blank
Umat Hindu, Minggu (31/5/26), menggelar ritual sembahyang untuk piodalan di Pura Puncak Jagad Spiritual, yang berlokasi di puncak bukit di Dusun Mudal, Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Humas Polres Wonogiri)

WONOGIRI (SURABARU.ID) – Umat Hindu, Minggu (31/5/26), menggelar sembahyangan piodalan di Pura Puncak Jagad Spiritual. Lokasinya di puncak perbukitan Dusun Mudal, Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro (sekitar 45 Kilometer arah barat daya Ibukota Kabupaten Wonogiri).

Piodalan (atau Odalan) adalah upacara keagamaan Hindu, untuk memperingati hari lahir atau hari ulang tahun pendirian pura sebagai tempat suci untuk persembahyangan. Istilah ini, berasal dari kata dasar bahasa Bali wedal yang berarti lahir atau keluar.

Tujuan piodalan, untuk menyampaikan rasa syukur dan permohonan keselamatan serta kesejahteraan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Waktu piodalan, dihitung berdasarkan penanggalan Bali. Biasanya diadakan setiap 210 hari sekali (berdasarkan kalender Pawukon), atau setiap 1 tahun sekali berdasarkan kalender Saka, bersamaan saat datangnya Purnama (bulan bersinar penuh).

Piodalan Pura Puncak Jagad Spiritual kali ini, jatuh pada Hari Kajeng Pon Sashi Sadha Tahun Saka 1948, atau bertepatan dengan Hari Minggu Tangggal 31 Mei 2026. Perayaan hari jadi pura ini, sekaligus sebagai sarana meningkatkan spiritualitas dan mempererat tali persaudaraan sesama umat Hindu.

Perayaan piodalan di Pura Jagad Spiritual, menjadi tanggung jawab Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Wonogiri, yang dipimpin I Gusti Bagus Garantika. Dihadiri oleh umat Hindu Kabupaten Wonogiri dan umat Hindu dari wilayah Solo Raya. Juga hadir, rombongan umat Hindu perwakilan dari Pulau Dewata yang dipimpin I Nyoman Duarta.

Sakral

Ketua PHDI Kabupaten Wonogiri I Gusti Bagus Garantika, mengatakan, Hari Piodalan merupakan tradisi sakral umat Hindu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci. Sekaligus menjadi momentum memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan.

Rangkaian kegiatan, diawali dengan penyiapan sesaji Pejati, Canangsari, Bebanten dan kelengkapan sembahyangan, yang ditempatkan di depan Padmasana. Para Pemedak (umat), juga ada yang menyiapkan air dalam botol untuk tamba (dimohonkan anugerah sebagai sarana penyembuh). Kemudian dilanjutkan sembahyangan bersama. Juga dimeriahkan persembahan tari tradisional, ceramah spiritual tentang nilai-nilai keagamaan dan pemanjatan doa bersama.

Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, menyatakan, Polres Wonogiri mendukung penuh seluruh kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat, sesuai dengan agamanya masing-masing. Yang dilaksanakan dengan tetap menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif.

Pengamanan piodalan dilakukan bersama dengan aparat keamanan terkait. Ini dilakukan untuk menjamin piodalan berlangsung aman, tertib dan  lancar. Situasi yang kondusif, menjadi momentum penting dalam menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Kabupaten Wonogiri.

Aparat kepolisian yang melakukan pengamanan piodalan, datang dari personel Polsek Pracimantoro, dengan pengawasan langsung oleh Kapolsek Pracimantoro AKP Bunal Eko Trilaksono.(Bambang Pur)