebab tiba tba saja tinggi.

Sementara Drs Ingga Tejo Suroto, ketua harian Lembaga Pelestari Budaya dan Sejarah Jepara mengajak semua fihak untuk gotong royong memutus mata rantai penyebaran virus ini.

“Peran tokoh agama  dan tokoh masyarakat harus terus ditingkatkan untuk memperkuat 5 M. Ulama, ustadz, kyai, pendeta, pastor, bikhu, pimpinan ormas keagamaan Islam, Budha, Kristen, Hindu, Katolik harus terlibat secara aktif dalam penanggulangan wabah ini,” ujarnya

Hadepe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here