blank
Ilustrasi "mangro" berada di dua pihak Pandawa dan Kurawa. Foto: Reka: wied SB.ID

blank

ATAS postingan saya berjudul  “Wong-wong Rongeh” (Minggu, 4 Jan 2026), seorang teman, profesor, memberi “koreksi” sangat bagus. Menurut beliau, rongeh itu  ngambra-ambra; ora nyawiji pikirane; akeh kekarepane.

Maksudnya,  seseorang disebut rongeh itu menurut beliau,  jika  pikirannya ke mana-mana dan banyak maunya. Sontak saya buka laptop, dan segera menurunkan buah pikiran berbeda,  sambil batin ini menjawab: “Kalau itu bukan rongeh, Prof, melainkan mangro.”

Terima kasih, Prof, saya diberi umpan untuk menganalisis perbedaan antara rongeh dan mangro. Dan faktanya memang, sekarang ini amat banyak jumlah wong-wong mangro itu. Hitam di atas putih sih, Pak Badu itu dikenal berprofesi sebagai politisi handal dari salah satu parpol. Tetapi, ia sering tampil seolah-olah sebagai pejabat eksekutif, sementara semua orang tahu Pak Badu adalah anggota salah satu komisi dewan perwakilan rakyat.

Baca juga Wong-Wong Rongeh

Lain lagi Pak Noyo yang sangat dikenal  sebagai tokoh agama. Namun, ……. ehhhhh, ke mana-mana justru “jualannya” politik praktis. Kajian-kajiannya bukan tentang peningkatan keberimanan umat, melainkan sering sangat sarat dengan muatan strategi  berpolitik dan sekitarnya.

Itulah contoh wong-wong mangro: politisi omongane dan kiprahnya nyaris selaku bupati; sementara mereka yang seharusnya selalu memikirkan kesejahteraan rakyat berikut pelayanannya, namun yang sering disampaikan di mana-mana tentang bagaimana munggah swarga. Mangro.

Beda

Nuansa beda antara rongeh dan mangro kiranya jelas. Jika rongeh menekankan wong kakehan polah amarga duwe kekarepan, banyak tingkah karena ada udang di balik batu; sementara mangro lebih menekankan pada  beberapa  makna berikut.

Satu, mangro itu berarti cawang loro, ngener marang rong panggonan, pikiran atau perhatiannya mendua. Seolah kaki kanan di sini, kaki kiri di sana.  Contohnya Pak Badu atau Pak Noyo tadi. Dua, mangro juga berarti  ngrangkep. Bojo loro, seneng sing kana, tetapi juga tetep seneng sing kene. 

Dalam percakapan sehari-hari, muncul  tetembungan (a) mangro atine, dan (b) mangro tingal. Seseorang disebut lagi mangro atine manakala atine gojag-gajeg kudu milih rong perkara, penuh keragu-raguan karena harus memilih satu di antara dua. Milih Siti apa milih Sita? Nah, mangro atine. Ora bisa nyawiji, sulit focus.

Sedangkan disebut  mangro tingal, ketika seseorang  bingung dan berpendapat yang saling bertentangan.  Respons pejabat pemerintahan  terhadap bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu menunjukkan contoh nyata tentang mangro tingal ini.

Ada yang berpendapat A tentang bantuan dari luar; tetapi ada juga yang berpendapat B. Antara A dan B itu bertentangan nuansanya; nah ……itulah contoh konkrit mangro tingal itu. Belum lagi masih ada pendapat C, D, atau pun mungkin E.  Banyaklah pendapat yang mungkin akan semakin membuat mangro tingal.

Kapan?

Kapan orang mudah terjangkit mangro atine atau pun mangro tingal? Pertanyaan atas dua substansi itu dapat dijawab dengan satu jawaban saja, yakni ketika ada masalah atau sedang terjadi suatu perkara.  Masalah banjir dan longsor yang sangat tiba-tiba itu, jelas menimpa siapa pun secara tiba-tiba pula  menjadi  mangro atine serta mangro tingal.

Baca juga Wong-Wong Blangkemen

Saat itu sangat tidak mudah untuk segera menentukan pilihan. Sebutlah, saat itu secara massal  bangsa kita terjangkit mangro ati dan mangro tingal. Bersyukurlah, sekarang ini  sudah semakin mantap menata semuanya.

Seorang bernama William Barclay pernah menulis kisah inspiratif sebagai berikut. Seorang pemuda mendatangi kantor pimpinan kebun binatang untuk melamar bekerja sebagai pawang singa. Apa pun pekerjaannya, asal selalu berhdapan dengan singa, ia mau.

Sang kepala bonbin heran, dan bertanya: “Mengapa pilihanmu seperti itu? Belum pernah ada pelamar seperti kamu.” Pemuda itu berceritera, seorang psikolog telah menyarankan agar ia mencari jenis pekerjaan yang tingkat menegangkannya  tinggi. Tujuannya, agar pemuda itu sedikit demi sedikit terbebas dari rasa takutnya yang berlebihan.

Ia diterima bekerja di kandang singa. Pemuda itu mengawali pekerjaannya, yaitu menyemprot kotoran singa dari kejauhan. Ketika air disemportkan, singa itu bereaksi mengagetkannya. Ia mundur, namun lalu maju lagi untuk menyemprotkan air.

Begitu dari hari ke hari, ia semakin  menemukan keberanian menghadapi singa dan semakin tahu bagaimana berkawan dengan binatang buas itu. Ternyata, kelak kemudian hari, pemuda yang semula  mangro  itu, semakin tumbuh berani penuh waspada, dan dikenal sebagai pawang singa nan handal.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng