blank

Ada sejumlah instrumen yang digunakan oleh  Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), maupun pemerintah untuk mengukur seberapa jauh  penanganan covid-19 disebuah daerah.

Diantara instrumen itu ada yang disebut Reproduksi Number dan Positive Rate Covid-19. Kedua instrumen ini dihitung dengan kaidah-kaidah ilmiah yang tentu saja bisa dipertanggungjawabkan.

Informasi tentang besaran angka  Reproduksi Number di Jepara justru diungkapkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Berdasarkan data yang dihitung oleh tim pakar Covid-19 Jawa Tengah, Ganjar mendapatkan data bahwa Jepara menempati rangking tertinggi di Jawa Tengah untuk Reproduksi Number.

blank

Padahal Reproduksi Number yang tinggi merupakan pertanda tingkat penularan kasus/infeksious yang tinggi disuatu daerah. Semakin tinggi reproduksi number akan semakin tinggi tingkat penularan  suatu daerah.

Instrumen kedua yang memiliki korelasi signifikan dengan Reproduksi Number adalah Positive Rate. Positive rate menandakan kapabilita atau kemampuan suatu wilayah dalam menemukan kasus. Jika masih tinggi artinya masih banyak populasi yg belum kena testing. Testing masih terbatas pada subjek terbatas.

Menurut WHO Positive Rate dapat  untuk mengukur kapabilitas atau kemampuan  sebuah negara, wilayah  atau  daerah   dalam mengendalikan penyebaran virus corona. Instrumen  ini berlaku diseluruh dunia.

blank

Saat ini WHO menetapkan standar positive rate diangka 5 persen. Ini artinya, jika sebuah daerah memiliki angka positive rate dibawah 5 maka daerah tersebut memiliki kapabilitas atau kemampuan  baik. Sebaliknya jika sebuah daerah memiliki angka positive rate yang semakin tinggi, maka menunjukan rendahnya kapabilitas atau kemampuan suatu daerah.

Positive rate  covid-19 ini menunjukkan rasio jumlah kasus konfirmasi covid-19  berbanding dengan total tes disuatu negara, wilayah atau daerah. Cara menghitungnya juga cukup mudah yaitu jumlah total kasus positif dibagi dengan jumlah orang yang di tes swab / PCR  dan dikalikan 100 %.

Jika positive rate sebuah daerah semakin rendah, ini  menunjukkan bahwa  jumlah orang yang dites semakin banyak dan menunjukkan pelacakan kontak telah mamadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Sedangkan jika  positive rate di atas 5 persen, maka diklasifikasikan tinggi  dan sangat serius jika berada di atas 10 persen. Apalagi diatas 20 persen. Sebab  artinya  di daerah tersebut memiliki penularan Covid-19  di komunitas yang relatif tinggi. Sementara   cakupan tes yang dilakukan  belum cukup dan belum memadai  untuk menyaring atau mendeteksi kasus positif di masyarakat.

Positive rate Jepara

Jika rumus Badan Kesehatan Dunia ini digunakan untuk mengukur positive rate covid 19 Jepara, pada 31 Juli 2020 maka kita harus menggunakan data yang telah diumumkan pada 31 Juli 2020 yaitu dengan jumlah  pasien terkonfirmasi covid-19  sebanyak 1.209 orang. Sementara pada saat yang sama, telah dilakukan tes swab / PCR terhadap  4.305 orang.

Dari angka ini kita bisa menghitung positive rate covid-19 di Kabupaten Jepara yaitu : 1.209 : 4.305 X 100 = 28,0 persen. Apa  makna angka 28,0 persen ini dalam pengendalian penyebaran virus corona ?.  Ternyata artinya, dari 100 orang penduduk Jepara, jika dilakukan tes swab atau PCR ( Polymerase Chain Reaction) maka akan ada 28 orang yang kemungkinan positif terinfeksi virus corona. Padahal pada tanggal 29 Juli 2020  lalu angka positive rate kita   baru 23,4.

blank

Apa yang  harus kita  lakukan ?

Agar angka Reproduksi Number dan Positive Rate Jepara dapat  semakin membaik, ada beberapa langkah  yang dapat dilakukan.

Pertama; memperbanyak jumlah warga yang di tes swab / PCR dan  bukan hanya pada orang-orang yang ditemukan memiliki kontak jarak dekat dengan pasien terkonfirmasi covid-19, tetapi juga   terhadap orang-orang yang memiliki resiko.

Kedua; menyiapkan  tempat karantina  terpusat untuk orang yang telah positif terkonfirmasi positif agar tidak menularkan pada anggota keluarganya.

Ketiga, karena Jepara telah menjadi daerah transmisi lokal, maka perlu dilakukan tes komunal  sebagai sekrening awal terhadap orang orang yang beresiko.

Keempat ,memastikan bahwa protokol kesehatan dapat dijalankan secara ketat untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab warga.

Semoga percepatan dan penanganan covid-19 di Jepara tidak seperti seorang  yang  tersesat dijalan yang terang saat ia sedang berjalan  pulang menuju rumahnya sendiri.

Penulis, adalah wartawan SUARABARU.ID Wilayah Jepara.