Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

(Senin Wage, menjelang Selasa Kliwon Hari Pahlawan)

Setiap orang, artinya siapa pun, pasti kurang berkenan ketika segala sesuatu yang menyangkut dirinya serba berupa kritik. Dan strategi “mengritik” itulah yang dipakai sejak zaman kapan pun untuk menjatuhkan pihak lain, apalagi kalau pihak lain itu dianggapnya sebagai lawan/musuh.

Umumnya, kritik itu mengarah ke “menjatuhkan,” atau sekurang-kurangnya gawe jengkel, karena orang mengritik memang terutama bermaksud menyerang mental pihak yang dikritik.

Namun pada sisi yang lain, ada pendapat betapa mentalitas secara umum “orang kita” itu cenderung ora kuwat dialem, kamangka yen dicacat bingungi. Nah …angel tenan to?

Uyah lan Asem

Tidak ada orang tidak mengenal uyah (garam) dan asem. Dari sisi rasa, uyah iku asin dan memang rasa asinnya itulah yang dibutuhkan orang; karena itu tidak ada gunanya garam yang sudah kehilangan rasa asinnya kecuali hanya akan dibuang atau diinjak-injak orang.

Bagaimana halnya dengan asem? Asam itu sesuai namanya, rasanya memang asem yaitu kecut; barang siapa sengaja atau tidak sengaja terkunyah asem, langsung akan merem-merem (kiyer-kiyer) seraya mulutnya komat-kamit merasakan kecut.

Uyah asin, asem kecut, dan kalau gula manis; dan akan menjadi lengkap rasanya kalau ditambah benda yang rasanya pedas dan pahit. Bumbu masak, masakan apa pun, boleh dikatakan selalu mengandung perpaduan dari berbagai rasa itu. Tinggal menu masakannya saja yang menentukan rasa apa yang dominan dalam makanan itu, apakah mau lebih gurih, manis, atau asin..

Diuyah-asemi

Diuyah-asemi kalau sudah menjadi idiom, tidak lagi bicara sekedar tentang bumbu, melainkan sudah ke ranah nilai; karena maknanya ialah dialem-alem banget.

Di awal tulisan di atas sudah sedikit diungkap betapa jika seseorang itu dipaido atau dicacat (dicela) terus, ia akan demotivasi, sebaliknya kalau mintanya hanya dialem terus, ia akan berkembang sebagai pribadi yang aleman, kurang tahan banting. Apalagi kalau diuyah-asemi!!

Baca Juga: “Ngaru Napung,” Inilah Kehidupan

Memang, kenyataan hidup sehari-hari ada kecenderungan (bahaya?) seperti itu; yakni dengan maksud tertentu atau karena memang orangnya berkualitas, sosok ini selalu dan di mana-mana dialem-alem terus, yaitu dipuji-puji setinggi langit.

Seolah tanpa cacat senoktah pun, kelompok orang begitu getol memuji-puji sosok itu, kehebatannya maupun kelebihannya. Tidak boleh ada orang yang mencelanya, dan kalau terjadi celaan atasnya, celakalah si pencela itu.

Diuyah-asemi dapat menciptakan kondisi tanpa kontrol atas sosok itu, dan karena  itu ada bahaya berlebihan. Kelompok atau orang-orang pendukungnya juga bisa tergoda bersikap membabi-buta.

Kita membutuhkan kondisi yang pas, yakni sebaiknya jangan membabi-buta terhadap seorang sosok, karena  sekali pun ia hebat, pasti ada juga kelemahan atau kekuranganya. Beri dukungan wajar-wajar saja.

Bagi sosok yang (kebetulan) memang sedang top, diuyah-asemi  sebenarnya tidak lagi sangat dibutuhkannya, lha wong wis top. Ungkapan terakhir ini mau mengatakan, yang sering “bikin macem-macem” itu sebenarnya bukan sosok yang top itu (karena ia tidak membutuhkannya lagi), melainkan para pendukungnya yang lalu sok lebay.

Nah…mari bersikap wajar-wajar, ora usah ngalem-alem banget-banget untuk menghindarkan diri dari takabur atau pun membabi-buta.

JC Tukiman Tarunasayoga

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)

-->