Oleh: Amir Machmud NS
// siapakah monster sejati sepak bola?/ Real Madrid dengan gelimang sejarahnya?/ AC Milan yang pernah melahirkan Tim Impian?/ atau Olympique Marseille, yang mengimitasi?/ Manchester United juga punya karakter/ Barcelona pun meraja/ dan, ketika PSG menyerupai/ Chelsea menjadi penjinaknya//
(Sajak “ Sang Monster”, 2025)
SEJATINYA, ke manakah sepak bola dunia kini berkiblat?
Ke Kota Paris, Prancis; atau ke London: sebagai personifikasi Paris St Germain dan Chelsea?
Siapa tokoh yang diakui paling berperan di balik performa nggegirisi dua klub yang pekan lalu bertarung di final antarklub dunia itu? Enzo Maresca, atau Luis Enrique?
Dua nama itu kini memuncaki pelataran klub sepak bola. Maresca mengantar Chelsea sebagai juara dunia antarklub, setelah menghentikan “kemonsteran” PSG dengan skor telak 3-0. Sedangkan Enrique sukses membentuk PSG sebagai kekuatan baru Eropa.
Awalnya, PSG dengan status sebagai juara Liga Champions 2025 dan rentetan langkah sensasional untuk melaju ke final, lebih difavoritkan; namun Mareca mampu menghadirkan taktik tepat untuk menjinakkan sang monster.
Aksi-aksi Les Parisiens musim ini telah menyita fokus penggemar bola sejagat. Pada sisi lain, Chelsea menunjukkan berada di trek yang benar dengan grafik kebangkitan sebagai kekuatan elite.
Pemilik PSG, Nasser Al Khelaifi yang penuh ambisi untuk menduniakan klub ini menyatakan, kekalahan dari Chelsea itu tidak mengurangi cahaya musim luar biasa yang mereka raih. Sebaliknya, sebagai tim termuda dalam pengalaman berkompetisi, PSG makin termotivasi. “Para pemain sudah memberikan segalanya untuk sampai ke level ini, dan kami bertekad meraih trofi lebih banyak di waktu mendatang,” kata pria asal Qatar itu.
Liga Prancis, Ligue 1 sering diejek sebagai Liga Petani, diposisikan di bawah standar kompetitif empat liga terbaik Eropa — Liga Primer, La Liga, Liga Seri A, dan Bundesliga. Ligue 1 di peringkat lima terbawah.
Di level Liga Champions, klub-klub Ligue 1 tak terlalu diperhitungkan. Para pemain tim nasional Prancis moncer karena tertempa berkompetisi di liga-liga mancanegara.
Maka ketika tahun ini PSG menguasai Eropa dengan menumbangkan klub-klub besar, tak sedikit yang memuji, Luis Enrique sukses menjadikan klub ini sebagai monster mengerikan.
Pria asal Spanyol itu mencatat treble (tiga trofi) kedua dalam jejak kepelatihannya. Musim ini dia meraihnya bersama PSG, melengkapi pencapaian serupa pada 2014-2015 untuk Barcelona. Musim ini dia hanya gagal di partai puncak turnamen antarkkub dunia.
Di PSG, dia meracik trio mematikan Ousmane Dembele – Desire Doue – Kchiva Kvaratskhelia. Pada 2014 dia melahirkan Trio MSN Lionel Messi – Luis Suarez – Neymar Junior yang legendaris.
Sukses mengalahkan Real Madrid dengan skor fantastis 4-0 di semifinal antarklub dunia, menyusul pesta gol 5-0 ke gawang Inter Milan di final Liga Champions, Mei lalu, membuat dua pandit sepak bola Andros Townsend dan juga Gareth Bale tak ragu menyebut PSG sebagai monster.
“Luis Enrique telah berhasil menciptakan monster,” kata Townsend di DAZN (bolanews.com, 10 Juli 2025)
“Mereka terlihat seperti tim yang akan bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama. Mereka sangat muda, tanpa henti, dan selalu ingin mempermalukan tim lawan,” timpal Gareth Bale.
Enrique meneruskan pekerjaan sederet pelatih yang punya reputasi hebat. Dari Carlo Ancelotti, Laurent Blanc, Unai Emery, Thomas Tuchel, Mauricio Pichettino, hingga Cristhope Galtier.
Ambisi Para Investor
Performa PSG tak lepas dari ambisi besar investornya, Syekh Nasser Al Khelaifi, yang ingin bersenang-senang dengan sepak bola. Dia mengucurkan dana besar untuk PSG.
Dia, seperti Syekh Manshour Al Suleimany yang menguasai saham Manchester City di Liga Primer, berambisi menjadikan klubnya sebagai penguasa Eropa. Sama dengan kisah-kisah Silvio Berlusconi di masa jayanya (AC Milan), Bernard Tapie (Marseille), Massimo Moratti (Internazionale Milan), Aurelio de Laurentiis (Napoli), Roman Abramovich (Chelsea), Malcom Glazer (Manchester United), dan kini Jim Rachliffe (MU).
Al Khelaifi telah beberapa kali membuat sensasi transfer. PSG pernah mendatangkan megabintang Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Messi, juga ikon Prancis Kylian Mbappe yang kini pindah ke Real Madrid.
Juara liga menjadi rutinitas selama 10 tahun terakhir, dan sekarang Les Parisiens menguasai Eropa, setelah sempat digagalkan Bayern Muenchen dalam final Liga Champions 2020.
Luis Enrique mampu menghadirkan kerancakan dalam irama permainan PSG. Jamie Carragher, legenda Liverpool yang kini jadi pandit menyetarakan skuad PSG dengan kehebatan Barcelona-nya Pep Guardiola pada semester kedua 2000-an. Permainan mereka mengalir, semua lini bergerak dari pertahanan, gelandang, dan penyerang sebagai orkestrasi yang benar-benar fungsional.
Pada dasawarsa 1990-an, PSG tercatat pernah diperkuat George Oppung Weah dan Ronaldinho. Dua nama ini merupakan bagian dari bakat langka sepak bola yang pernah lahir.
Les Parisiens menapak naik tak lepas dari ambisi Nasser Al Khelaifi bersama Qatar Sports Investment. Dia salah satu dari taipan Timur Tengah yang ingin menginvestasikan uangnya lewat sepak bola.
Selain Al Khelaifi, dua pengusaha Arab lain yang berkiprah di liga Eropa adalah Syekh Manshour Al-Sulaymani pemilik Manchester City, dan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi bersama Public Investment Fund (PIF). Mohammed bin Salman memegang saham terbesar Newcastle United. Kini The Magpies bisa bersaing di papan atas Liga Primer. Tercatat juga beberapa nama yang mengakuisisi klub-klub semenjana di sejumlah liga.
Dengan dukungan dana besar itu, Luis Enrique meracik tim secara leluasa, disesuaikan dengan kebutuhan taktikal dan filosofinya.
Setelah kekalahan dari Chelsea di final kejuaraan dunia, apakah PSG dan Enrique bisa konsisten membangun imperium sepak bola dengan ide dan infrastruktur yang inspiratif?
Kita tentu berharap PSG tidak hanya menjadi monster dengan kehebatan semusim, tetapi juga membangun semua elemen ekosistemnya, dimulai dari pembinaan usia dini di Akademi PSG.
Kekuatan “kemonsteran” akan teruji dari konsistensi mentransformasi permainan berbasis penghayatan taktik dan filosofi. Kita yakin, Enrique sudah punya rencana jangka panjang. Eks pemain nasional Spanyol itu menjadi peletak dasar, setidak-tidaknya penembus konfidensi PSG untuk bersaing di level atas.
Enzo Maresca
Pada sisi lain, Chelsea menemukan orang yang tepat untuk mengawal etos kebangkitan, setelah beberapa pelatih gagal memperbaiki performa The Blues. Pasca-masa emas bersama Jose Mourinho pada 2004-2007, Chelsea ditangani Avram Grant, Luis Felipe Scolari, Ray Willkins, Guus Hiddink, Carlo Ancelotti, Andre Vilas-Boas, Roberto Di Matteo, Rafael Benitez, Steve Holland, Antonio Conte, Maurizio Sarri, Frank Lampard, Thomas Tuchel, Graham Potter, Bruno Saltor, dan Mauricio Pochettino.
Ada di antara mereka yang tidak gagal total dan mempersembahkan trofi, namun pada era Maresca terasa memperlihatkan stabilitas penampilan.
Pelatih asal Italia itu didukung oleh kebijakan transfer dari manajemen di bawah konsorsium BlueCo yang dikoordinasikan oleh Todd Boehly sebagai chairman klub, didampingi direktur Hansjorg Wyss dan Mark Waster. Pemilik lama, Roman Abramovich mundur setelah asetnya dibekukan efek dari serangan Rusia ke Ukraina.
Musim lalu, Chelsea banyak dikritik karena kebijakan transfer yang tidak berimbang di tiap lini. Bahkan Chelsea diejek sebagai “billion-pound bottle-jobs”, untuk menggambarkan skuad mahal yang gagal.
Sebutan itu diungkapkan oleh legenda Manchester United, Gary Neville, setelah Chelsea kalah dari Liverpool di final Piala Liga. Ketika itu Chelsea dinilai membuang kesempatan emas untuk juara melawan Liverpool yang menurunkan banyak pemain pelapis.
Harus diakui, musim itu Chelsea masih dalam transisi stabilisasi. Mereka kesulitan menemukan konsistensi permainan dengan banyak pemain muda yang kurang pengalaman.
Pergantian pelatih terjadi di awal musim 2024-2025 dari Pochettino ke Enzo Maresca. Perlahan-lahan The Blues memperbaiki performa, dan malah menjadi juara dunia, dengan mengalahkan juara Liga Champions. Masresca sukses menghadirkan etos penjinakan “sang monster”.
Sampai di sini dia bisa meracik dan menemukan inti tim. Dia menepikan banyak pemain, dan menjadikan Enzo Fernandez, Cole Palmer, Marc Cucurella, Moises Caicedo, dan Pedro Neto sebagai pilar, yang terbukti menciptakan keseimbangan skematika.
Di final antarklub dunia, Maresca puas dengan penampilan penggawanya. Secara spesifik dia menyebut 10 menit pertama sebagai periode paling krusial. Di momen itulah Chelsea berhasil mengatur tempo dan mendikte pertandingan.
Intensitas dan cara bermain di awal laga itu menjadi fondasi kemenangan, meskipun kondisi cuaca diakui membuat mereka sulit menjaga konsistensi selama 90 menit penuh. “Bagi saya, kami memenangkan pertandingan di sepuluh menit pertama. Kami mengatur tempo, mengatur permainan yang ingin kami mainkan. Kami tampil sangat baik,” katanya.
“Kemonsteran” PSG sejauh ini, dan sukses Chelsea memenangi trofi klub dunia, bagaimanapun membuka peta baru tentang kekuatan sepak bola, ambisi para investor, filosofi kepelatihan, dan kiprah impresif sejumlah pemain.
Liga Eropa musim 2025-2026 nanti saya perkirakan bakal diwarnai atmosfer rivalitas yang berbeda…
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













