blank
Marquinhos saat memeluk Gabriel, rekannya di tim nasional Brazil. Foto: dok/gettyimages

blankOleh: Amir Machmud NS

// sepak bola menjadi inspirasi/ tentang kemanusiaan/ tentang hati dan rasa/ di balik keras kompetisi/ bersemayam ungkapan kemanusiaan/ dan puisi-puisi kehidupan…//
(Sajak “Puisi Indah Sepak Bola”, 2026)

PIALA Dunia, yang disebut-sebut sebagai kanvas “pertunjukan terbesar di muka bumi”, menjadi teater realis sejuta rasa. Dia — sepak bola — ibarat untaian puisi yang tak ada habis-habisnya tergubah dari ungkapan rasa para penyair, menjadi bait-bait sajak yang mengalir dari hati para pemuisi.

Hari-hari ketika memasuki ruang eksotika Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, kita mencatat puisi indah di pengujung final Liga Champions, 30 Mei lalu.

Puskas Arena di Budapest, Hungaria menorehkan tidak saja sukses Paris St Germain mempertahankan gelar; tetapi juga sepenggal “puisi indah” kapten tim Marquinhos. Di tengah luapan kegembiraan teman-temannya merayakan kemenangan, dia menghampiri Gabriel Magalhaes, eksekutor penalti terakhir Arsenal yang tendangannya melambung dan memastikan sukses PSG.

Marquinhos memeluk Gabriel, menenangkan rekannya di tim nasional Brazil itu, yang murung dan bengong. Benar-benar pemandangan yang bernilai kemanusiaan.

Sebelumnya, lebih dari 120 menit keduanya terlibat dalam ketegangan perseteruan antara PSG dan Arsenal, lalu Marquinhos menutupnya dengan ungkapan yang menggetarkan dunia: simpati, dan compassion. Dia melukiskan betapa tak seharusnya sepak bola menepis nilai-nilai relasi kemanusiaan.

Dia pernah merasakan momen yang sama. Bek 32 tahun itu gagal mencetak gol saat menjadi eksekutor terakhir Brazil di perempatfinal Piala Dunia 2022 melawan Kroasia, dan memastikan Selecao tersingkir.

Dia memberi semangat untuk Gabriel, berharap pemain 28 tahun itu tak larut dalam kesedihan, mengingat Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. “Kami akan segera kembali bersama. Kami sangat membutuhkan dia,” katanya.

Senada dengan Marquinhos, kapten Arsenal Declan Rice juga menyatakan, tak ada yang menyalahkan Eberechi Eze dan Magalhaes. Siapa pun, kata Rice, bisa gagal dalam mengeksekusi penalti. Kontribusi keduanya dalam kebersamaan tim Arsenal selama ini tak perlu diragukan.

Piala Dunia
Sejak 11 Juni kemarin hingga 19 Juli, dari 48 tim yang berlaga di Piala Dunia 2026, ungkapan-ungkapan indah dalam hubungan antarmanusia juga diperkirakan bakal muncul dengan aneka bentuknya.

Ke-48 tim dari berbagai zone akan bersaing membuktikan siapa yang paling jago, namun sejatinya para pemain dan stakeholders sepak bola akan tetap meluapkan hati dan rasa, justru dalam eksotika sepak bola yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bakal munculkah ungkapan kemanusiaan yang seindah “puisi” Marquinhos di ujung pertunjukan di Puskas Arena, dua pekan lalu?

Simaklah, tampilnya Iran di Amerika juga membawa nuansa kemanusiaan tersendiri. Di tengah kecamuk perang gabungan AS-Israel yang belum sepenuhnya selesai melawan Iran, tim sepak bola negeri itu mengalami posisi yang menyulitkan. Tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, Iran akan bermain di Los Angeles dan Seattle.

FIFA mensyaratkan Tim Melli harus bermarkas dan berlatih di Tijuana, Meksiko. Setiap kali tidak bermain, Alireza Jahansbasksh dkk tidak boleh tinggal di Amerika.

Suka atau tidak suka, dunia menyaksikan Iran mengalami ketidakadilan dan diskriminasi. Sejauh ini FIFA berstandar ganda, tidak menghukum Amerika yang menyerang Iran. FIFA dinilai menerapkan sikap yang berbeda, karena bukan rahasia lagi negeri itu memiliki kekuatan politik yang dominan.

Rusia dan Israel, atas desakan opini dunia, diberi sanksi. Rusia karena invasinya ke Ukraina, sedangkan Israel karena laporan Palestina tentang diskriminasi dan genosida di Gaza.

Pernik lain muncul dengan “bau politik”. Kedatangan wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan ditolak. Dia adalah salah satu dari 52 wasit yang akan bertugas di Piala Dunia 2026. Wasit 34 tahun itu tiba di Amerika, menggunakan pesawat dari Turki pada Senin (8/6), namun kedatangannya di Bandara Internasional Miami mendapat penolakan. Dia tak diizinkan masuk ke AS meskipun memiliki visa yang sah, serta jaminan diplomatik dari Kedutaan Besar Somalia di Kenya.

Otoritas mendeportasinya kembali ke Turki. Dia terancam gagal bertugas di Piala Dunia 2026. Penolakan itu diduga karena dia adalah warga negara Somalia, yang masuk daftar larangan perjalanan ke AS yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Info yang kemudian beredar, Omar Artan dicurigai punya hubungan dengan pimpinan teroris Somalia, Ah-Shahab.

Penasihat senior Kementerian Pemuda dan Olahraga Somalia Ciise Aden Abshir mengecamnya. “Omar Artan adalah salah satu wasit paling dihormati di Afrika dan pantas mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas sepak bola,” katanya, dikutip detik.com dari France 24 (9 Juni 2026).

“Ini tidak hanya merugikannya secara pribadi, tetapi juga merusak komitmen sepak bola terhadap keadilan, prestasi, dan semangat fair play,” kata Ciise.

Omar Artan memegang lisensi wasit FIFA sejak 2018, dan menjadi wasit pertama asal Somalia yang bertugas di Piala Dunia. Pada 2025 dia dinobatkan sebagai wasit terbaik oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Kabar menyejukkan disampaikan oleh Perdana Menteri British Columbia, David Eby. Dia menyatakan keinginan menyambut Artan ke British Columbia dan Kanada. Tulis Sport Illustrate (detik.com, 11 Juni 2026), Artan dipersilakan masuk dan bisa memimpin beberapa dari 13 pertandingan di Vancouver dan Toronto. Kata Eby, “Mari kita izinkan dia menjadi wasit di Vancouver,” ucapnya.

Kalau ini terjadi dan disetujui FIFA, barang tentu pada sisi lain akan menjadi ungkapan semangat nilai-nilai olahraga dan keadilan.

Sementara itu, komentar marah disampaikan oleh mantan penyerang Inggris dan Arsenal Ian Wright. Ia menyebut daftar kritik untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2026. “Saya baru saja membaca wasit Somalia ditolak masuk. Setiap beberapa jam ada cerita lain. Cerita soal fans ditolaklah, pemain ditolak, ofisial ditolak, para jurnalis ditolak, sekarang wasit,” ungkapnya.

“Anda lihat saya tertawa, tetapi ini tidak lucu. Sejujurnya ini tidak lucu, dan sesuatu harus diungkapkan. Tiket-tiket yang mahal, tiket termahal yang pernah ada, akomodasi yang mahal, biaya transportasi selangit. Itu harus dibahas. Apakah tuan rumah sungguh bersikap begini untuk permainan terbesar, turnamen terbesar di dunia, beginikah tuan rumah bersikap? Apa kita tak akan mendengar lebih banyak?”

“Inilah Piala Dunia, ini adalah Piala Dunia-nya kekacauan. Siapa pun yang juara harus melewati serangkaian kekacauan serius untuk menyelesaikannya”.

Striker Iran, Mehdi Taremi, menyebut ini sebagai Piala Dunia paling menegangkan. Dia merasa atmosfernya sangat berbeda dari 2018 dan 2022. Tidak ada perayaan meriah dan keramahan dari seluruh dunia, digantikan oleh pengamanan sangat ketat dan menegangkan.

Dari perspektif ini, setelah menyimak aksi Marquinhos di final Liga Champions, kita mungkin bisa menggugat “kasus Iran” dan “insiden wasit Omar Artan”: inikah paradoks kemanusiaan di pesta sepak bola? Ketika politik memancarkan energi lebih kuat dibandingkan dengan nilai-nilai olahraga dan semangat fair play?

Inikah wajah lain sepak bola, ketika kita menyaksikan sebuah tim berjuang seperti merefleksikan ekosistem kehidupan? Mereka dikepung oleh pancaran dominasi opini politik, standar ganda, ketidakadilan, dan diskriminasi.

Sejuta Rasa
Marquinhos telah menorehkan jejak indah. Dia melukiskan sebuah puisi indah yang mengungkapkan sepak bola sebagai sejuta rasa.

Kita bisa merasakan nilai kemanusiaan, persaudaraan, persahabatan, dan betapa pun keras persaingan yang berlangsung, tak ada yang bisa menepis hati manusia sebagai manusia dalam hubungan dengan hati manusia lain di luar dirinya.

Kapten PSG dengan penuh keanggunan empati mengisyaratkan, tetap ada yang lebih penting dari sepak bola dan permainan apa pun…

— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id