Oleh: Amir Machmud NS
// saatnyakah mereka merayakan/ panggung Eropa?/ raihan yang selalu lepas/ justru pada saat diunggulkan?/ sudah sampaikah waktunya?//
(Sajak “Arsenal dan Eropa”, 2026)
PANGGUNG juara bagi Arsenal, inikah waktunya? Atau mereka harus kembali ke sejarah kusam: terpuruk justru pada saat diunggulkan?
Drawing Liga Champions di Nyon, Swiss sepekan silam menghadirkan jalur yang disebut-sebut bakal memuluskan prediksi laju Arsenal. Ketika sejumlah raksasa Eropa berbaku hantam dalam big match di babak 16 besar, Meriam London bertemu lawan yang diperkirakan relatif bisa diatasi, Bayer Leverkusen.
Enam belas tim, yang terdiri dari delapan unggulan dan delapan non-unggulan, diundi untuk menentukan lawan di fase gugur. Leg pertama 16 besar akan digelar 10-11 Maret, dan leg kedua 17-18 Maret.
Kali ini, Arsenal kembali diunggulkan, walaupun seperti biasa “dikepung” oleh kekuatan-kekuatan bertradisi juara seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Chelsea, juga juara bertahan Paris St Germain, dan Manchester City.
Pertemuan keras akan berlangsung antara Real Madrid versus Manchester City, PSG menghadapi Chelsea, Newcastle United bersua Barcelona. Liverpool juga kembali bertemu Galatasaray setelah sebelumnya sempat kalah di fase liga. Tottenham Hotspur ditantang Atletico Madrid, sementara Arsenal melawan Bayer Leverkusen.
Relatif Lebih Ringan
Di antara enam wakil Inggris, Arsenal punya jalur yang relatif lebih ringan. Chelsea harus menghadapi PSG, Manchester City ditantang Real Madrid, Tottenham berjumpa Atletico Madrid, Liverpool melawan Galatasaray, dan Newcastle kembali menghadapi Barcelona.
Terakhir kali, Arsenal bertemu Bayer Leverkusen pada 2002, dan menang 4-1. Leverkusen kini cenderung kurang stabil setelah ditinggal oleh pelatih Xabi Alonso, dan sejumlah pemain pilar. Sementara The Gunners sedang dalam performa apik di berbagai ajang.
Sesuai bagan, jika lolos ke perempatfinal, Declan Rice dkk akan bertemu dengan pemenang Bodo/Glimt vs Sporting CP. Apabila menang, calon lawannya di semifinal adalah pemenang antara Barcelona vs Newcastle yang harus berebut tiket dengan pemenang Atletico Madrid vs Tottenham Hotspur.
Dengan skema itu, diperkirakan Arsenal minimal mampu lolos ke semifinal, menyamai bahkan melampaui capaian musim lalu. Pada Liga Champions 2024-2025, tim racikan Mikel Arteta itu masuk semifinal sebelum kalah dari PSG dengan agregat 1-3. PSG kemudian menjadi juara.
Dari enam wakil Inggris, hanya Liverpool, Chelsea, dan Manchester City yang pernah meraih trofi Liga Champions. Liverpool enam kali juara, Chelsea dua kali, dan Manchester City satu kali.
Lalu siapa yang paling berpeluang juara?
Opta, mesin statistik sepak bola, merilis prediksinya, bahwa Arsenal-lah yang berpeluang terbesar, dengan 27,4 persen. Menyusul kemudian Bayern Munich (14,3 persen), Liverpool (12,8 persen), Manchester City (10,8 persen), Barcelona (7,7 persen), dan Chelsea (6,8 persen). Real Madrid justru terlempar dari enam besar, berada di peringkat kesembilan dengan 2,8 persen, di bawah PSG (4,6 persen).
Sedangkan Newcastle United justru berada di atas PSG dan Madrid, dengan persentase peluang juara sebesar 4,7 persen.
Tidak Mudah
Tentu pelatih Mikel Arteta menyadari, peluang untuk gagal di Liga Champions lebih besar ketimbang sukses. Dalam sejarah, Arsenal hanya satu kali menembus final Liga Champions yakni pada 2006, namun kalah 1-2 dari Barcelona dalam laga yang disebut-sebut sebagai “final ideal”.
Musim lalu, mereka melaju sampai ke semifinal. Dengan konfidensi tinggi karena sukses menundukkan Real Madrid di perempatfinal, Arsenal malah dikalahkan PSG yang akhirnya juara.
Mungkinkah Arteta bisa mengubah sejarah Arsenal dengan menjadi juara Liga Champions, dalam kesempatan terbaik musim ini?
Pencapaian terbaik Arsenal di pentas Eropa dicatat dalam ajang dengan level lebih rendah, yakni Piala Inter-Cities Fairs pada 1970, dan Piala Winners’Cup pada 1994 — gelar terakhir diakui oleh UEFA. Arsenal tampil di Piala Super Eropa 1994, dan kembali hadir di partai puncak Piala Winners’Cup tahun berikutnya.
Hampir tiap tahun, setidak-tidaknya selama empat musim terakhir, Arsenal selalu dijagokan untuk berbicara banyak di Liga Champions. Ketika tahun ini kembali difavoritkan, tentu beralasan karena mereka memiliki model tampilan impresif bukan hanya di Liga Primer, tetapi juga di ajang yang lain.
Wajar apabila para pengamat berpikir, “Inikah waktunya mereka berjaya?”
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —













