SERING kita dengar, wong Jawa menyombongkan diri karena merasa masih menerapkan budaya sungkan dalam perilaku sehari-harinya dibandingkan dengan wong-wong liyane.
Benarkah, dan tepatkah kita memaknai sungkan dalam hidup sehari-hari? Tegasnya, cukup sopankah arogansi merasa diri “paling” berbudaya sungkan itu? Jangan-jangan tidak tepat menerapkan maknanya.
Menceng
Selama ini, banyak pihak yang menceng (=melenceng) dalam memaknai sungkan, karena sungkan disama-artikan dengan pakewuh, atau bahkan ada yang menyangatkan lewat ungkapan ewuh-pakewuh. Padahal kurang tepat itu. Pakewuh itu artinya reribed, alangan, apa-apa kang njalari rekasa; segala sesuatu yang membikin ribet, bisa menyebabkan penderitaan, itulah pakewuh.
Selama ini pakewuh dimaknai sama dengan rikuh, lalu menjadi rikuh-pakewuh. Lalu, perkembangannya rikuh-pakewuh disama-artikan dengan sungkan. Kewolak-kewalik sing kurang becik. Mari kita luruskan bersama, jangan menceng terus.
Enggan
Dalam KBBI, sungkan diberi arti enggan, segan dan rupanya dari sinilah, terutama dari kata segan inilah berkembanga beranak-pinak pemaknaan sungkan yang (bisa) semakin menceng. Lebih memrihatinkan manakala segan dimaknai positif, karena menunjukkan rasa hormat, rasa menghargai atasan atau orang lain. Padahal tidak begitu kandungan maknanya, sebab segan itu konotasinya malas, ogah ah.
Baca juga Wong-Wong Sekuthon
Sungkan
Hal yang sama terjadi pada cara memaknai sungkan (Jawa): makna aslinya bernada negatif, berubah menjadi atau justru dianggap positif. Betapa tidak bernada kurang bagus?
Sungkan aslinya berarti dua, yaitu suthik, emoh tumandang utawa emoh ngomong; orang yang menghindari atau tidak mau melakukan atau membicarakannya. Jika kita bertemu orang yang tidak mau mengerjakan atau membicarakan, bukankah itu berarti bahwa orang itu dalam arti tertentu bersikap cuek dan malas?
Jika ia seorang staf, apa kata dunia seorang staf kok tidak mau mengerjakan pekerjaan atau membicarakannya. Arti kedua sungkan ialan ora doyan gawe, kesed. Orang itu, kambing hitamnya staf itu, bukan hanya tidak mau bekerja, ogah, cuek; tetapi lebih parah lagi karena tidak tahu pekerjaan padahal itu tugasnya. Alasan utamanya kesed, malas.
Jelaslah, nuansanya negatif hal-hal yang disebutkan di atas. Namun, mengapa sungkan yang konon seperti itu, dewasa ini sering dianggap sebagai keutamaan dan kelebihan wong Jawa dibandingkan dengan wong liyane? Bangga dengan sikap malasnya? Sombong dengan sikap ogahnya? Pasti tidak begitu. Sumber mencengnya ada pada salah-kaprah pemaknaan.
Titik balik
Kita perlu titik balik agar tidak berbangga dengan sikap sungkan. Caranya bagaimana? Mari resapkan cerita kecil tentang kepompong ini: Seseorang menemukan kepompong binatang menggantung di dahan. Diambilnya kepompong itu penuh rasa kasihan, dan dibawa pulang.
Ganti hari, pria itu melihat ada celah kecil di kepompong itu. Ia kasihan pada ulat yang ada di dalamnya rupanya kesulitan keluar. Ia ambil gunting, celah kecil itu diperlebar. Pikirnya biar memudahkan ulat kecil itu keluar. Memang ia keluar, tetapi jalannya terseok-seok dan hanya berputar-putar saja. “Saya salah telah mengguntingnya,” gumam lelaki itu menyesal padahal maunya berbelaskasih. Bagian yang digunting itu ternyata jaringan kecil untuk sayap ulat itu bisa terbang.
Baca juga Wong-Wong Ampuh
Dalam hal bersikap, kita sering “melampaui” kodrat atau makna asli dari apa pun; termasuk dalam memaknai sungkan ini. Wong-wong sungkan dipandang telah menjalani keutamaan hidup berbangsa dan bernegara; ehhhhhh jebule mung marga kesed, malas belaka. Jaringan-jaringan yang menjadikan orang bisa terbang, entah oleh siapa digunting atas nama belas-kasihan.
Kita sering berbangga hati karena kita merasa memiliki budaya sungkan; tetapi awaslah jebule kita selama ini aslinya ugat-uget seperti kepompong yang secara alamiah nantinya bisa keluar dan terbang. Ehhhh tergunting, lalu tetap ugat-uget ke itu-itu saja.
JS Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran













