blank
Ilustrasi. Reka: SB.ID

blank

MASIH terkait kata  ora. Dan, kali ini kata ora bergabung dengan kata tanja. Tanja  atau pun tumanja memiliki makna atau arti yang senada, sama. Pemakaian kata itu pun dapat fleksibel.

Maksudnya, “Wahhhh……jan tanja tenan omahmu” atau mau dikatakan: “Wah ……. tumanja omah ngene iki.” Dua kalimat itu mengungkapkan satu fakta betapa rumah ini nyaman, enak, prayoga.

Bahkan dalam percakapan sehari-hari, tanja atau pun tumanja dipergunakan untuk mengungkapkan atau memuji makanan yang enak di suatu warung atau pesta. “Tengkleng-e tanja, tenan.” Lalu teman sebelahnya menimpali: “Iya bener, panggonane ya tumanja!!” Ungkapan pujian bahwa tempat untuk makan pun nyaman.

Ora tanja

Ketika suatu tempat atau hidangan makanan disebut ora tanja, apalagi ora tumanja; tentulah ungkapan itu menggambarkan betapa tidak nyaman atau enaknya tempat atau makanan itu.

Dan……….. jika ada beberapa  proyek pembangunan yang semula telah menghabiskan triliunan rupiah, lalu lapangan terbang itu saat ini tidak dipergunakan, atau mangkrak; Nah ……… contoh seperti itu disebut dengan  idiom ora tanja, ora tumanja. “Wahhhh……..ora tumanja tenan Ngloram kae,” misalnya.

Ora tanja atau pun ora tumanja merujuk kepada terutama barang yang ora dipigunakake samesthine, barang atau fasilitas yang tidak dipergunakan atau dimanfaatkan semestinya.

Baca juga Ora Pepoyan

Yang namanya lapangan terbang, tentulah seharusnya untuk kepentingan bandara, sebutlah untuk turun-naiknya pesawat. Bukan untuk pangonan sapi utawa wedhus.

Senada dengan contoh itu, uang/dana  sebuah proyek yang ternyata dikorupsi atau dimanfaatkan tidak dengan semestinya; juga disebut dhuwit kuwi ora tanja, ora tumanja. Tapi ingat, bagi pihak yang mengorupsi uang/dana itu, tanja dia, tumanja banget, nehik… nehik…. nehik.

Berapa besar?

Kira-kira berapa besar uang/dana pembangunan sing ora tanja, ora tumanja itu? Embuh  ora weruh aku, namun yang jelas melihat atau mendengar berbagai berita betapa dewasa ini jumlahnya bukan lagi miliaran melainkan trilyunan; apalagi yang masih harus kita katakan, kecuali: Akihhhhhhhhh banget, Djum! Jan………. tanja-tumanja tenan tuh nantinya di penjara (yen konangan).

Suatu malam, listrik di rumah-rumah padam untuk waktu cukup lama. Beberapa orang mulai bosan menunggu di dalam rumahnya; satu per satu pada keluar rumah, ke jalan di depan rumahnya. Jumlah mereka makin banyak.

Lalu mereka mengobrol ngalor-ngidul, ngulon-ngetan. Tiba-tiba ada seseorang yang setengah berteriak: “Kunci rumahkuuuu……..” Mendengar teriakan itu hampir semua orang mencoba mencari kunci itu kalau-kalau jatuh di antara kerumuman mereka. Tidak satu pun orang menemukannya.

Baca juga Ora Pandak

Bertanyalah seseorang: “Tadi kamu taruh di saku mana kuncimu itu?” Orang itu menjawab malu-malu: “Jebulane, tidak saya bawa kunci itu.” Orang-orang lalu bereaksi, ada yang menertawakan, ada yang sedikit agak marah, ada yang agak dorong-dorong tubuh orang itu, sedikit kesel.

Seseorang lalu bertanya: “Kalau sadar bahwa kunci tidak kamu bawa ke sini, mengapa bingung-bingung mencarinya di sini dan kami ikut mencari, Pak?” Orang itu menjawab malu-malu: “Kan di sini banyak orang.  Meski pun gelap, kita kan ramai-ramai. Di rumah gelap, sendiri lagi, Pak.”

Kerumuman orang iru terbahak-bahak, dan seseorang yang sejak tadi tidak komentar, nyletuk keras: “Tanja……. tenan!!!!!”

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng