Ilustrasi (AceHtrend.com)

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

Senin awal November, saat terbaik untuk berpikir tentang kehidupan “di sini,” dan mendoakan yang sudah “di sana.”

Mari merenung sejenak betapa silih bergantinya kesibukan orang yang sedang masak di dapur. Dalam tenggat waktu tertentu, orang memasak itu  harus sudah selesai dan siap menyajikan minuman dan menu makan pagi atau siang atau malam.

Semakin cepat tersaji, “penyantap” yang sudah menunggu merasa semakin senang, apalagi kalau terpenuhi seleranya. Sebaliknyalah yang sering terjadi, merasa sudah menunggu, sajiannya tidak memenuhi selera lagi, nah…mulailah ‘nggrundel’, mana ada yang ngomel-ngomel lagi.

Gambaran kesibukan orang masak seperti itulah yang rasanya sangat cocok untuk melukiskan kehidupan kita, termasuk kehidupan berpemerintahan di negeri mana pun. Nenek moyang kita mengajarkan idiom sangat sederhana namun tepat sekali, yaitu ngaru napung.

Silih Berganti

Mari perhatian kita fokuskan ke menanak nasi bukan menggunakan alat modern rice cooker, melainkan dengan cara adang. Setelah beras dipususi, yakni dicuci bersih, segeralah dikaru yaitu dimasak setengah matang; sementara itu di tungku yang sebelah sini telah disiapkan dandang berisi air secukupnya untuk ngedang nasinya.

Ketepatan tentang kecukupan air untuk ngaru, sangat menentukan kualitas nasi nantinya, dan beras yang berangsur beranjak menjadi nasi setengah matang itulah yang kemudian ditapungke ke dandang tadi.

Kesibukan ngaru dan napung inilah, – kemudian menjadi idiom ngaru napung – , menegaskan tiga hal sangat substansial agar dihasilkan nasi yang benar-benar enak.

Pertama, volume air baik ketika ngaru maupun di dandang yang untuk napung harus benar-benar tepat. Kebanyakan air akan menghasilkan nasi lembek, kurang air akan menghasilkan nasi kurang matang.

Sangat butuh keterampilan, keahlian tertentu, bahkan feeling. Kedua, besaran api harus sangat diperhatikan, jangan terlalu panas, jangan pula  kurang panasnya; dan ketiga semuanya harus sangat tepat waktu.

Silih bergantinya kesibukan semacam itulah yang dipakai sebagai perlukisan silih bergantinya permasalahan dalam kehidupan ini, termasuk kehidupan berpemerintahan.

Hidup ini tidak pernah terhindar dari permasalahan, dan permasalahannya sendiri silih berganti; dan semuanya itu harus dapat diselesaikan dengan tiga hal substantial tadi. Kalau dirumuskan secara singkat, tiga hal tadi ialah terampil penuh feeling, pintar mengatur energi, dan tepat.

Negeri kita juga mengalami permasalahan silih berganti, kesibukan para punggawa negeri dalam menghadapi dan menyelesaikannya adalah kesibukan ngaru napung tadi.

Nasi yang tersaji sangat ditentukan oleh tiga hal substansial terampil penuh feeling, pintar atur energi, dan tepat. Kalau saat ini santer lagi terdengar adanya keinginan reshuffle kabinet, lagi-lagi harus ditegaskan betapa reshuffle itu hak prerogatif Presiden; dan oleh karena itulah Bapak Presiden pasti menggunakan tiga hal substansial tadi untuk pertimbangan reshuffle; yakni sejauhmana para menteri bentul-betul mampu dan bersibuk-ria dalam tuntutan ngaru napung tadi.

Baca Juga: Teganya, Teganya “Nggepok Wangkong”

Maka kriterianya untuk mengganti ataupun mengangkat kembali terpusat kepada apakah ia sosok yang terampil dan punya feeling bagus, apakah ia sosok yang pintar mengatur seluruh energi yang ada/dimiliki, dan apakah dia sosok yang senantiasa tepat kebijakan dan tindakannya.

Ngaru napung mempunyai dua makna, pertama nemu reribet utawa nemoni kahanan angel; dan yang kedua ialah nindakake pegawean bebarengan.  Seperti telah disebutkan di awal tadi, silih bergantinya permasalahan maupun ngrangkep-ngrangkep pagawean, justru menjadi medan berlatih sangat bagus.

Mereka yang selama ini misalnya belum tampak dewasa, ngaru napung akan semakin mendewasakan’ mereka yang kelihatannya belum matang, ngaru napung akan mengajarkan bagaimana mematangkan diri, dst. dsb. Dan ….inilah kehidupan yang nyata, c’est la vie.

JC Tukiman Tarunasayoga

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)

 

 

 

 

-->