Bagikan
PESANGEM : Jajaran mandor hutan Perhutani KPH Cepu, mendata tanaman jati dan rimba campur (baru) di lahan tumpangsari bersama pesanggem (petani hutan). Foto : Wahono/

BLORA – Musim tanam 2018-2019, tiga Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di Blora, yakni Randublatung, Blora, dan Cepu, telah tuntas merampungkan program menanam jati dan rimba campur.

Tiga KPH dibawah Perhutani Divisi Regional (Divre) I tersebut, menanam seluas 2.543,55 hektar, baik di lahan produktif, lahan kosong maupun lahan tumpangsari bersama pesanggem (petani desa hutan)

“Kami sudah rampung menanam jati dan rimba campur baru, saat ini persiapan sulam-sulam,” kata Administratur Perhutani KPH Blora, Afwandi, Kamis (10/1).

Sayangnya, lanjut Afwandi, tanaman baru (MT 2018-2019) terancam tidak bisa berkembang baik, lantaran sudah sekitar dua pekan lebih tidak turun hujan.

Jika tidak segera turun hujan, tanaman jadi kekeringan, dikhawatirkan banyak tanaman baru yang mati, dan harus disulam lagi (menanam tanaman yang mati), tambahnya.

“Kami berharap segera turun hujan yang merata, biar tanaman baru tidak banyak yang mati,” tambahnya.

Terpisah Administratur Perhutabni KPH Cepu, Dadhut Sujanto, ternyata juga mengkhawatirkan tanaman baru dilahan seluas 1.104,85 hektar tumbuh kurang baik, dan mati.

Terancam

Diakuinya, para mandor tanam Perhutani sudah mengecek di lahan-lahan tanaman program 2018-2019, sebagian sudah banyak yang mulai kering dan tercanam mati.

“Memang sudah mulai banyak yang mati kering, kami akan segera melakukam penyulaman, tapi  menunggu hujan turun merata,” kata Dadhut.

Administratur Perhutani KPH Randublatung, Hilaludim, juga mengakui tanaman baru jenis jati dan rimba campur banyak yang mengering, dan terancam mati.

“Tentu menunggu hujan turun, nanti baru nyulami pohon-pohon yang mati kering,” kata Hilaludin.

Diberitakan sebelumnya, KPH Randublatung, KPH Blora, dan KPH Cepu pada musim tanam 2018-2019 memproyeksikan menaman jati dan rimba campur seluas 2.543,55 hektar.

Dalam pelaksanannya, jati yang akan ditanam dari jenis jati plus Perhutani (JPP), dan tanaman  rimba campur mencapai 1.250.000 plances (pucuk) lebih, dengan luasan lahan di masing-masing KPH berbeda.

KPH Randublatung seluas  932,3 hektar, KPH Blora di lahan 506,4 hektar, dan KPH Randublatiung mencapai luas 1.104,85 hektar.

Adapun penamanan dilakukan di lahan-lahan produktif, dan tanah kosong (TK). Saat menanam, plances (pucuk/bibit) semuanya sudah berkayu, tujuannya agar  berdaya tahan kuat di tanah hutan. (Suarabaru.id/wahono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here