Oleh: Amir Machmud NS
// tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?//
(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)
TAHUN 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel Pellegrini yang sebenarnya juga mampu mengemas performa Manchester City sebagai kekuatan elite baru Liga Primer?
Pria kelahiran Santiago, Chile itu bahkan menjadi manajer non-Eropa pertama yang meraih trofi Liga Inggris pada 2013-2014.
Cerita sembilan tahun silam itu, sama dengan yang sekarang terwacanakan. Bakal datang orang baru yang menggeser Pep dari kursi kepelatihan The Citizens, dan sang pengganti itu tidak jauh-jauh amat: Enzo Maresca dari Chelsea. Masa depan Pep pun tiba-tiba dispekulasikan.
Dulu tak banyak yang memperkirakan, Manuel Pellegrini bakal mudah tergeser. Waktu itu berkembang analisis, Manchester City mendatangkan Pep Guardiola demi mempercepat proses merajai liga dan Eropa dengan permainan yang lebih impresif. Sedangkan sekarang, diduga Maresca didatangkan untuk sebuah proyek penyegaran. Pep — yang telah membawa City merajai liga dan mempersembahkan gelar Eropa pada 2022-2023 — dinilai mulai memasuki atmosfer kejenuhan, sudah tidak memiliki lagi tantangan yang hendak diraih.
Lalu, apakah musim 2026-2027 nanti pergeseran itu benar-benar akan terjadi?
Ya, ketika kontrak Pep baru akan berakhir 2027, tiba-tiba saja muncul rumor Enzo Maresca menjadi kandidat kuat manajer City. Media-media Inggris menspekulasikan Maresca sebagai pengganti Pep. Pria kelahiran Italia itu pernah menjadi pelatih City U23 dan asisten Pep. Direktur Olahraga Manchester City, Hugo Viana disebut-sebut telah bertemu dengan Maresca.
Bersama Chelsea, pencapaian Maresca cukup bagus. Pelatih 45 tahun itu memberi trofi Conference League dan juara Piala Dunia Antarklub 2025. Dia tengah berjuang mengembalikan kejayaan The Blues di liga.
“Penting untuk memahami alasan di balik adanya berita ini,” kata Maresca dengan tafsir samar. Apakah kalimat ini ditujukan untuk manajemen Chelsea, sehingga dia punya posisi tawar yang kuat?
Spekulasi itu kencang berembus, justru ketika kedua klub sedang bersaing di papan atas dengan Arsenal. Di pihak lain, Pep dengan bijak menyatakan tidak bisa menjamin apakah musim depan bakal bertahan di Etihad. Menurutnya, apa pun bisa terjadi dalam sepak bola. Bagi dia, yang terpenting adalah menjaga performa agar Erling Haaland dkk bisa sebaik mungkin menuntaskan musim.
Seperti ditulis oleh The Athletic (detik.com, 20 Desember 2025), Pep mengatakan, “Saya kan masih di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Sepak bola bisa berubah setiap saat, bahkan jika saya punya kontrak 10 tahun, atau enam bulan”.
Pelatih asal Spanyol itu telah enam kali memberi gelar liga kepada City, di antaranya empat musim berturut-turut pada 2020-2021, 2021-2022, 2022-2023, dan 2023-2024, ditambah gelar-gelar lain Piala FA, Piala Liga, Community Shield, lalu juga Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Atarklub FIFA.
Sebelum berkarier di Etihad, Pep juga cemerlang bersama Barcelona dan Bayern Muenchen. Dia dikenal sebagai “ideolog” sepak bola menyerang, menyempurnakan total football Johan Cruyff dengan possession football ala Barca yang terkenal sebagai tiki-taka.
Kebersamaannya dengan The Citizens sejak 2016, bagaimanapun menghadirkan fakta, Manchester Biru telah menjadi kekuatan elite Liga Primer. Dan, di balik kejeniusannya, cepat atau lambat dia bisa diliputi atmosfer kejenuhan, “kehilangan tantangan”, dan diperkirakan membutuhkan suasana baru.
Apakah dia menjadi simbol realitas bahwa tidak ada yang abadi di sepak bola? Akan selalu terjadi pergerakan, pergeseran, dan mobilitas dalam dinamika industri kompetisi. Atau yang dalam ungkapan Pep Guardiola, “Dalam sepak bola, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi?”
Apalagi, di dunia kepelatihan profesional, kita memahami mereka bagai berjalan di titian rambut dibelah tujuh. Penuh risiko dan keniscayaan antara mencapai kesuksesan, atau masuk ke lorong keterpurukan.
Ya, hari ini Pep masih di Etihad. Hari ini Maresca juga masih di Stamford Bridge. Tak ada yang tahu, esok mereka akan berlabuh di mana…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —













