blank
Suasana kampanye sosial bahaya pernikahan dini yang digelar mahasiswa iLmu Kmunikasi USM di Kelurahan Tambakrejo Semarang, Sabtu 23 Mei 2026. Foto: Istimewa

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang menggelar seminar kampanye sosial bertajuk “Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan, Ekonomi, dan Pendidikan” Sabtu (23/5/2026), di aula Kantor Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang mengikuti.

Kegiatan yang diikuti puluhan remaja warga Kelurahan Tambakrejo ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja terhadap risiko pernikahan usia anak sekaligus menekan angka dispensasi nikah.

Kegiatan seminar ini merupakan implementasi mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas yang diampu oleh Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si.

Selain para remaja, hadir pula dalam acara ini perangkat kelurahan, karang taruna, serta tokoh masyarakat. Ketua LPMK Tambakrejo, Sapto Wahono, mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya kesiapan psikologis dalam pernikahan.

blank
Mahasiswa Ilmu Komunikasi USM berfoto bersama dalam acara kampanye sosial bahaya pernikahan dini. Foto: Ist

“Saat kalian berpikir untuk menikah, yang pertama kali harus kalian pertanyakan kepada diri sendiri adalah: apakah mental kalian sudah benar-benar siap? Karena pernikahan bukan sekadar ritual, melainkan sebuah komitmen panjang yang menuntut kematangan jiwa,” ujarnya.

Seminar ini menghadirkan narasumber dari PKBI Kota Semarang, yaitu Muhammad Taufik Hilmawan, Ketua Griya Muda PKBI Kota Semarang, Devita Uzlah Sibarani sebagai Koordinator PSDM Griya Muda PKBI Kota Semarang, serta pemateri internal mahasiswa Della Letelay.

Dalam pemaparan, PKBI mencatat terdapat 125 perkara dispensasi nikah di Kota Semarang pada 2024, dengan 116 di antaranya dikabulkan. Mayoritas pemohon masih berstatus pelajar SMP dan SMA.

Devita Uzlah Sibarani menjelaskan bahwa pernikahan dini berdampak pada kesehatan reproduksi remaja, seperti risiko anemia, preeklamsia, hingga tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Sementara itu, Muhammad Taufik Hilmawan menegaskan bahwa pernikahan usia anak juga berdampak pada masa depan pendidikan dan ekonomi remaja, termasuk risiko putus sekolah dan terbatasnya peluang kerja.

Pemateri internal, Della Letelay, menekankan pentingnya kesiapan mental dan finansial sebelum menikah. Ia menyebut pernikahan bukan sesuatu yang perlu dipercepat, melainkan keputusan besar yang harus dipersiapkan secara matang.

Sedangkan dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si menyebut, kegiatan ini merupakan bagian dari literasi masyarakat dengan harapan dapat memberi manfaat dan meningkatkan kesadaran remaja di Kelurahan Tambakrejo terkait bahaya pernikahan dini.

Sementara Ketua Karang Taruna Tambakrejo, Eva Riska Yulanda, turut berharap kegiatan ini dapat mengubah pola pikir remaja agar lebih fokus pada pendidikan dan masa depan.

“Saya sangat bersyukur adanya kegiatan seperti ini. Semoga teman-teman remaja semakin terbuka pikirannya tentang bahaya pernikahan dini dan berani mengejar mimpi terlebih dahulu,” ungkapnya.

Peserta seminar juga memberikan respons positif, menyatakan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya kematangan mental dan emosional sebelum menikah.

Rls-wied