SOLO (SUARABARU.ID) – Anak sekolah perlu diajak berwisata ke panti wreda, atau panti jompo, untuk menumbuhkan kasih sayang pada lansia. Di sisi lain orang tua harus memberi contoh bagaimana memperhatikan dan merawat lansia.Bukan hanya pada ayah ibu kandung, tetapi juga lansia di sekitar tempat tinggalnya.

Membawakan oleh-oleh masakan ibuya, membawa telor, atau pempers satu kantong saja, contoh untuk menumbuhkan kepedulian pada anak, Demikian dikatakan oleh DR
Tri Rejeki Andayani MSi, dalam seminar Menjadi Lansia Tangguh dan Bahagia dalam Situasi Pandemi Covid -19.” Jumat (29/5) siang , memperingati Hari Lansia ke – 24. Webinar diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS bekerjasama dengan BKKBN.

Selanjutnya ketua Prodi Sosiologi Universitas Sebelas Maret itu menambahkan, dalam menghadapi new normal lansia perlu diajak adaptif, menerima kenyataan bahwa cara bergaul harus berubah.Tidak perlu berjabat tangan , tidak melakukan cipika – cipiki, harus menjaga jarak dan selalu mengenakan masker.

Lansia adalah orang di atas 60 th, mulai mengalami penurunan berbagai fungsi organ tubuh dan aspek kehidupan. Untuk itu perlu melakukan kegiatan fisik misalnya olahraga, di samping tekun beribadah . Disarankan lansia menulis, bercerita, bermain, mengisi TTS, membuka foto lama . “Mengikuti kelompok senam lansia di sekitar rumah dan manfaatkan layanan kesehatan di Posyandu Lansia. Menekuni hobi yang menyenangkan
dan aktivitas ringan yang menunjang untuk tetap produktif.” tandasnya.

Sebelumnya Wagino, SH, MSi kepala BKKBN Perwakilan Jawa tengah, mengatakan ada beberapa hal yang perlu diinformasikan pada lansia antara lain wabah Covid-19 adalah ketetapan dan takdir Tuhan . Berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Sebagai
manusia wajib berikhtiar semampunya agar terhindar dari risiko tertular . Penting untuk menjaga kondisi emosional lansia agar tetap stabil dan terhindar stress..” Berikan informasi – informasi positif terkait kasus Covid-19, menenangkan agar lansia terhindar
dari kecemasan berlebihan “ kata Wagino.

Lansia Rentan

Sementara itu DR Trisni Utami , MSi kepala Pusat Penelitian Kependudukan dan Gender (PPKG) UNS mengatakan lansia rentan, risiko tinggi terkena Covid -19. Lebih dari 95 % kematian akibat virus korona terjadi pada penduduk usia lebih dari 60 tahun.

Terlebih jika mereka mengalami gangguan kesehatan seiring dengan penurunan kondisi fisiologinya. Banyak lansia menganggap bahwa pandemi korona belum dianggap sesuatu yang menakutkan .Mereka merasa sehat sudah selalu minum empon-empon, dan menyatakan korona sebagai pagebluk .(wabah yang dulu pernah terjadi di Indonesia-red)

Di sisi lain Dr Trisni Utami, MSi mengatakan, lansia pada dasarnya ingin tetap mandiri tidak ingin membebani anak cucu. Lansia kita kuat sekali, ingin mencukupi kebutuhan sendiri. “Merupakan kebanggaan. Perlu dipikirkan bagaimana lansia membangun kebersamaan setelah Covid – 19 selesai. Ada ruang publik yang perlu dikomunikasikan antara pemerintah dan lansia”.

Seminar dipandu oleh DR Retno Setyowati, MS, tim pakar kependudukan Dirjen Adminduk Depdagri yang juga konsultan Unicef. diawali sambutan kepala BKKBN pusat dr Hasto Wardoyo, SpOg

humaini