Momammed Salah. Ilustrasi

Oleh Amir Machmud NS

//… menari, bergembiralah mo salah// tuntaskan rindu dendam// dengan ruap ekspresi gol-golmu// laksana bius puisi// meriak terang hijau lapangan// lari, teruslah berlari sang raja anfield// menuju tahtamu// dalam kelembutan rahmat// untuk semesta alam…// (Sajak “Sang Raja Anfield”, 2020)

BETULKAH Mohamed Salah kini kehilangan sebagian cinta fans Liverpool?

Bukankah cahaya terang bagai selalu memayungi pemain yang bertabur rekor dan berpendar pengakuan itu? Tiga golnya dalam laga perdana Liverpool di Liga Primer musim 2020-2021 melawan Leeds United memprasastikan bukan hanya pembuktian ketajaman, tetapi juga catatan-catatan rekor.

Dia menyamai capaian Teddy Sheringham yang selalu mencetak gol dalam laga pembuka selama empat musim, dari 1992-1993 hingga 1995-1996. Dengan jumlah 35 gol yang memenangkan Liverpool, Salah juga mematahkan rekor Wayne Rooney yang membukukan 34 gol beruntun untuk sukses Manchester United saat dia mencetak gol.

Rekor ciamik Alan Shearer yang mencetak 50 gol dalam laga kandang juga dia samai. Termasuk, catatan legenda The Reds John Aldridge yang mencetak hattrick di pekan pertama.

“I will be Moslem too”, sebuah nyanyian yang diciptakan oleh fans Liverpool pun pekan lalu kembali menggaung di Stadion Anfield. Chant itu berlirik “toleran”, //“If he’s good enough for you, he’s good enough for me// If the scores another few, I’ll be moslem too// If he’is good enough for you, he’s good enough for me// Sitting in a mosque, that’s where I want to be…”//

Dari puja-puji itu, wow, betapa Mohamed Salah adalah representasi hati dan rasa keluarga besar The Reds. Kalau ada simbol utama humanisme dalam persepakbolaan dunia, boleh jadi dia adalah Mo Salah. Dia hadir secara paripurna sebagai duta sepak bola, duta kemanusiaan, sekaligus duta perlawanan terhadap Islamophobia di Inggris.

Mo Salah menunjukkan kepada dunia, puncak-puncak kemampuan pesepak bola tidak hanya menjadi milik para bintang Eropa dan Amerika Latin. Datang dari Mesir, dia melanjutkan pengakuan tentang potensi kehebatan pemain asal “negara dunia ketiga sepak bola”, seperti dulu George Oppung Weah, Samuel Eto’o, Didier Drogba, atau Yaya Toure. Bersama rekan seklubnya Sadio Mane yang berasal dari Senegal, Salah menjadi inspirasi bagi generasi muda Afrika – Asia untuk membuang inferioritas di hadapan gebyar sepak bola dunia.

Perilaku sosial “Sang Raja Mesir” itu memberi image sebagai sosok humanis. Sumbangan-sumbangan materi untuk kepentingan kemanusiaan di Mesir dan Afrika lewat Mohamed Salah Charity Foundation merupakan bukti nyata Salah bukan manusia egois dalam lanskap kehidupan yang universal.

Kekayaan berlimpah yang antara lain mengalir ke yayasan sosial, menunjukkan Mo Salah sebagai sosok yang membumikan kredo Islam sebagai agama rahmat untuk semesta alam. Citra itu diperkuat oleh “penobatan” tidak langsung betapa keseharian sang bintang membawa angin segar meminggirkan Islamophobia. Pada kesantunan Mo Salah melekat pancaran damai Islam.

*   *   *

ANGIN godaan tampaknya mulai menerpa Mo Salah. Tentu bukan tanpa alasan media-media mulai mengapungkan spekulasi ketertarikan Barcelona, yang di bawah pelatih Ronald Koeman memulai konsolidasi membangun kekuatan baru. Transfermakt mematok prakiraan harga Salah di atas Rp 2 triliun, yang artinya termasuk deret teratas etalase pemain bintang.

Walaupun fans mulai disebut-sebut tidak lagi seantusias dua musim sebelumnya, realitasnya Liverpool masih bergantung pada peran produktif Salah bersama Sadio Mane dan Roberto Firmino. Musim lalu, ketika akumulasi golnya cenderung menurun dibandingkan dengan musim 2018-2019, dia dihujani banyak kritik. Bahkan ada analis yang memasukkan Salah dalam opsi daftar jual Liverpool.

Dia dituding egois, memubazirkan banyak peluang mencetak gol bagi striker tandemnya, Sadio Mane. Dalam sebuah momen, bintang Senegal itu juga sempat meluapkan kejengkelannya kepada cara bermain Salah.

Tetapi pelatih Juergen Klopp membela Mo Salah dengan menyubut bahwa salah satu ciri seorang striker adalah keyakinan mengeksekusi peluang, yang terkadang memang terkesan sebagai sikap egois. Naik-turun produktivitas gol merupakan tren biasa.

Dan, nyatanya, selain produktivitas gol, sumbangan Salah ditunjukkan lewat assists yang sekaligus membantan tudingan egoistis. Dengan kecepatan, ketenangan, dan kesantunannya, Salah sering unjuk pelayanan berupa umpan-umpan matang kepada rekan-rekannya.

Pekan pembuka Liga Primer musim ini telah dimulai dengan “Mo Salah show”. Lebih dari sekadar re-start kompetisi pada masa normal baru, pertunjukan itu seolah-olah memberi jaminan liga bakal berlangsung penuh warna. Salah tetap tajam dan menghibur dengan rancak rekornya, sedangkan pendatang baru juara Championship Leeds United memulai kampanye promosi dengan perlawanan sengit terhadap sang juara bertahan.

Saya memperkirakan musim ini Mo Salah bakal makin matang dan tetap menjadi kunci aliran gol Liverpool. Dari laga perdana, bagaimanapun dia telah menyulut kegembiraan fans Liverpool. Maka, seharusnyalah The Anfield Gang tak ragu-ragu bernyanyi untuknya, “If he’s good enough for you, he’s good enough for me…”

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng

 

 

-->