blank
Ilustrasi ra pepoyan. Reka: SB.ID

blank

PEPOYAN bacalah kata pepoyan ini seperti Anda mengatakan hutan ini penuh pohon keras dan perdu, menampilkan pemandangan yang indah. Akar kata pepoyan ialah poyan, dan jika diberi kata ora di depannya, idiom yang tepat ialah ora pepoyan, bukan ora poyan.

Beda dengan kata payu, artinya laku; bila di depannya ada kata ora, idiomnya bisa ora payu, bisa juga ora pepayon dengan arti yang sama, yaitu jualannya tidak laku.

Catatan penting atas kata pepoyan ini,  ialah ucapkan secara tepat agar tidak keseleo dengan kata pepayon tadi.

Pepoyan

Tentang makna pepoyan ini, dialog di kafé grobag warung kopi berikut  semoga akan menjelashannya.

Suta: “Ya, ngerti kabare Mulyadi, saiki piye?” (tahu, bagaimana kabar Mulyadi saat ini?)

Naya: “Ohhhhh, si Mul? Embuh, wis suwiiiii ora kepethuk, aku. Jan ora pepoyan” (lama tidak berjumpa). Pernah dengar cerita sih, jarene saiki manggon dadi siji maratuwa; katanya sih sekarang tinggal bersama mertua. Memang, ada apa tiba-tiba menanyakan si Mul?”

Suta: “Kapan tuh aku mimpi. Si Mul kena sawan, kulit kakinya busik-busik, ada sebagian mengelupas.”

Naya: “Mana mungkin cah tuwa kena sawan? Sawan itu kan penyakitnya anak-anak kecil. Katanya sih kena sawan itu identik dengan kena tulah kecil-kecilan, dan yang diserang memang kulit, terutama wajah.”

Baca juga Ora Pandak

Suta: “Moga-moga si Mul waras lan slamet. Nate aku dijanjeni, arep golekke gawean cah-cah enom sadesa kene. Dia pernah janji akan menyarikan pekerjaan anak-anak muda desa ini. Ada juga akan memberi modal usaha ibu-ibu rumah tangga.”

Naya: “Ohhhhh, kampanye…..kampanye. Janji kampanye kok dieling-eling?  Dulu memang seolah-olah tempat kita ini latare omahe Mulyadi karena setiap saat ke sini. Namun kenyataannya, sekarang blas ora pepoyan. Ketika ada maunya saja, siapa pun klinteran, sering datang. Setelah itu, habis manis ora pepoyan: Ora ana kandhane, ora pamitan; ora ngabari.”

Ora pepoyan

Naya telah menjelaskan, ora pepoyan itu ungkapan halus atas kata minggat. Ora pepoyan ialah ora kandha, ora ngandhani, ora pamitan. Konteksnya pasti, orang itu dulunya datang, kulanuwun, akrab dengan lingkungan itu.

Tetapi karena kalah misalnya, atau karena jebule tukang ngapusi, utawa sugih utang di situ, orang itu lalu pergi tanpa permisi, tanpa memberi tahu. Wis ta, persis kaya jailangkung: datang minta diundang, pergi model minggat.

Ora pepoyan banyak ditempuh oleh siapa pun dengan alasan utama menghilangkan jejak dengan berbagai pemicunya. Seperti sudah disebutkan, pemicu menghilangkan jejak itu karena kakehan utang lan janji, isin, kalah, atau sengaja melupakan.

Lagu Caping Gunung menggambarkan dengan sangat melankolis makna ora pepoyan dari sisi orang itu “sengaja” melupakan yang dulu-dulu. Padahal biyen diopeni, yen ngelih dipakani, yen mendhung disilihi caping; namun Sekarang orang itu melupakan jasa-jasa seperti itu karena sekarang sudah jaya raya, kaya raya, kuasa raya, dan segala raya yang lain. Padahal dia itu anak lanang.

Baca juga Ora Nglegewa

Ora pepoyan juga dapat ditempuh sebagai strategi licik seseorang agar tidak ditagih janjinya. Bagi yang kalah, memilih ngumpet: Boro-boro memenuhi janji, lha uripe wae saiki rekasa.  Fakta membuktikan, bagi mereka yang kalah, lebih-lebih kekalahan itu dalam konteks politis, entek-entekan tenan, habis-habisan betul. Ditempuhlah ora pepoyan tadi.

Sebaliknya bagi yang menang, wajah mungkin kelihatan sumringah, langkah tampaknya gagah; tetapi begitu akan ditemui (dulunya) pendukung atau tim sukses, waduhhhhh………….. putar otak agar secara cepat dapat mengatasi situasi terdesak itu. Tilponlah ia  ke penjaga: “Katakan kepada mereka: Tadi pagi bapak datang, tetapi sekarang entah ke mana, tidak meninggalkan pesan apa pun kepada saya.”

Akhirnya Suta dan Naya cekikikan sendiri  setelah diskusi panjang lebar. Mengapa? Mereka berdua membayangkan si Mul selalu garuk-garuk kakinya yang gatelen amarga kena sawan tadi. ”nJahilangkung, sih!!” gumam mereka.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggan di Ungaran Jawa Tengah