blank
Arne Slot tertunduk lesu, usai timnya dikalahkan PSV. Foto: dok/gettyimages

blankOleh: Amir Machmud NS

// tak selalu/ cerita berjalan seperti rencana/ ada kelokan dan realitas/ yang mengubahnya/ kadang dengan ekstremitasnya//
(Sajak “Slot dan Liverpool”, 2025)

KETIKA menggantikan Juergen Klopp pada musim 2024-2025, Arne Slot terlihat sebagai sosok konfiden yang diberkahi kemudahan. Liverpool tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan manajer baru.

The Reds mulus meraih trofi Liga Primer. Sementara para rival seperti Manchester City dan Manchester United terpuruk. Arsenal dan Chelsea lagi-lagi tak cukup tahan bersaing di klasemen atas untuk berebut juara.

Maka ketika Slot dan Liverpool memperkuat diri dengan sejumlah rekrutan mahal — seperti Florian Wirtz dan Alexander Isak — mengawali musim 2025-2026, hampir semua orang berpikir klub kota pelabuhan itu bakal menjelma menjadi kekuatan tak terlawan. Terbayangkan, superteam Liverpool di tangan manajer sekualitas Arne Slot bakal makin nggegirisi di Liga Primer dan Liga Champions.

Nyatanya, pekan lalu Liga Primer mengetengahkan warna pilu. Liverpool melewati laga dengan catatan buruk seperti 60 tahun yang lalu. Pada 22 November di Stadion Anfield yang dikenal “angker”, sang juara bertahan dilibas Nottingham Forest 0-3.

Hasil itu mengulangi catatan buruk pada pekan sebelumnya di Etihad, ketika Mohamed Salah dkk takluk 0-3 di tangan tuan rumah Manchester City. Dan, pada 27 November kemarin, mereka melengkapi keterpurukan dengan kekalahan 1-4 dari PSV Eindhoven di Anfield, dalam matchday 5 Liga Champions.

Statistik mencatat, untuk kali pertama sejak 60 tahun terakhir, Liverpool kalah lebih dari 3 gol dalam dua laga beruntun di Liga Inggris. Terakhir kali The Reds mengalaminya pada April 1965 ketika diarsiteki manajer legendaris, Bill Shankly. Dalam status sebagai juara bertahan, Liverpool kalah 0-3 beruntun dari West Bromwich Albion dan Tottenham Hotspur.

Musim ini, Liverpool sudah sembilan kali kalah dari 12 pertandingan terakhir di semua ajang. Di Liga Inggris, mereka enam kali kalah dari 12 laga. Kekalahan dari Forest memerosotkan Liverpool ke posisi 11 klasemen sementara dengan 18 poin, di bawah Manchester United (18 poin) yang belum memainkan matchday ke-12. Kekalahan keenam dari 12 pertandingan di Liga Primer menempatkan mereka di posisi ke-11 klasemen dengan 18 poin. Ini menjadi kekalahan keenam dari tujuh pertandingan terakhir di seluruh ajang. Kalau ditambah dengan hasil buruk melawan PSV, lengkap sudah kebabakbeluran Pasukan Anfield.

Kata pelatih Arne Slot, “Kami punya banyak pemain bagus. Menjadi tugas saya mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Untuk saat ini saya tidak bisa. Itulah mengapa saya bilang ini tanggung jawab saya,” ujar Slot seperti dikutip BBC Sport (detik.com, 23 November 2025).

Tak Berjalan
Pernyataan Slot mengisyaratkan ada “kesenjangan” antara rencana (game plan) dengan yang tersaji di lapangan. Antara realitas Liverpool memiliki para pemain terbaik di posisinya, dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan skema Slot. Artinya, ada renana yang tak berjalan semestinya.

Apa yang dihadapi Arne Slot sebenarnya juga dialami oleh para taktikus lain. Apakah itu Ruben Amorim, Enzo Maresca, Mikael Arteta, juga Pep Guardiola. Maka kita menyaksikan liga-liga Eropa seperti panggung yang mengetengahkan adu rencana, adu taktik, dan adu kejeniusan, yang kemudian tersaji sebagai produk “sesuai rencana”, “mediokritas capaian”, atau “kegagalan”.

Lalu apakah Arne Slot bisa disebut gagal untuk menyatukan puzzle-puzzle potensi yang seharusnya menghasilkan kehebatan sebuah tim? Jangan buru-buru memvonis pelatih asal Belanda itu, karena jangan-jangan ini adalah hukum alam kompetisi dengan segala kalkulasi yang tak bia dihitung secara matematis.

Slot tidak mau banyak berdalih atas periode buruk ini. Baginya, ada satu hal yang menjadi biang. Yakni Liverpool “dihukum” oleh kegagalan mereka memaksimalkan banyak peluang yang didapat.

Dengan ball possession 75-25, lebih dari 30 menit di babak pertama Virgil van Dijk dkk menekan penuh Forest, namun peluang-peluang di awal yang didapat Alexis Mac Allister dan Milos Kerkez, tak tertuntaskan sebagai gol.

Dia mengakui, belum pernah melihat timnya menciptakan peluang sebanyak itu. Tentu sulit dipahami, di tengah banyak kesempatan, setiap kali diserang lawan, malah begitu mudah kebobolan. Artinya, selain tumpulnya lini penyerang, realitas kerapuhan lini pertahanan juga menjadi problem bagi The Reds dalam tiga laga terakhir.

Dinamika kompetisi memang menciptakan kondisi yang terkadang tidak dipahami oleh tim-tim besar. Semua persiapan skematika, kedalaman skuad, dan game plan sudah dimatangkan, namun tak jarang tim-tim medioker dan yang kurang masuk hitungan malah menciptakan hasil “yang tidak-tidak”.

Frasa “yang tidak-tidak” itu menggambarkan kondisi psikologis kompetisi yang tak jarang diwarnai oleh kejutan-kejutan. Dalam logika permainan, boleh jadi yang berlangsung adalah keberhasilan menerapkan counter tactic, sehingga tim-tim yang dipandang sebagai “anak bawang” bisa meredam permainan tim-tim yang lebih mapan.

Apakah Liverpool masuk dalam logika dinamika ini? Semakin rasa percaya diri hilang karena kekalahan demi kekalahan yang menyusul, bakal semakin terasa betapa sulit bangkit dari situasi semacam ini.

Para manajer seperti Arne Slot mungkin sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini, namun tampaknya dia membutuhkan cukup waktu untuk mencerna dan mengurai solusi. Kekalahan telak 1-4 dari PSV di Anfield menjadi bagian dari gambaran betapa Slot dihadapkan pada situasi yang tidak mudah…

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id