<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>chelsea Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/chelsea/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Mar 2026 01:50:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>chelsea Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Newcastle United]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[Tottenham Hotspur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=547950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // saatnyakah mereka merayakan/ panggung Eropa?/ raihan yang selalu lepas/ justru pada saat diunggulkan?/ sudah sampaikah waktunya?// (Sajak “Arsenal dan Eropa”, 2026) PANGGUNG juara bagi Arsenal, inikah waktunya? Atau mereka harus kembali ke sejarah kusam: terpuruk justru pada saat diunggulkan? Drawing Liga Champions di Nyon, Swiss sepekan silam menghadirkan jalur yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya">Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-547953 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x35.webp 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// saatnyakah mereka merayakan/ panggung Eropa?/ raihan yang selalu lepas/ justru pada saat diunggulkan?/ sudah sampaikah waktunya?//</em><br />
<strong>(Sajak “Arsenal dan Eropa”, 2026)</strong></p>
<p><strong>PANGGUNG</strong> juara bagi Arsenal, inikah waktunya? Atau mereka harus kembali ke sejarah kusam: terpuruk justru pada saat diunggulkan?</p>
<p>Drawing Liga Champions di Nyon, Swiss sepekan silam menghadirkan jalur yang disebut-sebut bakal memuluskan prediksi laju Arsenal. Ketika sejumlah raksasa Eropa berbaku hantam dalam <em>big match</em> di babak 16 besar, Meriam London bertemu lawan yang diperkirakan relatif bisa diatasi, Bayer Leverkusen.</p>
<p>Enam belas tim, yang terdiri dari delapan unggulan dan delapan non-unggulan, diundi untuk menentukan lawan di fase gugur. <em>Leg</em> pertama 16 besar akan digelar 10-11 Maret, dan <em>leg</em> kedua 17-18 Maret.</p>
<p>Kali ini, Arsenal kembali diunggulkan, walaupun seperti biasa “dikepung” oleh kekuatan-kekuatan bertradisi juara seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Chelsea, juga juara bertahan Paris St Germain, dan Manchester City.</p>
<p>Pertemuan keras akan berlangsung antara Real Madrid versus Manchester City, PSG menghadapi Chelsea, Newcastle United bersua Barcelona. Liverpool juga kembali bertemu Galatasaray setelah sebelumnya sempat kalah di fase liga. Tottenham Hotspur ditantang Atletico Madrid, sementara Arsenal melawan Bayer Leverkusen.</p>
<p><strong>Relatif Lebih Ringan</strong><br />
Di antara enam wakil Inggris, Arsenal punya jalur yang relatif lebih ringan. Chelsea harus menghadapi PSG, Manchester City ditantang Real Madrid, Tottenham berjumpa Atletico Madrid, Liverpool melawan Galatasaray, dan Newcastle kembali menghadapi Barcelona.</p>
<p>Terakhir kali, Arsenal bertemu Bayer Leverkusen pada 2002, dan menang 4-1. Leverkusen kini cenderung kurang stabil setelah ditinggal oleh pelatih Xabi Alonso, dan sejumlah pemain pilar. Sementara The Gunners sedang dalam performa apik di berbagai ajang.</p>
<p>Sesuai bagan, jika lolos ke perempatfinal, Declan Rice dkk akan bertemu dengan pemenang Bodo/Glimt vs Sporting CP. Apabila menang, calon lawannya di semifinal adalah pemenang antara Barcelona vs Newcastle yang harus berebut tiket dengan pemenang Atletico Madrid vs Tottenham Hotspur.</p>
<p>Dengan skema itu, diperkirakan Arsenal minimal mampu lolos ke semifinal, menyamai bahkan melampaui capaian musim lalu. Pada Liga Champions 2024-2025, tim racikan Mikel Arteta itu masuk semifinal sebelum kalah dari PSG dengan agregat 1-3. PSG kemudian menjadi juara.</p>
<p>Dari enam wakil Inggris, hanya Liverpool, Chelsea, dan Manchester City yang pernah meraih trofi Liga Champions. Liverpool enam kali juara, Chelsea dua kali, dan Manchester City satu kali.</p>
<p>Lalu siapa yang paling berpeluang juara?</p>
<p>Opta, mesin statistik sepak bola, merilis prediksinya, bahwa Arsenal-lah yang berpeluang terbesar, dengan 27,4 persen. Menyusul kemudian Bayern Munich (14,3 persen), Liverpool (12,8 persen), Manchester City (10,8 persen), Barcelona (7,7 persen), dan Chelsea (6,8 persen). Real Madrid justru terlempar dari enam besar, berada di peringkat kesembilan dengan 2,8 persen, di bawah PSG (4,6 persen).</p>
<p>Sedangkan Newcastle United justru berada di atas PSG dan Madrid, dengan persentase peluang juara sebesar 4,7 persen.</p>
<p><strong>Tidak Mudah</strong><br />
Tentu pelatih Mikel Arteta menyadari, peluang untuk gagal di Liga Champions lebih besar ketimbang sukses. Dalam sejarah, Arsenal hanya satu kali menembus final Liga Champions yakni pada 2006, namun kalah 1-2 dari Barcelona dalam laga yang disebut-sebut sebagai “final ideal”.</p>
<p>Musim lalu, mereka melaju sampai ke semifinal. Dengan konfidensi tinggi karena sukses menundukkan Real Madrid di perempatfinal, Arsenal malah dikalahkan PSG yang akhirnya juara.</p>
<p>Mungkinkah Arteta bisa mengubah sejarah Arsenal dengan menjadi juara Liga Champions, dalam kesempatan terbaik musim ini?</p>
<p>Pencapaian terbaik Arsenal di pentas Eropa dicatat dalam ajang dengan level lebih rendah, yakni Piala Inter-Cities Fairs pada 1970, dan Piala Winners’Cup pada 1994 &#8212; gelar terakhir diakui oleh UEFA. Arsenal tampil di Piala Super Eropa 1994, dan kembali hadir di partai puncak Piala Winners’Cup tahun berikutnya.</p>
<p>Hampir tiap tahun, setidak-tidaknya selama empat musim terakhir, Arsenal selalu dijagokan untuk berbicara banyak di Liga Champions. Ketika tahun ini kembali difavoritkan, tentu beralasan karena mereka memiliki model tampilan impresif bukan hanya di Liga Primer, tetapi juga di ajang yang lain.</p>
<p>Wajar apabila para pengamat berpikir, “Inikah waktunya mereka berjaya?”</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya">Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2025 10:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Maresca]]></category>
		<category><![CDATA[Impresif]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Citizens]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=536433</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) TAHUN 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-536435 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>TAHUN</strong> 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel Pellegrini yang sebenarnya juga mampu mengemas performa Manchester City sebagai kekuatan elite baru Liga Primer?</p>
<p>Pria kelahiran Santiago, Chile itu bahkan menjadi manajer non-Eropa pertama yang meraih trofi Liga Inggris pada 2013-2014.</p>
<p>Cerita sembilan tahun silam itu, sama dengan yang sekarang terwacanakan. Bakal datang orang baru yang menggeser Pep dari kursi kepelatihan The Citizens, dan sang pengganti itu tidak jauh-jauh amat: Enzo Maresca dari Chelsea. Masa depan Pep pun tiba-tiba dispekulasikan.</p>
<p>Dulu tak banyak yang memperkirakan, Manuel Pellegrini bakal mudah tergeser. Waktu itu berkembang analisis, Manchester City mendatangkan Pep Guardiola demi mempercepat proses merajai liga dan Eropa dengan permainan yang lebih impresif. Sedangkan sekarang, diduga Maresca didatangkan untuk sebuah proyek penyegaran. Pep &#8212; yang telah membawa City merajai liga dan mempersembahkan gelar Eropa pada 2022-2023 &#8212; dinilai mulai memasuki atmosfer kejenuhan, sudah tidak memiliki lagi tantangan yang hendak diraih.</p>
<p>Lalu, apakah musim 2026-2027 nanti pergeseran itu benar-benar akan terjadi?</p>
<p>Ya, ketika kontrak Pep baru akan berakhir 2027, tiba-tiba saja muncul rumor Enzo Maresca menjadi kandidat kuat manajer City. Media-media Inggris menspekulasikan Maresca sebagai pengganti Pep. Pria kelahiran Italia itu pernah menjadi pelatih City U23 dan asisten Pep. Direktur Olahraga Manchester City, Hugo Viana disebut-sebut telah bertemu dengan Maresca.</p>
<p>Bersama Chelsea, pencapaian Maresca cukup bagus. Pelatih 45 tahun itu memberi trofi Conference League dan juara Piala Dunia Antarklub 2025. Dia tengah berjuang mengembalikan kejayaan The Blues di liga.</p>
<p>“Penting untuk memahami alasan di balik adanya berita ini,” kata Maresca dengan tafsir samar. Apakah kalimat ini ditujukan untuk manajemen Chelsea, sehingga dia punya posisi tawar yang kuat?</p>
<p>Spekulasi itu kencang berembus, justru ketika kedua klub sedang bersaing di papan atas dengan Arsenal. Di pihak lain, Pep dengan bijak menyatakan tidak bisa menjamin apakah musim depan bakal bertahan di Etihad. Menurutnya, apa pun bisa terjadi dalam sepak bola. Bagi dia, yang terpenting adalah menjaga performa agar Erling Haaland dkk bisa sebaik mungkin menuntaskan musim.</p>
<p>Seperti ditulis oleh <em>The Athletic </em>(<em>detik.com</em>, 20 Desember 2025), Pep mengatakan, “Saya kan masih di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Sepak bola bisa berubah setiap saat, bahkan jika saya punya kontrak 10 tahun, atau enam bulan”.</p>
<p>Pelatih asal Spanyol itu telah enam kali memberi gelar liga kepada City, di antaranya empat musim berturut-turut pada 2020-2021, 2021-2022, 2022-2023, dan 2023-2024, ditambah gelar-gelar lain Piala FA, Piala Liga, Community Shield, lalu juga Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Atarklub FIFA.</p>
<p>Sebelum berkarier di Etihad, Pep juga cemerlang bersama Barcelona dan Bayern Muenchen. Dia dikenal sebagai “ideolog” sepak bola menyerang, menyempurnakan <em>total football</em> Johan Cruyff dengan <em>possession football</em> ala Barca yang terkenal sebagai <em>tiki-taka</em>.</p>
<p>Kebersamaannya dengan The Citizens sejak 2016, bagaimanapun menghadirkan fakta, Manchester Biru telah menjadi kekuatan elite Liga Primer. Dan, di balik kejeniusannya, cepat atau lambat dia bisa diliputi atmosfer kejenuhan, “kehilangan tantangan”, dan diperkirakan membutuhkan suasana baru.</p>
<p>Apakah dia menjadi simbol realitas bahwa tidak ada yang abadi di sepak bola? Akan selalu terjadi pergerakan, pergeseran, dan mobilitas dalam dinamika industri kompetisi. Atau yang dalam ungkapan Pep Guardiola, “Dalam sepak bola, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi?”</p>
<p>Apalagi, di dunia kepelatihan profesional, kita memahami mereka bagai berjalan di titian rambut dibelah tujuh. Penuh risiko dan keniscayaan antara mencapai kesuksesan, atau masuk ke lorong keterpurukan.</p>
<p>Ya, hari ini Pep masih di Etihad. Hari ini Maresca juga masih di Stamford Bridge. Tak ada yang tahu, esok mereka akan berlabuh di mana…</p>
<p><strong>&#8212;</strong> <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2025 10:00:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[Arne Slot]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Konfiden]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Reds]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=510239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak selalu/ cerita berjalan seperti rencana/ ada kelokan dan realitas/ yang mengubahnya/ kadang dengan ekstremitasnya// (Sajak “Slot dan Liverpool”, 2025) KETIKA menggantikan Juergen Klopp pada musim 2024-2025, Arne Slot terlihat sebagai sosok konfiden yang diberkahi kemudahan. Liverpool tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan manajer baru. The Reds mulus meraih trofi Liga [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya">Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-510244 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak selalu/ cerita berjalan seperti rencana/ ada kelokan dan realitas/ yang mengubahnya/ kadang dengan ekstremitasnya//</em><br />
<strong>(Sajak “Slot dan Liverpool”, 2025)</strong></p>
<p><strong>KETIKA</strong> menggantikan Juergen Klopp pada musim 2024-2025, Arne Slot terlihat sebagai sosok konfiden yang diberkahi kemudahan. Liverpool tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan manajer baru.</p>
<p>The Reds mulus meraih trofi Liga Primer. Sementara para rival seperti Manchester City dan Manchester United terpuruk. Arsenal dan Chelsea lagi-lagi tak cukup tahan bersaing di klasemen atas untuk berebut juara.</p>
<p>Maka ketika Slot dan Liverpool memperkuat diri dengan sejumlah rekrutan mahal &#8212; seperti Florian Wirtz dan Alexander Isak &#8212; mengawali musim 2025-2026, hampir semua orang berpikir klub kota pelabuhan itu bakal menjelma menjadi kekuatan tak terlawan. Terbayangkan, <em>superteam</em> Liverpool di tangan manajer sekualitas Arne Slot bakal makin <em>nggegirisi</em> di Liga Primer dan Liga Champions.</p>
<p>Nyatanya, pekan lalu Liga Primer mengetengahkan warna pilu. Liverpool melewati laga dengan catatan buruk seperti 60 tahun yang lalu. Pada 22 November di Stadion Anfield yang dikenal “angker”, sang juara bertahan dilibas Nottingham Forest 0-3.</p>
<p>Hasil itu mengulangi catatan buruk pada pekan sebelumnya di Etihad, ketika Mohamed Salah dkk takluk 0-3 di tangan tuan rumah Manchester City. Dan, pada 27 November kemarin, mereka melengkapi keterpurukan dengan kekalahan 1-4 dari PSV Eindhoven di Anfield, dalam <em>matchday</em> 5 Liga Champions.</p>
<p>Statistik mencatat, untuk kali pertama sejak 60 tahun terakhir, Liverpool kalah lebih dari 3 gol dalam dua laga beruntun di Liga Inggris. Terakhir kali The Reds mengalaminya pada April 1965 ketika diarsiteki manajer legendaris, Bill Shankly. Dalam status sebagai juara bertahan, Liverpool kalah 0-3 beruntun dari West Bromwich Albion dan Tottenham Hotspur.</p>
<p>Musim ini, Liverpool sudah sembilan kali kalah dari 12 pertandingan terakhir di semua ajang. Di Liga Inggris, mereka enam kali kalah dari 12 laga. Kekalahan dari Forest memerosotkan Liverpool ke posisi 11 klasemen sementara dengan 18 poin, di bawah Manchester United (18 poin) yang belum memainkan <em>matchday</em> ke-12. Kekalahan keenam dari 12 pertandingan di Liga Primer menempatkan mereka di posisi ke-11 klasemen dengan 18 poin. Ini menjadi kekalahan keenam dari tujuh pertandingan terakhir di seluruh ajang. Kalau ditambah dengan hasil buruk melawan PSV, lengkap sudah kebabakbeluran Pasukan Anfield.</p>
<p>Kata pelatih Arne Slot, “Kami punya banyak pemain bagus. Menjadi tugas saya mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Untuk saat ini saya tidak bisa. Itulah mengapa saya bilang ini tanggung jawab saya,” ujar Slot seperti dikutip <em>BBC Sport</em> (<em>detik.com</em>, 23 November 2025).</p>
<p><strong>Tak Berjalan</strong><br />
Pernyataan Slot mengisyaratkan ada “kesenjangan” antara rencana (<em>game plan</em>) dengan yang tersaji di lapangan. Antara realitas Liverpool memiliki para pemain terbaik di posisinya, dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan skema Slot. Artinya, ada renana yang tak berjalan semestinya.</p>
<p>Apa yang dihadapi Arne Slot sebenarnya juga dialami oleh para taktikus lain. Apakah itu Ruben Amorim, Enzo Maresca, Mikael Arteta, juga Pep Guardiola. Maka kita menyaksikan liga-liga Eropa seperti panggung yang mengetengahkan adu rencana, adu taktik, dan adu kejeniusan, yang kemudian tersaji sebagai produk “sesuai rencana”, “mediokritas capaian”, atau “kegagalan”.</p>
<p>Lalu apakah Arne Slot bisa disebut gagal untuk menyatukan puzzle-puzzle potensi yang seharusnya menghasilkan kehebatan sebuah tim? Jangan buru-buru memvonis pelatih asal Belanda itu, karena jangan-jangan ini adalah hukum alam kompetisi dengan segala kalkulasi yang tak bia dihitung secara matematis.</p>
<p>Slot tidak mau banyak berdalih atas periode buruk ini. Baginya, ada satu hal yang menjadi biang. Yakni Liverpool “dihukum” oleh kegagalan mereka memaksimalkan banyak peluang yang didapat.</p>
<p>Dengan <em>ball possession</em> 75-25, lebih dari 30 menit di babak pertama Virgil van Dijk dkk menekan penuh Forest, namun peluang-peluang di awal yang didapat Alexis Mac Allister dan Milos Kerkez, tak tertuntaskan sebagai gol.</p>
<p>Dia mengakui, belum pernah melihat timnya menciptakan peluang sebanyak itu. Tentu sulit dipahami, di tengah banyak kesempatan, setiap kali diserang lawan, malah begitu mudah kebobolan. Artinya, selain tumpulnya lini penyerang, realitas kerapuhan lini pertahanan juga menjadi problem bagi The Reds dalam tiga laga terakhir.</p>
<p>Dinamika kompetisi memang menciptakan kondisi yang terkadang tidak dipahami oleh tim-tim besar. Semua persiapan skematika, kedalaman skuad, dan <em>game plan</em> sudah dimatangkan, namun tak jarang tim-tim medioker dan yang kurang masuk hitungan malah menciptakan hasil “yang tidak-tidak”.</p>
<p>Frasa “yang tidak-tidak” itu menggambarkan kondisi psikologis kompetisi yang tak jarang diwarnai oleh kejutan-kejutan. Dalam logika permainan, boleh jadi yang berlangsung adalah keberhasilan menerapkan<em> counter tactic</em>, sehingga tim-tim yang dipandang sebagai “anak bawang” bisa meredam permainan tim-tim yang lebih mapan.</p>
<p>Apakah Liverpool masuk dalam logika dinamika ini? Semakin rasa percaya diri hilang karena kekalahan demi kekalahan yang menyusul, bakal semakin terasa betapa sulit bangkit dari situasi semacam ini.</p>
<p>Para manajer seperti Arne Slot mungkin sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini, namun tampaknya dia membutuhkan cukup waktu untuk mencerna dan mengurai solusi. Kekalahan telak 1-4 dari PSV di Anfield menjadi bagian dari gambaran betapa Slot dihadapkan pada situasi yang tidak mudah&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya">Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bakal Lebih Cepatkah Kisah Ruben Amorim Bergulir?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/09/20/bakal-lebih-cepatkah-kisah-ruben-amorim-bergulir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2025 10:00:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[FC Porto]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Old Trafford]]></category>
		<category><![CDATA[Ruben Amorim]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=497067</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // haruskah kisah bergulir lebih cepat/ dari yang diskenariokan?/ gambaran yang boleh jadi telah terperkirakan/ atau mungkin tak terbayangkan/ dan, dia harus menjalani keadaan/ yang tak terhindarkan/ atau sebenarnya sudah terpetakan&#8230;// (Sajak “Jejak Ruben Amorim”, 2025) BAKAL lebih cepatkah gambaran itu menjadi kenyataan? Secepat itu dia meninggalkan Old Trafford, secepat itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/09/20/bakal-lebih-cepatkah-kisah-ruben-amorim-bergulir">Bakal Lebih Cepatkah Kisah Ruben Amorim Bergulir?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-497072 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/09/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// haruskah kisah bergulir lebih cepat/ dari yang diskenariokan?/ gambaran yang boleh jadi telah terperkirakan/ atau mungkin tak terbayangkan/ dan, dia harus menjalani keadaan/ yang tak terhindarkan/ atau sebenarnya sudah terpetakan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Jejak Ruben Amorim”, 2025)</strong></p>
<p><strong>BAKAL</strong> lebih cepatkah gambaran itu menjadi kenyataan?</p>
<p>Secepat itu dia meninggalkan Old Trafford, secepat itu dia mengalami yang sebenarnya sudah terperkirakan, secepat itu dia harus menerima kenyataan: sukses di Liga Portugal bersama Sporting CP tak cukup menjadi modal untuk memberi harapan bagi kebangkitan Manchester United dari keterpurukan?</p>
<p>Ya, Liga Primer tampaknya akan mengetengahkan “korban” baru. Boleh jadi ini hanya soal waktu. Realitas itukah yang bakal tersajikan? Atau, Amorim menemukan pencerahan untuk membalik keadaan, memperbaiki performa klub di laga-laga selanjutnya?</p>
<p>Bayangan buram seperti sudah di depan mata, walau manajemen The Red Devils masih cukup bersabar kepada Ruben Amorim, tidak serta merta memecatnya, setelah rangkaian hasil tidak memuaskan mewarnai penampilan Bruno Fernandes dkk pada awal musim 2025-2026 Liga Primer. Bagaimanapun, kekalahan 0-3 dari tuan rumah Manchester City di Etihad, pekan lalu, memperburuk rapor Amorim.</p>
<p>Dengan sejumlah rekrutan baru sesuai keinginan taktikal Ruben Amorim, MU tetap belum tampil meyakinkan. Simaklah catatan ini: kalah 0-1 dari Arsenal di laga perdana, imbang 1-1 dengan Fulham, menang 3-2 atas Burnley, dan tersisih memalukan 11-12 dalam adu penalti melawan klub divisi empat, Grimsby Town di Piala Carabao.</p>
<p>Amorim menjadi bulan-bulanan para analis. Dia mengulang apa yang pernah dilewati oleh para pendahulunya, setelah Alex Ferguson pensiun pada 2013. Kesimpulan sementara: Setan Merah belum menemukan sosok pelatih yang mampu mengentaskan dari keterpurukan. Segala cara sudah dilakukan: dari penyegaran manajemen, perombakan pemain, juga menyentuh apa yang pernah disebut Ralf Rangnick sebagai “bedah jantung”; dan bukankah MU masih belum beranjak dari kondisinya sekarang?</p>
<p>Wajar jika muncul pertanyaan: bisa bertahan berapa pekan lagikah Ruben Amorim? Akankah dia mengulang jejak para pelatih pendahulunya, yang terpental oleh serangkaian hasil dan performa yang tak memberi harapan?</p>
<p><strong>Spekulasi dan Risiko</strong><br />
Mendatangkan pelatih baru, bagi sebuah klub, ibarat sebuah pilihan spekulasi: jika hasilnya baik dan cocok, dia akan lanjut. Jika tidak sesuai ekspektasi, akan menjadi pertimbangan: dipecat dan diganti.</p>
<p>Pergantian pelatih benar-benar berada di wilayah spekulatif, meskipun sebenarnya juga dikalkulasi dari kebutuhan filosofi dan taktik. Dalam kasus MU, masalahnya menjadi rumit apabila dikaitkan dengan berapa pelatih yang telah dicoba sejak 2013 hingga era Amorim sekarang.</p>
<p>Dari David Moyes, Ryan Giggs, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy, dan kini Ruben Amorim. Seperti untung-untungan dalam buncah harapan, dan nyatanya semua terpental, tak mampu memperbaiki keadaan.</p>
<p>Amorim, yang oleh Cristiano Ronaldo dijuluki sebagai “Sang Penyair” karena selalu menarasikan kalimat dengan bagus, dari awal memang sempat diragukan. Sejumlah pundit menyatakan, <em>competetiveness</em> Liga Portugal berbeda dari Liga Primer, sehingga Amorim bakal menemui tantangan yang lain. “Aura” MU berbeda dari Sporting CP, walaupun dia punya pengalaman bisa mengalahkan Manchester City.</p>
<p>Kini dia merasakan betul atmosfer Liga Primer. Musim lalu, ketika mulai menangani tim pada pertengahan musim, yakni sejak 11 November 2024 untuk menggantikan Erik ten Hag, dia memimpin MU dalam 47 pertandingan, dengan 17 menang, 12 kali seri, dan 18 kali kalah. Di akhir musim, MU menduduki urutan ke-15, klasemen terburuk sepanjang sejarah klub. Musim ini, MU berada di peringkat 14 dari 4 laga, dengan baru meraih 4 poin.</p>
<p>Dalam catatan <em>Sky Sports</em>, Amorim hanya memberi MU kemenangan di angka 36,17 persen. Dia lebih buruk dari Wilf McGuinness, yang sebelumnya punya persentase terendah, 36,78 persen saat melatih MU dari 1969 hingga 1970.</p>
<p><strong>Kekukuhan Taktik</strong><br />
Harapan perbaikan muncul dari sederet nama yang dia minta untuk direkrut, dan beberapa lainnya dilepas. Pelepasan nama-nama Cristian Erikssen, Anthony, Alejandro Garnacho, Rasmus Hojlund, dan Andre Onana, tergantikan dengan masuknya Benjamin Sesko, Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Diego Leon, Harley Emsden, dan Senne Lammens.</p>
<p>Nama-nama itu tentu seusai dengan kehendak Amorim untuk memperkuat skema taktiknya. Ketika Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Manchester City mulai nyaman dengan performanya, MU malah berkutat dengan persoalan lama. Ruben Amorim tampak belum mantap dengan setelan baru skuadnya.</p>
<p>Pekan ini, MU menghadapi lawan kuat, Chelsea di Old Trafford. Sulit untuk tidak melihat laga ini sebagai bagian dari penentuan langkah Amorim. Dia benar-benar dalam tekanan setelah kekalahan 0-3 dari The Citizens.</p>
<p>Amorim bersikukuh dengan filosofinya, taktik berbasis formasi 3-4-3. Dia bahkan mengatakan, apabila manajemen menginginkan perubahan, ganti saja orangnya. “Saya tidak akan mengubah filosofinya. Saya akan bermain dengan cara saya, hingga saya ingin mengubahnya,” ungkap dia sebagaimana dikutip <em>ESPN</em> (<em>cnnindonesia.com</em>, 15/9-2025).</p>
<p>Katanya, “Pesan saya, saya akan melakukan segalanya. Saya akan memberikan segalanya. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya lebih menderita daripada (para fans)&#8230;”</p>
<p>Mantan bek MU, Patrice Evra melihat, manajemen tidak akan secepat itu memecat, namun Amorim tak punya alasan untuk gagal lagi mendongkrak performa tim. MU harus tetap memercayai Amorim, karena terus-terusan mengganti pelatih hanya akan merugikan tim.</p>
<p>“Tak bisa dipungkiri Amorim akan menghadapi pemecatan jika hasil-hasil positif tidak diperoleh. Sepak bola itu seperti hutan belantara. Ketika kemenangan tidak kunjung datang, manajernyalah yang pertama harus pergi. Tetapi jika Anda terus-terusan mengganti juru masak, rasa supnya tidak akan pernah tepat,” tutur Evra kepada<em> Stake</em>. (<em>detik.com</em>, 21/8-2025).</p>
<p>Ruben Amorim bagai berdiri di tubir jurang. Jika dia bisa menghadirkan perbaikan performa bagi Bruno Fernandes dkk, artinya dia memanfaatkan waktu yang diberikan oleh manajemen MU. Taktik dan filosofinya perlahan-lahan bisa diaplikasikan. Jika sebaliknya yang terjadi, risiko pemecatan bakal menjadi lebih cepat membentang di hadapan&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/09/20/bakal-lebih-cepatkah-kisah-ruben-amorim-bergulir">Bakal Lebih Cepatkah Kisah Ruben Amorim Bergulir?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chelsea dan Etos Penjinak “Monster”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/07/19/chelsea-dan-etos-penjinak-monster</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2025 10:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Kejuaraan Dunia Antar-Klub]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Paris St Germain]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=485264</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // siapakah monster sejati sepak bola?/ Real Madrid dengan gelimang sejarahnya?/ AC Milan yang pernah melahirkan Tim Impian?/ atau Olympique Marseille, yang mengimitasi?/ Manchester United juga punya karakter/ Barcelona pun meraja/ dan, ketika PSG menyerupai/ Chelsea menjadi penjinaknya// (Sajak “ Sang Monster”, 2025) SEJATINYA, ke manakah sepak bola dunia kini berkiblat? [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/19/chelsea-dan-etos-penjinak-monster">Chelsea dan Etos Penjinak “Monster”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-485265 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/07/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// siapakah monster sejati sepak bola?/ Real Madrid dengan gelimang sejarahnya?/ AC Milan yang pernah melahirkan Tim Impian?/ atau Olympique Marseille, yang mengimitasi?/ Manchester United juga punya karakter/ Barcelona pun meraja/ dan, ketika PSG menyerupai/ Chelsea menjadi penjinaknya//</em><br />
<strong>(Sajak “ Sang Monster”, 2025)</strong></p>
<p><strong>SEJATINYA</strong>, ke manakah sepak bola dunia kini berkiblat?</p>
<p>Ke Kota Paris, Prancis; atau ke London: sebagai personifikasi Paris St Germain dan Chelsea?</p>
<p>Siapa tokoh yang diakui paling berperan di balik performa <em>nggegirisi</em> dua klub yang pekan lalu bertarung di final antarklub dunia itu? Enzo Maresca, atau Luis Enrique?</p>
<p>Dua nama itu kini memuncaki pelataran klub sepak bola. Maresca mengantar Chelsea sebagai juara dunia antarklub, setelah menghentikan “kemonsteran” PSG dengan skor telak 3-0. Sedangkan Enrique sukses membentuk PSG sebagai kekuatan baru Eropa.</p>
<p>Awalnya, PSG dengan status sebagai juara Liga Champions 2025 dan rentetan langkah sensasional untuk melaju ke final, lebih difavoritkan; namun Mareca mampu menghadirkan taktik tepat untuk menjinakkan sang monster.</p>
<p>Aksi-aksi Les Parisiens musim ini telah menyita fokus penggemar bola sejagat. Pada sisi lain, Chelsea menunjukkan berada di trek yang benar dengan grafik kebangkitan sebagai kekuatan elite.</p>
<p>Pemilik PSG, Nasser Al Khelaifi yang penuh ambisi untuk menduniakan klub ini menyatakan, kekalahan dari Chelsea itu tidak mengurangi cahaya musim luar biasa yang mereka raih. Sebaliknya, sebagai tim termuda dalam pengalaman berkompetisi, PSG makin termotivasi. “Para pemain sudah memberikan segalanya untuk sampai ke level ini, dan kami bertekad meraih trofi lebih banyak di waktu mendatang,” kata pria asal Qatar itu.</p>
<p>Liga Prancis, Ligue 1 sering diejek sebagai Liga Petani, diposisikan di bawah standar kompetitif empat liga terbaik Eropa &#8212; Liga Primer, La Liga, Liga Seri A, dan Bundesliga. Ligue 1 di peringkat lima terbawah.</p>
<p>Di level Liga Champions, klub-klub Ligue 1 tak terlalu diperhitungkan. Para pemain tim nasional Prancis moncer karena tertempa berkompetisi di liga-liga mancanegara.</p>
<p>Maka ketika tahun ini PSG menguasai Eropa dengan menumbangkan klub-klub besar, tak sedikit yang memuji, Luis Enrique sukses menjadikan klub ini sebagai monster mengerikan.</p>
<p>Pria asal Spanyol itu mencatat <em>treble</em> (tiga trofi) kedua dalam jejak kepelatihannya. Musim ini dia meraihnya bersama PSG, melengkapi pencapaian serupa pada 2014-2015 untuk Barcelona. Musim ini dia hanya gagal di partai puncak turnamen antarkkub dunia.</p>
<p>Di PSG, dia meracik trio mematikan Ousmane Dembele &#8211; Desire Doue &#8211; Kchiva Kvaratskhelia. Pada 2014 dia melahirkan Trio MSN Lionel Messi &#8211; Luis Suarez &#8211; Neymar Junior yang legendaris.</p>
<p>Sukses mengalahkan Real Madrid dengan skor fantastis 4-0 di semifinal antarklub dunia, menyusul pesta gol 5-0 ke gawang Inter Milan di final Liga Champions, Mei lalu, membuat dua pandit sepak bola Andros Townsend dan juga Gareth Bale tak ragu menyebut PSG sebagai monster.</p>
<p>“Luis Enrique telah berhasil menciptakan monster,” kata Townsend di <em>DAZN</em> (<em>bolanews.com</em>, 10 Juli 2025)</p>
<p>“Mereka terlihat seperti tim yang akan bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama. Mereka sangat muda, tanpa henti, dan selalu ingin mempermalukan tim lawan,” timpal Gareth Bale.</p>
<p>Enrique meneruskan pekerjaan sederet pelatih yang punya reputasi hebat. Dari Carlo Ancelotti, Laurent Blanc, Unai Emery, Thomas Tuchel, Mauricio Pichettino, hingga Cristhope Galtier.</p>
<p><strong>Ambisi Para Investor</strong><br />
Performa PSG tak lepas dari ambisi besar investornya, Syekh Nasser Al Khelaifi, yang ingin bersenang-senang dengan sepak bola. Dia mengucurkan dana besar untuk PSG.</p>
<p>Dia, seperti Syekh Manshour Al Suleimany yang menguasai saham Manchester City di Liga Primer, berambisi menjadikan klubnya sebagai penguasa Eropa. Sama dengan kisah-kisah Silvio Berlusconi di masa jayanya (AC Milan), Bernard Tapie (Marseille), Massimo Moratti (Internazionale Milan), Aurelio de Laurentiis (Napoli), Roman Abramovich (Chelsea), Malcom Glazer (Manchester United), dan kini Jim Rachliffe (MU).</p>
<p>Al Khelaifi telah beberapa kali membuat sensasi transfer. PSG pernah mendatangkan megabintang Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Messi, juga ikon Prancis Kylian Mbappe yang kini pindah ke Real Madrid.</p>
<p>Juara liga menjadi rutinitas selama 10 tahun terakhir, dan sekarang Les Parisiens menguasai Eropa, setelah sempat digagalkan Bayern Muenchen dalam final Liga Champions 2020.</p>
<p>Luis Enrique mampu menghadirkan kerancakan dalam irama permainan PSG. Jamie Carragher, legenda Liverpool yang kini jadi pandit menyetarakan skuad PSG dengan kehebatan Barcelona-nya Pep Guardiola pada semester kedua 2000-an. Permainan mereka mengalir, semua lini bergerak dari pertahanan, gelandang, dan penyerang sebagai orkestrasi yang benar-benar fungsional.</p>
<p>Pada dasawarsa 1990-an, PSG tercatat pernah diperkuat George Oppung Weah dan Ronaldinho. Dua nama ini merupakan bagian dari bakat langka sepak bola yang pernah lahir.</p>
<p>Les Parisiens menapak naik tak lepas dari ambisi Nasser Al Khelaifi bersama Qatar Sports Investment. Dia salah satu dari taipan Timur Tengah yang ingin menginvestasikan uangnya lewat sepak bola.</p>
<p>Selain Al Khelaifi, dua pengusaha Arab lain yang berkiprah di liga Eropa adalah Syekh Manshour Al-Sulaymani pemilik Manchester City, dan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi bersama Public Investment Fund (PIF). Mohammed bin Salman memegang saham terbesar Newcastle United. Kini The Magpies bisa bersaing di papan atas Liga Primer. Tercatat juga beberapa nama yang mengakuisisi klub-klub semenjana di sejumlah liga.</p>
<p>Dengan dukungan dana besar itu, Luis Enrique meracik tim secara leluasa, disesuaikan dengan kebutuhan taktikal dan filosofinya.</p>
<p>Setelah kekalahan dari Chelsea di final kejuaraan dunia, apakah PSG dan Enrique bisa konsisten membangun imperium sepak bola dengan ide dan infrastruktur yang inspiratif?</p>
<p>Kita tentu berharap PSG tidak hanya menjadi monster dengan kehebatan semusim, tetapi juga membangun semua elemen ekosistemnya, dimulai dari pembinaan usia dini di Akademi PSG.</p>
<p>Kekuatan “kemonsteran” akan teruji dari konsistensi mentransformasi permainan berbasis penghayatan taktik dan filosofi. Kita yakin, Enrique sudah punya rencana jangka panjang. Eks pemain nasional Spanyol itu menjadi peletak dasar, setidak-tidaknya penembus konfidensi PSG untuk bersaing di level atas.</p>
<p><strong>Enzo Maresca</strong><br />
Pada sisi lain, Chelsea menemukan orang yang tepat untuk mengawal etos kebangkitan, setelah beberapa pelatih gagal memperbaiki performa The Blues. Pasca-masa emas bersama Jose Mourinho pada 2004-2007, Chelsea ditangani Avram Grant, Luis Felipe Scolari, Ray Willkins, Guus Hiddink, Carlo Ancelotti, Andre Vilas-Boas, Roberto Di Matteo, Rafael Benitez, Steve Holland, Antonio Conte, Maurizio Sarri, Frank Lampard, Thomas Tuchel, Graham Potter, Bruno Saltor, dan Mauricio Pochettino.</p>
<p>Ada di antara mereka yang tidak gagal total dan mempersembahkan trofi, namun pada era Maresca terasa memperlihatkan stabilitas penampilan.</p>
<p>Pelatih asal Italia itu didukung oleh kebijakan transfer dari manajemen di bawah konsorsium BlueCo yang dikoordinasikan oleh Todd Boehly sebagai <em>chairman</em> klub, didampingi direktur Hansjorg Wyss dan Mark Waster. Pemilik lama, Roman Abramovich mundur setelah asetnya dibekukan efek dari serangan Rusia ke Ukraina.</p>
<p>Musim lalu, Chelsea banyak dikritik karena kebijakan transfer yang tidak berimbang di tiap lini. Bahkan Chelsea diejek sebagai “billion-pound bottle-jobs”, untuk menggambarkan skuad mahal yang gagal.</p>
<p>Sebutan itu diungkapkan oleh legenda Manchester United, Gary Neville, setelah Chelsea kalah dari Liverpool di final Piala Liga. Ketika itu Chelsea dinilai membuang kesempatan emas untuk juara melawan Liverpool yang menurunkan banyak pemain pelapis.</p>
<p>Harus diakui, musim itu Chelsea masih dalam transisi stabilisasi. Mereka kesulitan menemukan konsistensi permainan dengan banyak pemain muda yang kurang pengalaman.</p>
<p>Pergantian pelatih terjadi di awal musim 2024-2025 dari Pochettino ke Enzo Maresca. Perlahan-lahan The Blues memperbaiki performa, dan malah menjadi juara dunia, dengan mengalahkan juara Liga Champions. Masresca sukses menghadirkan etos penjinakan “sang monster”.</p>
<p>Sampai di sini dia bisa meracik dan menemukan inti tim. Dia menepikan banyak pemain, dan menjadikan Enzo Fernandez, Cole Palmer, Marc Cucurella, Moises Caicedo, dan Pedro Neto sebagai pilar, yang terbukti menciptakan keseimbangan skematika.</p>
<p>Di final antarklub dunia, Maresca puas dengan penampilan penggawanya. Secara spesifik dia menyebut 10 menit pertama sebagai periode paling krusial. Di momen itulah Chelsea berhasil mengatur tempo dan mendikte pertandingan.</p>
<p>Intensitas dan cara bermain di awal laga itu menjadi fondasi kemenangan, meskipun kondisi cuaca diakui membuat mereka sulit menjaga konsistensi selama 90 menit penuh. “Bagi saya, kami memenangkan pertandingan di sepuluh menit pertama. Kami mengatur tempo, mengatur permainan yang ingin kami mainkan. Kami tampil sangat baik,” katanya.</p>
<p>“Kemonsteran” PSG sejauh ini, dan sukses Chelsea memenangi trofi klub dunia, bagaimanapun membuka peta baru tentang kekuatan sepak bola, ambisi para investor, filosofi kepelatihan, dan kiprah impresif sejumlah pemain.</p>
<p>Liga Eropa musim 2025-2026 nanti saya perkirakan bakal diwarnai atmosfer rivalitas yang berbeda&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/07/19/chelsea-dan-etos-penjinak-monster">Chelsea dan Etos Penjinak “Monster”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meraba Nasib, Menakar Pencapaian</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/01/04/meraba-nasib-menakar-pencapaian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jan 2025 10:00:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Nottingham Forest]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=454804</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // bicaralah soal masa depan/ takkan ada yang bisa memastikan/ kecuali dengan matang persiapan/ dan konsistensi penampilan/ nasib dan pencapaian/ tak juga bisa diraba// (Sajak &#8220;Meraba Nasib&#8221;, 2025) NASIB memang tak bisa diraba, namun pencapaian sebuah tim sepak bola dapat diperkirakan dari &#8212; misalnya &#8212; sejauh mana posisi dalam klasemen pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/04/meraba-nasib-menakar-pencapaian">Meraba Nasib, Menakar Pencapaian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-454806 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// bicaralah soal masa depan/ takkan ada yang bisa memastikan/ kecuali dengan matang persiapan/ dan konsistensi penampilan/ nasib dan pencapaian/ tak juga bisa diraba//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Meraba Nasib&#8221;, 2025)</strong></p>
<p><strong>NASIB</strong> memang tak bisa diraba, namun pencapaian sebuah tim sepak bola dapat diperkirakan dari &#8212; misalnya &#8212; sejauh mana posisi dalam klasemen pada etape menentukan. Setidak-tidaknya, pada titik tertentu, tergambar kondisi rivalitas dengan tim-tim lain.</p>
<p>Kalau tak ada aral, misalnya, atau jika tidak ada rongrongan yang mengganggu, kita bisa menakar seperti apa raihan Liverpool, Arsenal, Chelsea, Nottingham Forest, dan Manchester City dalam perjalanan musim 2024-2025 Liga Primer.</p>
<p>Juga bagaimana etape akhir yang akan memosisikan peraih scudetto di Liga Seri A. Apakah laju Atalanta tak tertahankan, atau Napoli, Internazionale Milan, atau mungkin Lazio yang berjaya?</p>
<p>Bagaimana pula dengan konstelasi juara di La Liga, Bundesliga, Ligue 1, atau Eredivisie? Apakah kekuatan-kekuatan tradisi tetap mendominasi, atau ada pergeseran peta pada tahun ini?</p>
<p>Percaturan pemain juga menjadi amatan tak kalah menarik. Bagaimana jejak selanjutnya Lamine Yamal, youngstar Barcelona di tengah atraktivitas Kylian Mbappe yang mulai bisa beradaptasi di Real Madrid?</p>
<p>Bagaimana pula dengan Vinicius Junior dan Jude Bellingham yang terus menyala dalam sentuhan pelatih Carlo Ancelotti di Los Blancos?</p>
<p>Di Liga Primer, kita fokus pada perkembangan Cole Palmer yang makin progresif bersama Chelsea. Juga Amad Diallo, yang di tengah kemelut performa Manchester United, tampaknya cocok dengan pendekatan Ruben Amorim, manajer suksesor Erik Ten Hag.</p>
<p>Performa Mohammed Salah juga makin mendekatkan dia pada kelayakan sebagai pemain terbaik dunia tahun ini. Dengan gol-gol dan assist-nya, Si Raja Mesir itu mengangkat Liverpool sebagai kandidat terkuat juara liga. Dia makin menegaskan diri sebagai kunci The Reds, walaupun &#8220;drama&#8221; masa depannya di Anfield sejauh ini masih menggantung.</p>
<p>Di bagian lain, dalam peta tim nasional Indonesia, tahun 2025 disambut dengan debar penantian. Maret mendatang, nasib kelolosan ke putaran final Piala Dunia akan terbaca.</p>
<p>Apakah Jay Idzes dkk mampu mengamankan peluang untuk lolos langsung dari babak ketiga Grup C? Atau harus berjuang di babak keempat, dan mengarungi petualangan baru? Atau malah sepahit kegagalan lolos dari Grup C?</p>
<p>Gambaran-gambaran itu sudah teraba pada tahun lalu, dan akan menemui realitasnya pada tahun ini.</p>
<p><strong>Seru di Inggris</strong><br />
Musim ini, Liga Primer menghadirkan pertarungan di etape penentuan yang betul-betul seru. Sejauh ini, Liverpool memimpin dengan selisih poin atas Nottingham Forest, Arsenal, dan Chelsea.</p>
<p>Pada sisi lain, juara musim lalu, Manchester City di luar dugaan masuk ke kondisi remuk redam, melorot hingga peringkat ketujuh. Performa dalam 13 laga mempurukkan skuad Pep Guardiola dalam keterbenaman kesulitan untuk bangkit. Hanya dua kali menang, dua kali imbang, dan sembilan kali kalah.</p>
<p>Apakah kemenangan 2-1 atas Leicester City pada pekan lalu menjadi awal dari kembalinya kepercayaan diri The Citizens?</p>
<p>Sedangkan Manchester United yang memecat Erik Ten Hag dan mendatangkan Ruben Amorim belum juga memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan. MU bahkan masuk ke periode sulit, mendekat ke zona degradasi. Apabila Minggu besok hasil buruk dialami di markas Liverpool, MU jelas berada dalam masalah besar.</p>
<p>Dari konstelasi itu, apakah bisa disimpulkan: di bawah Arne Slot yang menggantikan Juergen Klopp, Liverpool adalah kandidat terkuat juara musim ini?</p>
<p>Dibandingkan dengan Chelsea yang diarsiteki Enzo Maresca, dan Arsenal di bawah Mikael Arteta, The Reds lebih konsisten. Mohammed Salah dkk menjadi pasukan yang selain produktif juga solid dalam pertahanan.</p>
<p>Nottingham Forest juga menyeruak ke percaturan atas. Di bawah arsitek Nuno Espirito Santo, tanpa banyak diperkirakan Anthony Elanga dkk tampil impresif. Bahkan sempat menduduki urutan kedua klasemen, di atas tim-tim mapan Arsenal, Chelsea, dan Newcastle United.</p>
<p>Liga Primer adalah bagian dari liga-liga yang menjadi magnet, karena keberadaan bintang-bintang dunia, para pelatih top, serta dinamika peredaran pemain dan pelatih yang tak jarang penuh dengan drama.</p>
<p><strong>Meraba Timnas Garuda</strong><br />
Tahun 2025 ini menjadi penantian menarik bagi fans Garuda. Indonesia masih akan bertemu dengan Australia, Bahrain, Cina, dan Jepang untuk memastikan negara mana yang bisa lolos langsung dari Zona Asia ke Piala Dunia 2026.</p>
<p>Jepang masih memimpin klasemen, dan menunggu negara mana yang mendampingi langsung sebagai runner up. Indonesia memang menargetkan lolos sebagai urutan ketiga atau keempat Grup C, untuk berjuang di babak keempat.</p>
<p>Maret nanti, Indonesia dijadwalkan bertemu dengan Australia di kandang mereka, lima hari kemudian menjamu Bahrain di Jakarta. Dua pertandingan ini akan memberi gambaran sejauh mana peluang Garuda di sisa laga Grup C.</p>
<p>Beberapa event tak kalah menarik menanti timnas kita di sejumlah kelompok usia. Termasuk putaran final Piala Asia U17 di Arab Saudi, dan U20 di Cina. Juga SEA Games di Thailand dalam posisi Indonesia sebagai juara bertahan cabang sepak bola.</p>
<p>Masa depan timnas dan jalan selanjutnya pelatih Shin Tae-yong akan mewarnai dinamika tahun 2025. Performa dan evaluasi dipastikan bakal menjadi bagian dari langkah PSSI, di tengah proyek naturalisasi pemain yang menjadi atmosfer PSSI sepanjang satu setengah tahun terakhir ini.</p>
<p>Lalu bagaimana kita meraba nasib dan menakar pencapaian klub-klub, juga timnas Indonesia?</p>
<p>Sepak bola menjadi menarik antara lain karena ketidakpastiannya. Bukankah terkadang nasib tak bisa diraba, pencapaian juga sulit dipastikan?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/04/meraba-nasib-menakar-pencapaian">Meraba Nasib, Menakar Pencapaian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Lagi, “The Next Messi”, Ibrahim Rabbaj&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/11/02/satu-lagi-the-next-messi-ibrahim-rabbaj</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2024 10:00:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Cole Palmer]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim Rabbaj]]></category>
		<category><![CDATA[id]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Maroko]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderkid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=444260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dunia takkan henti berharap/ ada penerus sang legenda/ putra mahkota yang mengganti/ di singgasana maharaja/ dari masa ke masa&#8230;// (Sajak “The Next Messi”, 2024) KETIKA sorotan dan puja-puji untuk Cole Palmer terus menghangat, Chelsea menghadirkan lagi percaturan tentang wonderkid baru. Susul-menyusul memberi gambaran tentang aset pemain masa depan. Ibrahim Rabbaj. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/02/satu-lagi-the-next-messi-ibrahim-rabbaj">Satu Lagi, “The Next Messi”, Ibrahim Rabbaj&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-444267 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/11/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dunia takkan henti berharap/ ada penerus sang legenda/ putra mahkota yang mengganti/ di singgasana maharaja/ dari masa ke masa&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “The Next Messi”, 2024)</strong></p>
<p><strong>KETIKA</strong> sorotan dan puja-puji untuk Cole Palmer terus menghangat, Chelsea menghadirkan lagi percaturan tentang <em>wonderkid</em> baru. Susul-menyusul memberi gambaran tentang aset pemain masa depan.</p>
<p>Ibrahim Rabbaj. Nama bocah berdarah Inggris-Maroko itu kini beredar di orbit utama sepak bola Inggris. Dan, bukan tidak mungkin tak lama lagi menjadi penghias media-media yang mengangkatnya sebagai fokus aktual.</p>
<p>Predikat mediatika sebagai “The Next Messi” menggaungkan potensi Rabbaj sebagai calon penerus La Pulga. Sejauh ini, dari tahun ke tahun, begitu banyak orang dan klub terinspirasi untuk menemukan pengganti pemegang delapan trofi Ballon d’Or itu, namun beberapa di antaranya malah berkembang tak sesuai dengan harapan, atau tak sedikit yang perlahan-lahan tenggelam&#8230;</p>
<p>Rabbaj beredar ketika liga-liga sepak bola terfokus pada aksi-aksi <em>wonderkid</em> lainnya yang lebih dahulu beredar. Ada Lamine Yamal, ada pula Jude Bellingham, Arda Guler, Kobbie Mainoo, dan anak ajaib Chelsea lainnya, Cole Palmer.</p>
<p>Cole Palmer lebih banyak muncul dan kini menjelma sebagai bintang utama klub London Barat itu. Pelatih Enzo Maresca memercayainya sebagai elemen solusi, sedangkan Rabbaj masih dalam proses perjuangan untuk dipromosikan ke tim utama.</p>
<p>Dalam usia 15 tahun, pemain berdarah Inggris dan Maroko itu menjadi andalan tim Akademi Chelsea, setelah sebelumnya dibeli dari Crystal Palace pada 2021. Catatan luar biasa, mencetak 52 gol dan 60 <em>assists</em> dari 40 pertandingan jelas bukan capaian sembarangan.</p>
<p>Predikat sebagai “Messi baru” tentu beralasan. Penampilannya sangat mirip dengan Lionel Messi, yang biasa beroperasi sebagai gelandang serang dan sayap kanan. Dalam berbagai rekaman video, terlihat dengan dribel prima Rabbaj suka beraksi dengan tusukan-tusukan ke tengah, dan tembakan kaki kiri sebagai andalan. Rambut panjang yang dibiarkan terurai juga mengingatkan masa-masa remaja Messi saat pertama kali diorbitkan di tim utama Barcelona.</p>
<p>Rabbaj mulai dipanggil ke Timnas Inggris U16. Dan, dari darah sang ayah, dia juga masih bisa membela timnas Maroko apabila nanti memutuskan berkewarganegaraan selain Inggris.</p>
<p><strong>“New-new” Lainnya</strong><br />
Aksi media menyematkan predikat “new” untuk para <em>wonderkid</em> menjadi hal jamak yang mengikuti pemunculan para pemain dengan performa bakat istimewa.</p>
<p>Dulu, misalnya, kita mengenal Ronaldo Luis Nazario sebagai “New Pele”, yang pada awal 1990-an digadang-gadang sebagai pengganti Luis Arantes Do Nascimento, pemain Brasil terbesar sepanjang sejarah.</p>
<p>Bagaimanapun, itu adalah ekspresi harapan, ungkapan kerinduan, dan balutan doa dari mimpi-mimpi rakyat Brazil agar pemain sekelas Pele lahir kembali.</p>
<p>Arthur Coimbra, yang lebih kita kenal dengan sebutan Zico, adalah salah satu talenta yang paling diharapkan. Si “Pele Putih” ini dikenal konsisten berjalan dengan bakat dan kesadaran profesional dalam merawat kemampuan. Zico melejit dari Piala Dunia 1978, dan mampu mempertahankan kemampuan hingga Spanyol 1982 dan Meksiko 1986.</p>
<p>Selain Zico, Brazil juga melahirkan Socrates, Rai, Bebeto, hingga Romario Faria, namun “El Fenomeno” Ronaldo Luis Nazario menjadi yang paling moncer. Setelah itu hadir Rivaldo, Ricardo Kaka, Robinho, Ronaldinho, lalu Neymar Junior.</p>
<p>Kini, orang selalu menyebut “Messi baru” ketika menyambut kehadiran <em>wonderkid</em> dari berbagai belahan dunia. Di Argentina sendiri, pemain yang diharapkan bisa meraih singgasana itu antara lain adalah Claudio Echeverri, kapten tim U17 Albiceleste yang berjejuluk “El Diablito”, Si Iblis Kecil. Publik sepak bola di Tanah Air cukup mengenalnya, karena dialah yang mengonduktori permainan Argentina di arena Piala Dunia U17 di Indonesia.</p>
<p>Sementara itu, ketika Inggris berharap terhadap kematangan Cole Palmer dan keberkembangan Ibrahim Rabbaj, sejatinya mereka sedang mengidentifikasi kehadiran bintang untuk meraih kembali kejayaan Piala Dunia 1966, turnamen terakhir Tim Tiga Singa mengangkat trofi.</p>
<p>Pada 1990, di Piala Dunia Italia, Paul Gascoigne hadir sebagai “wonderkid”. Gazza memang menampilkan talenta langka, namun karena “kesibukan” bergulat dengan persoalan personal, dia gagal mengangkat performa timnas, termasuk ketika tampil istimewa di Euro 1996. Bakatnya pun tak tereksplorasi dan terekspresi secara maksimal.</p>
<p>Lima tahun lalu Inggris berharap pada Jack Grealish, gelandang Manchester City yang disebut-sebut sebagai “New Gascoigne”, predikat yang juga sempat disematkan kepada Joe Cole, yang menjadi andalan West Ham, Chelsea, kemudian Liverpool.</p>
<p>Para anak ajaib yang digadang-gadang itu tak berkembang sebagai pemain besar: dari Raheem Sterling, Marcus Rashford, Jadon Sancho, hingga Jude Bellingham. Kini, yang terbilang baru: Kobbie Mainoo yang masih bersaing untuk berkembang dengan Bellingham dan sederet anak ajaib Vitor Roque, Arda Guler, Mathys Tel, Warren-Zaire Emery, Bukayo Saka, Endrick, dan Lamine Yamal.</p>
<p><strong>Gagal Meroket</strong><br />
Tak sedikit, pemain yang menyandang harapan besar akhirnya malah tenggelam, atau setidak-tidaknya beredar dalam level semenjana.</p>
<p>Anda pasti ingat Lee Seung-woo, yang pada 2012-an memberi harapan besar dari Akademi La Masia. Karena bakatnya yang istimewa, dia mendapat julukan “Messi dari Korea”. Akan tetapi, Seung-woo gagal masuk ke tim utama Barca. Dia pernah memperkuat Hallas Verona di Serie A, St Trident di Liga Belgia, dan akhirnya bermain di Liga Korea bersama Suwon FC, dan kini Hyunbok Hyundai.</p>
<p>Takefusa Kubo masih lebih berkembang. “Messi Jepang” itu sempat bermain untuk Real Madrid, dan kini menjadi andalan klub La Liga, Real Sociedad.</p>
<p>Perjalanan karier Ansu Fati, “New Messi” lain sebelum Lamine Yamal juga tak kalah pelik. Di masa kepelatihan Xavi Hernandez, sayap lincah dengan kaki kiri istimewa ini sempat dipinjamkan ke Brighton and Hove Albion, dan kini kembali ke Barcelona. Orang sudah melupakan harapan kepadanya sebagai penerus Messi. Ansu juga kalah bersaing dengan Yamal, yang kini sudah menjadi pemain inti di tim utama Barca, dan menerima Trofi Kopa 2024, sebagai pemain terbaik dunia di bawah usia 21.</p>
<p>Peraih Ballon d’Or 2024, Rodri, dalam pidatonya di Theatre du Chatelet, Paris, 29 Okrober lalu, tak ragu menjagokan Yamal meraih trofi itu tahun depan, “Lamine Yamal selanjutnya akan memenangkan Ballon d’Or. Saya yakin itu. Teruslah berjuang, teruslah bekerja keras. Kamu berikutnya”.</p>
<p>Anda mungkin juga mencatat, Mohamed Salah yang kini masih sangat diandalkan Liverpool, dulu mendapat julukan “Messi dari Mesir”. Ketika direkrut Chelsea dari FC Basel, dia jarang mendapat menit bermain dari pelatih Jose Mourinho. Bahkan terkesan, bakat Mo Salah tersia-siakan di Stamford Bridge.</p>
<p>Mohamed Salah baru berkembang setelah pindah ke Fiorentina. Dari La Viola dia direkrut AS Roma dan betul-betul pesat melejit. Setelah itu, sejak 2017 dia diambil Liverpool dan betul-betul menjadi andalan utama, baik di bawah pelatih Juergen Klopp maupun Arne Slot sekarang.</p>
<p>Kembali ke Chelsea. Dalam waktu dua-tiga tahun mendatang, Ibrahim Rabbaj akan bersaing dengan mereka yang kini disebut-sebut sebagai penerus Messi. Dia akan berpacu dengan seniornya, Cole Palmer, lalu Lamine Yamal yang dalam usia tidak terlalu jauh sudah menjadi pemain inti Barcelona, dan menjadi sosok utama yang kuat sebagai penerus Messi.</p>
<p>Dengan perfoma dan personifikasi yang sangat mirip, jangan-jangan Messi sendiri nanti yang akan terbelalak dan tersenyum simpul melihat aksi-aksi Ibrahim Rabbaj.</p>
<p>Dia akan menjadi “separuh jiwa”, kalau bukan “seutuhnya”&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/11/02/satu-lagi-the-next-messi-ibrahim-rabbaj">Satu Lagi, “The Next Messi”, Ibrahim Rabbaj&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 10:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arne Slot]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Maresca]]></category>
		<category><![CDATA[Eric ten Hag]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Mikael Arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=438362</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak mungkin alam tak bergerak/ dalam pusaran waktu/ ia adalah keharusan hukum/ yang menapak dalam jejak/ yang bergerak dalam keniscayaan/ bisa lebih baik/ atau sebaliknya&#8230;// (Sajak “Hukum Alam Sepak Bola”, 2024) SEBUAH perubahan, pastikah menjamin perbaikan? Pertanyaan itu meniscayakan dua jawaban, antara ya dan tidak. Antara memberi realitas perbaikan, atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola">Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-438368 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak mungkin alam tak bergerak/ dalam pusaran waktu/ ia adalah keharusan hukum/ yang menapak dalam jejak/ yang bergerak dalam keniscayaan/ bisa lebih baik/ atau sebaliknya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Hukum Alam Sepak Bola”, 2024)</strong></p>
<p><strong>SEBUAH</strong> perubahan, pastikah menjamin perbaikan?</p>
<p>Pertanyaan itu meniscayakan dua jawaban, antara ya dan tidak. Antara memberi realitas perbaikan, atau justru sebaliknya. Itu adalah kondisi aksiomatis dalam manajemen bidang apa pun.</p>
<p>Apa yang tergambar untuk klub-klub sebesar Barcelona, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea adalah cermin risiko perbaikan. Penyegaran bukan hanya terkait estafeta kepelatihan, tetapi juga dengan melepas sejumlah pemain dan merekrut materi baru.</p>
<p>Barcelona secara luar biasa beruntun menang dalam tujuh laga awal di La Liga. Hansi Flick, pengganti Xavi Hernandez, menyajikan konsistensi bermain dari taktik yang dia skemakan. Sejumlah pemain juga tampil gacor, menikmati taktik Flick. Ketajaman Robert Lewandowski, Raphinha, dan Dani Olmo bagai monster mengerikan bagi kiper lawan.</p>
<p>Dari hasil sementara ini, perubahan yang dilakukan manajemen Barca bisa dibilang sukses. Penyegaran pemain juga oke. Dani Olmo, alumni La Masia yang diambil dari Borussia Dortmund memperlihatkan sebagai rekrutan pas bagi kebutuhan Blaugrana.</p>
<p>Lihat pula Liverpool, yang didampingi pelatih baru, Arne Slot sebagai pengganti Juergen Klopp. Ada nuansa baru di Anfield. Sempat kalah mengejutkan, 0-1 dari Nottingham Forest, Mohammad Salah dkk kini menjadi salah satu penantang bagi kekukuhan Manchester City yang konsisten dengan produktivitas di laga-laga awal.</p>
<p>Arsenal, yang tetap di bawah Mikael Arteta, hadir dengan enam amunisi baru. Antara lain, mempermanenkan kiper David Raya yang semula dipinjam dari Brentford. Juga Marquinhos, dan meminjam <em>winger</em> Raheem Sterling selama satu musim dari Chelsea.</p>
<p>Untuk sementara, pilihan Arteta tidak keliru. Arsenal makin impresif dengan kematangannya. Hasil imbang 2-2 melawan The Citizens di Etihad menjadi gambaran bahwa penyegaran yang dilakukan pelatih asal Spanyol itu berada di trek yang tepat.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Chelsea?</p>
<p>The Blues kini berada dalam bimbingan Ezo Maresca yang menggantikan Mauricio Pochettino. Chelsea banyak dikritik melakukan penyegaran pemain secara berlebih di sejumlah posisi, namun perlahan tapi pasti mulai stabil dengan tampilan dan hasil-hasil menjanjikan. Peringkat kelima di klasemen sementara dengan lima kali menang, sekali seri, dan sekali kalah menjadi catatan pembuka yang tidak buruk bagi Maresca di Liga Primer.</p>
<p><strong>Manchester United</strong><br />
Yang menjadi sorotan penting Liga Primer, bahkan liga-liga Eropa saat ini adalah Manchester United. Sang pemilik baru, Jim Ratcliffe mempertahankan Eric Ten Hag, namun apabila tidak ada perubahan yang menjanjikan, bukan tidak mungkin pelatih asal Belanda itu akan dievaluasi.</p>
<p>Ten Hag, yang dua musim lalu menggantikan Ralf Rangnick, pada periode pertamanya memberi harapan bagi penyegaran MU, yang belum juga mampu meraih trofi sejak kali terakhir pada 2013. Kini dia berkutat pada efektivitas rekrutmen pemain.</p>
<p>Dulu, Rangnick menganalisis, MU butuh “bedah jantung”, artinya membutuhkan perubahan total. Manajemen sudah sepenuhnya di bawah kendali Jim Ratcliffe, namun apakah “operasi jantung” dalam manajemen klub telah menyentuh wilayah teknis?</p>
<p>Kini disebut-sebut MU akan melepas tiga pemain yang bergaji mahal &#8212; Rp 7 miliar per pekan &#8212; yakni Casemiro, Christian Eriksson, dan Victor Lindelof. Setan Merah sudah berhasil mendapatkan Joshua Zirkzee, Leny Yoro, Matthijs de Light, Noussair Mazraoui, dan Manuel Ugarte. Dan, inilah tantangan bagi Ten Hag untuk meraciknya menjadi adonan yang sedap.</p>
<p>Penyegaran ibarat langkah spekulatif dalam membangun performa tim. Sejauh ini, dari lima laga, Eric Ten Hag belum menampilkan permainan gacor. Perubahan komposisi pemain juga belum menjawab, apakah sesuai dengan analisis “operasi jantung” ala Rangnick?</p>
<p><strong>Tesis &#8211; Antitesis</strong><br />
Kompetisi di sebuah liga seperti menyajikan kondisi pertarungan tesis &#8211; antitesis &#8211; sintesis. Satu klub dengan klub yang lain saling mencari formula dari teori-teori dan praktik yang saling mematahkan tesis antarpelatih.</p>
<p>Tesis, antitesis, dan sintesis adalah “hukum alam”, atau bahkan “sunnatullah” yang akan terpastikan dari perjalanan yang telah tergariskan dari ikhtiar-ikhtiar para pelakunya. Semua berusaha dengan segala modalitasnya, dan garis “langit”-lah yang akhirnya menentukan.</p>
<p>Rivalitas kejeniusan Pep Guardiola, Mikael Arteta, Arne Slot, Enzo Maresca, dan Eric Ten Hag mengetengahkan persaingan bukan hanya ketetapan dalam meracik penyegaran, tetapi juga taktik yang bisa berbeda-beda sesuai kebutuhan di setiap laga.</p>
<p>Lalu siapa taktikus Liga Primer yang akan menjadi “the last man standing”, seperti juga perjalanan yang dihadapi oleh Hansi Flick di La Liga?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola">Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catat Ini; &#8220;Deklarasi&#8221; Arsenal&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/12/catat-ini-deklarasi-arsenal</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Aug 2023 10:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=359142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // bersiaplah menikmati keseimbangan/ takkan selamanya panggung terdominasi/ ada saat cahaya berpihak/ ada saat pula cahaya terbagi&#8230;// (Sajak &#8220;Persaingan&#8221;, 2023) STATEMEN kiper Arsenal, Aaron Ramsdale sungguh memperlihatkan spirit peburuan yang ketat dan menantang. Kemenangan lewat adu penalti dalam laga Community Shield di Wembley, pekan lalu, dia sebut sebagai &#8220;pernyataan&#8221; bahwa Arsenal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/12/catat-ini-deklarasi-arsenal">Catat Ini; &#8220;Deklarasi&#8221; Arsenal&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-359146 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/BOLA-BOLA-LOGO.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// bersiaplah menikmati keseimbangan/ takkan selamanya panggung terdominasi/ ada saat cahaya berpihak/ ada saat pula cahaya terbagi&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Persaingan&#8221;, 2023)</strong></p>
<p><strong>STATEMEN</strong> kiper Arsenal, Aaron Ramsdale sungguh memperlihatkan <em>spirit</em> peburuan yang ketat dan menantang.</p>
<p>Kemenangan lewat adu penalti dalam laga Community Shield di Wembley, pekan lalu, dia sebut sebagai &#8220;pernyataan&#8221; bahwa Arsenal sudah siap untuk bersaing dengan Manchester City.</p>
<p>Terkesan pula &#8220;deklarasi&#8221; itu sebagai ungkapan membangun konfidensi, untuk tidak menyebutnya intimidatif.</p>
<p>Kapten City, Kevin de Bruyne mengakui, suasana rivalitas musim ini bakal semakin sulit. Arsenal dia nilai menemukan tiga sosok pemain yang betul-betul dibutuhkan untuk memperkuat tim. Kai Havertz di posisi penyerang, Declan Rice sebagai gelandang, dan Julian Timber di sektor bek kiri.</p>
<p>Bayangkanlah betapa besar harapan fans The Gunners musim ini. Setelah dua musim yang penuh optimisme namun membentur kenyataan stabilitas City, Martin Odegaard dkk makin membekali diri dengan kesiapan bersaing. Perlahan-lahan, <em>coach</em> Mikel Arteta membawa penyegaran tidak hanya dalam performa teknis, tetapi juga mental.</p>
<p>Tentu takkan sesederhana itu memperkirakan perburuan trofi Liga Primer hanya menjadi domain City dan Arsenal, karena sejumlah klub lain juga serius berbenah untuk melakukan &#8220;penyodokan&#8221;.</p>
<p>Liverpool, apa yang dilakukan? The Reds mencoba memanaskan kembali &#8220;sepak bola heavy metal&#8221; Juergen Klopp setelah tampil tidak konsisten musim 2022-2023.</p>
<p>Ingat, pelatih Eric ten Hag juga penuh keyakinan menyampaikan, Manchester United mulai tampil di pramusim dengan standar yang dia inginkan, setelah melewati perekrutan pemain yang dibutuhkan. Apalagi andai nanti Syekh Jassim dari Qatar telah sah mengambil alih klub dari keluarga Glazer.</p>
<p>Newcastle United juga tidak main-main. Latar belakang dana besar Pangeran Mohamed bin Salman membuat Eddie Howe leluasa merancang tim. Begitu juga Brighton and Hove Albion yang memperlihatkan impresivitas di dua musim terakhir.</p>
<p>Tak kalah mengancam, Chelsea. Renovasi tim sedang dilakukan oleh Mauricio Pochettino, setelah musim yang jeblok dan meluruhkan standar The Blues. Apa yang akan terjadi dengan Chelsea musim ini, tentu masuk di tengah arena perseteruan Arsenal-City.</p>
<p><strong>Belum Tergoyahkan</strong><br />
Dominasi City dalam tiga musim terakhir terbukti belum tergoyahkan. Ancaman serius Arsenal yang memimpin klasemen di hampir dua pertiga musim kemarin bisa dihentikan, antara lain karena inkonsistensi Meriam London sendiri. The Citizens pun bisa menyalip. Tim Pep juga meredam ambisi Arsenal di Piala FA yang kemudian menjadi elemen meraih <em>treble</em>.</p>
<p>Community Shield memang bukan ajang utama. Pep Guardiola pun tak ambil pusing terhadap kekalahan di Wembley itu, karena dalam setidak-tidaknya empat tahun terakhir telah membuktikan fakta &#8220;tak tersentuh&#8221;.</p>
<p>Bahwa Mikel Arteta mulai mengantar tim asuhannya mengurai belenggu inferioritas dalam laga tradisi membuka musim adalah kenyataan pula.</p>
<p>Bukankah dari sisi mental, hasil ini akan meningkatkan tensi setiap pertemuan antara dua tim yang sama-sama diracik oleh dua genius muda itu?</p>
<p>Sama-sama kaya pemain kunci, variasi perubahan taktik, karakter bermain, dan tinggal bagaimana mengelola psikologi penaklukan.</p>
<p><strong>Kedalaman Skuad</strong><br />
Kedalaman skuad dan keseimbangan tim menjadi prioritas Arteta. Bergabungnya Declan Rice dan Kai Havertz jelas meleluasakannya dalam menyusun racikan konsisten. Dalam laga Community Shield, keduanya memberi &#8220;<em>declare</em>&#8221; bakal memberi ancaman kepada klub mana pun.</p>
<p>Arteta punya Kieran Tierney, Mohamed Elneny, Ben White, juga Takehiro Tomiyasu di barisan belakang. Lalu selain Rice ada Odegaard, Jorginho, Oleksandr Zinchenko, Gabriel Martinelli, dan Granit Xhaka.</p>
<p>Lini penyerang terasa mewah dengan kehadiran Kai Havertz yang <em>technicy</em>, melengkapi amunisi yang cukup dalam Bukayo Saka, Gabriel Jesus, Leandro Tossard, dan Eddie Nketiah.</p>
<p>Rasanya, bila faktor-faktor mental dan konsistensi bisa diatasi, Arsenal tak patut lagi inferior di hadapan superioritas The Citizens. Bahkan bisa mulai membangun superiotasnya sendiri&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/12/catat-ini-deklarasi-arsenal">Catat Ini; &#8220;Deklarasi&#8221; Arsenal&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jul 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[harry-kane]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Mauricio Pochettino]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=353441</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // usung dan hadirkanlah keberanian/ untuk sebuah perubahan/ raihlah cahaya/ yang dulu kalian pancarkan/ ke seantero liga dan Eropa// (Sajak &#8220;Standar Chelsea&#8221;, 2023) &#8220;SELALU, jadilah pemberani. Saya suka menjadi seorang pemberani. Dari mana saya mendapatkan gagasan bahwa kita harus menekan? Ini tentang kepribadian Anda, jatidiri di lapangan. Jika Anda pemberani dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea">Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-353443 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// usung dan hadirkanlah keberanian/ untuk sebuah perubahan/ raihlah cahaya/ yang dulu kalian pancarkan/ ke seantero liga dan Eropa//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Standar Chelsea&#8221;, 2023)</strong></p>
<p>&#8220;<strong>SELALU</strong>, jadilah pemberani. Saya suka menjadi seorang pemberani. Dari mana saya mendapatkan gagasan bahwa kita harus menekan? Ini tentang kepribadian Anda, jatidiri di lapangan. Jika Anda pemberani dalam hidup, tidak mungkin Anda berperilaku berbeda di lapangan&#8230;”</p>
<p>Filosofi Mauricio Pochettino itu, yang dicatat oleh <em>Wikipedia</em>, tercermin dalam impresivitas gaya bermain Tottenham Hotspur era 2014-2019, melekat sebagai standar klub London Utara itu.</p>
<p>Cepat, ofensif, dengan “sinar” yang identik memusat pada dua penggawanya, sang kapten hebat Harry Kane dan gelandang serang berkualitas elite, Son Heung-min.</p>
<p>Dari semua aspek, kepemimpinan Pochettino menghadirkan Tottenham Hotspur yang menakutkan. Hanya satu kekurangannya: The Lilywhites belum menghasilkan trofi liga. Pencapaian puncaknya adalah Liga Champions saat kalah dari Liverpool dalam All Premier League Final 2019, dan urutan kedua klasemen Liga Primer 2017.</p>
<p>Walaupun memberi gelar juara Ligue 1 dan Piala Prancis, Poch gagal mengusung “standar Spurs” itu di Paris St Germain dalam kebersamaan yang hanya semusim pada 2022.</p>
<p>Spirit klub yang berbeda dalam daya kompetisi tidak pas untuk transformasi kultur pemberani Poch yang penuh jiwa petualangan eksperimental. PSG yang mengandalkan kekuatan finansial dalam perekrutan pemain, berbeda dalam karakter mengarungi tekanan tantangan kompetisi.</p>
<p><strong>Pemulihan Standar</strong><br />
Nah, apakah Chelsea bakal menjadi pelabuhan yang tepat bagi pria Argentina kelahiran 1972 itu?</p>
<p>The Blues sarat prestasi liga di era Jose Mourinho (2004-2007), Carlo Ancelotti (2016), dan Antonio Conte (2017), membendaharakan trofi Liga Champions lewat karteker Roberto Di Matteo pada 2012, dan Thomas Tuchels 2021, juga menjuarai Liga Europa di tangan Rafael Benitez 2015 dan Maurizio Sarri 2019. Jejak cemerlang itu berbeda dari Tottenham Hotspur yang kering gelar.</p>
<p>Chelsea tidak berperforma seimpresif Spurs, namun klub ini adalah “entitas dengan otot kuat”, dengan karakter dan kultur pemenangan yang dibangun oleh Mourinho sejak 2004. Kultur itu berpadu dengan semangat ambisius investasi Roman Abramovic, yang menghasilkan stuktur tim dengan fondasi bintang-bintang dunia.</p>
<p>Poch datang ke Stamford Bridge ketika Chelsea sedang mengalami kesenjangan dengan masa lalu. Musim 2022-2023 bagai menghapus semua elemen kekuatan yang melekat di klub tersebut. Nyaris tak terlihat sisa-sisa tradisi dan keunggulan.</p>
<p>Kepemilikan klub beralih ke Todd Boehly, sedangkan pelatih Frank Lampard gagal memulihkan arah menuju standar Chelsea. Sederet pemain berkaliber elite &#8212; dalam stok menumpuk &#8212; tak terorkestrasi sebagai kekuatan yang semestinya.</p>
<p>Chelsea betul-betul jadi medioker justru ketika Arsenal dan Manchester United &#8212; dua klub dengan problem pemulihan serupa &#8212; mulai “menemukan bentuk” dan “arah”.</p>
<p>Pochettino hadir dengan kesadaran tuntutan meluruskan kembali standar sebelumnya, ketika konstelasi kekuatan di Liga Primer juga bergerak dinamis.</p>
<p>Manchester City makin menegaskan keberadaan sebagai kekuatan utama Liga Primer dan Eropa. MU mulai meggeliat di bawah Erik ten Hag, sedangkan Arsenal tinggal mengelola konsistensi dalam sentuhan impresif Mikael Arteta. Liverpool juga sedang menyusun kembali puzzle kekuatan yang tampak kacau pada musim lalu.</p>
<p>Satu lagi, Newcastle United yang di-<em>back up</em> dana besar dari Pangeran Mohamed bin Salman lewat Public Investment Fund menunjukkan penyegaran yang tampaknya bakal diikuti transfer-transfer penting. Belum lagi klub-klub yang semula tak terlalu diperhitungkan seperti Brighton and Hove Albion juga mengetengahkan impresivitas yang mencengangkan.</p>
<p><strong>Sentuhan Poch</strong><br />
Bayangkanlah, bagaimana nanti Mauricio Pochettino memberi sentuhan dan mentransformasikannya kepada Chelsea?</p>
<p>Cukupkah materi pemain yang tersisa membantu Poch menyusun puzzle standar Chelsea? Atau dia akan menyegarkannya dengan skuad yang betul-betul baru?</p>
<p>Chelsea telah menjual sejumlah pemain utama seperti Kai Havertz, N’Golo Kante, Kalidou Koulibaly, Ruben Loftus Cheek, Mason Mount, Christian Pulisic, Mateo Kovacic, dan Edouard Mendy. Mereka berperan ketika meraih Liga Champions 2021.</p>
<p>Beberapa pemain muda yang diperkirakan bersinar pada musim kemarin, gagal mengangkat standar performa klub. Dari Mykhailo Mudrick, Enzo Fernandes, hingga Noni Madueke. Dan, kini The Blues mendatangkan striker berpaspor Prancis dari RB Leipzig, Christoper Nkunku.</p>
<p>Legenda Chelsea yang kurang bersinar sebagai pelatih, Frank Lampard, memperkirakan masa depan terang bagi The Blues di bawah Pochettino.</p>
<p>Di tengah gebyar renovasi klub-klub Liga Primer musim 2023-2024, kiprah Chelsea berpayung “filosofi sang pemberani” menumbuhkan rasa penasaran baru. Apabila klub ini bangkit, dipastikan rivalitas Liga Primer bakal makin memanas.</p>
<p>Ya, kira-kira seimpresif apa sepak terjang Enzo Fernandes dkk di panggung panas Liga Primer?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea">Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>