<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Xavi Hernandez Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/xavi-hernandez/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Mar 2024 01:21:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Xavi Hernandez Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tak Sesederhana Itu Menemukan Arsitek Pengubah Keadaan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/03/09/tak-sesederhana-itu-menemukan-arsitek-pengubah-keadaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Mar 2024 10:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Muenchen]]></category>
		<category><![CDATA[Eric ten Hag]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Julien Nagelsman]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Tuchel]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=403519</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // semua berlomba/ mencari dan menemukan sang pencerah/ hari ini mencercah harapan/ esok bisa meluncur ke keterpurukan/ semua berpacu merajut terang cahaya// (Sajak &#8220;Sang Peracik Taktik&#8221;, 2024) BEGITULAH manajemen klub-klub sepak bola berburu peracik taktik. Sebegitu rumitkah mendapatkan pelatih yang awet dan dipercaya mendampingi pemain? Lebih gampang memvonis kegagalan seorang pelatih [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/09/tak-sesederhana-itu-menemukan-arsitek-pengubah-keadaan">Tak Sesederhana Itu Menemukan Arsitek Pengubah Keadaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-403548 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// semua berlomba/ mencari dan menemukan sang pencerah/ hari ini mencercah harapan/ esok bisa meluncur ke keterpurukan/ semua berpacu merajut terang cahaya//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Sang Peracik Taktik&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>BEGITULAH</strong> manajemen klub-klub sepak bola berburu peracik taktik. Sebegitu rumitkah mendapatkan pelatih yang awet dan dipercaya mendampingi pemain?</p>
<p>Lebih gampang memvonis kegagalan seorang pelatih hanya dari performa yang tak menjanjikan di sejumlah laga, lalu memastikan memecatnya; lalu terburu-buru mencari penggantinya, lalu tak jarang sebegitu cepat harus berburu lagi&#8230;</p>
<p>Tak sedikit manajemen klub yang tidak matang berpikir tentang risiko spekulasi. Sepintas tampak cocok dari kalkulasi reputasi dan harapan, atau diperkirakan sebagai figur tepat pengganti; namun bukankah sejatinya pelatih dihadapkan pada dua hamparan?</p>
<p>Ya, antara cocok dan kemelesetan, antara ekspektasi dan realitas, antara <em>chemistry</em> dan telepati hati yang sulit bertaut. Apalagi ketika sudah terkait dengan keyakinan filosofi.</p>
<p>Hari-hari ini, setidak-tidaknya empat klub besar berancang-ancang ganti nakhoda. Bayern Muenchen diperkirakan mengakhiri kontrak Thomas Tuchel yang belum lama menggantikan Julien Nagelsman, Manchester United mencari pembanding untuk Eric Ten Hag, sementara dua klub lain sudah pasti ditinggalkan pelatihnya: Liverpool bakal kehilangan Juergen Klopp, Barcelona harus rela melepas Xavi Hernandez. Padahal, dua klub tersebut sebenarnya &#8220;baik-baik saja&#8221;.</p>
<p>Pada saat yang sama, mengapung nama-nama calon yang digadang-gadang sejumlah klub. Xabi Alonso yang menukangi Bayer Leverkusen dengan rekor kinclong dari 33 laga, berada di <em>rating</em> tertinggi. Selain Bayern, Alonso diincar Liverpool dan Barcelona. Bahkan Mikael Arteta yang sedang dalam fase impresif bersama Arsenal juga masuk dalam radar idaman.</p>
<p>Terdapat pula Roberto de Zerbi yang memoncerkan Brighton and Hove Albion, lalu si genius Zinedine Zidane yang sedang tak bekerja di klub mana pun. Hansi Flick, Antonio Conte, Jose Mourinho, Stevan Gerrard dan Ole Gunnar Solskjaer juga masuk di bursa incaran.</p>
<p><strong>Faktor &#8220;Kecocokan&#8221;</strong><br />
Dalam khazanah manajemen kepelatihan, faktor &#8220;kecocokan&#8221; berandil besar untuk sebuah kisah sukses. Faktor ini bisa dibentuk oleh banyak hal. Kekuatan pendekatan kepemimpinan, karisma, kreativitas taktik, ketepatan rekrutmen pemain, serta pengenalan sejarah dan filosofi klub.</p>
<p>Visi penerapan taktik jelas membutuhkan <em>supporting</em> materi pemain. Dia butuh pemain bertipe apa dalam penerjemahan skema taktiknya? Karakter yang seperti apa? Tentu ini juga terkait dengan keyakinan filosofis ketika pelatih mengusung visi tertentu.</p>
<p>Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, dan Pep Guardiola adalah sebagian pelatih yang mendapat kemewahan dari sisi kepercayaan waktu untuk menerjemahkan &#8220;ideologi&#8221; sepak bolanya. Bandingkan dengan rata-rata pelatih yang begitu mudah diberhentikan karena hasil-hasil kurang memuaskan.</p>
<p>Padahal, bukankah waktu pula yang akan membantu menentukan untuk menemukan stabilitas sentuhan sang pengubah keadaan?</p>
<p>Liverpool sukses bangkit setelah menemukan Juergen Klopp sebagai &#8220;sang pencerah&#8221;. Barcelona sebenarnya juga mulai <em>establish</em> di tangan Xavi Hernandez setelah sempat terpuruk di bawah Ronald Koeman. Akan tetapi, masalahnya, yang menghendaki mundur justru kedua pelatih itu sendiri.</p>
<p>Bayern Muenchen-lah yang rupanya terongrong oleh pasang naik Bayer Leverkusen. Apakah faktornya hanya ada pada Thomas Tuchel dan Xabi Alonso? Atau ini sesungguhnya gambaran rivalitas antara jiwa <em>status quo</em> dan spirit <em>challenger</em>?</p>
<p>Hari-hari menuju ke penobatan peracik skema di sejumlah klub menjadi semacam keputusan penghakiman yang mendebarkan, sekaligus penuh spekulasi harapan. Siapa yang meneruskan Klopp di Anfield? Siapa pengganti Xavi di Camp Nou? Siapa yang mendampingi FC Hollywood di Muenchen? Apakah Ten Hag bakal mengamankan waktu di Old Trafford?</p>
<p>Spekulasinya: akan adakah &#8220;kecocokan&#8221;, tautan telepati, dan <em>chemistry</em> yang tertakdirkan?</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/09/tak-sesederhana-itu-menemukan-arsitek-pengubah-keadaan">Tak Sesederhana Itu Menemukan Arsitek Pengubah Keadaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Feb 2024 10:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Puppet Master]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=398421</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?// (Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024) XAVI Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-398424 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?//</em><br />
<strong>(Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024)</strong></p>
<p><strong>XAVI</strong> Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam jiwanya, <em>tiki-taka</em> bagai darah yang mengalir di nadinya.</p>
