blank
Foto bersama narasumber dan peserta Pelatihan Jurnalistik Mengabarkan Kabar Baik Untuk Kebaikan Bersama. Foto: Ika.

Oleh: Septiana Wibowo

JEPARA (SUARABARU.ID) — Pagi itu, langit Jepara tampak cerah. Sinar matahari perlahan menyelinap melalui sela-sela pepohonan, memantulkan cahaya hangat yang menyambut setiap peserta yang datang. Seusai melaksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila, satu per satu para peserta melangkah memasuki Gedung Shima Jepara, membawa buku catatan, telepon genggam, dan yang paling penting, semangat untuk tetap belajar.

blank
Hadi Priyanto salah satu narasumber Pelatihan Jurnalistik Mengabarkan Kabar Baik untuk Kebaikan Bersama sedang memaparkan materinya. Foto: Syafiq

Tidak ada hiruk-pikuk layaknya sebuah konser atau pertandingan olahraga. Sunyi tanpa ada tawa terbahak-bahak. Namun, ada energi yang tak kalah besar. Energi itu berasal dari orang-orang yang percaya bahwa kata-kata tetap mampu mengubah dunia.

Minggu, (1/6/2026), Gedung Shima menjadi saksi berkumpulnya para guru, kepala sekolah, pegiat pendidikan, staf perkantoran, hingga pecinta literasi dalam Seminar Jurnalistik bertajuk “Mengabarkan Kabar Baik untuk Kebaikan Bersama.”

Kursi-kursi yang disediakan panitia terisi hampir penuh, 71 orang hadir dengan asa yang sama. Obrolan hangat terdengar dari berbagai sudut ruangan. Ada yang berkenalan, saling bersalaman dan bertukar pengalaman menulis, ada yang membahas perkembangan pendidikan, dan ada pula yang datang dengan rasa penasaran untuk memulai langkah pertama dalam dunia kepenulisan.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali dipenuhi kabar negatif, seminar jurnalistik ini hadir membawa pesan berbeda. Bahwa berita juga dapat menjadi sarana menyebarkan harapan, inspirasi, dan nilai-nilai positif bagi masyarakat. 

Acara yang dimoderatori oleh Duta Bahasa Jawa Tengah Amaliatul Hidayah Rofiq ini dibuka oleh Bunda Literasi Jepara Laila Witiarso Utomo yang diwakilkan oleh Dwi Agus Andriyani. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa literasi merupakan fondasi yang penting dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berdaya saing.

 

blank
Hadi Priyanto salah satu narasumber Pelatihan Jurnalistik Mengabarkan Kabar Baik untuk Kebaikan Bersama. Foto: Syafiq

Menurutnya, budaya membaca dan menulis tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas. Literasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tumbuh dalam keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang memenuhi ruangan. Mereka yang datang dari berbagai latar belakang, yang memiliki tujuan sama, yaitu memperkaya kemampuan menulis sekaligus memperluas wawasan tentang dunia jurnalistik. Semangat itu semakin terasa ketika sesi materi dimulai. 

Panitia juga memberikan apresiasi kepada peserta yang mendaftar paling awal, yaitu Itta Muyasyaroh, M.Pd., Kepala SDN 4 Kaliaman, Rofiatun, S.Pd., dari SDN 3 Tubanan, dan Mustikasari, S.Pd., dari SDN 3 Tubanan. Penghargaan sederhana itu menjadi simbol bahwa setiap langkah kecil dalam mendukung literasi layak mendapat apresiasi.

Salah satu narasumber yang hadir adalah Hadi Priyanto, Ketua Umum Yayasan Kartini Indonesia sekaligus jurnalis senior yang telah lama berkecimpung di dunia media. Dengan gaya yang lugas, Romo Hadi, panggilan akrab Hadi Priyanto mengajak peserta untuk melihat jurnalistik dari sudut pandang yang lebih luas.

blank
Sulismanto, salah satu narasumber Pelatihan Jurnalistik Mengabarkan Kabar Baik untuk Kebaikan Bersama sedang memaparkan materinya. Foto: Ika.

Menurutnya, tugas seorang penulis bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan perspektif yang membangun. Di hadapan peserta, ia mengingatkan bahwa masyarakat saat ini dibanjiri berbagai informasi setiap hari. Karena itu, diperlukan kemampuan memilih dan menyebarkan informasi yang memberikan manfaat.

“Jangan penuhi kabar-kabar dengan kekecewaan namun dengan optimisme yang membangun. Karena dibuktikan dengan penuhnya kursi, menandakan adanya masa depan yang baik untuk literasi di Jepara,” ungkapnya.

Ucapan tersebut seketika mengundang decak kagum peserta. Kalimat sederhana itu seolah menjadi pengingat bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap dunia literasi. Acara kemudian diteruskan oleh materi tentang penulisan artikel yang dijelaskan dengan apik dan sarat ilmu oleh Hadi Priyanto.

Pada sesi kedua menghadirkan Sulismanto, Pelestari Bahasa Jeparanan yang dikenal aktif memperjuangkan keberlangsungan bahasa daerah salah satunya merawat Rubrik Jeporonan di SUARABARU.ID.

Dalam paparannya, lelaki yang dulu mengudara dengan nama Indra Sadewa di Radio Kartini ini mengenalkan peserta untuk menulis berita dengan benar. Bagaimana menulis  straight news dan membedakannya dengan macam kepenulisan yang lain serta bagaimana menulis berita harus tepat dan akurat.

Peserta tampak serius menyimak setiap penjelasan. Terutama saat menyinggung tentang penggunaan teknologi AI pada dunia kepenulisan. Serta bagaimana membedakan tulisan yang berasal dari AI dan yang sungguh-sungguh dibuat oleh manusia.

Dalam hal ini, Sulismanto menekankan bagaimana menulis berita dengan baik dan benar sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan dan Hukum Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Di ahir sesi, Sulismanto menyampaikan bahwa berita selalu berpengaruh. Bahkan ia menyampaikan kiat agar menulis berita menjadi menarik dan banyak dilirik pembaca terutama pembuatan judul berita online.

 Materi berikutnya disampaikan oleh Septiana Wibowo, jurnalis dan penulis yang berbagi pengalaman mengenai proses menulis serta pentingnya membangun kebiasaan literasi.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa menulis bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang. Menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari melalui latihan, ketekunan, dan keberanian untuk memulai.

Septiana menekankan bahwa semua orang bisa menulis. Banyak peserta yang mengangguk setuju ketika dijelaskan bahwa tulisan sering kali menjadi jembatan untuk menyampaikan gagasan, mendokumentasikan peristiwa, dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.

Salah satu pemandangan yang paling berkesan dalam seminar tersebut adalah antusiasme peserta. Sejak pagi hingga menjelang siang, hampir tidak ada kursi yang kosong. Peserta tetap bertahan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh perhatian dan sibuk membuat catatan. Beberapa mencatat poin-poin penting, sebagian lainnya merekam materi menggunakan telepon genggam.

Menjelang berakhirnya kegiatan, suasana seminar masih terasa hangat. Para peserta saling bertukar kontak, berdiskusi, dan berfoto bersama narasumber. Beberapa membeli buku yang dipajang di depan kantor. Buku-buku tulisan Hadi Priyanto dkk.

Bagi sebagian orang, seminar itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi mereka yang hadir, ada bekal pemikiran yang akan dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah tantangan era digital, ketika informasi bergerak begitu cepat dan perhatian manusia semakin mudah terpecah, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa tulisan masih memiliki kekuatan. Karena pada akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari kata-kata. Dan di Jepara, nyala kecil itu terus dijaga agar tetap terang, menerangi jalan menuju kebaikan bersama.

Sebuah tulisan dapat menginspirasi seseorang untuk berbuat baik. Sebuah berita dapat membuka wawasan masyarakat. Dan sebuah cerita dapat menghidupkan harapan.

Dari Gedung Shima pada pagi itu, semangat literasi tidak hanya dibicarakan dalam ruang seminar. Ia tumbuh dalam pikiran para peserta, yang akan disebarkan kembali ke sekolah, komunitas, dan lingkungan masing-masing.

Penulis adalah Jurnalis di SUARABARU.ID.