blank
Hadi Priyanto saat menyerahkan Bukunya yang berjudul R.A. Kartini Penyuluhan Api Nasionalisme pada kelima peserta yang aktif dalam seminar. Foto Manan

JEPARA (SUARABARU.ID) – Di tengah tekanan ekonomi dan derasnya arus informasi yang kerap memicu kecemasan kolektif di masyarakat, mahasiswa diajak mengambil peran sebagai penyebar optimisme melalui karya-karya jurnalistik yang berkualitas, kritis, dan bertanggung jawab. Salah satu media yang dinilai efektif untuk tujuan tersebut adalah podcast.

Pesan itu disampaikan wartawan senior Suara Baru, Drs. Hadi Priyanto, M.M., saat menjadi narasumber dalam Seminar Jurnalistik dan Jurnalistik Show Festival Syariah 9 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) BURS@ bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Sabtu sore (13/6/2026).

blank
Dialog inyetaktif Nadya Ahmad dengan peserta. Foto: Manan.

Kegiatan yang mengusung tema “Merangkai Cerita, Menyuarakan Karya: Menghidupkan Jurnalisme dalam Nada dan Berita” tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai program studi sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi media dan keterampilan jurnalistik di kalangan generasi muda.

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Jurnalistik Mahasiswa untuk Podcast”, Hadi menjelaskan bahwa podcast saat ini tidak lagi sekadar menjadi media hiburan, melainkan telah berkembang menjadi ruang diskusi publik, sarana penyebaran informasi, hingga media kontrol sosial yang mampu memengaruhi opini masyarakat.

Menurutnya, di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah dan maraknya informasi yang beredar tanpa verifikasi, mahasiswa perlu menghadirkan konten yang mampu membangun kesadaran publik sekaligus menumbuhkan harapan di tengah masyarakat.
“Di era banjir informasi dan media sosial yang penuh distraksi, podcast yang kritis, jujur, dan berbasis data memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik,” ujar Hadi.

blank
Narasumber bersama peserta seminar Jurnalistik dan Jurnalisitik Show . Foto: Dok Panitia

Ia menegaskan bahwa podcast yang baik tetap harus berpijak pada prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Penentuan sudut pandang atau angle yang jelas menjadi salah satu faktor penting agar pembahasan tidak melebar dan tetap fokus pada substansi persoalan.
Selain itu, riset menjadi fondasi utama dalam produksi podcast. Mahasiswa didorong untuk membiasakan diri membaca berita terpercaya, mencari data statistik, memanfaatkan hasil penelitian, serta melakukan verifikasi informasi sebelum dipublikasikan.

“Podcast yang terdengar santai tetap membutuhkan data yang kuat. Semakin kuat risetnya, semakin kredibel podcast yang dibuat,” katanya.

Hadi juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan sikap kritis terhadap berbagai persoalan sosial, kebijakan publik, maupun dinamika yang terjadi di masyarakat. Namun, kritik harus disampaikan secara berimbang, berbasis fakta, dan tidak terjebak pada penyebaran hoaks maupun fitnah.

blank
Nasya Ahmad saat menyampaikan materinya. Foto: Manan.

“Jurnalisme yang sehat bukan tentang siapa yang paling keras mengkritik, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan,” tegasnya.
Menurut Hadi, pembahasan dalam podcast juga sebaiknya mengikuti prinsip jurnalistik 5W+1H agar informasi yang disampaikan runtut, mudah dipahami, dan tidak menyesatkan audiens. Selain itu, seorang host podcast harus memiliki kemampuan mendengar yang baik sehingga mampu menggali informasi secara lebih mendalam dari narasumber.

Dalam kesempatan yang sama, Nasya Ahmad dari LPPM Radio Kartini FM Jepara membagikan pengalaman mengenai dunia penyiaran radio dan produksi konten di era digital. Menurutnya, kekuatan utama seorang penyiar radio terletak pada kemampuannya membangun imajinasi pendengar melalui narasi dan cara bertutur.

“Radio itu bermain dengan imajinasi. Penyiar harus mampu menghadirkan gambaran dalam pikiran pendengar melalui kata-kata yang disampaikan,” ujar Nasya.

Ia juga membekali peserta dengan teknik dasar wawancara cepat atau doorstop interview yang sering digunakan jurnalis di lapangan. Menurutnya, terdapat prinsip sederhana yang harus dipegang oleh seorang pewawancara, yakni 2S 1T: sopan, singkat, dan tajam.
“Saat melakukan doorstop, tetaplah sopan kepada narasumber, ajukan pertanyaan secara singkat, namun harus tajam agar informasi penting dapat digali secara maksimal,” jelasnya.

Nasya menambahkan bahwa dunia media saat ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kreatif dalam membuat konten, tetapi juga memiliki kemampuan jurnalistik yang baik.

“Dunia membutuhkan jurnalis-jurnalis yang andal,” tegasnya di hadapan peserta seminar.
Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap mahasiswa semakin memahami peran strategis media kampus sebagai sarana edukasi, kontrol sosial, sekaligus ruang pengembangan kreativitas generasi muda.

Seminar Jurnalistik dan Jurnalistik Show menjadi salah satu rangkaian kegiatan Festival Syariah 9 yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya terampil memproduksi konten, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Pada akhirnya, jurnalistik bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang menjaga akal sehat masyarakat,” pungkas Hadi

Manan