<p>Dia salah satu pemain yang secara gestural dan ekspresional mengeksplorasi sepak bola dengan rasa. Predikat mediatika sebagai “The Puppet Master” menunjukkan Xavi menghayati keberadaannya sebagai dinamo Barcelona, pun peran yang dia sandang di tim nasional Spanyol pada masanya.</p>
<p>Ya, tahukah Anda mengapa ia identik sebagai nyawa Barcelona?</p>
<p>Sang <em>play maker</em> ini adalah ornamen kental sejarah emas Barcelona. Puzzle terpenting yang memimpin orkestrasi <em>tiki-taka</em>. Dia atur ritme permainan Blaugrana. Dia terjemahkan taktik Pep Guardiola dengan kecerdasan di atas rata-rata.</p>
<p>Sebagai pemain, Xavi telah menjadi mesin penggerak <em>possession football</em> El Barca. Dia nikmati fungsi itu sebagai energi: hidupnya untuk Barca, atas nama penghayatan sepak bolanya.</p>
<p>Sekuat itu pulakah Xavi memikul peran sebagai pelatih?</p>
<p>Sekuat itukah “kebergantungan” antara Xavi dan Barcelona, ketika bicara soal “rasa”?</p>
<p>Dan, “rasa”-lah yang pada titik tertentu akhirnya mendorong Xavi Hernandez memutuskan pergi dari kursi kepelatihan Barcelona. Dia merasa menghadapi atmosfer tuntutan yang terlalu “kejam”. Hatinya ada di sini, namun logika tekanan tak kuasa dia hadapi. Ketika mengumumkan rencana pengunduran diri selepas musim 2023-2024, banyak yang terkejut, benar-benarkah dia akan berpisah dari klub yang telah membesarkan dan dibesarkannya?</p>
<p>Pernah ada semburat cahaya harapan, Xavi adalah representasi figur yang ditunggu di Camp Nou, yang diproyeksikan menjadi “penguasa” berikut setelah Johan Cruyff, lalu Pep Guardiola.</p>
<p>Pada awal karier kepelatihannya, pada 2019-2021 dia sukses mengarsiteki Al Sadd di Liga Qatar, membentuk klub tersebut sebagai “miniatur Barcelona” dengan aroma <em>tiki-taka</em>-nya. Sulit dibayangkan, sebuah klub Asia sukses dia besut bermain dengan dominasi penguasaan bola dan keelokan cita rasa.</p>
<p>Manajemen Barca, yang pada 2019-2020 kecewa terhadap kinerja Ronald Koeman, pun serta merta merekrutnya. Pada musim pertamanya, 2021-2022, dia memberi gelar La Liga dan Piala Super Spanyol. Banyak yang berpikir dia bakal sukses di “rumahnya”, juga mengembalikan citra keindahan sepak bola posesif Barcelona.</p>
<p><strong>Pekerjaan “Kejam”</strong><br />
Bahkan ketika suasana instabilitas mulai mendera performa Robert Lewandowski dkk pada musim 2022-2023, tak secepat itu para <em>cules</em> (fans Barca) mendapatkan kejutan rencana mundur. Selain badai cedera pemain, <em>tiki-taka</em> juga seperti “mejan”, sulit dibangkitkan lagi.</p>
<p>Ada sedikit cercah cahaya dengan munculnya Lamine Yamal, <em>wonderkid</em> berdarah Tunisia yang pada usia 16 sudah memperkuat La Furia Roja. Namun cedera pengatur serangan Gavi, penurunan performa Pedri Gonzales, dan Lewy yang tiba-tiba kehilangan “kegalakan” di pertengahan musim adalah sejumlah masalah yang mempengaruhi kinerja tim. Ilkay Gundogan tentu tak bisa bekerja maksimal dalam kondisi kepincangan tim .</p>
<p>Los Cules kepayahan dalam persaingan di La Liga, tertinggal jauh dari Girona dan Real Madrid. Lalu tersingkir di perempatfinal Copa del Rey, dan kalah di final Piala Super Spanyol. Harapan tersisa di Liga Champions, namun melihat konstelasinya, rasanya Barca sulit bersaing.</p>
<p>Xavi pun membaca tanda-tanda buram, meskipun manajemen Barca belum mempersoalkan capaian musim ini. Mengejutkan, karena tiba-tiba dialah yang mengumumkan rencana kepergian. Dengan nada pedih dia beralasan hasil kerjanya tak dihargai. Melatih Barca, katanya, adalah pekerjaan yang kejam dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Seperti dikutip <em>ESPN</em>, dia menegaskan, “Ini membuat Anda merasa tidak berharga setiap harinya. Pep pernah mengatakannya kepada saya. Saya sendiri melihat bagaimana Luis Enrique menderita”.</p>
<p>Xavi melihat masalah terkait dengan tingkat tuntutan. “Anda tidak menikmatinya. Anda bermain untuk hidup Anda sepanjang waktu. Ini kejam. Pekerjaan yang sudah kami lakukan tidak cukup dihargai. Padahal kami datang pada 2021, salah satu momen tersulit dalam sejarah klub”.</p>
<p>Dia selalu mencoba menjelaskan, timnya sedang dalam masa pembangunan. Argumentasi bahwa Barca tidak memiliki skuad seperti pada era kejayaan 2010, selalu dikritik. “Ini tidak ada hubungannya dengan daya tahan terhadap tekanan. Saya datang ketika klub dalam situasi yang sangat sulit, dan saya kira pekerjaan kami tidak akan pernah dihargai,” ungkapnya.</p>
<p>Dia juga merasa, ketika memenangi trofi La Liga dengan selisih 10 poin dari Real Madrid pada 2022, dan ketika meraih Piala Super Spanyol pada 2023, sama sekali tidak ada elemen ekosistem klub yang menghargai. Bagi dia, masalah ini berhubungan dengan klub, lingkungan, dan tuntutannya.</p>
<p>Xavi adalah cermin realitas sikap klub yang membedakan perlakuan, antara ketika dia masih bermain dan menjadi kunci permainan, dengan saat dia menjadi pelatih yang harus meracik taktik dan strategi tim.</p>
<p>Ya, pernahkah kita mendengar Xavi mengeluhkan aroma “kekejaman” saat masih bermain? Ataukah nilai-nilai seperti tuntutan di lingkungan Los Cules mempengaruhi daya tahan Xavi sebagai seorang yang tumbuh, berkembang, dan hidup di dunia sepak bola?</p>
<p>Artinya, ada “rasa” yang lebih kuat mencekam pikiran. Ada usikan yang tak mampu dia lawan. Ada kenyataan yang dia pahami harus dihindari. Atau, jangan-jangan “komunitas” Barcelona yang tak pernah memahami Xavi dan gumpalan rasanya&#8230;</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Barca-nya Xavi, Xavi-nya Barcelona</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/12/23/barca-nya-xavi-xavi-nya-barcelona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Dec 2023 10:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[AC Milan]]></category>
		<category><![CDATA[Andres Iniesta]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Carles Puyol]]></category>
		<category><![CDATA[David Villa]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Paolo Maldini]]></category>
		<category><![CDATA[Pedro Gonzales.]]></category>
		<category><![CDATA[Sergio Busquets]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Victor Valdez]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=389887</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // takkan bisa kau sebut salah satu/ Barcelona atau Xavi Hernandez/ keduanya menyatu/ dalam sejarah dan waktu/ Barca Xavi/ Xavi-nya Barca/ inikah imajinasi nyata/ tentang sepak bola impian?// (Sajak &#8220;Barcelona, dalam Pencarian&#8221;, 2024) TAKKAN bisa kita memilih: Barcelona, atau Xavi Hernandez. Kedua entitas itu telah disatukan oleh jejak sejarah dan tradisi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/23/barca-nya-xavi-xavi-nya-barcelona">Barca-nya Xavi, Xavi-nya Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-389933 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><span style="font-size: 12pt;">Oleh: Amir Machmud NS</span></strong></p>
<p><em>// takkan bisa kau sebut salah satu/ Barcelona atau Xavi Hernandez/ keduanya menyatu/ dalam sejarah dan waktu/ Barca Xavi/ Xavi-nya Barca/ inikah imajinasi nyata/ tentang sepak bola impian?//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Barcelona, dalam Pencarian&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>TAKKAN</strong> bisa kita memilih: Barcelona, atau Xavi Hernandez. Kedua entitas itu telah disatukan oleh jejak sejarah dan tradisi, bahkan ibarat &#8220;nyawa&#8221; yang saling menghidupi.</p>
<p>Akankah manajemen Barcelona memisahkan <em>chemistry</em> itu, seperti AC Milan yang &#8220;tega&#8221; membuang Paolo Maldini dari San Siro, dan tentu saja takkan pernah bisa menghapus sejarahnya?</p>
<p>Sebagai pemain, Xavi telah memberi puluhan trofi. Sebagai pelatih, dia baru membukukan satu trofi La Liga dalam debutnya, musim 2022-2023 plus Piala Super Spanyol untuk periode yang sama. &#8220;The Puppet Master&#8221; sukses mengawali pembenahan Barca untuk kembali menemukan platform menyerang berbasis <em>possession football</em>.</p>
<p>Musim ini, pendekatan taktik Xavi tampaknya mulai terbaca oleh klub-klub rival. Barca kehilangan unsur-unsur kejut dalam permainannya. Alur bola pendek posisional yang tidak diimbangi para &#8220;master&#8221; di setiap lini, tidak mengalir serancak harapannya.</p>
<p>Kehadiran Robert Lewandowski yang pada musim debutnya sangat menjanjikan sebagai mesin gol, akhirnya seperti tak membuahkan perbedaan. Pun unsur kejutan lainnya, bintang muda Lamine Yamal yang menyeruak di tengah ketrengginasan Pedri Gonzales, Gavi, dan Raphinha.</p>
<p>Tidak cocokkah formula Xavi untuk Barca era sekarang, seperti yang sukses dia poleskan untuk Al Sadd di Liga Qatar?</p>
<p>Atau karena ia tak punya pilar memadai seperti ketika Pep Guardiola membawa Barca di puncak kejayaan? Dari kiper Victor Valdez, Carles Puyol, Sergio Busquets, Xavi, Andres Iniesta, Lionel Messi, David Villa, Pedro Rodrigues.</p>
<p>Tiki-taka Pep adalah monumen sejarah yang menandai era kebesaran Blaugrana. Para pemain sekualitas penggawa andalan itu dilahirkan oleh sejarah, tak sembarang waktu didapatkan.</p>
<p>Jiwa masalah Barca kurang lebih sama dengan yang dihadapi Manchester United di Liga Primer saat ini. Ada beban sejarah, ketokohan, dan visi perubahan.</p>
<p><strong>Paling Tidak Enak</strong><br />
Xavi sering mengungkapkan keluhan, hari-hari yang paling membuat tidak enak adalah menjadi pelatih Barcelona.</p>
<p>Tentu lantaran tekanan, tuntutan, dan beban untuk membawa klub ke orbit dunia yang selama ini identik dengan El Barca.</p>
<p>Padahal Xavi adalah sosok yang paling diharapkan untuk mengembalikan Barca ke atmosfer semestanya, setelah sederet pelatih penerus Pep Guardiola satu per satu bertumbangan, kecuali Luis Enrique yang sukses besar meraih treble pada 2014.</p>
<p>Kinerja Xavi di Al Sadd memikat manajemen Barca. Dia mampu membentuk klub Qatar tersebut bermain seelok ketika dia menjadi tulang punggung bersama Iniesta dan Messi. Namun ironis, Xavi belum berhasil mentransformasi tiki-taka di Camp Nou.</p>
<p>Walaupun sukses di musim perdana, permainan Barca tidak menunjukkan karakteristik indah sepak bola menyerang. Taktiknya dikritik serba-tanggung oleh Lewandowski yang menilai Xavi tidak berani menurunkan lebih banyak pemain bertipe penyerang, sedangkan <em>posesivitas</em>-nya tidak menghasilkan intensitas produktif.</p>
<p>Kekalahan 2-3 dari Royal Antwerp di penyisihan grup Liga Champions banyak disoal, walaupun Barca sudah lolos ke 16 besar. Xavi dipertanyakan, lantaran setelah itu Barcelona kalah 2-4 dari Girona yang sekarang memuncaki La Liga. Sergi Roberto dkk baru merasakan lagi kemenangan setelah menundukkan Almeria 3-2, pekan ini.</p>
<p>Sebelum bertemu Almeria, kekalahan dari Girona adalah yang keempat dari sembilan laga terakhir, yang dinilai tidak patut bagi klub juara La Liga.</p>
<p>Sorotan gencar di media bagaimanapun membuat Xavi terusik, &#8220;Bukankah kami masih bertahan di empat ajang?&#8221;, yakni di peringkat ketiga La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan Liga Champions.</p>
<p><strong>Hanya di Satu Masa</strong><br />
Awalnya, para cules tentu berpikir bakal segera menemukan kembali racikan permainan Barcelona yang seindah era Pep. Apalagi Xavi adalah aktor terbaik yang paham betul luar-dalam tiki-taka. Terbukti, langkahnya tidak sesederhana itu.</p>
<p>Kita pun jadi paham, tim-tim besar dengan kehebatan yang menguasai era tertentu, tak semudah itu direinkarnasi atau dilahirkan kembali.</p>
<p>Artinya, ada masa, ada titik eksepsionalitas yang hanya hadir pada &#8220;saat&#8221; yang bagai telah tertakdirkan&#8230;</p>
<p>Jadi akan lebih kuat manakah kita mendapatkan: Barca-nya Xavi, atau Xavi-nya Barcelona?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/23/barca-nya-xavi-xavi-nya-barcelona">Barca-nya Xavi, Xavi-nya Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Oct 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Saccho]]></category>
		<category><![CDATA[Arsene Wenger]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[Rinus Michels]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=376210</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;// (Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023) PERCAYAKAH Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-376216 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/10/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// raciklah irama serancak orkestrasi bunyi/ ia akan menghasilkan melodi/ suntiklah dengan ideologi/ ia akan menghadirkan kesetiaan/ pada elok rasa dan indah hati/ tunggulah waktu/ yang akan membawa rindu/ mengharu-biru&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Sepak Bola Indah”, 2023)</strong></p>
<p><strong>PERCAYAKAH</strong> Anda, sepak bola indah adalah produk kreatif perputaran siklus? Dia romantisme yang tak sembarang ditemui pada setiap musim; bahkan dengan kendali para genius yang punya jejak reputasi untuk menyajikan eksotika dari wayang-wayang yang mereka mainkan.</p>
<p>Bukankah kini Pep Guardiola tak sepenuhnya menghadirkan sepak bola seni di Manchester City? “Muridnya”, Xavi Hernandez yang gilang-gemilang mentransformasi <em>tiki-taka</em> saat menukangi Al Sadd di Liga Qatar, belum pula menghasilkan simfoni estetis di Camp Nou, seelok masa emas Barcelona.</p>
<p>Lalu siapa? Juergen Klopp-kah, Mikael Arteta, Eddie Howe, atau nama baru yang mencuat: Roberto De Zerbi?</p>
<p>Pep dengan “pasukan <em>exellent</em>” memang membentuk The Citizens sebagai tim yang siap menguasai Inggris, Eropa, dan dunia. Akan tetapi, setarakah perfeksionitas permainan Kevin de Bruyne dkk dengan keindahan Barcelona pada masa-masa emasnya?</p>
<p>Barca 2007-2012 boleh dibilang sebagai “karya agung sepak bola indah”. Pep sukses meraciknya sebagai padu padan kemampuan para pesepak bola unggul menjadi melodi nan elok “<em>merak ati</em>”.</p>
<p>Masa-masa emas Blaugrana memang bergelimang cahaya bintang. Dengan sederet nama fantastis seperti Ronaldinho, Deco, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Lionel Messi, Sergio Busquets, Carles Puyol, Dani Alves, David Villa, Gerard Pique, Jordi Alba, juga Cesc Fabregas dan Pedro Gonzales, kejayaan itu masih berlanjut ketika sederet pelatih menjadi suksesor, yang berpuncak ke pengulangan <em>treble</em> di era manajer Luis Enrique pada 2014-2015.</p>
<p><strong>City-nya Pep</strong><br />
Pada 2013, Pep mengusung gaya sepak bola indahnya yang posesif &#8212; menekankan dominasi penguasaan bola &#8212; ke Bayern Muenchen, namun tidak maksimal menjadi filosofi yang memberi kejayaan Eropa. Rupanya, ada penghayatan karakter yang tak bisa dipertemukan secara kultural di Bundesliga.</p>
<p>Di Manchester City, sejak 2016, dia membangun tim dengan keleluasaan rekrutmen bintang-bintang yang dia butuhkan. Dan, baru pada musim 2022-2023 menghasilkan trofi Eropa dalam romantisme <em>treble</em> yang akan selalu dikenang dalam kebesaran sejarah klub.</p>
<p>Hanya, apabila ditanya apakah City versi Pep memainkan sepak bola secantik Barcelona produk kejeniusannya, saya memilih menyimpulkan, “Tak semudah itu menjajari performa Barca pada masanya, ketika gairah, keindahan, dan kekuatan filosofi disatukan oleh kejeniusan menjadi ideologi&#8230;”</p>
<p>Maka, ketika City yang seperkasa itu pun tak bisa dibilang menghadirkan eksotika yang artistik, klub mana pula yang menjadi alternatif untuk menyimak aplikasi keindahan skematika di kanvas permainan?</p>
<p>Atau memang sepak bola indah tak bisa dijamin muncul dalam siklus waktu tertentu?</p>
<p>Sejak musim kemarin, dari “pemagangan” di Liga Qatar, Xavi Hernandes membawa Barcelona dalam pemulihan tradisi kemenangan di La Liga, namun “Barca Xavi” masih jauh dari sepak bola merangsang dengan gairah <em>tiki-taka</em>. Padahal sejatinya, filosofi ini melekat dalam penjiwaan pelatih yang berjejuluk “The Puppet Master” itu. Xavi pernah disebut-sebut sebagai sosok yang sangat memahami sepak bola indah itu.</p>
<p>Kalau dulu, Pep membawa Barca dalam sikap “menang saja tak cukup, melainkan harus dengan cara indah”, kini Xavi masih bergerak di level “kulit” – “apa pun, yang penting menang dulu”. <em>Mindset</em> yang agaknya juga ditempuh Pep dalam petualangannya di Liga Primer.</p>
<p>Pendekatan berbeda ditempuh dua pelatih di Liga Primer, yakni Mikael Arteta yang menukangi Arsenal, dan Roberto De Zerbi yang mengarsiteki Brighton Hove and Albion. Arteta membawa Meriam London ke mode bermain rancak nan indah, sedangkan De Zerbi memadukan gairah dan kecepatan bermain The Seagull yang merepotkan konsolidasi setiap lawan.</p>
<p>Di samping Eddie Howe yang mengawal kebangkitan Newcastle United, nama lain yang kini mencuat adalah Ange Pastecoglou. Arsitek asal Australia yang kini membawa Tottenham Hotspur ke pucuk klasemen ini mendoktrin timnya dengan spartanitas permainan menyerang.</p>
<p>Tanpa kapten dan bintangnya, Harry Kane yang hijrah ke Bayern Muenchen, Spurs dia bentuk menjadi kekuatan konsisten dengan permainan cepat, di bawah kepemimpinan Son Heung-min, mesin gol asal Korea yang semakin matang.</p>
<p>Haruskah kita menunggu raihan trofi liga Arsenal bersama Arteta untuk mengklaim kembalinya sepak bola indah? Atau Pep akan memformulasikan City perlahan-perlahan menjadi kekuatan eksotis?</p>
<p>Lalu Barcelona, akankah seniman sekelas Xavi mandek pada kemenangan-kemenangan yang tanpa menyajikan kembali eksepsionalitas cara bermain bola?</p>
<p>Pada akhirnya, elok sepak bola indah adalah kerinduan. Seni cantik menyajikan skema taktik adalah kejeniusan. Pertunjukan karakter para aktor hebat adalah “bahasa ideologis” yang mengalir sebagai darah dalam nadi sepak bola.</p>
<p>Akankah dalam sisa hari-harinya Pep mewujudkan tontonan yang berbeda? Atau musim ini sang penguasa panggung itu adalah Mikael Arteta?</p>
<p>Inilah siklus pergulatan tesis, antitesis, dan sintesis yang menandai perjalanan sepak bola indah sejak Brazil 1970, Belanda 1974, Brazil 1982, Brazil 1986, dan Spanyol 2012.</p>
<p>Catat pula sederet “klub indah” dari Ajax-nya Rinus Michels, Sao Paulo-nya Tele Santana, AC Milan-nya Arrigo Saccho dan Fabio Capello, Arsenal-nya Arsene Wenger, hingga Barcelona-nya Pep Guardiola.</p>
<p>Makin ditunggu, waktu makin membawa rindu mengharu-biru&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/21/siklus-rindu-sepak-bola-indah-dari-michels-pep-hingga-arteta">Siklus Rindu Sepak Bola Indah: dari Michels, Pep, hingga Arteta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>24 Peserta Piala Dunia U17 Resmi Merapat di Indonesia</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/06/28/24-peserta-piala-dunia-u17-resmi-merapat-di-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jun 2023 01:22:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Alessandro Del Piero]]></category>
		<category><![CDATA[Erick Thohir]]></category>
		<category><![CDATA[Fransesco Totti]]></category>
		<category><![CDATA[Jordi Amat]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PSSI]]></category>
		<category><![CDATA[Pedri]]></category>
		<category><![CDATA[Phil Foden]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia U17]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=348214</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Sebanyak 24 negara secara resmi sudah dipastikan akan mengikuti Piala Dunia U17, yang akan digelar 10 November hingga 2 Desember 2023, di Indonesia. Seperti diketahui, FIFA baru saja menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah ajang bagi calon-calon pemain sepak bola dunia ini. Sebagai tuan rumah, Indonesia otomatis lolos dan menjadi satu-satunya wakil dari kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/28/24-peserta-piala-dunia-u17-resmi-merapat-di-indonesia">24 Peserta Piala Dunia U17 Resmi Merapat di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Sebanyak 24 negara secara resmi sudah dipastikan akan mengikuti Piala Dunia U17, yang akan digelar 10 November hingga 2 Desember 2023, di Indonesia.</p>
<p>Seperti diketahui, FIFA baru saja menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah ajang bagi calon-calon pemain sepak bola dunia ini. Sebagai tuan rumah, Indonesia otomatis lolos dan menjadi satu-satunya wakil dari kawasan Asia Tenggara.</p>
<p>Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menyatakan, keputusan FIFA menjadi bukti kepercayaan FIFA dan dunia sepak bola internasional, terhadap pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/06/28/sidang-asusila-oknum-polwan-di-tegal-jpu-hadirkan-saksi">Sidang Asusila Oknum Polwan di Tegal, JPU Hadirkan Saksi</a></strong></p>
<p>&#8221;Keputusan FIFA tidak hanya wajib kita rayakan, tapi harus juga kita perjuangkan. Perjuangkan dalam arti, ini merupakan kesempatan untuk Indonesia, rumah dan panggung kita untuk Garuda Muda bisa mendunia,&#8221; ujar Erick, saat konferensi pers FIFA U17 World Cup, di Jakarta, akhir pekan lalu.</p>
<p>Di Event Piala Dunia U17 ini, banyak sekali lahir pemain-pemain top. Mereka di antaranya Alessandro Del Piero, Fransesco Totti (Italia), Xavi Hernandez (Spanyol). Kemudian Fernando Redondo, Juan Sebastian Veron (Argentina), Luis Figo (Portugal), serta Ronaldinho (Brazil).</p>
<p>Sejumlah bintang jebolan Piala Dunia U17 yang masih aktif bermain, juga pernah mentas di kompetisi ini. Ada Phil Foden (Inggris), Pedri (Spanyol), Jordi Amat (Spanyol) yang kini membela Timnas Indonesia di level senior.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/06/28/gelar-karya-p5-sdn-3-tubanan-tumbuhkan-keterampilan-berwirausaha">Gelar Karya P5 SDN 3 Tubanan, Tumbuhkan Keterampilan Berwirausaha</a></strong></p>
<p>Peserta yang ikut dalam Piala Dunia U17, datang dari enam konfederasi. Dimulai dari Indonesia sebagai tuan rumah. Selain Indonesia, wakil Asia (AFC) adalah Iran, Korea Selatan, Jepang, serta Uzbekistan.</p>
<p>Wakil Eropa (UEFA) Spanyol, Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia. Dari zona Amerika Selatan (Conmebol) ada Brazil, Argentina, Kolombia, dan Ekuador.</p>
<p>Kemudian peserta asal kawasan Amerika Utara dan Tengah (Concacaf) adalah Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, dan Panama. Lalu wakil Afrika (CAF), Mali, Burkina Faso, Maroko, dan Senegal. Terakhir dari zona Oceania mengirimkan Selandia Baru dan Kaledonia Baru.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/06/28/24-peserta-piala-dunia-u17-resmi-merapat-di-indonesia">24 Peserta Piala Dunia U17 Resmi Merapat di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2023 10:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Supercopa de Espana]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=316527</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // waktu membawa palu penentu/ ia bertahan dalam utuh sejarah/ ia berubah dalam tuntutan adaptasi/ atau bergerak atas nama revolusi// (Sajak &#8220;Ke Mana Tiki-Taka&#8221;, 2023) BARCELONA seharusnya tak tercegah untuk bertahan memuncaki klasemen dan mengangkat trofi La Liga, musim ini. Ya, seharusnya! Kata &#8220;seharusnya&#8221; ini beraksen &#8220;syarat&#8221;, yakni kebergantungan pada sejauh [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa">Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-316531 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// waktu membawa palu penentu/ ia bertahan dalam utuh sejarah/ ia berubah dalam tuntutan adaptasi/ atau bergerak atas nama revolusi//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Ke Mana Tiki-Taka&#8221;, 2023)</strong></p>
<p><strong>BARCELONA</strong> seharusnya tak tercegah untuk bertahan memuncaki klasemen dan mengangkat trofi La Liga, musim ini.</p>
<p>Ya, seharusnya!</p>
<p>Kata &#8220;seharusnya&#8221; ini beraksen &#8220;syarat&#8221;, yakni kebergantungan pada sejauh mana konsistensinya merawat &#8220;etalase performa&#8221;.</p>
<p>Dengan segala romantikanya, Xavi Hernandez telah membawa aura perubahan. Benar-benar bergerak: dari Barcelona yang tertatih-tatih dan &#8220;renta&#8221; di musim-musim terakhir, menjadi tim yang kembali tampak layak memanggul nama besar.</p>
<p>Pun, perubahan yang dia bawa seperti letikan api revolusi: dari Blaugrana yang lekat dengan citra keindahan tiki-taka, menjadi Azulgrana yang sesekali mengalirkan bola dalam alur pragmatis; tak elok-elok amat tetapi mematikan.</p>
<p>Xavi, sang arsitek, pada masanya adalah salah satu elemen terpenting seni sepak bola indah Barca dan Spanyol. Dia seniman dan pemimpin yang menggerakkan orkestrasi, mengatur irama permainan. Dialah poros kerancakan <em>possession football</em> warisan Johan Cruyff yang dikembangkan oleh Pep Guardiola.</p>
<p>Dia sempat mengarsiteki All Sadd di Liga Qatar, dan membentuk klub itu bercita rasa keindahan tiki-taka. Tangan dingin Xavi membangun citra kelayakan diri sebagai pelatih Barca masa depan; dan itu tak lama dilewati sesegera kegagalan Ronald Koeman untuk membawa perbaikan Pasukan Camp Nou.</p>
<p>Barca yang anjlok secara performa, psikologi, dan tradisi, perlahan-lahan dia bimbing kembali ke &#8220;jalan yang benar&#8221;, dia bawa membuka memori &#8220;cara menang&#8221;, dan &#8220;ingat jalan kejayaan&#8221;.</p>
<p>Xavi pun sempat mengalami fase meragukan pada musim lalu. Dalam 50 laga pertama, dia hanya menghadirkan 28 kemenangan, 11 seri, dan 11 kekalahan. Dan, itu dicatat sebagai raihan terburuk pelatih Barcelona sejak 2001.</p>
<p>Langkah-langkahnya jelas. Dia padukan penggawa-penggawa muda dengan rekrutan elite. Dimatangkannya Gavi, Pedri, Ferran Torres, Ronald Araujo, dan Ansu Fati. Direkrutnya Robert Lewandowski, Raphinha, Franck Kessie, Pablo Torres, Marcos Alonso, Andreas Christensen, dan Eric Garcia. Dipertahankannya Marc-Andre ter Stegen, Oesman Dembele, Sergi Roberto, Frenkie de Jong, Jordi Alba, Jules Kounde, dan Sergio Busquets.</p>
<p><strong>Perlahan tapi Pasti</strong><br />
Lewat dinamika performa dalam dua musim terakhir, perlahan-lahan Xavi mulai membawa pasukannya bersaing dalam perburuan gelar.</p>
<p>Memimpin klasemen dengan selisih 11 poin dari Real Madrid, Busquets dkk memperlihatkan soliditas barisan belakang, keseimbangan lini tengah dalam transisi menyerang dan bertahan, serta kedalaman skuad di lini serang. Lewandowski dan Raphinha memberi jaminan ketajaman Barca pada musim ini.</p>
<p>Barca-nya Xavi memang belum seelok masa-masa kejayaan tiki-taka. Sesekali kombinasi permainan menyerang nan aduhai itu muncul sebagai etalase dasar permainan Xavi, namun ia juga memberi keleluasaan ekspresional dengan bola-bola <em>direct</em> ke barisan penyerang.</p>
<p>Apakah ini &#8220;revolusi kecil&#8221;, atau sekadar konsekuensi untuk bersikap pragmatis? Dia paham tak mudah menemukan 11 pemain yang secara total mampu memainkan tiki-taka dalam kemurnian filosofinya?</p>
<p>Satu trofi, Supercopa de Espana 2023 sudah dibendaharakan. Pembuktian <em>progres</em> capaian Xavi dinanti di ujung musim La Liga nanti, setelah kegagalan pahit di panggung Liga Champions yang men-<em>down grade</em> Barcelona sebelum ini.</p>
<p>Lika-liku Barca mirip dengan &#8220;kasus serupa&#8221; di Liga Primer. Manchester United mengarungi perjalanan rumit. Setan Merah kehilangan &#8220;maqam&#8221; tradisi, jatuh bangun mengejarnya, dan di bawah Eric ten Hag perlahan-lahan mulai menemukan titik cerah untuk kembali&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa">Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Energi Positif untuk Kebangkitan Barcelona</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/03/05/energi-positif-untuk-kebangkitan-barcelona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2022 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=235944</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // barcelona membutuhkan cahaya/ energi yang membakar/ menyalakan asa/ peta jalan kebangkitan/ terpancari karisma Xavi/ kilau mutiara Pedri/ elok permata Gavi/ pikiran serentak tentang ideologi/ jalan terang berlabel tiki-taka// (Sajak “Energi Positif Barcelona”, 2022) DENGAN emosional Gerard Pique meneriakkan “Barcelona is back!”. Betapa momen menyusun keping-keping kepercayaan diri itu telah lama [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/03/05/energi-positif-untuk-kebangkitan-barcelona">Energi Positif untuk Kebangkitan Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-235974 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// barcelona membutuhkan cahaya/ energi yang membakar/ menyalakan asa/ peta jalan kebangkitan/ terpancari karisma Xavi/ kilau mutiara Pedri/ elok permata Gavi/ pikiran serentak tentang ideologi/ jalan terang berlabel tiki-taka//</em><br />
<strong>(Sajak “Energi Positif Barcelona”, 2022)</strong></p>
<p><strong>DENGAN</strong> emosional Gerard Pique meneriakkan “Barcelona is back!”. Betapa momen menyusun keping-keping kepercayaan diri itu telah lama dia tunggu.</p>
<p>Dengan tanpa basa-basi, pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti mengakui melihat sebuah isyarat kebangkitan. Betapa permainan klub rival utamanya itu perlahan-lahan bergerak ke arah yang positif.</p>
<p>Kemenangan 4-2 di kandang FC Napoli dalam leg kedua Liga Europa pekan silam itu memang memberi atensi lebih, memunculkan respons tentang “Barca yang sebenarnya”, Barca yang lahir kembali setelah dalam tiga musim terakhir menjadi tim semenjana, anjlok dari level kebesarannya. Hasil itu memastikan Los Cules lolos ke 16 besar Liga Europa.</p>
<p>Di kancah La Liga, Blaugrana juga bergerak ke trek positif. Sejumlah indikator menarik menyertai perkembangan ini. Dari ketelatenan Xavi Hernandez dalam menyusun puzzle kebangkitan, pergerakan Pedri Gonzales menuju kematangan performa, konsisten penampilan Frenkie de Jong, hingga kehadiran dua sosok yang langsung nyetel dengan orkestrasi Xavi: Pierre-Emerick Aubameyang dan Adama Traore. Kedua penyerang ini memberi suntikan energi ketajaman yang luar biasa. Kemenangan 4-0 atas Athletic Bilbao dalam duel La Liga akhir pekan kemarin menunjukkan pengaruh itu.</p>
<p>Kontribusi Pedri, De Jong, Aubameyang, Ferran Torres, dan Adama, bahkan Ousmane Dembele yang selama ini lebih banyak diragukan, kini menopang kerja keras Xavi yang gigih memulihkan skema “ideologi khas Barca”. Tentu tidak semudah itu menemukan kembali tiki-taka setara dengan kualitas era Pep Guardiola.</p>
<p>Pada masa-masa puncak Barca dari 2006 hingga 2017, Pep dikarunia tebaran permata yang menguatkan syarat memainkan ideologi permainan menyerangnya. Dan, sejauh ini, dari pelatih ke pelatih yang meneruskan Pep, Barca hanya bisa mengimpikan identifikasi kelahiran pilar-pilar dengan label media “New Xavi”, “New Iniesta”, “New Puyol”, dan “New Messi”.</p>
<p>Harapan yang tidak mudah diwujudkan. Ansu Fati belum beranjak ke tanda-tanda agar fans Barca melupakan Messi. Ruiqi Puig belum memperlihatkan kedekatan dengan predikat “Xavi berikutnya”. Siapa pula penerus Andres Iniesta? Pedri-ah, aau Gavi? Bagaimana pula dengan Alejandro Balde untuk mengawal pertahanan dengan kualitas Carles Puyol?</p>
<p><strong>Konfidensi</strong><br />
Saat ini, Pasukan Camp Nou menempati posisi keempat dalam klasemen La Liga, dengan 42 poin dari 24 laga, tertinggal 15 poin dari Real Madrid yang memimpin klasemen. Kemenangan atas Napoli dengan penampilan yang menjanjikan tentu mengangkat konfidensi tim secara keseluruhan. Ya pelatih, ya pemain.</p>
<p>Bukankah Barcelona juga sedang mengalami degradasi mental dalam persaingan di level Eropa? Bahkan sempat dihumbalangkah Bayern Muenchen dengan skor memalukan? Dalam 11 laga tandang terakhir kompetisi Eropa, Barca hanya dua kali menang, dan di Liga Champions musim ini gagal menang dengan total dua gol,</p>
<p>Catatan positifnya, setelah tersisih di semifinal Piala Super Spanyol dari Athletic Bilbao, Barcelona mencatat empat kemenangan dan dua seri. Amunisi baru, Adama Traore dan Aubameyang memberi peran dalam laga-laga tersebut.</p>
<p>Sebagaimana dikutip ESPN, Gerard Pique mengatakan, “Kami sudah kembali ke performa terbaik, mungkin memang harus terpuruk dulu. Ini jadi alarm untuk semua tim, untuk kami, dan juga orang-orang di luar sana, bahwa pelan-pelan kami bangkit. Kami di jalur yang benar&#8230;”</p>
<p>Pujian juga datang dari Carlo Ancelotti, coach Real Madrid, “Saya telah melihat semua pertandingan dan mereka bermain dengan baik. Tidak mudah untuk menang tandang di Napoli, dan mereka menampilkan performa yang lengkap dan berhasil menang,” ucap Don Carlo.</p>
<p>Jarak poin dari El Real di klasemen La Liga memang terlalu jauh. Itulah agaknya, Xavi kini fokus pada Liga Europa sebagai peta jalan target trofi musim ini</p>
<p><strong>Bertabur Mutiara</strong><br />
Pelatih muda yang sukses mengarsiteki klub Liga Qatar, Al Sadd itu memercayai skuad muda sebagai masa depan Barca. Ide-idenya tentang sepak bola khas Barcelona mulai ditransformasikan ke sederet bakat seperti Ronald Araujo, Abde Ezzalzouli, Alejandro Balde, Ferran Jutgla, Gavi, Nico Gnzales, Ruiqi Puig, dan Pedri Gonzales, termasuk Ansu Fati. Usia mutiara-mutiara Camp Nou ini berkisar antara 18 &#8211; 22 tahun.</p>
<p>Pada masa puncaknya, tiki-taka membutuhkan pemain-pemain dengan kualitas di atas rata-rata, baik dalam visi, fiosofi, teknis, maupun transformasi ideologi. Ketika para pemain senior tinggal sisa-sisa, seperti Pique, Sergio Busquets, Dani Alvez, Sergi Roberto, Jordi Alba, Memphis Depay, Marc-Andre Ter Stegen, dan kini mendapat suntikan Aubameyang dan Adama Traore, maka penyisipan-peyisipan mutiara muda pun tak terhindarkan dengan pelan-pelan menjadi mayoritas tim Xavi.</p>
<p>Kebangkitan tentu bukan diksi spirit yang mudah diwujudkan, namun realitasnya Xavi Hernandez perlahan-lahan mulai menemukan bentuk dari perjalanan pencerahannya membangun permainan tim yang dari remaja sudah sangat dikenalnya itu.</p>
<p>Dia memegang kunci untuk impian itu: energi positif&#8230;</p>
<p><em>&#8212; Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan penulis buku &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/03/05/energi-positif-untuk-kebangkitan-barcelona">Energi Positif untuk Kebangkitan Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Barcelona, dalam Kemewahan Cinta</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/12/25/barcelona-dalam-kemewahan-cinta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2021 10:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=220487</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // cinta melabuhkan sepak bola/ ke kedalaman rasa/ mengaduk hati dan daya cipta/ ada apa di balik hasrat?/ cinta menarasikan semua/ gol-golkah yang menjadi muara?// (Sajak &#8220;Barcelona, dalam Cinta&#8221;, 2021) PERCAYALAH, kalian bakal menemukan cinta di antara taktik dan kerasnya sepak bola. Bola bergulir, direbut, dikuasai, dikelola, lalu dieksekusi. Momen mendebarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/12/25/barcelona-dalam-kemewahan-cinta">Barcelona, dalam Kemewahan Cinta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-220489 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/12/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// cinta melabuhkan sepak bola/ ke kedalaman rasa/ mengaduk hati dan daya cipta/ ada apa di balik hasrat?/ cinta menarasikan semua/ gol-golkah yang menjadi muara?//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Barcelona, dalam Cinta&#8221;, 2021)</strong></p>
<p><strong>PERCAYALAH,</strong> kalian bakal menemukan cinta di antara taktik dan kerasnya sepak bola.</p>
<p>Bola bergulir, direbut, dikuasai, dikelola, lalu dieksekusi. Momen mendebarkan bernama &#8220;gol&#8221; adalah muara dari produk pergulatan perasaan antarelemen mulai dari pemain, pelatih, manajer, tenaga medis, instruktur kebugaran, hingga petugas-petugas teknis lainnya.</p>
<p>Tanpa curahan ritus perasaan, takkan ada permainan yang berlambar hati. Dengan hati, para pekerja sepak bola mengungkapkan cinta.</p>
<p>Dan, tentulah kalian paham, perasaan terdalam itu memainkan peran dalam relasi di antara mereka yang bertaut dengan dinamika perjalanan sebuah klub.</p>
<p>Demikianlah saya menarasikan perjalanan pikiran seorang Xavi Hernandez dalam amanah membawa Barcelona menempuh perjalanan baru. Benar-benar rute baru, karena kini El Barca harus berani &#8220;menginjak bumi&#8221;, menjauh dari predikat sebagai penguasa yang selama 20 tahun terakhir bergelimang kemewahan pesona.</p>
<p>Blaugrana bukan lagi &#8220;lakon&#8221; yang dalam setiap laga mendominasi penguasaan bola, atau yang dalam rezim Pep Guardiola diberi label sebagai tiki-taka, atau possession football yang menjadi &#8220;ideologi&#8221; filosofis Akademi La Masia.</p>
<p>Barcelonistas sejagat pasti merasai kepedihan Xavi, para pemain, dan legenda-legenda klub. Gagal lolos dari fase grup Liga Champions musim ini, yang mengulang sejarah pahit 21 tahun silam, jelas menjadi titik kemuraman.</p>
<p>Siapa pun yang menanam cinta kepada Barca tentu merasakannya sebagai momen patah hati yang luar biasa. Tak ada pemain dan mantan pemain Barca yang tidak merasa hancur menghadapi realitas ini.</p>
<p>Potret muram itu, misalnya tampak ketika kalah 0-3 dari Bayern Muenchen dalam laga yang menentukan nasib telah men-down grade seolah-olah Barcelona bukan klub yang punya tradisi besar sejarah. Ditambah fakta, permainan Sergio Busquets dkk tidak lagi menggambarkan performa klub &#8220;sultan&#8221; seperti reputasi yang melekat dari kompetisi ke kompetisi.</p>
<p>Serta mertakah kita mencari kekurangan Xavi sebagai peracik taktik?</p>
<p>Serta mertakah menyesali pemecatan Ronald Koeman yang kemudian menciptakan transisi kepelatihan lewat kehadiran Xavi Hernandez dari Al Sadd?</p>
<p>Akankah keluarga besar Camp Nou terus menerus meratapi kepergian Lionel Messi ke Paris St Germain?</p>
<p>Akankah fans menyalahkan manajemen dalam pengelolaan financial fair play, yang menyebabkan kegagalan mempertahankan Messi, yang sejatinya juga tak menghendaki pindah klub?</p>
<p><strong>Tiadanya Intensitas</strong><br />
Tahukah Anda, yang juga &#8220;merasakan&#8221; pemudaran cahaya Barcelona sekarang adalah Thomas Mueller, penyerang Bayern Muenchen pembobol gawang Andre-Ter Stegen?</p>
<p>Dia melihat, dari kualitas individu, tidak ada yang kurang dari Barca. Yang dia rasakan sebagai titik lemah adalah &#8220;intensitas&#8221;.</p>
<p>Apakah yang dimaksud Mueller adalah determinasi, juga passion? Jika benar ini, pastilah ada yang gagap dalam menerjemahkan cinta. Artinya, Xavi bakal lebih diribetkan oleh masalah-masalah hasrat, yang tidak sekadar urusan teknis dan taktik.</p>
<p>Kepergian Messi jelas menciptakan &#8220;lubang besar&#8221;. Intensitas ancaman ke gawang lawan, produktivitas gol, juga konfidensi berkat keberadaan sosok pembeda sangat dirasakan. Ada &#8220;efek magis&#8221; yang hilang.</p>
<p>Pekerjaan Xavi adalah membiasakan kondisi &#8220;lapangan&#8221; tanpa seorang yang sangat eksepsional. Toh, andai ada Messi pun, dalam usia yang sudah merambat, bukankah cepat atau lambat akan ada titik finis?</p>
<p>Yang lebih pas adalah memulai era baru dengan menyusun puzzle potensi tim. Lalu menciptakan pembeda baru entah dari personal-personal pemain muda, atau yang berupa gereget kolektivitas total.</p>
<p>Barca butuh pencerahan. Sebuah era kejayaan memang tidak selamanya bisa dipertahankan, karena kekokohan serbuah organisasi &#8212; termasuk klub sepak bola &#8212; selalu memunculkan tantangan dengan intensitas tertentu. Ada tesis, antitesis, lalu sintesis.</p>
<p>Maka dibutuhkan sikap baru untuk memulai inovasi, kreativitas, dan memberi energi moral baru.</p>
<p>Di balik tantangan itu, Xavi mulai menaruh harapan kepada skuad muda yang harus diracik untuk memahami filosofi dan skematika ide. Dia punya sederet young gun: Ronald Araujo, Abde Ezzalzouli, Alejandro Balde, Ferran Jutgla, Gavi, Nico Gnzales, Ruiqi Puig, dan Pedri Gonzales. Kisaran usia 18-22 menjadi gambaran menjanjikan masa depan Barca.</p>
<p>Kita percaya, dulu tiki-taka sukses dimainkan karena kehebatan poros-poros permainan yang bisa disatukan ke dalam kolektivitas pikiran. Untuk kembali membangkitkan permainan filosofis-ideologis itu, Xavi sudah sangat paham syarat-syarat apa yang dibutuhkan.</p>
<p>Saat ini, para pilar senior sedang menjalani &#8220;tiarap kesadaran&#8221; sebagai bukan lagi &#8220;sultan&#8221; di La Liga dan Eropa. Sedangkan bocah-bocah bertalenta dari La Masia diliputi hasrat mencipta sejarah menguasai La Liga dan Eropa.</p>
<p>Bukankah ini adalah momen penting bagi Xavi dan pasukannya untuk memulai sebuah era melalui rute perjalanan yang betul-betul baru?</p>
<p>Dan, cinta yang akan merakitnya&#8230;</p>
<p><em>&#8212; Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/12/25/barcelona-dalam-kemewahan-cinta">Barcelona, dalam Kemewahan Cinta</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Xavi, dalam Spekulasi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/11/06/xavi-dalam-spekulasi</link>
					<comments>https://suarabaru.id/2021/11/06/xavi-dalam-spekulasi#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2021 10:00:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=209073</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia ada dalam spekulasi/ katakanlah, dia orangnya/ katakan pula, diakah orangnya?/ bukankah sepak bola adalah juga takdir/ siapa mampu mengubah apa/ siapa mampu menciptakan apa/ pun yang namanya tiki-taka&#8230;// (Sajak &#8220;Tiki-Taka Xavi Hernandez&#8221;, 2021) SEMASA masih bermain, Xavi Hernandez sering diposisikan layaknya pelatih. Dia bukan sekadar pemain, playmaker, kapten, melainkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/11/06/xavi-dalam-spekulasi">Xavi, dalam Spekulasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-209074 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/11/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/11/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/11/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/11/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia ada dalam spekulasi/ katakanlah, dia orangnya/ katakan pula, diakah orangnya?/ bukankah sepak bola adalah juga takdir/ siapa mampu mengubah apa/ siapa mampu menciptakan apa/ pun yang namanya tiki-taka&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Tiki-Taka Xavi Hernandez&#8221;, 2021)</strong></p>
<p><strong>SEMASA</strong> masih bermain, Xavi Hernandez sering diposisikan layaknya pelatih. Dia bukan sekadar pemain, playmaker, kapten, melainkan juga sosok kunci pengendali operasionalisasi taktik. Julukan &#8220;The Puppet Master&#8221; atau &#8220;dalang&#8221; menggambarkan peran yang lebih dalam irama permainan tiki-taka.</p>
<p>Diakah sang pengendali &#8220;lakon&#8221; dalam permainan yang khas Barcelona itu?</p>
<p>Sejak masih bermain, Xavi sudah digambarkan bakal menjadi arsitek masa depan Blaugrana. Dia seperti Pep Guardiola yang dari muda sudah dikader oleh sang mentor, Johan Cruyff untuk suatu masa kelak, menjadi penggantinya. Dan, terbukti Pep bisa, bahkan saat melanglang ke Bundesliga dan Liga Primer, dia menciptakan tim indah di Bayern Muenchen dan Manchester City.</p>
<p>Bedanya, Xavi menjadi &#8220;pelaku&#8221; yang paripurna. Produk permainan ketika menukangi Al Sadd di Liga Qatar membuktikan perkiraan tentang masa depannya tidak jauh meleset. Selain aneka trofi yang sudah diraih, Al Sadd dia bentuk menjadi klub dengan gaya bermain mirip dengan Barcelona pada masa jayanya.</p>
<p>Cepat, rancak, ofensif, dan elok. Gaya bermain yang menghibur itu, selain dimiliki Al Sadd, dalam beberapa segi kini juga menjadi identitas Manchester City dan klub asuhan Stevan Gerard di Liga Skotlandia, Glasgow Rangers.</p>
<p>Berkat karya itulah, dengan penuh keyakinan manajemen Barcelona mengusungnya sebagai pengganti Ronald Koeman yang diberhentikan.</p>
<p>Sudah saatnyakah dia menjadi arsitek Barca?</p>
<p>Pertanyaan itu sama seperti ketika Pep Guardiola dipromosikan sebagai pelatih tim utama dari Barcelona B. Sama pula dengan spekulasi manajemen Rangers mendatangkan Gerard untuk menukangi tim utama.</p>
<p>Tentulah banyak yang skeptis: melatih Barcelona? Bolehlah dia mengibarkan Al Sadd, tetapi Barca?</p>
<p>Nyatanya, di sebuah klub di Liga Timur Tengah &#8212; yang boleh dibilang tidak sekompetitif liga-liga Eropa &#8212; menciptakan karakter dan identitas kuat bermain, tentu tidak semudah itu dibayangkan. Artinya, Xavi memiliki kelebihan, sama seperti ketika dia mampu menjadi faktor pembeda sebagai pengendali lini tengah Barcelona dan tim nasional Spanyol.</p>
<p><strong>Spekulatifkah?</strong><br />
Apakah keterpilihan pria 41 tahun itu untuk mengarsiteki klub sebesar Barca adalah spekulasi besar, yang bahkan berpotensi merusak reputasi dan masa depannya?</p>
<p>Penunjukan pelatih membawa konsekuensi tertentu. Tidak akan ada yang mampu menjamin seorang bintang besar dan pintar, atau kapten tim yang berkarisma, bakal memberi kekuatan nuansa kepemimpinan dalam menangani sebuah klub. Sejarah sudah memberi bukti-bukti. Bukankah Andrea Pirlo baru saja gagal menuntaskan tugas di Juventus? Bryan Robson dan Thiery Henry juga belum membuktikan tuah sebagai pelatih.</p>
<p>Xavi sudah lama diincar. Kiprahnya semasa bermain, antara lain dengan memberi &#8220;pelayanan prima&#8221; mengatur tempo dan umpan-umpan yang memanjakan Lionel Messi adalah bukti bahwa dia punya kemampuan sebagai pengendali.</p>
<p>Pun, predikat &#8220;The Puppet Master&#8221; tak akan semudah itu disematkan oleh media apabila dia tidak memperlihatkan eksepsionalitas dalam faktor &#8220;pengendalian&#8221; itu.</p>
<p>Ditambah dengan sukses &#8220;pemagangan&#8221; di Liga Qatar, apa yang sesungguhnya bisa diharapkan dari seorang Xavi Hernandez?</p>
<p>Pertama, pemahaman tentang detail filosofi dan kultur Barcelona. Kedua, karakter kepemimpinan dan pengendalian. Ketiga, kreativitas dalam menyusun skema inovatif yang bernuansa tiki-taka. Keempat, passion sebagai &#8220;anak kandung&#8221; dan legenda Barca.</p>
<p>Faktor-faktor inilah yang membedakan, misalnya dengan Quique Setien, Ernesto Valverde, bahkan Ronald Koeman yang telah dipecat dan digantikan oleh Sergi Barjuan sebagai karteker.</p>
<p>Tentu tak akan semudah itu &#8220;memulihkan&#8221; Barca yang dalam dua musim terakhir dihajar kecompangcampingan psikologi persoalan, antara lain yang terkait dengan kepergian Lionel Messi ke Paris St Germain.</p>
<p>Selain harapan besar mengembalikan ekspresi kultural Barca, fans dan manajemen juga perlu memberi kesempatan Xavi menuang kreativitas dan pemahamannya tentang skematika tiki-taka. Buang jauh-jauh tradisi kapitalisme industri kompetisi yang mudah main pecat terhadap pelatih yang bekerja dengan keterbatasan waktu.</p>
<p>Untuk menjadi pembeda, Xavi perlu diberi sikap yang berbeda.</p>
<p><em>&#8212; Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan penulis buku &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/11/06/xavi-dalam-spekulasi">Xavi, dalam Spekulasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabaru.id/2021/11/06/xavi-dalam-spekulasi/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>