JEPARA (SUARA BARU.ID) – Sebuah artefak kuno yang memiliki keunikan bentuk, motif, dan bahan baku ditemukan di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara pada tahun 2022, namun baru terungkap Juni 2026. Temuan ini menarik perhatian para pemerhati sejarah dan budaya karena menampilkan perpaduan relief tumbuhan, mega mendung, batu karang, serta motif Ganesha yang jarang ditemukan dalam satu artefak.
Artefak tersebut memiliki ukuran panjang sekitar 60 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tebal 12 sentimeter. Pada bagian depan, relief yang terpahat menampilkan ragam motif tumbuh-tumbuhan yang merupakan stilasi dari tanaman labu air. Sementara pada bagian belakang terdapat relief Ganesha yang dikelilingi oleh enam sosok gana.
Menurut kajian yang dilakukan oleh Drs. Sutarya, M.M. dari Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara, salah satu daya tarik utama artefak ini terletak pada bahan bakunya yang berupa batu putih. “Material tersebut memiliki kemiripan dengan batu yang digunakan pada relief-relief di Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan. “Batu putih tersebut diketahui berasal dari Tiongkok dan pada masanya menjadi salah satu material penting dalam karya seni ukir dan arsitektur,” ujar Sutarya yang juga merupakan dosen Desain Produk Unisnu Jepara

Ia menjelaskan, pada sisi depan artefak, susunan relief dibagi menjadi tiga bagian. Di bagian atas terdapat motif matahari berbentuk setengah lingkaran, mega mendung, serta rangkaian daun, bunga, dan sulur tanaman labu air yang ditampilkan dalam berbagai bentuk stilasi. “Bagian tengah menampilkan batang, ranting, dan dahan tanaman yang saling bertumpang tindih sehingga menciptakan kesan dinamis. Sementara pada bagian bawah terdapat kombinasi batang dan sulur tanaman yang dipadukan dengan motif batu karang,” urainya
Keberadaan motif mega mendung dan batu karang dalam satu komposisi relief menjadi temuan yang dianggap sangat unik. Menurut Sutarya, dalam berbagai peninggalan artefak kuno, kedua motif tersebut umumnya tidak ditampilkan secara bersamaan. Biasanya motif batu karang dipadukan dengan unsur tumbuhan sebagai pelengkap, sedangkan motif mega mendung berdiri sebagai elemen tersendiri. Oleh karena itu, perpaduan kedua motif tersebut dalam satu panel relief dinilai sebagai sesuatu yang tidak lazim dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti.
“Selain keunikan pada sisi depan, artefak ini juga menyimpan nilai simbolik yang kuat pada sisi belakang. Relief Ganesha yang menjadi pusat komposisi tampak dikelilingi enam sosok gana,” terangnya
Dalam tradisi seni candi Jawa, enam gana dapat dimaknai sebagai simbol penjaga enam arah alam semesta, yaitu empat penjuru mata angin ditambah arah atas dan bawah. “Tafsir ini menempatkan Ganesha sebagai Ganapati atau pemimpin para gana yang menguasai sekaligus melindungi seluruh alam,” ujar Sutarya
Ia juga menjelaskan makna lain yang menghubungkan enam gana dengan enam unsur dalam diri manusia, yaitu lima indra dan satu pikiran. Dalam pandangan filsafat Hindu-Jawa, para gana melambangkan berbagai gangguan dan nafsu duniawi, sedangkan Ganesha yang duduk tenang di tengah menjadi simbol kebijaksanaan yang mampu mengendalikan semuanya. “Pesan moral yang terkandung adalah pentingnya menguasai diri untuk menghadapi berbagai rintangan kehidupan,” paparnya
Selain itu, menurut Sutarya angka enam juga diyakini memiliki nilai artistik dalam seni pahat Jawa Kuno. Para pemahat masa lalu sering menggunakan komposisi angka genap untuk menciptakan keseimbangan visual dan memberikan kesan megah pada relief yang mereka buat.
Temuan artefak di Desa Kriyan ini membuka peluang baru bagi penelitian sejarah dan budaya di Kabupaten Jepara. Perpaduan unsur seni ukir, simbol keagamaan, dan penggunaan material yang berkaitan dengan peninggalan bersejarah di Mantingan menunjukkan bahwa artefak tersebut memiliki nilai penting untuk dikaji lebih lanjut.
Sutarya juga berharap, penelitian mendalam diharapkan dapat mengungkap asal-usul, fungsi, serta periode pembuatan artefak sehingga keberadaannya dapat memperkaya khazanah warisan budaya Jepara.
(Sumber: Kajian Drs. Sutarya, M.M., Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara; Hanif – Humas UNISNU Jepara; Lia Supardianik – Disparbud Jepara, Juni 2026.)
Ika Putri Aprilia













