
HARAPjangan bosan jika sesekali saya berkisah tentang zaman dulu, era saya masih remaja di tahun 60-an. Salah satu dari menantu Pakdhe saya, terbilang seseorang yang ditakuti karena dia itu disebut-sebut ampuh.
Menurut cerita bapak saya, tentu sewaktu saya kecil di saat siap-siap mau tidur; -kang Soma, nama menantu pakdhe itu- , berprofesi sebagai gentho namun “kesatria.” Di zaman sekarang, gentho itu mirip-mirip preman; hanya saja di saat itu persyaratan untuk bisa menjadi gentho sangat berat.
Bukan saja harus meguru, berguru kepada wong ampuh dalam hitungan waktu tahun (bukan hanya bulan), puasa, betah melek, tahan tidak tidur beberapa hari. Dan masih banyak laku lain yang harus dijalani.
Apa buktinya Kang Soma itu ampuh? Katanya, suatu ketika, ia memimpin nggarong di rumah wong sugih karena ngingu perewangan. Letak rumah wong sugih itu sekitar 5 kilometer, dan Kang Soma membawa dua gerobak sapi ketika menjalankan aksinya.
Singkat cerita, ketika aksi nggarong itu sedang berlangsung, ada titir di kampung itu; bunyi kenthongan bertalu-talu tanda ada maling. Kang Soma dan kawan-kawan, sekali lagi katanya, tetap memasukkan barang-barang jarahan ke dalam gerobak.
Begitu selesai, dua gerobak itu segera dijalankan, menyingkir dari keramaian orang. Kok bisa aman-aman saja? Lagi-lagi katanya, orang-orang yang berkerumun itu tidak melihat gerakan apa pun dari Kang Soma dkk; dan mereka baru sadar ketika jago kluruk mulai bersahutan.
Baca juga Wong-Wong Mara-Sadu
Artinya setelah beberapa jam, orang-orang baru sadar. Sebelumnya seolah-olah kena sirep, terkena gendam bahasa sekarangnya.
Konteks
Mungkin saja cerita bapakku itu dilebih-lebihkan di beberapa aspeknya, tetapi bahwa Kang Soma itu ampuh saya lupa-lupa ingat ketika suatu hari Kang Soma dicari polisi di rumahnya. Jelas ia ada, tetapi ketika polisi mencari-cari mau menangkapnya, Kang Soma tidak ditemukan di rumah itu. Pergikah? Tidak. Ia hanya menempel di pohon pisang sebelah rumah, namun polisi tidak melihatnya. Siapa yang dibawa oleh polisi ke kantor polisi? Istri Kang Soma. Nah…………. ceritanya makin panjang.
Ampuh, dalam konteks cerita di atas, menegaskan kelebihan seseorang, bahkan kelebihan secara fisik; dan kelebihan itu tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Dalam konteks Kang Soma, kelebihannya isa ngilang, tepatnya tidak terlihat secara kasat mata.
Konteks zaman sekarang, ampuh yang arti harafiahnya berbunyi: Bisa ngetokake utawa nganakake daya linuwih; yaitu seseorang atau suatu barang yang memiliki kemampuan lebih. Doa seseorang yang ampuh, contohnya, dapat memberikan kesembuhan, orang lumpuh bisa berjalan, orang buta matanya tercelikkan, dsb. Konon, barang ampuh seperti keris, dapat juga menunjukkan daya linuwihnya.
Seperti apa ampuh di konteks zaman sekarang? Zaman now, keris diganti sawit atau tambang; pokoknya barang-barang yang memiliki daya linuwih bahkan sangat berlebihan.
Orang-orang ampuh di zaman sekarang banyak sekali, entah dari sisi jabatannya, entah dari sisi pengaruhnya, entah pula dari sisi kemampuan finansialnya. Orang semacam itu sangat ampuh: Mau memindah gunung, bisa; mau membendung laut, kecilllll’ atau mau gawe banjir, bisa juga. Ampuh, wis ta!!
Ampuh kesatria
Kang Soma, di zamannya dan oleh generasinya, terbilang gentho ampuh kesatria karena di zaman itu ia memenuhi persyaratannya dengan baik. Kang Soma, katanya, (1) pasti menjarah di daerah nun jauh dari rumahnya; (2) memilih rumah orang kaya yang kekayaannya diperoleh secara tidak sewajarnya; (3) baru menjarah lagi setelah barang-barang jarahannya hampir habis, tidak mumpung; dan (4) di tempat tinggalnya, kang Soma dikenal suka memberikan bantuan apa pun. Keempat “syarat” itu harus dijalankan kang Soma jika tidak ingin segera berakhir ke-ampuh-annya.
Baca juga Wong-Wong Ngreka-Daya
Bagaimana orang-orang ampuh zaman sekarang, apakah memenuhi syarat-syarat semacam itu, sehingga disebut wong ampuh zaman sekarang? Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama-tama mari kita membuat daftar (panjang?) tentang siapa saja wong ampuh zaman sekarang ini, di negeri ini. Orang itu ampuh dalam hal apa saja?
Kedua, setelah daftar nama tertera, keempat syarat pemenuhan sikap kesatria tadi perlu kita perbaharui sesuai konteks zaman sekarang. Lalu, kita cocokkan, apakah si Bapak Ampuh AAAA ini memenuhi kriteria, dan seterusnya. Dan ketiga, kita buat simpulannya; misalnya: Wong-wong ampuh zaman sekarang ternyata lebih egois, kabeh mung dinggo dhewe. segala sesuatunya hanya untuk dirinya sendiri. Tidak kesatria, singkatnya.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis masalah pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran













