Bagikan

SEMARANG  – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menyerukan umat Islam untuk melakukan shalat ghaib bagi korban yang meninggal dunia dalam musibah gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Seruan tersebut disampaikan kepada para Ketua Umum MUI Kabupaten/Kota se-Jateng melalui surat yang ditandatangani Ketua Umum Dr KH Ahmad Darodji MSi dan Sekretaris Umum Drs H Muhyiddin MAg, kemarin.

”Pengurus MUI Jawa Tengah menyampaikan rasa prihatin yang mendalam, semoga musibah tersebut bisa menjadi ujian menguatkan iman dan kesabaran bagi yang terkena musibah maupun bagi yang lain,” kata Darodji.

Selain menyerukan shalat ghaib, MUI mengajak seluruh elemen masyarakat muslim setempat untuk beristighatsah dan doa bersama bagi para korban baik yang meninggal maupun yang sakit. Berkoordinasi dengan Instansi dan Ormas Islam melakukan penggalangan dana untuk

diinfaqkan ke masyarakat Palu, Donggala dan sekitarnya yang terkena musibah.

”Khusus bagi Masjid-Masjid Agung Kabupaten Kota Se Jawa Tengah dihimbau untuk menginfaqkan hasil kotak amal satu atau dua kali jumatan (infaq shalat jumah) guna

membantu meringankan penderitaan masyarakat. Khusus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima dan Masjid Agung Semarang (MAS) diminta mempelopori bantuan tersebut,” katanya.

Agar Bersabar

Menurut Kiai Darodji, berbagai bencana yang terjadi, baik di masa silam maupun sekarang, menjadi salah satu tanda kebesaran Allah swt.

”Dalam waktu sekejap bencana yang menimpa, seperti gempa, tsunami, banjir, badai (angin topan), gunung meletus, dan yang lain, telah menghancurkan berbagai tempat di belahan muka bumi ini. Sekian ratus ribu jiwa melayang, baik manusia maupun hewan yang berada di daratan dan lautan,” katanya.

Agama mengajarkan manusia untuk bersabar menghadapi segala musibah tersebut. Selain bersabar, dia mengingatkan supaya memandang bencana alam sebagai pelajaran, peringatan, bukan sekadar fenomena alam biasa. ”Kita sudah banyak diingatkan Alquran tentang hal ini,” katanya. Sementara itu umat yang tidak terkena bencana jangan merasa aman. ”Seringkali seseorang merasa aman dari suatu musibah atau bencana karena merasa bahwa dirinya berada di radius aman. Ingat peristiwa Kanán putra Nabi Nuh yang merasa aman di gunung ternyata tetap terseret banjir yang dahsyat,” katanya.

Umat diingatkan untuk memahami musibah dan bencana merupakan ketetapan Allah sehingga harus dihadapi dengan pasrah dan tawakal. Dia meminta semua pihak untuk muhasabah atau mawas diri, tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak produktif. ”Apalagi menghubung-hubungkan musibah tersebut dengan fenomena alam dan politik. Sangat tidak tepat,” katanya.(suarabaru.id/sl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here