blank
Sejumlah utusan berfoto bersama di acara BPF 2026, Sabtu (30 Mei 26) malam. Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –
5th Borobudur Peace and Prosperity Festival – Pelita Waisak Borobudur digelar secara meriah di Taman Aksobhya, Candi Borobudur, Sabtu (30 Mei 2026) malam. Acara itu dihadiri tamu dari 10 negara.

Pagelaran tersebut diawali dengan doa lintas agama, yang dipimpin para tokoh agama, secara khusuk. Dilanjutkan dengan sajian seni tari yang indah. Tarian Tangan Seribu dari Sanggar Kinara Kinari Borobudur menggambarkan kehidupan yang penuh welas asih, mendorong semua makhluk terlepas dari penderitaan.

Pembawa acara memberikan prolog, Borobudur Peace and Prosperity Festival (BPF) malam itu sengaja dikemas sedemikian rupa untuk memberikan ilustrasi bahwa berkumpul tidak hanya sebagai warga negara, maupun keyakinan tertentu. Tetapi sebagai warga dunia yang membawa niat suci merayakan dan menyuarakan perdamaian untuk seluruh umat manusia. Dunia yang sering diwarnai konflik, ketegangan dan perpecahan, maka perdamaian bukan lagi menjadi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan.

Acara malam itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, sebagai tanda sebuah perdamaian dunia. Dilanjutkan dengan pelepasan sejumlah burung Merpati Putih.

Duta Nasional (National Ambassador) Unicef Indonesia, Ferry Salim, menuturkan,
Borobudur Peace and Prosperity itu sudah memasuki tahun ke lima. Diprakarsai oleh Ricky Surya Prakasa yang berkeinginan menjaga budaya, bisa membangkitkan rasa perdamaian dan menciptakan perdamaian. Dalam acara itu hadir tamu dari beberapa Kedutaan Besar.

Ketika ditanya apa manfaat bagi perdamaian dunia, sejalan sedang terjadinya konflik antara Amerika, Iran dan Israel, menurut dia, segala sesuatu dimulai dari yang paling kecil. Menciptakan perdamaian di lingkungan kita, keluarga kita. “Kalau anak-anak kita diajarkan menjaga perdamaian, itu bisa membekas sampai mereka dewasa,” katanya.

blank
BPF 2026 di Candi Borobudur ditandai pelepasan Merpati Putih, Sabtu (30/5/26). Foto: eko

Ketua Panitia BPF 2026, Jeffry Yunus, menuturkan, acara tersebut merupakan perhelatan tahunan berskala internasional. Mempertemukan berbagai organisasi, tokoh dunia, pemimpin lintas agama, seniman, budayawan, dan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya maupun kepercayaan. Diselenggarakan di kawasan Candi Borobudur yang merupakan situs warisan dunia Unesco yang menjadi kebanggaan Indonesia.

Festival itu hadir sebagai ruang perjumpaan untuk merayakan nilai-nilai persatuan, harmoni, perdamaian dan kemakmuran bersama. Dia
menambahkan, BPF 2026 itu dibangun dengan empat pilar. Pilar pertama adalah persatuan.

Pilar kedua adalah harmoni. “Harmoni festival ini mengajak untuk selaras, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga budaya dan alam,” tuturnya.

Pilar ketiga adalah perdamaian. “Inilah jiwa utama dari BPF. Festival ini merupakan pesan perdamaian global dengan mendorong dialog antaragama, budaya, dan antarmasyarakat,” katanya.

Adapun pilar ke empat adalah kemakmuran. Bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan sosial, serta kemajuan budaya dan pariwisata. Melalui acara itu berupaya mendukung pertumbuhan UMKM lokal, pelaku seni, komunitas budaya, dan masyarakat Borobudur, agar dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.

Dia berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi warna untuk ke depannya. Dengan kehadiran para Duta Besar, dan Raja-raja Nusantara, akan menjadi bagian yang mewakili Indonesia dalam forum perdamaian.

Adanya penyalaan lilin dalam acara itu, menurut dia, merupakan cahaya api sebagai tanda awal upaya yang harus dibangun. Acara itu dihadiri Duta Besar dari 10 negara. Diharapkan gaung perdamaian dunia bisa tersebar ke banyak negara.

Eko Priyono