<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>puisi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/puisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jun 2026 11:31:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>puisi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Sejuta Rasa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/13/sepak-bola-dalam-sejuta-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Empati]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Indah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[Persaudaraan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejuta Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564061</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sepak bola menjadi inspirasi/ tentang kemanusiaan/ tentang hati dan rasa/ di balik keras kompetisi/ bersemayam ungkapan kemanusiaan/ dan puisi-puisi kehidupan&#8230;// (Sajak “Puisi Indah Sepak Bola”, 2026) PIALA Dunia, yang disebut-sebut sebagai kanvas “pertunjukan terbesar di muka bumi”, menjadi teater realis sejuta rasa. Dia &#8212; sepak bola &#8212; ibarat untaian puisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/13/sepak-bola-dalam-sejuta-rasa">Sepak Bola, dalam Sejuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-564064 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sepak bola menjadi inspirasi/ tentang kemanusiaan/ tentang hati dan rasa/ di balik keras kompetisi/ bersemayam ungkapan kemanusiaan/ dan puisi-puisi kehidupan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Puisi Indah Sepak Bola”, 2026)</strong></p>
<p><strong>PIALA</strong> Dunia, yang disebut-sebut sebagai kanvas “pertunjukan terbesar di muka bumi”, menjadi teater realis sejuta rasa. Dia &#8212; sepak bola &#8212; ibarat untaian puisi yang tak ada habis-habisnya tergubah dari ungkapan rasa para penyair, menjadi bait-bait sajak yang mengalir dari hati para pemuisi.</p>
<p>Hari-hari ketika memasuki ruang eksotika Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, kita mencatat puisi indah di pengujung final Liga Champions, 30 Mei lalu.</p>
<p>Puskas Arena di Budapest, Hungaria menorehkan tidak saja sukses Paris St Germain mempertahankan gelar; tetapi juga sepenggal “puisi indah” kapten tim Marquinhos. Di tengah luapan kegembiraan teman-temannya merayakan kemenangan, dia menghampiri Gabriel Magalhaes, eksekutor penalti terakhir Arsenal yang tendangannya melambung dan memastikan sukses PSG.</p>
<p>Marquinhos memeluk Gabriel, menenangkan rekannya di tim nasional Brazil itu, yang murung dan bengong. Benar-benar pemandangan yang bernilai kemanusiaan.</p>
<p>Sebelumnya, lebih dari 120 menit keduanya terlibat dalam ketegangan perseteruan antara PSG dan Arsenal, lalu Marquinhos menutupnya dengan ungkapan yang menggetarkan dunia: simpati, dan <em>compassion</em>. Dia melukiskan betapa tak seharusnya sepak bola menepis nilai-nilai relasi kemanusiaan.</p>
<p>Dia pernah merasakan momen yang sama. Bek 32 tahun itu gagal mencetak gol saat menjadi eksekutor terakhir Brazil di perempatfinal Piala Dunia 2022 melawan Kroasia, dan memastikan Selecao tersingkir.</p>
<p>Dia memberi semangat untuk Gabriel, berharap pemain 28 tahun itu tak larut dalam kesedihan, mengingat Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. “Kami akan segera kembali bersama. Kami sangat membutuhkan dia,” katanya.</p>
<p>Senada dengan Marquinhos, kapten Arsenal Declan Rice juga menyatakan, tak ada yang menyalahkan Eberechi Eze dan Magalhaes. Siapa pun, kata Rice, bisa gagal dalam mengeksekusi penalti. Kontribusi keduanya dalam kebersamaan tim Arsenal selama ini tak perlu diragukan.</p>
<p><strong>Piala Dunia</strong><br />
Sejak 11 Juni kemarin hingga 19 Juli, dari 48 tim yang berlaga di Piala Dunia 2026, ungkapan-ungkapan indah dalam hubungan antarmanusia juga diperkirakan bakal muncul dengan aneka bentuknya.</p>
<p>Ke-48 tim dari berbagai zone akan bersaing membuktikan siapa yang paling jago, namun sejatinya para pemain dan stakeholders sepak bola akan tetap meluapkan hati dan rasa, justru dalam eksotika sepak bola yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Bakal munculkah ungkapan kemanusiaan yang seindah “puisi” Marquinhos di ujung pertunjukan di Puskas Arena, dua pekan lalu?</p>
<p>Simaklah, tampilnya Iran di Amerika juga membawa nuansa kemanusiaan tersendiri. Di tengah kecamuk perang gabungan AS-Israel yang belum sepenuhnya selesai melawan Iran, tim sepak bola negeri itu mengalami posisi yang menyulitkan. Tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, Iran akan bermain di Los Angeles dan Seattle.</p>
<p>FIFA mensyaratkan Tim Melli harus bermarkas dan berlatih di Tijuana, Meksiko. Setiap kali tidak bermain, Alireza Jahansbasksh dkk tidak boleh tinggal di Amerika.</p>
<p>Suka atau tidak suka, dunia menyaksikan Iran mengalami ketidakadilan dan diskriminasi. Sejauh ini FIFA berstandar ganda, tidak menghukum Amerika yang menyerang Iran. FIFA dinilai menerapkan sikap yang berbeda, karena bukan rahasia lagi negeri itu memiliki kekuatan politik yang dominan.</p>
<p>Rusia dan Israel, atas desakan opini dunia, diberi sanksi. Rusia karena invasinya ke Ukraina, sedangkan Israel karena laporan Palestina tentang diskriminasi dan genosida di Gaza.</p>
<p>Pernik lain muncul dengan “bau politik”. Kedatangan wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan ditolak. Dia adalah salah satu dari 52 wasit yang akan bertugas di Piala Dunia 2026. Wasit 34 tahun itu tiba di Amerika, menggunakan pesawat dari Turki pada Senin (8/6), namun kedatangannya di Bandara Internasional Miami mendapat penolakan. Dia tak diizinkan masuk ke AS meskipun memiliki visa yang sah, serta jaminan diplomatik dari Kedutaan Besar Somalia di Kenya.</p>
<p>Otoritas mendeportasinya kembali ke Turki. Dia terancam gagal bertugas di Piala Dunia 2026. Penolakan itu diduga karena dia adalah warga negara Somalia, yang masuk daftar larangan perjalanan ke AS yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Info yang kemudian beredar, Omar Artan dicurigai punya hubungan dengan pimpinan teroris Somalia, Ah-Shahab.</p>
<p>Penasihat senior Kementerian Pemuda dan Olahraga Somalia Ciise Aden Abshir mengecamnya. “Omar Artan adalah salah satu wasit paling dihormati di Afrika dan pantas mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas sepak bola,” katanya, dikutip <em>detik.com</em> dari <em>France 24</em> (9 Juni 2026).</p>
<p>“Ini tidak hanya merugikannya secara pribadi, tetapi juga merusak komitmen sepak bola terhadap keadilan, prestasi, dan semangat <em>fair play,</em>” kata Ciise.</p>
<p>Omar Artan memegang lisensi wasit FIFA sejak 2018, dan menjadi wasit pertama asal Somalia yang bertugas di Piala Dunia. Pada 2025 dia dinobatkan sebagai wasit terbaik oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).</p>
<p>Kabar menyejukkan disampaikan oleh Perdana Menteri British Columbia, David Eby. Dia menyatakan keinginan menyambut Artan ke British Columbia dan Kanada. Tulis <em>Sport Illustrate</em> (<em>detik.com</em>, 11 Juni 2026), Artan dipersilakan masuk dan bisa memimpin beberapa dari 13 pertandingan di Vancouver dan Toronto. Kata Eby, “Mari kita izinkan dia menjadi wasit di Vancouver,” ucapnya.</p>
<p>Kalau ini terjadi dan disetujui FIFA, barang tentu pada sisi lain akan menjadi ungkapan semangat nilai-nilai olahraga dan keadilan.</p>
<p>Sementara itu, komentar marah disampaikan oleh mantan penyerang Inggris dan Arsenal Ian Wright. Ia menyebut daftar kritik untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2026. “Saya baru saja membaca wasit Somalia ditolak masuk. Setiap beberapa jam ada cerita lain. Cerita soal fans ditolaklah, pemain ditolak, ofisial ditolak, para jurnalis ditolak, sekarang wasit,” ungkapnya.</p>
<p>“Anda lihat saya tertawa, tetapi ini tidak lucu. Sejujurnya ini tidak lucu, dan sesuatu harus diungkapkan. Tiket-tiket yang mahal, tiket termahal yang pernah ada, akomodasi yang mahal, biaya transportasi selangit. Itu harus dibahas. Apakah tuan rumah sungguh bersikap begini untuk permainan terbesar, turnamen terbesar di dunia, beginikah tuan rumah bersikap? Apa kita tak akan mendengar lebih banyak?”</p>
<p>“Inilah Piala Dunia, ini adalah Piala Dunia-nya kekacauan. Siapa pun yang juara harus melewati serangkaian kekacauan serius untuk menyelesaikannya”.</p>
<p>Striker Iran, Mehdi Taremi, menyebut ini sebagai Piala Dunia paling menegangkan. Dia merasa atmosfernya sangat berbeda dari 2018 dan 2022. Tidak ada perayaan meriah dan keramahan dari seluruh dunia, digantikan oleh pengamanan sangat ketat dan menegangkan.</p>
<p>Dari perspektif ini, setelah menyimak aksi Marquinhos di final Liga Champions, kita mungkin bisa menggugat “kasus Iran” dan “insiden wasit Omar Artan”: inikah paradoks kemanusiaan di pesta sepak bola? Ketika politik memancarkan energi lebih kuat dibandingkan dengan nilai-nilai olahraga dan semangat <em>fair play</em>?</p>
<p>Inikah wajah lain sepak bola, ketika kita menyaksikan sebuah tim berjuang seperti merefleksikan ekosistem kehidupan? Mereka dikepung oleh pancaran dominasi opini politik, standar ganda, ketidakadilan, dan diskriminasi.</p>
<p><strong>Sejuta Rasa</strong><br />
Marquinhos telah menorehkan jejak indah. Dia melukiskan sebuah puisi indah yang mengungkapkan sepak bola sebagai sejuta rasa.</p>
<p>Kita bisa merasakan nilai kemanusiaan, persaudaraan, persahabatan, dan betapa pun keras persaingan yang berlangsung, tak ada yang bisa menepis hati manusia sebagai manusia dalam hubungan dengan hati manusia lain di luar dirinya.</p>
<p>Kapten PSG dengan penuh keanggunan empati mengisyaratkan, tetap ada yang lebih penting dari sepak bola dan permainan apa pun&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/13/sepak-bola-dalam-sejuta-rasa">Sepak Bola, dalam Sejuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Feb 2025 09:02:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[R Widiyartono]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=458957</guid>

					<description><![CDATA[<p>R. Widiyartono Ketika Pulang Di sini angin bebas berhembus Dari sela ranting dan daun Dan, kokok ayam hutan jantan Sesekali sayup terdengar di kejauhan Ketika kau menikmati buah-buahan Dari toko atau penjual di pinggir jalan Di sini aku bisa memetik dari pohonnya Dan langsung menikmati manis segarnya Di sini kisah lama bagai diputar kembali Tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono">Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">R. Widiyartono</span></strong></p>
<p><span style="font-family: 'times new roman', times, serif; font-size: 18pt;"><strong>Ketika Pulang</strong></span></p>
<p>Di sini angin bebas berhembus<br />
Dari sela ranting dan daun<br />
Dan, kokok ayam hutan jantan<br />
Sesekali sayup terdengar di kejauhan</p>
<p>Ketika kau menikmati buah-buahan<br />
Dari toko atau penjual di pinggir jalan<br />
Di sini aku bisa memetik dari pohonnya<br />
Dan langsung menikmati manis segarnya</p>
<p>Di sini kisah lama bagai diputar kembali<br />
Tentang anak-anak yang berlari<br />
Karena dikejar kerbau atau sapi<br />
Yang mungkin dendam karena sering dikerjai</p>
<p>Rumah lama yang penuh cerita<br />
Rumpun bambu yang tetap terjaga<br />
Beberapa memang berubah<br />
Niscaya, karena angin pun selalu berubah arah</p>
<p>Yang teramat kuhayati<br />
Waktu di sini serasa berhenti<br />
Pagi bagai tidak segera berganti<br />
Meski siang sudah menanti</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 25</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 18pt; font-family: 'times new roman', times, serif;"><strong>Ketika di Sawah</strong></span></p>
<p>Sawah ini masih cukup luas<br />
Ukurannya juga tidak berubah<br />
Masih juga berhiaskan batang padi yang menghijau<br />
Yang kemudian disusul padi bernas menguning</p>
<p>Tentu ada yang berubah di sini<br />
Tak lagi kutemui kerbau atau sapi<br />
Saat mengolah tanah dimulai<br />
Berganti mesin traktor mini</p>
<p>Ada yang menyedihkan di sini<br />
Menggarap sawah tak cukup dengan traktor mini<br />
Masih perlu tenaga untuk <em>ndhaut, matun</em>, dan menuai padi<br />
Tetapi kerja di pabrik lebih mereka minati</p>
<p>Kadang terpikir di hati tanaman padi harus diganti<br />
Dengan tanaman yang lebih bernilai tinggi<br />
Karena dalam hitungan bertanam padi selalu merugi<br />
Tapi itulah petani tak pernah berpikir untung-rugi</p>
<p>Sawah ini tanah pusaka yang harus dijaga<br />
Kerna kami tak pernah membayar untuk mendapatkannya<br />
Hanya perlu kesadaran untuk mempertahankannya</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 2025</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 18pt; font-family: 'times new roman', times, serif;"><strong>Ketika Ziarah</strong></span></p>
<p>Beringin besar itu telah lama tumbang<br />
Pohon benda bergetah pemikat burung juga sudah ditebang<br />
Pohon semboja yang tak lagi rindang<br />
Begitu pula kuntabima dan pakis yang kian jarang</p>
<p>Selalu ada kerinduan untuk datang<br />
Sekadar menyiangi gulma dan rumputan<br />
Dan menyapu dedaunan kering gersang<br />
Di sekitar makam berhiaskan batu nisan</p>
<p>Di sini bersemayam mereka yang telah berjasa<br />
Berjuang bukan semata buat mereka<br />
Tetapi buat kami yang dikasihinya<br />
Ikhlas berkorban untuk segala</p>
<p>Di sini aku menabur bunga dan berdoa<br />
Mohon Tuhan menuntun dan menyerta<br />
Untuk bisa meneruskan harapan dan cita-cita mereka<br />
Dan meyakini bahwa Tuhan telah limpahkan damai sejahtera</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 2025</em></p>
<p><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-458961 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU.jpg" alt="" width="135" height="180" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU.jpg 135w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU-113x150.jpg 113w" sizes="(max-width: 135px) 100vw, 135px" /> <em>R. Widiyartono, wartawan, penulis, tinggal di Semarang</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono">Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Perjalanan ke Negeri Amboina</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/11/09/puisi-perjalanan-ke-negeri-amboina</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2024 12:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Amboina]]></category>
		<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[Natsepa]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[R Widiyartono]]></category>
		<category><![CDATA[rujak Natsepa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=445758</guid>

					<description><![CDATA[<p>R. Widiyartono Desau Angin Mendesis Desau mesin mendesis Di luar redup sinar Hanya awan hanya mega Tebal putih mengelabu Badan besar ini pun terguncang Isi perutnya bergetar-getar Sayap lebar membelah awan Moncongnya menyibak angin Agar tetap laju tetap melaju Awan yang mengelabu mulai tampak putih Dari lubang-lubang mega putih Menyeruak warna biru penuh pengharapan Bakal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/09/puisi-perjalanan-ke-negeri-amboina">Puisi Perjalanan ke Negeri Amboina</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;"><strong>R. Widiyartono</strong></span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Desau Angin Mendesis</strong></span></p>
<p>Desau mesin mendesis<br />
Di luar redup sinar<br />
Hanya awan hanya mega<br />
Tebal putih mengelabu</p>
<p>Badan besar ini pun terguncang<br />
Isi perutnya bergetar-getar<br />
Sayap lebar membelah awan<br />
Moncongnya menyibak angin<br />
Agar tetap laju tetap melaju</p>
<p>Awan yang mengelabu mulai tampak putih<br />
Dari lubang-lubang mega putih<br />
Menyeruak warna biru penuh pengharapan<br />
Bakal segera munculnya daratan</p>
<p>Mesin mendesis kian halus<br />
Guncangan sesekali terasa<br />
Bagai interlude dalam tembang<br />
Datang sekilas lalu menghilang</p>
<p>Mega-mega berbentuk domba<br />
Adalah hiasan angkasa<br />
Dalam guncangan melena mata<br />
Dan laut mulai tampak alunnya<br />
Daratan menghijau makin nyata</p>
<p>Badan bersayap lebar ini pun<br />
Menginjak daratan dengan sempurna<br />
Tanpa tepuk tangan tanpa pujian<br />
Karena itu adalah keniscayaan</p>
<p><em>Udara Ambon, 280622</em></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Aku Datang Bumi Amboina</strong></span></p>
<p>Matahari siang menyinari bumi Amboina<br />
Dan laut bagai tak bergelombang<br />
Angin pun tiada gelora</p>
<p>Setelah guncangan demi guncangan<br />
Setelah lewat mega putih kelabu<br />
Lalu langit pun membiru</p>
<p>Daratan kian tampak nyata<br />
Hijau pohonan dan kemerlap bangunan<br />
Lalu roda pun menjejak bumi<br />
Mendaratlah dengan sempurna<br />
Di bumi Amboina</p>
<p><em>AMQ, 280622</em></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Percakapan di Teluk Baguala</strong></span></p>
<p>Perempuan berwajah manis berkulit gelap<br />
Berbincang sambil makan siang<br />
Tentang anak, suami, dan keluarga bahagianya<br />
Tentang keindahan tanah kelahiran<br />
Yang ditinggalkan ke metropolitan<br />
Lalu muncul kerinduan buat pulang</p>
<p>Kau juga bertutur tentang<br />
Legenda urban Teluk Baguala<br />
Tentang kisah Buaya Tembaga<br />
Buaya lembut dan baik hati<br />
Yang beralih rupa jadi daratan<br />
Bentuknya mirip tubuh buaya<br />
Bila dipandang dari Pantai Natsepa</p>
<p>Siang yang terik di bawah cerah biru langit<br />
Di sela debur ombak yang menerjang pantai<br />
Dan anak-anak yang memancing ikan baubara<br />
Kutatap wajahmu dan kau tersipu<br />
&#8220;Aku sudah tua,&#8221; katanya<br />
&#8220;Tapi kau bagai empat tiga,&#8221; godaku.<br />
Dia pun tertawa<br />
&#8220;Aha, anakku tiga. Yang besar sudah lulus SMA&#8221;</p>
<p>Kami berdua tertawa<br />
Mari kita mengucap syukur<br />
Karena telah diberi kesempatan<br />
untuk menjadi tua<br />
Dan tetap mengasihi dan dikasihi keluarga</p>
<p><em>Natsepa, 172022</em></p>
<figure id="attachment_445773" aria-describedby="caption-attachment-445773" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-445773" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6101-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-445773" class="wp-caption-text">Sepasang kekasih bercumbu di antara ombak Pantai Natsepa, Ambon. Foto: R. Widiyartono</figcaption></figure>
<p><strong><span style="font-size: 18pt;">Cinta di Pantai Natsepa</span></strong></p>
<p>Di kios yang berjajar sepanjang jalan<br />
Di tepian Pantai Natsepa yang bening airnya<br />
Penjual rujak dengan cekatan<br />
Mengulek bumbu dan mengiris buah<br />
Menaburinya dengan goreng kacang</p>
<p>Sambil minum air kelapa langsung dari buahnya<br />
Menikmati segarnya dalam buai angin laut<br />
Dan ombak yang tak henti mengecup dinding<br />
Sesekali dengan cipratan airnya ke tubuh</p>
<p>Dua anak manusia turun ke air<br />
Membasuh tubuh dan menari<br />
Dalam derai ombak mereka berbincang<br />
Tentang mereka tentang cinta<br />
Hanyut dalam percumbuan asmaradahana</p>
<p>Sesekali kecupan lelaki mendarat di pipi<br />
Si perempuan membalas ciuman di leher<br />
Mereka mandi mereka berenang<br />
Mereka memadu kasih di antara derai angin<br />
Dan deburan ombak Pantai Natsepa</p>
<p>Kucecap rujak manis Natsepa<br />
Sambil turut berdendang cinta<br />
Oooooo Amboina aku jatuh cinta</p>
<p><em>Sm. 9112024</em></p>
<p><strong><span style="font-size: 18pt;">Jembatan Merah Putih</span></strong></p>
<p>Lampu kemerlap dalam temaram malam<br />
Sebuah kapal feri melintas membawa beban<br />
Dan ombak pun berpendar menatap tepian</p>
<p>Sebuah ponton menuju keramba<br />
Mengangkat tiga ekor bubara<br />
Dan kembali merambati tambang<br />
Ikan bubara dibersihkan<br />
Dibakar dan siap disajikan</p>
<p>Amboi … Amboina<br />
Keramahanmu tak tebayangkan semula<br />
Sesedap dan lembutnya daging ikan bubara<br />
Selembut hatimu serenyah sapamu<br />
Aku senantiasa merinduimu selalu</p>
<p><em>Natsepa, 172022</em></p>
<p><strong><span style="font-size: 18pt;">Diorama Hamparan Kapas Putih</span></strong></p>
<p>Kapas-kapas putih bertebar<br />
Di atas karpet luas biru<br />
Bagai diorama<br />
Hamparan kapas bercerita</p>
<p>Ada serupa beruang dengan mulut menganga<br />
Lalu gajah yang pendek belalainya<br />
Monyet yang seakan melompat<br />
Dari satu cabang ke cabang lainnya</p>
<p>Sedangkan yang serupa orang<br />
Seakan tegak dengan wajah garang<br />
Ada yang kepalanya bagai bermahkota<br />
Laiknya dewa di dalam cerita<br />
Sedang memberi petuah pada manusia</p>
<p>Itu cerita awan yang bertebaran<br />
Di sepanjang perjalanan</p>
<p><em>AMQ-CGK 172022</em></p>
<p><em><strong>R. Widiy</strong></em><em><strong>artono, penulis, wartawan, penyuka perjalanan</strong></em></p>
<figure id="attachment_445765" aria-describedby="caption-attachment-445765" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-445765" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/DSCF6076-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-445765" class="wp-caption-text">Penulis di Pantai Natsepa, Ambon. Foto: Dok</figcaption></figure>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/09/puisi-perjalanan-ke-negeri-amboina">Puisi Perjalanan ke Negeri Amboina</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SMA Negeri 2 Pati Juarai Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2024</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/07/14/sma-negeri-2-pati-juarai-festival-musikalisasi-puisi-tingkat-provinsi-jawa-tengah-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jul 2024 13:13:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[BBPJT]]></category>
		<category><![CDATA[Festival musikalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Juara]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>
		<category><![CDATA[SMA Negeri 2 Pati]]></category>
		<category><![CDATA[Tingkat Provinsi Jawa Tengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://suarabaru.id/?p=425084</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211; SMA Negeri 2 Pati menjadi penampil terbaik I dalam babak final Festival Musikalisasi Puisi bagi siswa SMA sederajat tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2024. Festival musikalisasi puisi tersebut digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) di Teater Makutharama, Hotel Griya Persada, Kabupaten Semarang, belum lama ini. Sebelumnya, babak penyisihan yang digelar secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/07/14/sma-negeri-2-pati-juarai-festival-musikalisasi-puisi-tingkat-provinsi-jawa-tengah-2024">SMA Negeri 2 Pati Juarai Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2024</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211;</strong> SMA Negeri 2 Pati menjadi penampil terbaik I dalam babak final Festival Musikalisasi Puisi bagi siswa SMA sederajat tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2024.</p>
<p>Festival musikalisasi puisi tersebut digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) di Teater Makutharama, Hotel Griya Persada, Kabupaten Semarang, belum lama ini.</p>
<p>Sebelumnya, babak penyisihan yang digelar secara daring diikuti oleh 65 sekolah tingkat SMA/SMK/MA yang ada di Jawa Tengah. Dalam penjurian babak penyisihan, juri memilih lima sekolah yang berhak masuk dalam babak final, yakni SMK Negeri 1 Cilacap, SMA Negeri 2 Pati, SMA Negeri 1 Magelang, SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan, dan SMA Negeri 1 Temanggung.</p>
<p>Kelima tim yang masuk babak final tersebut menampilkan musikalisasi puisi wajib dan puisi pilihan.</p>
<p>Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr. Syarifuddin, M.Hum., menyampaikan apresiasinya kepada dewan juri. Mereka telah bekerja keras untuk menilai 65 tim pada saat babak penyisihan hingga terpilih lima pemenang yang maju ke babak final.</p>
<p>“Festival ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah sebagai upaya pelestarian bahasa dan sastra Indonesia, khususnya karya puisi,” ujar Syarifuddin.</p>
<p>Ketua panitia kegiatan, Kahar Dwi Prihantono, M.S., mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan perayaan sukacita karena kelima tim yang masuk finalis sebenarnya sudah menjadi pemenang. Kelima tim tersebut sudah berhasil menyisihkan 60 sekolah di Jawa Tengah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/07/14/sma-negeri-2-pati-juarai-festival-musikalisasi-puisi-tingkat-provinsi-jawa-tengah-2024">SMA Negeri 2 Pati Juarai Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2024</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi Kamtibmas, Kapolda Jateng Mendapat Puisi dari Pj Walikota Salatiga</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/05/27/silaturahmi-kamtibmas-kapolda-jateng-mendapat-puisi-dari-pj-walikota-salatiga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 May 2024 08:15:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Irjen Pol Ahmad Luthfi]]></category>
		<category><![CDATA[kapolda jateng]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah Kota Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[Pj Walikota Salatiga]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi kamtibmas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=416338</guid>

					<description><![CDATA[<p>SALATIGA (SUARABARU.ID) &#8211; Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi mendapat puisi saat menghadiri Silaturahmi Kamtibmas dengan Pemerintah Kota Salatiga yang berlangsung di PT. Wipro Unza Vitalis Kota Salatiga, Senin (27/5/2024). Pj Walikota Salatiga, Yasip Khasani mengatakan mendapat kehormatan atas kedatangan Kapolda Jateng. Ia pun kemudian membacakan puisi untuk Kapolda. “Dari Batang ke Salatiga, nginapnya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/27/silaturahmi-kamtibmas-kapolda-jateng-mendapat-puisi-dari-pj-walikota-salatiga">Silaturahmi Kamtibmas, Kapolda Jateng Mendapat Puisi dari Pj Walikota Salatiga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi mendapat puisi saat menghadiri Silaturahmi Kamtibmas dengan Pemerintah Kota Salatiga yang berlangsung di PT. Wipro Unza Vitalis Kota Salatiga, Senin (27/5/2024).</p>
<p>Pj Walikota Salatiga, Yasip Khasani mengatakan mendapat kehormatan atas kedatangan Kapolda Jateng. Ia pun kemudian membacakan puisi untuk Kapolda. “Dari Batang ke Salatiga, nginapnya di Hotel Laras Asri, Selamat datang Bapak Kapolda semoga Sukses dan Diberkahi” yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.</p>
<p>Menurut Luthfi, pemimpin itu teruji bila dihadapkan dengan problem, kemudian mengambil keputusan dan mampu mengamankan, baru kelihatan dia itu petarung (pemimpin sejati) atau ayam sayur,” ungkapnya.</p>
<p>Luthfi menyampaikan bahwa rasa aman tidak datang dengan sendirinya. Rasa aman adalah hak setiap warga, rasa aman merupakan suatu investasi yang harus dijaga dalam rangka pembangunan</p>
<p>“Kota Salatiga aman tidak ujug-ujug datang begitu saja, tapi juga berkat masyarakat yang mempunyai Sense of Crisis terkait dengan potensi wilayah. Berkat masyarakat yang mempunyai asas gotong royong tepo seliro dan ini harus kita jaga seperti saat dulu kita menangani Covid 19,” kata Luthfi.</p>
<p>Luthfi menyebut dalam gelaran Pilkada nanti, Polda Jateng mempunyai Satgas Manajemen Media, Satgas Manajemen Sosial, dan Satgas Manajemen Kemitraan. “Serangan Medsos itu sangat efektif memecah belah dalam bentuk hoax dan black campaign, sehingga perlu Satgas Management Media untuk melakukan penetrasi agar masyarakat tidak berlanjut panas,“ ujarnya.</p>
<p>Dikatakan, situasi saat pemilu bisa memanas, tapi tidak boleh ada konflik komunal maupun horizontal. Kapolda berpesan dan minta tiga pilar harus mampu mengendalikan wilayah di tingkat desa dalam rangka Harkamtibmas. “Tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak pernah disentuh oleh tiga pilar,” tandasnya.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, seorang peserta menyatakan, kunjungan Kapolda Jateng sangat dinanti-nantikan masyarakat. Menurutnya masyarakat sangat bangga bisa bertemu langsung dengan Kapolda.</p>
<p><em><strong>Ning S</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/27/silaturahmi-kamtibmas-kapolda-jateng-mendapat-puisi-dari-pj-walikota-salatiga">Silaturahmi Kamtibmas, Kapolda Jateng Mendapat Puisi dari Pj Walikota Salatiga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jan 2024 03:48:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Budhi Santosa]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Lereng Medini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=392073</guid>

					<description><![CDATA[<p>KENDAL (SUARABARU.ID) &#8211; Dari atas ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) beberapa orang meriung bersama buku-buku puisi. Di tengah Kebun Teh Medini, mereka tak sekadar menikmati udara segar gunung Ungaran. Tak ada penonton. Tak ada sorak sorai, yang ada hanya nyanyian alam, burung-burung, dan puisi. Mereka sedang merayakan puisi di tengah hamparan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa">Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KENDAL (SUARABARU.ID) &#8211;</strong> Dari atas ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) beberapa orang meriung bersama buku-buku puisi. Di tengah Kebun Teh Medini, mereka tak sekadar menikmati udara segar gunung Ungaran. Tak ada penonton. Tak ada sorak sorai, yang ada hanya nyanyian alam, burung-burung, dan puisi.</p>
<p>Mereka sedang merayakan puisi di tengah hamparan Perkebunan Teh Medini, atau di kaki sebelah Utara Gunung Ungaran.  Acara bertajuk “Minggu Berpuisi di Medini,” digelar pada Ahad atau Minggu 31 Desember 2023. Mereka memanfaatkan sebidang kebun di eks Kampung Babadan, Kebun Teh Medini yang berada di Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Jateng. Acara dihelat Komunitas Sastra Lereng Medini (KLM) bekerja sama dengan Sangkar Arah Pustaka, Jarak Dekat Art Production, Pelataran Sastra Kaliwungu, dan Pondok Baca Ajar.</p>
<p>Di pagi yang berkabut, beberapa orang duduk beralas rerumputan di areal bekas mushala yang kini sudah dipenuhi pelbagai jenis tanaman tak terawat. Satu per satu maju di depan panggung ala kadarnya. Memilih puisi dari penyair yang sama, Iman Budhi Santosa (1948-2020). Pujangga kenamaan asal Yogyakarta kelahiran Magetan itu dahulu pada tahun 1971-1975 pernah bermukim di Kampung Babadan sebagai sinder Afdeling Babadan.</p>
<p>Salah satu peserta adalah Kartikawati, pegiat Teater Gema dan Kias Universitas PGRI Semarang. Ia membaca puisi <em>Perempuan Mata Dadu</em> di buku Kumpulan Puisi <em>Asam Garam: Ramayana – Mahabharata (Interlude, 2019)</em>.</p>
<p><em>Semalaman Pandawa luluh, dan Kurawa/ bersorak-sorai hambata rubuh// “Akankah sampai di sini, Puntadewa?” Sengkuni menantang sekalian mendesak ke bibir jurang// “Kami ksatria, kalah menang kehendak dewata.”/ “Pandawa memang satria, Paman Sengkuni.”/ Duryudana memancing, seluruh mata Kurawa pun mengerling, menuding Drupadi memaksa Puntadewa harus berani//</em></p>
<p>Puisi yang dibawakan dengan nuansa teatrikal dan dibubuhi tembang itu, ditulis Iman Budhi Santosa (IBS) pada titimangsa 2008 silam. Menceritakan tragedi Pandawa kalah dadu dengan Kurawa dalam epos Mahabharata.</p>
<p>Acara Berpuisi di Medini merupakan rangkaian acara Residensi Akhir Pekan ke-5 yang digelar di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub Bebengan Boja Kendal sehari sebelumnya, Sabtu 30 Desember 2023. Selain Kartikawati, acara juga diikuti antara lain Anis Hidayati, Zuraida Jihan Annisa (Kendal),  Radit Bayu Anggoro (Pekalongan), dan Heri CS (KLM).</p>
<p>Tak hanya peserta yang sebagian mahasiswa, turut membersamai rombongan, Hastra Indriyana, penyair asal Yogyakarta yang kini mukim di Muntilan Magelang.  Hasta sebelumnya, selama sehari menjadi pemateri dalam residensi akhir pekan dan diskusi bersama belasan peserta.</p>
<p>Hasta Indriyana oleh sebagian orang, disebut-sebut sebagai salah satu “anak emas” atau cantrik dari IBS selama di Yogyakarta. Diketahui, IBS, dianggap seperti guru oleh banyak anak muda, bahkan orangtua kedua. Ia menjadi tempat diskusi hingga curhat. Malah, ada yang menyebutnya, “Romo”—saking dihormati dan berjasa dalam proses asah-asih-asuh berpuisi di Yogyakarta.</p>
<p>Babadan menjadi salah satu wilayah di Perkebunan Teh Medini. Kebun Teh Medini sudah ada sejak zaman Belanda. Kebun Teh Medini mempunyai luas sekitar 386 hektar dengan ketinggian 1.000 mdpl. Suhu udara di tempat tersebut sangat dingin, bahkan area kebun teh kerap tertutup kabut hingga siang hari. Kebun Teh Medini menyajikan berupa hamparan luas tanaman teh yang berbukit-bukit. Jika pengunjung datang pada pagi hingga siang, biasanya akan berpapasan dengan para perempuan pemetik teh yang membawa karung.</p>
<p>Anis Hidayati (42) mengatakan merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan ini. Sebelumnya, ia pernah ke Medini tetapi hanya untuk piknik menikmati suasana sejuknya kebun teh. Kali ini, ia pun berpuisi di tengah kebun teh dan disaksikan penyair kondang.</p>
<p>“Sebuah pengalaman yang mengesankan,” ujar Anis, perempuan asal Desa Getas, Singorojo ini.  Dalam kesempatan itu, Anis juga mengajak putri semata wayangnya,  Zuraida Jihan Annisa (17).</p>
<p>Menurut Perwakilan Penyelenggara, Heri Condro Santoso, acara ini menjadi salah satu ikhtiar mendekatkan aktivitas sastra dengan alam. Sebab, alam adalah sumber intuisi. Selain itu juga napak tilas jejak penyair IBS, yang pernah tinggal di Kampung Babadan, Kebun Teh Medini. Saat ini, kampung Babadan tak lagi berpenghuni dan tak terawat. Meski demikian, jejak-jejak bahwa pernah menjadi permukiman masih ada. Bekas pondasi rumah, dinding batu bata bekas mushala, hingga tanaman-tanaman hias “khas” pekarangan rumah.</p>
<p>“Setidaknya, peserta memahami. Di tanah ini, pernah tinggal salah satu sastrawan Indonesia mumpuni. Atau bisa disebut maestro di bidangnya. Harapannya peserta turut menghikmati riwayat dan proses kreatifnya selama hidup. Serta, yang tak kalah penting—seperti selalu disampaikan almarhum, merawat patembayatan (kekerabatan) di antara sesama,” ujar Heri, koordinator KLM dan Pondok Baca Ajar Boja.</p>
<p><strong>Medini dan Secuil Riwayat Iman Budhi Santosa</strong></p>
<p>Mengenai sosok IBS dan Medini, Heri menjelaskan, pujangga yang lahir di Magetan, 28 Maret 1948 itu, pertama kali datang ke Medini pada Minggu kliwon, 28 Maret 1971 usai mendapat panggilan dari PT Rumpun setelah lamarannya diterima.</p>
<p>Di awal bekerja, ia ditugaskan sebagai karyawan bagian pembibitan. Usai menjalani masa percobaan tiga bulan di pembibitan, ia ditugaskan memegang Afdeling Babadan selama 3 tahun. Tahun 1974 pindah ke Afdeling Medini.</p>
<p>“Pada 1975 ia mengundurkan diri karena terjadi  konflik kecil dalam pekerjaan, selain ingin mencari lahan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan,” jelas Heri dengan merujuk pada buku <em>Merajut Sunyi, Membaca Nurani: Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini</em> (KLM, 2012).</p>
<p>Heri menambahkan, selama bekerja di Medini, ada beberapa teman sastrawan yang sempat mengunjungi IBS. Di antaranya, Umbu Landu Paranggi, F. Rahardi, Ragil Suwarno Pragolapati, Darmanto Yatman, dan Linus Suryadi AG.</p>
<p>“Setelah keluar dari Medini, sepuluh bulan ia mengungsi ke rumah orangtua di Solo. Beliau mengandalkan hidup dari menulis buku novel dan cerita silat yang diterbitkan di Yogyakarta,” ujar Heri yang menyebut ayah IBS juga seorang pengarang.</p>
<p>Selang beberapa waktu, lanjut Heri, IBS—yang bersama Umbu mendirikan Persada Studi Klub Yogyakarta, sempat bekerja di PG Cepiring Kendal. Ia ditugaskan melaksanakan  mekanisasi pembukaan lahan tebu, tanah kering di Kabupaten Batang. Baru bekerja satu bulan, lamaran dia ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah diterima. Akhirnya, ia memilih meninggalkan PG Cepiring. Lagi-lagi ia ditugaskan mengurusi tanaman teh di sentra pengembangan teh rakyat Jawa Tengah yang dipusatkan di gunung Merbabu Boyolali.</p>
<p>Heri melanjutkan, selama 14 tahun mengabdi sebagai pegawai negeri, banyak tugas jabatan yang sempat ia laksanakan. Dari sentra teh rakyat di Gunung Merbabu pindah ke kantor Disbun Kabupaten Boyolali (1979). Kemudian, mendapat tugas khusus menangani supervisi pembibitan teh rakyat di Kabupaten Brebes, Pemalang, Tegal, dan Batang (1980-1981).</p>
<p>Di samping itu, juga ditugaskan membina UPP Teh Paguyangan (Brebes) dan UPP Teh Wanayasa (Banjarnegara). Tahun 1982 ditugaskan sebagai pembantu  Pimpinan Proyek Peremajaan Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Ekspor (PRPTE) Disbun Provinsi Jawa Tengah di Ungaran. Tahun 1986 pindah ke Subdin Penyuluhan dan tahun 1987 ditugaskan menjadi staf khusus Kadisbun Provinsi Jawa Tengah di Bidang Kehumasan.</p>
<p>“Ternyata,  Bidang Kehumasan inilah tugas pekerjaan Pak Iman yang terakhir sebagai pegawai negeri. Setelah itu ia mengundurkan diri dari profesi yang kini menjadi idaman banyak orang. Mungkin, puisi adalah jalan kehidupan sosok IBS, bukan jalan PNS,” tutur Heri. Pada tahun 2020, tepatnya, 10 Desember 2020, IBS wafat di rumahnya.</p>
<figure id="attachment_392075" aria-describedby="caption-attachment-392075" style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-392075" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-400x300.jpeg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-400x300.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-150x113.jpeg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-80x60.jpeg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-100x75.jpeg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-180x135.jpeg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-238x178.jpeg 238w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2.jpeg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><figcaption id="caption-attachment-392075" class="wp-caption-text">Foto bersama peserta acara bertajuk “Minggu Berpuisi di Medini,” digelar pada Ahad atau Minggu 31 Desember 2023. (DOK: Komunitas Sastra Lereng Medini)</figcaption></figure>
<p><strong>IBS di Mata Hasta Indriyana</strong></p>
<p>Sementara itu, di mata Hasta Indriyana, salah satu kelebihan IBS adalah sosok yang terbuka bagi siapapun. Ia tak ambil jarak dengan siapapun. Dari orang-orang kesohor yang dikenalnya, juga terhadap anak-anak muda yang belum dikenal.</p>
<p>Ia selalu menyediakan waktu untuk <em>melek</em>. Bahkan, hingga <em>semalam suntuk</em> dari habis isya sampai subuh untuk menemani tamu-tamu termasuk anak muda yang hendak curhat atau melepas beban hidup.</p>
<p>“Hampir tiap hari, rumahnya selalu dikunjungi orang. Ada orang-orang terkenal seperti Emha Ainun Najib hingga anak-anak muda yang belum dikenal,” kata Hasta yang sejak SMP sudah mulai mengakrabi puisi-puisi IBS di surat kabar.</p>
<p>Menurut Hasta, IBS tak hanya memiliki kecakapan dalam hal bersastra ataupun berpuisi. Ia juga sosok yang <em>ngemong</em>. Hasta mengibaratkan, IBS menjadi bahu bersandar bagi orang-orang yang memerlukan sandaran spiritual. Ia bak sumur yang selalu digali ilmunya dan tak habis-habis. Ia bak orangtua kedua yang akrab bagi anak muda di Jogja yang berproses.</p>
<p>“Sekadar curhat pun dilayani oleh Pak Iman. Berkeluh kesah tentang beban hidup. Jadi, memang benar bahwa beban kehidupan harus diceritakan. <em>Diselehke</em> untuk melanjutkan hidup. Dan, mas Iman jadi tempat seperti itu, bahu tempat bersadar,” ujar penulis buku puisi <em>Piknik yang Menyenangkan dan Belajar Lucu dengan Serius.</em></p>
<p>Menurut Hasta, ia sebenarnya seperti halnya anak-anak muda yang lain. Menjadikan IBS tempat ngobrol dan diskusi banyak hal. Justru jarang membincangkan secara khusus tentang pelajaran mencipta puisi ataupun cerpen.</p>
<p>“Kalau teman-teman bilang, saya anak emasnya, ndak juga. Ada yang lebih emas dari saya. Bahkan, saya itu,<em> watu wae durung</em>. Selama ini, saya menganggap bahwa Mas Iman itu adalah guru saya. Saya ‘ngaku-ngaku’ jadi muridnya,” ujar Hasta merendah.</p>
<p>Apakah Hasta secara khusus  diajari IBS tentang menulis puisi? Hasta mengatakan, belum pernah. “Belum pernah. Beliau bagi saya itu sebagai tempat curhat, saling berbagi, ngomong tentang keluh kesah, beban hidup. Atau hal-hal sepele seperti peristiwa ayam masuk ke pekarangan orang.</p>
<p>Dari perbincangan kecil itu, kemudian berkembang menjadi obrolan banyak hal. Tentang tepa selira, menjaga lingkungan, hingga menghidupi modal sosial. Dari itu, kemudian, secara eksplisit teori-teori yang saya baca, keluar dengan sendirinya, meskipun tak disinggung oleh IBS.</p>
<p>“Bahwa masyarakat kita, di Jawa, sudah ada termasuk teori-teori canggih dari luar negeri yang sebenarnya kita sudah menjalankan itu selama ratusan tahun,” ujar Hasta yang salah satu karyanya meraih Buku Puisi Terbaik, Balai Bahasa Yogyakarta (2018).</p>
<p>Hasta menyampaikan, mengapresiasi ada KLM yang diinisiasi Sigit Susanto dan Heri Condro Santoso. Ia seperti melanjutkan spirit yang selama ini dipraktikkan dalam laku sastra IBS. Gerakan semacam ini bagian dari menghidupi modal sosial. “Ini akan menjadi semacam mata air literasi yang akan terus mengalir. Agar masyarakat belajar sastra dengan guyub,” kata dia.</p>
<p><strong>Diaz Aza</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa">Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Panjang yang Memudar Seiring Waktu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/09/15/perjalanan-panjang-yang-memudar-seiring-waktu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Sep 2023 23:33:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Made Dwi Adnjani]]></category>
		<category><![CDATA[memiudar seiring w aktu]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Unissula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=367465</guid>

					<description><![CDATA[<p>Made Dwi Adnjani Perjalanan Panjang  Perjalanan panjang menembus batas waktu Kadang membuatku terpaku Pada apa yang sudah kulakukan Benarkah ini jalanku? Atau aku harus berbalik arah? Apakah aku harus tetap melangkah? Atau diam dalam hening? Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku Membuatku terus berpikir Berulang dengan pertanyaan yang sama Terkadang aku merasa Hidup tak sepenuhnya kujalani Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/09/15/perjalanan-panjang-yang-memudar-seiring-waktu">Perjalanan Panjang yang Memudar Seiring Waktu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: 'times new roman', times, serif; font-size: 12pt;">M<strong>ade Dwi Adnjani</strong></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Perjalanan Panjang </strong></span></p>
<p>Perjalanan panjang menembus batas waktu<br />
Kadang membuatku terpaku<br />
Pada apa yang sudah kulakukan<br />
Benarkah ini jalanku?<br />
Atau aku harus berbalik arah?<br />
Apakah aku harus tetap melangkah?<br />
Atau diam dalam hening?<br />
Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku<br />
Membuatku terus berpikir<br />
Berulang dengan pertanyaan yang sama</p>
<p>Terkadang aku merasa<br />
Hidup tak sepenuhnya kujalani<br />
Karena hadirku tak penuh, rasaku tak utuh</p>
<p>Lantas harus bagaimana aku?<br />
Dalam kegalauan tak berujung<br />
Dalam kebimbangan yang tak kumengerti<br />
Tapi akhirnya aku sadar<br />
Bahwa aku adalah penentu jalan<br />
Bahwa akulah yang harus memutuskan<br />
Akan menjadi seperti apa?<br />
akan ke mana?<br />
Walaupun kutahu<br />
Semua tak akan terlepas dari takdir<br />
Tapi bukankah yang bisa mengubah takdir<br />
adalah dari cara berpikir dan bertindak?</p>
<p>Dan inilah aku, dalam kesadaran baru<br />
Buatlah cerita kehidupan yang penuh makna<br />
Agar bisa mengukir sejarah<br />
dari setiap jejak langkah yang tertinggal<br />
Karena tidak akan ada yang abadi<br />
dalam kehidupan ini<br />
Yang akan abadi hanyalah kenangan</p>
<p><em>Semarang, 27 Shafar 1445 H/13 September 2023 M</em></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Memudar Seiring Waktu</span></strong></p>
<p>Semua memudar seiring waktu<br />
Tradisi leluhur tentang keutamaan,<br />
Penghargaan pada hakikat hidup<br />
Penghargaan pada alam dan sesama<br />
Memudar seiring waktu</p>
<p>Aku hanya bisa menatap sedih<br />
Pada layar kaca dalam genggaman<br />
Akankah generasi kita terus belajar<br />
pada jutaan konten yang tak tersaring?<br />
Sehingga kekerasan yang tersaji begitu lekat,<br />
Dan ketidakpedulian pada hidup terus terjadi</p>
<p>Betapa hak hidup seseorang sering tak dihiraukan<br />
Betapa kasih sayang tak lagi dirasa<br />
Cinta yang tulus hanyalah kata yang sia-sia<br />
Karena semua diperdagangkan<br />
Semua diperhitungkan dalam untung rugi</p>
<p>Aku ingin berbuat sesuatu<br />
Agar manusia kembali kepada kesadaran<br />
Bahwa hidup yang singkat tak melulu soal viral,<br />
tak hanya soal pamer harta, kekuasaan dan kemenangan<br />
tapi bagaimana kita bisa memaknainya<br />
dengan segenap kebahagiaan<br />
betapa hidup akan nikmat dan terasa indah<br />
ketika kita selalu dalam kesadaran<br />
bahwa hidup hanyalah titipan<br />
amanah yang harus dipertanggungjawabkan</p>
<p><em>Semarang, 29 Shafar 1445 H/15 September 2023 M</em></p>
<p><em><strong><a href="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made.jpg.tif"><img loading="lazy" class="wp-image-367471 size-thumbnail alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made-dwi-adnjani-116x150.jpg" alt="" width="116" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made-dwi-adnjani-116x150.jpg 116w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made-dwi-adnjani-310x400.jpg 310w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made-dwi-adnjani.jpg 415w" sizes="(max-width: 116px) 100vw, 116px" /><img class="alignnone size-full wp-image-367469" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/09/made.jpg.tif" alt="" /></a>Made Dwi Adnjani, mantan penyiar televisi, dosen komunikasi di Univesitas Islam Sultan Agung Semarang </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/09/15/perjalanan-panjang-yang-memudar-seiring-waktu">Perjalanan Panjang yang Memudar Seiring Waktu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 03:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Amir Machmud]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=329043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Amir Machmud NS Malam Seribu Bulan (1) ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku kusapa dengan sederas zikir kurengkuh dengan sebening pikir sesejuk ini mengalir udara dinihari sehening angin yang seolah berhenti selembut tarhim menelusup langit ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu kupanggil dengan serak sunyi takbir kupeluk dengan riuh detak hati &#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (1)</strong></span></p>
<p>ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku<br />
kusapa dengan sederas zikir<br />
kurengkuh dengan sebening pikir</p>
<p>sesejuk ini mengalir udara dinihari<br />
sehening angin yang seolah berhenti<br />
selembut tarhim menelusup langit</p>
<p>ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu<br />
kupanggil dengan serak sunyi takbir<br />
kupeluk dengan riuh detak hati</p>
<p>&#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; nuraniku berbisik<br />
: lipatkanlah sujud<br />
bersama dedaun yang takzim menjura<br />
bersama gemintang redup mengerlap<br />
bersama bulan yang menunduk berjeda</p>
<p>&#8220;ikatlah malam dengan syahdu syukur,&#8221; getar itu menyapa<br />
o, belum cukupkah rupanya syukurku<br />
tak kulihat malaikat yang bertafakur<br />
bersenyum damai meninggalkan bumi</p>
<p>jendela-jendela kubiarkan terbuka<br />
biarlah menangkap desir yang mengalir<br />
sejernih ini menyatu dengan teduh langit<br />
selembut ini menyiram tubuh gemetar<br />
membahasakan ketakjuban.<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><span style="font-family: georgia, palatino, serif;">Amir Machmud NS</span></span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (2)</strong></span></p>
<p>sepuitis ini semesta berjaga<br />
menunggu malam seribu bulan<br />
di relung hening mensyahdukan<br />
di ujung dinihari menghanyutkan<br />
di lipatan hati merindukan</p>
<p>seelok ini rasa meronta<br />
menanti malam seribu bulan<br />
menyemburatkan cahaya cinta<br />
mengendapkan geletar rasa<br />
tafakur menggayuh jalan utama</p>
<p>tak kulepas menatap langit<br />
dalam jiwa yang menciut<br />
di haribaan kuasa-Nya</p>
<p>: malaikat, engkaukah yang tiba?<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (3)</strong></span></p>
<p>cahaya takkan kau temui kasat mata<br />
ia akan memukim di rongga rasa<br />
andai datang menjadi karuniamu</p>
<p>sepoi lembut takkan kau rasakan membelai kulitmu<br />
ia akan mengalir di pori-pori hidup<br />
andai kau terpilih mendapatkannya</p>
<p>elok semesta takkan menjadi bius konser nurani<br />
ia akan menyatu dalam laku<br />
andai kau terguyur kesaksian syahdunya.<br />
(2023)</p>
<p><img loading="lazy" class="wp-image-316608 size-thumbnail alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg" alt="" width="123" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg 123w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-327x400.jpg 327w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir.jpg 392w" sizes="(max-width: 123px) 100vw, 123px" />&#8212;<em> Amir Machmud NS; wartawan dan penyair. Dia telah menerbitkan enam antologi tunggal puisi. Juga masuk dalam sejumlah antologi bersama. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Bola Piala Dunia Amir Machmud NS</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/11/19/puisi-bola-piala-dunia-amir-machmud-ns</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2022 17:49:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Qatar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=293905</guid>

					<description><![CDATA[<p>Amir Machmud NS ADA CAHAYA DI BUNDAR BOLA &#8212; Sajak Piala Dunia 2022 &#8212; &#160; cahayakah yang kaulihat di bundar bola? resapilah dia deretkan sambung-menyambung persaudaraan mengutas tali di pinggang jagat raya dengan bulat ceria berahasia dengan magnet mengikat sukma &#160; dia satukan jagat lewat permainan ketidakpastian dipanggungkannya pertarungan nasib dia ekspresikan hasrat lewat elok [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/puisi-bola-piala-dunia-amir-machmud-ns">Puisi Bola Piala Dunia Amir Machmud NS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Amir Machmud NS</p>
<p><strong>ADA CAHAYA DI BUNDAR BOLA</strong></p>
<p><em>&#8212; Sajak Piala Dunia 2022 &#8212;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>cahayakah yang kaulihat di bundar bola?</p>
<p>resapilah</p>
<p>dia deretkan sambung-menyambung persaudaraan</p>
<p>mengutas tali di pinggang jagat raya</p>
<p>dengan bulat ceria berahasia</p>
<p>dengan magnet mengikat sukma</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dia satukan jagat lewat permainan ketidakpastian</p>
<p>dipanggungkannya pertarungan nasib</p>
<p>dia ekspresikan hasrat lewat elok misteri</p>
<p>menyimpan teka-teki lewat akal taktik yang menyiasati</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>diakah yang menguatkan silaturahim dalam kesatuan pikir dan hasrat mata</p>
<p>menepis apa pun sekat laknat</p>
<p>membuang apa pun perbedaan</p>
<p>satu rasa merajut keberagaman</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>begitukah semesta merawat keajaiban sepak bola?</p>
<p>dengan keadiluhungan impian</p>
<p>menjauhkan beda anak manusia</p>
<p>: dalam suku dia menyatukan</p>
<p>dalam ras dia menyepahamkan</p>
<p>dalam agama dia tak memasalahkan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bundar bola bergulir dari benua ke benua</p>
<p>membuang congkak dan arogansi</p>
<p>memberi tafsir untuk dunia</p>
<p>menebar nilai-nilai utama</p>
<p>dia bukan kuasa penyayat luka</p>
<p>dan apalagi tragedi</p>
<p>dan apalagi kematian</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bundar bola berisi cahaya</p>
<p>mencercah dari negara ke negara</p>
<p>membuncah dari bangsa ke bangsa</p>
<p>simaklah pesan-pesan keindahan</p>
<p>jauhkan dari sesat kegelapan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>laeeeb, laeeeb, laeeeb ya akhiii&#8230;</p>
<p>(2022)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Amir Machmud NS</p>
<p><strong>SEPAK BOLA, ATAS NAMA CINTA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bola bergulir di tanah yang dijanjikan</p>
<p>ketegangan menyeruak di bumi yang dipastikan</p>
<p>biarkanlah misteri menggumuli</p>
<p>makin dia menyimpan rahasia</p>
<p>makin elok keindahan terjaga</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bola memantul-mantul memancarkan makna</p>
<p>kemarilah, katanya</p>
<p>dia tunggu para empu menyentuhnya</p>
<p>dia berhasrat Messi membelainya</p>
<p>dia rindu Mbappe menggiringnya</p>
<p>dia impikan Benzema mengolahnya</p>
<p>dia angankan Alisson memeluknya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>menarilah dalam racik taktik para pelatih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kemarilah rindu, bisiknya</p>
<p>cinta tak berbatas waktu</p>
<p>pesta hanya catatan</p>
<p>dia hadirkan bulan</p>
<p>dia tebar bintang-bintang</p>
<p>dia gulirkan matahari</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di tanah yang dijanjikan</p>
<p>sepak bola dipanggungkan</p>
<p>dengan luap rasa menguak kabut</p>
<p>dengan elok yang meniupkan angin</p>
<p>dengan syahdu yang merintikkan gerimis</p>
<p>dengan desir yang mengiring awan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kemarilah cinta, ungkapnya</p>
<p>rindu menemukan muara</p>
<p>sukma menatap cakrawala yang sama</p>
<p>dari benua ke benua</p>
<p>ke rumah yang selapang itu membuka tangan dan hati.</p>
<p>(2022)</p>
</div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><img loading="lazy" class="wp-image-270147 alignright" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/amir.jpg" alt="" width="175" height="239" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/amir.jpg 323w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/amir-293x400.jpg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/amir-110x150.jpg 110w" sizes="(max-width: 175px) 100vw, 175px" /></p>
<p><em>Amir Machmud NS, wartawan dan penyair. Dia telah menerbitkan enam antologi tunggal. Puisi-puisinya tersebar di sejumlah media dan beberapa antologi bersama.</em></p>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/puisi-bola-piala-dunia-amir-machmud-ns">Puisi Bola Piala Dunia Amir Machmud NS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2022 04:28:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[tol kayangan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata magelang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=283890</guid>

					<description><![CDATA[<p>Widiyartono R. Kabut Kayangan Kabut menebal dan basah Di antara bebatuan artifisial Batu mina burung dan kuda Menembus pepohon nangka Kopi panas mendingin tiba-tiba Sebelum sebatang rokok menyala Juga seduhan teh rempah panas Tinggal tersisa hangat jahenya Kabut perlahan membuka Petak-petak ladang mulai bisa dipandang Gerimis pun sudah mereda Tampak jelas buah nangka tergantung di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk">Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><span style="font-family: 'times new roman', times, serif;">Widiyartono R.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Kabut Kayangan</strong></span></p>
<p>Kabut menebal dan basah<br />
Di antara bebatuan artifisial<br />
Batu mina burung dan kuda<br />
Menembus pepohon nangka</p>
<p>Kopi panas mendingin tiba-tiba<br />
Sebelum sebatang rokok menyala<br />
Juga seduhan teh rempah panas<br />
Tinggal tersisa hangat jahenya</p>
<p>Kabut perlahan membuka<br />
Petak-petak ladang mulai bisa dipandang<br />
Gerimis pun sudah mereda<br />
Tampak jelas buah nangka tergantung di batangnya</p>
<p>Perempuan setengah baya<br />
Menyeruput tetes terakhir kopinya<br />
Lalu mengangkat tas meninggalkan meja<br />
Menyibak sisa kabut kayangan</p>
<p>Mg. 9102022</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Pertemuan Kamis Malam</strong></span></p>
<p>Diskusi ini memusingkan kepala<br />
Kerna sejatinya aku tak kuasa<br />
Ada di dalam pertemuan ini<br />
Karena keterbatasan diri</p>
<p>Aku tidak akan bertanya<br />
Apalagi mendebatnya<br />
Aku hanya mencoba mengerti<br />
Dengan cara merendahkan diri</p>
<p>Materi ini memang berat<br />
Tetapi aku tak boleh pergi<br />
Kerna kutak ingin terjerat<br />
Oleh sesuatu yang tak kumengerti</p>
<p>mugassari, 280722</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Penantian</strong></span><br />
Lembaran kecil berisi nomor antrean<br />
Telah diserahkan ke dalam ruangan<br />
Di luar kursi tertata berjajar<br />
Dan wajah-wajah tua tampak berusaha sabar</p>
<p>Ketika selot pintu bergerak<br />
Semua yang menunggu mendongak<br />
Lalu kembali menunduk<br />
Yang namanya belum dipanggil disilakan duduk</p>
<p>Begitu menit demi menit berlalu<br />
Lalu jam demi jam lewat<br />
Angka antrean makin panjang<br />
Tetapi selot pintu terasa kian jarang bergerak</p>
<p>Orang-orang tetap menanti<br />
Dengan kesabaran yang makin dipaksakan<br />
Satu dua bahkan meninggalkan ruangan<br />
Karena sedari pagi hingga jelang petang<br />
Ada yang mengaku belum sempat makan</p>
<p>William Booth, 3092022</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Stasiun Poncol</span></strong></p>
<p>Gerimis meriwis malam itu<br />
Jarum jam terus berjalan<br />
Lelaki berlari menembus hujan<br />
Di loket penjualan tiket<br />
Perempuan manis menyapa ramah<br />
Menanya tujuan ke mana<br />
Tiket ‘go show’ masih tersedia</p>
<p>Berderit rel beradu roda kereta<br />
Penumpang masuk diperiksa<br />
Tak seketat waktu sebelumnya<br />
Meski pandemi belum sepenuhnya reda</p>
<p>Setengah berlari sang lelaki<br />
Menyeberang menuju sepur tiga<br />
Kereta malam sudah berjaga<br />
Petugas PPKA meniup peluitnya<br />
Semboyan tiga lima menggema</p>
<p>Rel beradu dengan roda<br />
Yang mulai bergerak pelan tapi nyata<br />
Lelaki duduk menghela nafas lega<br />
Esok pagi sudah dinanti<br />
Melanjutkan perjalanan ke negeri Amboina</p>
<p>Sm. 100722</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Terminal Tanjung Priuk</strong></span></p>
<p>Deru mesin tak pernah putus<br />
Bus keluar-masuk terus-menerus<br />
Makelar dan calo mengadang<br />
Orang-orang yang datang<br />
Harapnya semoga mereka calon penumpang</p>
<p>Sudah lewat jam tapi bus tak jua datang<br />
Bertanyalah calon penumpang<br />
Pada petugas loket yang tetap tenang<br />
Jawabnya ringan dan pasti tak melegakan<br />
: Jalan macet bus belum nyampai<br />
Tunggu saja sampai bus datang<br />
Nanti pasti saya akan bilang</p>
<p>Penumpang pun menunggu dengan tak tentu<br />
Karena telepon berdering bertanya selalu<br />
Bus berangkat jam berapa<br />
Atau sekarang sampai di mana</p>
<p>Dalam keriuhan terminal<br />
Pengamen berdendang<br />
Menyanyi bergoyang-goyang<br />
Taman di terminal dia jadikan<br />
Panggung hiburan</p>
<p>Dipanggilnya orang yang lalu-lalang<br />
Disorong mik diajak berdendang<br />
Dipandu youtube di ponsel<br />
Berkait bluetooth di kotak pelantang</p>
<p>Tukang kopi menuang air panas<br />
Menyorongkan ke pemesan gelas per gelas<br />
Menyeruput kopi menurunkan tensi<br />
Agar bisa sabarkan hati<br />
Menunggu bus yang yang jamnya tak pasti</p>
<p>Tanjung Priuk, 172022</p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-283891" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied.jpg" alt="" width="234" height="327" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied.jpg 234w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied-107x150.jpg 107w" sizes="(max-width: 234px) 100vw, 234px" /></p>
<p><em><strong>Widiyartono R.</strong>, suka menulis puisi, cerpen, artikel, wartawan suarabaru.id</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk">Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>