blank
Fasilitator DEKSI dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, menjelaskan bahwa DEKSI merupakan gerakan masyarakat desa untuk menjaga kesehatan dan lingkungan agar tetap aman meskipun terjadi perubahan iklim.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Pemerintah Desa Rau bersama berbagai unsur masyarakat sepakat membentuk Desa Siaga Iklim (DEKSI) sebagai upaya memperkuat ketahanan kesehatan dan lingkungan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Kesepakatan tersebut dicapai dalam kegiatan pembentukan DEKSI yang digelar di Balai Desa Rau, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Selasa (3/6/2026).

Pembentukan DEKSI melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Pemerintah Desa Rau, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Puskesmas Kedung I, Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, ketua RW, hingga ketua RT. Seluruh peserta menyatakan komitmen bersama untuk menjalankan program adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, SKM., S.Kep., MMKes., MM, mengatakan perubahan iklim saat ini bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan telah dirasakan langsung oleh masyarakat. “Saat ini kita semua merasakan bahwa cuaca sudah tidak seperti dulu. Kadang hujan turun sangat deras dalam waktu singkat hingga menyebabkan banjir, kadang musim kemarau berlangsung lebih panjang sehingga terjadi kekeringan. Suhu udara terasa semakin panas, sementara angin kencang dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi,” ujar Hadi Sarwoko dalam pesan whatsapp pembentukan DEKSI di Desa Rau.

blank
Foto bersama Tim fasilitator dari Dinkes, Petinggi dan peserta

Menurutnya, perubahan iklim berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Curah hujan yang tinggi menyebabkan munculnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Di sisi lain, kesulitan memperoleh air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit diare, sedangkan suhu udara yang semakin panas dan penurunan kualitas udara berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Karena itu desa harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi dampaknya,” tegasnya.

Petinggi Desa Rau, Kasmun, menyambut baik pembentukan DEKSI sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai dampak perubahan iklim.

blank
Tim fasilitator dari Dinkes menggali permasalahan dan potensi Desa

Ia menjelaskan, Desa Rau sebelumnya telah berhasil mencapai status Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Keberhasilan tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan program DEKSI yang menitikberatkan pada penguatan kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, Sanitarian Puskesmas Kedung I, Wakhid Anwar, menilai pembentukan DEKSI merupakan kelanjutan dari berbagai upaya kesehatan berbasis masyarakat yang selama ini telah berjalan di Desa Rau.

Menurut berbagai kajian kesehatan dunia, perubahan iklim dapat memicu meningkatnya berbagai penyakit, antara lain penyakit yang ditularkan nyamuk seperti DBD, malaria, dan chikungunya; penyakit akibat air seperti diare, kolera, dan penyakit kulit; serta penyakit pernapasan seperti ISPA, asma, dan gangguan paru-paru.

blank
Tim fasilitator dari Dinkes menggali permasalahan dan potensi Desa dengan metode Partisipasi KIT

Selain itu, perubahan iklim juga dapat berdampak pada menurunnya hasil pertanian akibat kekeringan maupun banjir yang berpotensi menimbulkan masalah kekurangan gizi hingga stunting. Tidak hanya itu, berbagai bencana alam yang terjadi juga berisiko memicu gangguan kesehatan mental berupa stres, kecemasan, hingga trauma.

Fasilitator DEKSI dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, menjelaskan bahwa DEKSI merupakan gerakan masyarakat desa untuk menjaga kesehatan dan lingkungan agar tetap aman meskipun terjadi perubahan iklim. “DEKSI adalah gerakan masyarakat desa untuk menjaga kesehatan dan lingkungan agar tetap aman meskipun terjadi perubahan iklim. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan aktif masyarakat,” katanya.

Asrori menjelaskan, terdapat lima tahapan penting dalam mewujudkan DEKSI. Tahap pertama adalah pemberdayaan masyarakat melalui identifikasi berbagai persoalan lingkungan seperti daerah rawan banjir, rawan DBD, maupun wilayah yang mengalami kesulitan air bersih melalui participatory kit.

 

Tahap kedua adalah pembentukan Tim Kerja Masyarakat (TKM) yang terdiri atas perangkat desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta relawan. Tim ini menjadi motor penggerak seluruh kegiatan DEKSI. “Tim Kerja Masyarakat menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan. Mereka bertugas menggerakkan masyarakat, menyusun rencana kerja, melaksanakan aksi adaptasi perubahan iklim, serta melakukan pemantauan dan evaluasi kegiatan,” ujar Asrori

Selanjutnya masyarakat menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) yang memuat berbagai program adaptasi terhadap perubahan iklim. Program tersebut kemudian dilaksanakan melalui berbagai aksi nyata di lapangan sebelum dilakukan verifikasi dan evaluasi sebagai tahap akhir pelaksanaan DEKSI.

Dalam musyawarah tersebut disepakati susunan kepengurusan TKM DEKSI Desa Rau dengan Ali Sofi sebagai Ketua, Mustamiin sebagai Sekretaris, dan Nur Khamid sebagai Bendahara.

Untuk memperkuat pelaksanaan program, kepengurusan juga dilengkapi sejumlah seksi. Pada Seksi Pengadaan Sarana dan Prasarana, dipercayakan kepada Ali Ridho sebagai koordinator dengan anggota Rusmanto, Jalul, dan Supadi.

Sementara Seksi Komunikasi dan Edukasi dipimpin Karyono dengan anggota Purwati, Marni’ah, dan Titik. Seksi ini bertugas meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak perubahan iklim dan langkah-langkah adaptasi yang dapat dilakukan di lingkungan masing-masing.

Adapun Seksi Pemberdayaan Masyarakat diketuai Kharisah dengan anggota Muftaroh dan Nafiatun. Seksi ini berperan dalam mendorong partisipasi aktif warga dalam berbagai program kesehatan lingkungan dan adaptasi perubahan iklim.

Dengan terbentuknya DEKSI, Desa Rau diharapkan mampu menjadi desa yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mampu melindungi kesehatan masyarakat melalui penguatan peran serta warga dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Hadepe – Asrori