WONOSOBO (SUARABARU.ID) –Jemaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Wonosobo di Iduladha 1447 H ini, menyembelih sejumlah 51 ekor sapi dan 116 ekor kambing kurban.

Hewan kurban berupa sapi dan kambing sebanyak itu tersebar di 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII se-Kabupaten Wonosobo atau kepengurusan di tingkat Desa/Kelurahan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Wonosobo Amir Ma’ruf melaporkan hewan kurban terbanyak ada di PAC LDII Sariagung Kelurahan Jaraksari, yakni 8 ekor sapi dan 28 ekor kambing.
Sedangkan di PAC LDII Mojotengah 2 sapi 9 kambing, Wonosari 3 sapi 7 kambing, Garung 2 sapi 5 kambing, Kramatan, 1 sapi 3 kambing, Tawangsari 2 sapi 2 kambing dan Kertek 4 sapi 7 kambing
Di PAC LDII Reco Garung 2 sapi 2 kambing, Maduretno 7 sapi 16 kambing, Kalikajar 2 sapi 5 kambing, Sapuran 1 sapi dan Pecekelan 1 sapi 1 kambing, Glagah 1 sapi 1 kambing dan Gadingrejo 1 sapi 3 kambing.
Sedangkan di PAC LDII Burat 4 kambing, Wonokerto 3 sapi 8 kambing, Jlamprang 1 sapi 1 kambing, Sukoreno 2 sapi, Kemiriombo 2 sapi 1 kambing, Wadaslintang 2 sapi 1 kambing, Plunjaran 1 sapi 4 kambing, Tirip 2 sapi 2 kambing dan Wonosroyo 1 sapi.
“Kami atas nama DPD LDII Kabupaten Wonosobo menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi dari pimpinan atau anggota LDII dalam berkurban sapi maupun kambing untuk masyarakat di moment Iduladha tahun 1447 H ini,” katanya.
Amir Ma’ruf yang juga Takmir Masjid Baitul A’laa Sariagung Jaraksari Wonosobo itu mengatakan distribusi daging kurban LDII dilakukan di Sariagung Jaraksari, wilayah kota Wonosobo, Garung, Kertek, Kalikajar dan Sapuran.
“Selain itu, daging kurban juga dibagikan ke daerah Kepil, Leksono, Wadaslintang dan Kaliwiro. Pembagian daging ke luar daerah diberikan sebagai bentuk kepedulian LDII kepada warga lain yang membutuhkan,” katanya.
Gotong-Royong
Menurutnya, daging kurban juga didistribusikan ke Pondok Pesantren Al Akbar Jambusari Kertek. Banyak warga di berbagai daerah di Wonosobo yang masih belum kebagian daging kurban, maka mereka perlu diberi agar bisa ikut menikmati.
Hewan kurban, berupa sapi dan kambing, merupakan kontribusi dari warga LDII yang ada di berbagai tempat di Wonosobo. Setiap tahun, ibadah kurban terus dilakukan dan dijaga anggota LDII daerah Wonosobo.
Sementara itu, dalam nasehat Iduladha DPP LDII yang disampaikan Dewan Penasihat DPD LDII Kabupaten Wonosobo Mufrodin, menandaskan bahwa keagungan takbir tidak hanya berhenti di lisan. Tapi momentum Iduladha bisa dimanfaatkan untuk ikhlas berkurban dan iklan berbagi.
“Kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban, tetapi sebuah instrumen Islam untuk meruntuhkan tembok kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Ketakwaan sejati memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan. Yakni vertikal kepada Allah SWT dan horizontal kepada sesama,” tegasnya.
Di era saat ini, lanjut khotib, ada realitas ekonomi yang menantang. Seperti inflasi yang menghimpit dan kesenjangan sosial yang kian lebar. Di saat sebagaian orang bingung memilih menu hidangan, tapi di sudut lain ada orang lain yang bingung apakah dapur mereka esok hari masih bisa mengepul.
“Dalam konteks itulah, ibadah kurban hadir bukan sekadar ritual darah, melainkan sebagai instrumen keadilan ekonomi antar warga. Daging kurban yang dibagikan adalah pernyataan sikap bahwa “Aku menolak kenyang sendirian selagi saudaraku kelaparan”. Ini adalah bentuk redistribusi kekayaan yang paling tulus,” tegasnya.
Daging kurban, sebutnya, merupakan jembatan kemanusiaan yang bisa meruntuhkan tembok kasta antara Si Kaya dan Si Miskin. Saat orang menyerahkan hewan, sebenarnya sedang menyerahkan ego kepemilikan yang ada.
“DPP LDII mengingatkan bahwa ber-kurban adalah bukti nyata bentuk kesalehan sosial. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kurban menjadi oase yang dapat mendinginkan suhu kecemburuan sosial dan memperkuat kohesi bangsa,” tuturnya.
Dikatakan, tidak boleh menjadi hamba yang kaya secara finansial, namun miskin secara empati. Harta yang dikurbankan tidak akan berkurang melainkan bertransformasi menjadi keberkahan yang dapat menjaga stabilitas ekonomi umat.
“Mari hidupkan kembali semangat gotong-royong. Jangan biarkan ada tetangga di sekitar kita yang melewati perayaan hari raya kurban ini dengan perut kosong. Jadikan ibadah kurban sebagai modal sosial untuk membangun Indonesia yang lebih peduli dan bermartabat,” ajaknya.
Muharno Zarka













