KUDUS (SUARABARU.ID) – Banjir yang melanda Kabupaten Kudus menyisakan banyak kisah kemanusiaan. Salah satunya datang dari seorang anggota DPRD Kudus yang memilih merasakan langsung penderitaan warganya dengan tinggal di posko pengungsian.
Anggota DPRD Kudus tersebut adalah Nurhudi, legislator dari Komisi D DPRD Kudus Fraksi PDI Perjuangan. Rumahnya yang berada di Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, hingga kini masih terendam banjir sehingga tak bisa ditempati.
Selama tujuh hari terakhir, Nurhudi bersama istri, anak, serta warga sekitar harus tinggal di Posko Pengungsian DPRD Kudus. Keputusan itu terbilang menarik, mengingat sebagai anggota dewan ia sebenarnya memiliki banyak pilihan, mulai dari menginap di hotel hingga menyewa rumah sementara yang lebih nyaman.
Namun, Nurhudi justru memilih tinggal di posko pengungsian bersama warga lainnya. Ia mengaku ingin merasakan langsung suka duka yang dialami masyarakat Karangrowo akibat bencana banjir.
Tak hanya menjadi pengungsi, Nurhudi juga aktif terlibat sejak awal banjir melanda. Ia ikut mengkoordinasikan proses evakuasi warga, menyiapkan lokasi pengungsian, hingga membantu pengelolaan logistik, dapur umum, dan kebutuhan pengungsi setiap hari.
Kesibukannya mengurus pengungsi membuat Nurhudi kerap terlihat bekerja di Gedung DPRD Kudus hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Ia baru berganti pakaian resmi dan bersepatu saat menghadiri rapat atau agenda kedewanan.
Menurut Nurhudi, apa yang dilakukannya murni sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan. Meski pada Pemilu lalu warga Karangrowo bukan merupakan daerah pemilihannya—karena ia maju dari Dapil Jekulo–Dawe—hal tersebut tak mengurangi niatnya untuk membantu.
“Apa yang saya lakukan ini semata untuk membantu masyarakat, apalagi ini tetangga saya sendiri,” ujarnya.
Soroti Penanganan Banjir
Menjadi pengungsi akibat banjir bukanlah pengalaman pertama bagi Nurhudi. Setiap kali banjir melanda Karangrowo, ia selalu turut merasakan langsung dampaknya dan tinggal di posko pengungsian bersama warga.













